Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Dua jam sebelum kejadian


__ADS_3

Dua jam sebelum kejadian Melisa di Rumah sakit.


Sekretaris Dika, Tira dan Nadya sibuk mempersiapkan games outdoor untuk anak-anak panti asuhan yang diundang ke acara ulang tahun Keyza. Semenjak kejadian camping saat itu, sekretaris Dika saling tak berjumpa kembali, mereka baru berjumpa pagi ini, karena ada acara ulang tahun Keyza.


Wajah sekretaris Dika menatap Tira dengan tajam, begitu pun Tira, melihat sekretaris Dika dengan tatapan kesal. Mereka saling menatap, tapi tak sama-sama berbicara karena ada Nadya diantara mereka.


"Ini tuh siang loh, tapi kenapa aku merasa suasana disini dingin banget?" Nadya tak mengerti.


"Mungkin ada yang ingin di hangatkan sama kamu, Nad!" ucap Tira.


"Eh? Apa maksudnya Ra?" Nadya tak mengerti.


"Nad tolong ambil gunting dan pita di dapur. Minta sama Bik Lilis ya!" perintah sekretaris Dika, agar Nadya segera berlalu.


"Oh, baiklah Pak." jawab Nadya.


Nadya berlalu. Tinggal sekretaris Dika dan Tira yang berada di taman tersebut. Sekretaris Dika menatap Tira kesal, apa maksudnya Tira berkata bahwa ada yang ingin dihangatkan oleh Nadya. Tira benar-benar membuat Nadya kesal.


"Apa maksudmu berkata begitu pada Nadya?" tanya sekretaris Dika.


"Aku tidak bermaksud apa-apa. Apa maksudmu bertanya-tanya begitu padaku?" balas Tira.


"Kamu sepertinya membicarakan aku, iya kan? Apa sih mau mu?" sekretaris Dika kesal.


"Lah? Kenapa kamu GEER banget? Memangnya, ucapan ku pada Nadya, ada menyebutkan namamu gitu? Kenapa kamu ambisius sekali?" Tira kesal.


Ucapan Tira membuat sekretaris Dika terdiam. Memang benar, Tira hanya berkata begitu, tanpa menyebutkan nama. Sekretaris Dika yang terlalu mudah menanggapinya dengan kesal. Tai, Tira memang bermaksud mengatakan itu ditujukan pada sekretaris Dika, hanya saja Tira orangnya memang pandai berkilah.


"Kamu harusnya berterima kasih padaku!" tegas sekretaris Dika.


"Berterima kasih? Untuk apa?" Tira tak paham.


"Karena aku, kita tak jadi bulan-bulanan Nona dan Tuan! Aku menyelamatkanmu dari semua itu. Kau kan yang memegang tulisanku saat camping?" tanya sekretaris Dika.


"Cih, bangga sekali kamu! Hanya bisa seperti itu saja, mengapa aku harus berterima kasih padamu? Bahkan, itu tak penting untukku. Untuk apa kamu berbohong? Itukan hanya permainan, Nona tak mungkin menganggap itu hal serius! Pasti itu hanya bercanda, seru-seruan saja. Jujur pun tak akan apa-apa menurutku, itu sih kamu nya aja yang berfikir terlalu jauh, padahal, aku tak merasa takut jika Nona dan Tuan tahu!" tegas Tira.

__ADS_1


"Dasar cewek gak tahu terima kasih! Kalaupun nanti kamu dikata-katai oleh Nona dan Tuan, kamu sendiri yang akan menggerutu padaku! Aku yakin itu. Dasar es batu!" sekretaris Dika kesal.


"Sembarangan ya kamu ngatain orang! Atas dasar apa kamu ngatain aku es batu? Memang, kamu sendiri apa? Kamu beruang kutub berisik yang selalu mengganggu aku! Sudah, aku pergi. Malas aku, bicara sama beruang kutub kayak kamu. BYE!" Tira berlalu meninggalkan sekretaris Dika.


"Eh, es batu! Mau kemana lu! Sembarangan, ngatain orang beruang kutub. Dasar cewek aneh!" umpat sekretaris Dika.


Mereka menyiapkan semua itu dengan baik. Anak-anak panti pun mulai berdatangan keluar dan mengikuti acara games tersebut. Hingga tersiar kabar, Melisa di rawat di rumah sakit. Arini mengabari sekretaris Dika, bahwa ia akan pergi bersama Keyza dan Rangga, dan Arini meminta, sekretaris Dika untuk mengawal acara games dengan baik.


Sekretaris Dika menuruti perkataan Arini. Ia, Tira dan Nadya memimpin jalannya acara dengan baik. Dibantu oleh beberapa pembantu Davian yang lain, acara tetap terselenggarakan dengan baik. Anak-anak panti asuhan sangat senang dan bahagia, mendapat hadiah dan tentunya berupa uang juga.


