
"Aku tak pandai berkata. Aku hanya ingin bilang, percayalah padaku. Aku akan mempertahankan pernikahan ini. Apa kamu mau membantuku mempertahankannya?"
"Semoga saja."
Davian mendengar ucapan tulus Arini. Ia tahu, Arini sangat tulus padanya. Namun, ego yang menyulitkan mereka untuk berkata. Tanpa sadar, Arini telah memejamkan matanya dipinggir Davian.
Arini terlelap. Ia benar-benar lelah. Davian menatap Arini yang sedang tidur. Wajah Arini benar-benar cantik, dan alami. Bahkan, ketika tidur pun kecantikannya tak menghilang.
"Kamu, bahagia lah hidup di sisiku, aku ingin membahagiakanmu dengan caraku yang tak biasa. Mungkin terdengar aneh, jika cinta ini datang begitu cepat. Ini semua karena ketidaksengajaan. Aku telah jatuh padamu."
"Maafkan aku belum bisa sepenuhnya menyatakan perasaanku padamu, aku masih takut dan tak siap, biarlah semua ini mengalir seperti ini. Semoga kamu nyaman di sampingku, Arini."
Arini tidur di lengan Davian. Hangat sekali tubuhnya, menempel pada dada bidang lelaki yang kini menjadi suaminya. Davian pun tidur sambil mengecup kening Arini, memegang rambut panjang Arini, mereka layaknya pasangan yang sesungguhnya, namun keduanya sama-sama menampik cinta yang hadir.
***
Pagi hari, tubuh Arini terasa berat sekali. Ia membuka matanya. Ternyata, tangan dan kaki Davian menindihnya. Berat sekali, lelaki yang mempunyai bobot seberat 85kg itu, menindih tubuh mungil arini yang hanya berkisar 55kg.
"Aarrggghh, berat sekali badannya ini. Dia ini manusia apa badak sih!?"
Arini mencoba menepis tangan Davian, memindahkan tangannya, namun pelukan Davian malah semakin kencang. Arini tertatik lagi kedalam pelukannya, sulit sekali rasanya terlepas dari tubuh bidang itu. Arini pengap, nafasnya tersenggal-senggal. Davian sangat nyenyak, ia tak sadar kalau Arini yang ia peluk.
"Tuaaaaan! Aku ini manusia, aku bukan guling mu. Lepaskan aku, jangan seenaknya begini, Hey hey badak! Bangunlah kamu, nggak liat apa aku terhimpit badan besar mu ini. Arrhhhh!!"
Davian hanya menggeliat. Arini kesal sekali. Lalu, muncul ide gila dalam benak Arini. Davian susah sekali dibangunkan. Maka, tak ada cara lain, Arini harum melakukan jurus jitu untuk membuat Davian terbangun.
Davian memiliki janggut tipis-tipis dibawah dagu nya. Tanpa basa-basi, Arini mencabut sekaligus janggut tipis Davian.
"AAARRGGGGHHHHHHH!!! Sakit, auwhhhh! Apaan nih!" seketika Davian terbangun dengan kagetnya
Davian langsung refleks duduk. Ia benar-benar kesakitan. Dagunya langsung memerah. Arini benar-benar mencabut janggut tipis Davian sekuat tenaganya.
"Tuan kalo tidur kenapa kayak kebo banget sih! Susah banget dibangunin. Aku gak bisa nafas tahu. Keenakan aja meluk-meluk!" protes Arini
"Arini, kurang ajar lu ya! Jadi, elu yang nyabut janggut gue? Gila, perih banget ini. Lu bener-bener ya!!!" Davian kesal
"Sorry, sorry. Aku juga gak akan gitu kalau Tuan bisa dibangunin. Abisnya, Tuan gak bisa dibangunin sama sekali. Mana badannya berat banget lagi kayak badak! Enak banget ya meluk-meluk aku, dikira aku ini guling apa, huh!" keluh Arini
__ADS_1
"Ni cewek, berani banget ngebantah bos sendiri. Lu kira gue meluk-meluk lu karena apa? Lu gak tahu kan, kalau semalam, lu megang-megang tubuh gue!"
"HAHH? Gak mungkin!!!" ucap Arini
"Dengar ya Rin, semalem lu ketiduran di dada gue, gue emang meluk elu pada saat itu. Cuma, dua jam kemudian, gue kebangun! Gue kebelet pipis. Pas gue balik dari kamar kecil, eh lu nyari-nyari badan gue, pengen banget ya gue peluk? Lu maksa-maksa meluk gue, setelah gue peluk, refleks tubuh lu langsung diem. Semua ini karena elu! Gue jadi lupa kalau semalaman terus meluk elu."
Hah? Kenapa aku ingin dipeluk dia? Enak aja dia ya. Sembarangan! Rasanya, aku gak mungkin se-murahan itu ingin memeluk lelaki. ku tak mungkin melakukan hal yang memalukan seperti itu. Batin Arini
"Saya rasa, Tuan hanya mengada-ada. Betul kan?"
"Apa perlu gue liatin CCTV kamar gue ke elu?"
Arini melotot. Ia kaget mendengar ucapan ucapan Davian.
CCTV? Apa kamar ini menggunakan CCTV? Tapi kenapa aku tak melihat layar kamera di ujung-ujung dinding kamar ini? Kukira kamar ini tak ada CCTV-nya. Oh tidak, jadi selama ini, aku pernah ganti baju di kamar ini, aku? KETAHUAN? Aaarrrggghhhh! Gumam Arini kesal
"Memangnya di kamar ini ada CCTV?" tanya Arini
"Jelas ada. Lu gak tahu?" tanya Davian
"Nggak. Di ujung-ujung sana, nggak ada kamera kecil, Tuan. Kukira, gak ada CCTV-nya." Arini mulai khawatir
"Jadi, benar ruangan ini ada CCTV-nya?"
"Lu masih gak percaya? Nih, dibawah pegangan lampu tidur ini, ada alat sekecil ini. Ini adalah kamera dan penyadap suara. Lu masih gak tahu?" Davian memperlihatkan sticker kecil didekat lampu tidurnya
"HAH?" Arini kaget
"Di depan lemari, di kacanya. Lu lihat lagi kan ada sticker kecil? Itu CCTV gue! Apa perlu gue liati isinya sama lu?" tanya Davian
Arini benar-benar heran, dan tak menyangka. Orang kaya memang banyak rahasianya. Baru kali ini, Arini mengetahui sticker adalah CCTV.
"Jadi, aku ganti baju disini pun?" Arini tak mampu melanjutkannya
"Ya iya lah, makanya kalo lu mau ganti baju, tuh di ruangan ujung sana. Di sana, gak pake CCTV, makanya gue suka ganti baju di sana."
"Aku kan nggak tahu! Tuan nggak ngasih tahu. Aku kira, itu ruangan ganti khusus Tuan aja."
__ADS_1
"Bukan khusus gue, karena gue tahu, CCTV ada dimana-mana, jadi gue punya tempat private sendiri untuk ganti pakaian."
"Berarti, Tuan udah lihat CCTV aku yang lagi ganti baju dong? Bener kan? Hih, mesum! Seandainya Tuan tahu, kenapa gak beritahu aku, suruh ganti baju di ruang khusus." Arini kesal
Davian tercengang. Arini pernah ganti baju di kamar ini? Berarti? Ada didalam CCTV-