Selang satu jam, acara pun telah selesai. Mereka mulai membersihkan sisa-sisa permainan tadi. Dibantu oleh beberapa pembantu Davian, Tira dan Nadya bisa istirahat sebentar. Tiba-tiba, Nadya yang mendengar kabar bahea Ibunya Keyza sakit, bertanya pada Tira.


"Tira, apa benar Ibu Keyza sakit?" tanya Nadya pada Tira.


"Iya, memang benar. Setahuku, dia mengidap penyakit asma bawaan. Mungkin, penyakitnya kambuh saat ia akan menuju kesini." ucap Tira.


"Tapi, tadi aku melihat ada yang aneh.." ucap Nadya.


"Aneh? Maksud kamu, apa?" Tira tak mengerti.


"Aneh gimana maksud kamu, Nad?" Tira penasaran.


"Aku lihat dia berbicara sendiri. Dia tersenyum, dia senang, lalu tak lama, dia mengusap air matanya, dia seperti menangis. Ketika aku akan mendekatinya, Bik Lilis memanggilku, aku jadi tak sempat menemui Keyza." jawab Nadia.


"Ah, masa sih? Gak mungkin deh rasanya. Keyza itu bukan tipe anak yang suka berhalusinasi sendiri, kok." jawab Tira.


"Ah, kamu yang sangat mengenalnya lebih jauh. Tapi, aku merasa ada yang aneh aja, Ra." jawab Nadya.


Tiba-tiba, sekretaris Dika datang terburu-buru. Ia seperti mendengar berita buruk, ia menghampiri Tira dan Nadya saat mereka berdua sedang berbincang bersama.


"Tira, Nadya! Ada berita duka." ucap sekretaris Dika.


"Apa?" jawab mereka bersamaan.


"Nona Melisa meninggal dunia." jawab sekretaris Dika.

__ADS_1


"Innalillahi, kasihan sekali Keyza-ku." Tira terlihat sedih.


"Tentu saja. Ra, kita harus ke rumah sakit sekarang. Kamu harus menenangkan Keyza, aku akan mengurus jenazahnya, dan kamu Nadya, jaga Mita dan Alif, beritahu juga Ibu Nona mengenai kabar ini. Aku akan segera kembali bersama jenazah nanti. Aku juga sudah mengabari semua pembantu dan asisten di rumah ini, jenazah akan dibawa ke rumah ini, karena Bos telah menyetujuinya." jelas sekretaris Dika.


"Baik, Pak Dika. Aku mengerti." jawab Nadya.


"Ayo, Tira." ajak sekretaris Dika.


"Baik, ayo." jawab Tira.


Tira dan sekretaris Dika segera berangkat menuju Rumah sakit. Tira tak bisa membayangkan betapa sakit hatinya Keyza, ditinggalkan oleh sang Ibu. Tira berharap, Keyza akan tetap tegar dan menerima kenyataan. Tira tak sabar, ingin segera bertemu dengan Keyza. Dalam perjalanan menuju Rumah sakit, air mata Tira tak terbendung lagi, ia teringat pada Keyza si anak malang yang nasib hidupnya sangat menyedihkan.


Sekretaris Dika melihat sesekali kearah Tira. Ia mengetahui Tira menangis, namun tak berani berucap padanya. Ternyata, disisi sikap dan sifat mu yang kasar padaku, kamu wanita yang lembut juga. Aku tahu, hatimu ikut sakit juga, ketika mendengar kabar, Ibu dari anak yang kau urus meninggal, aku tahu kamu sedih. Ternyata, kamu tak seburuk yang aku pikirkan, Tira.


Sekretaris Dika tak tega, melihat Tira larut dalam tangisan. Ia segera mengambil tisu di depan kemudinya, lalu ia memelankan sedikit laju mobilnya, agar ia tetap fokus, namun juga tetap bisa memberikan tisu untuk Tira.


"Ra, ini tisunya. Usap air matamu dengan tisu, jangan dengan tanganmu, nanti perih kena pipi kamu." ucap sekretaris Dika.


Beruang kutub? Apa kamu sedang menghiburku? Untuk saat ini, terima kasih atas kebaikan hatimu. Batin Tira.


"Ah, i-iya, Dik. Makasih." Tira mengambil tisu yang sekretaris Dika berikan.


Dia bilang apa barusan? Dik? Baru kali ini dia menyebut namaku. Kenapa aku senang mendengarnya ya? Batin Dika.


*Bersambung*


Hai..


Makasih yang udah setia baca novel aku..


Aku ada 1 novel end ya, yang pembaca disini, kalau ada yang belum baca, boleh mampir dlu ke sana, sambil nunggu cerita ini up ya..


judulnya, DIREKTUR, CINTA PERTAMAKU.


Makasih ya..😍

__ADS_1


__ADS_2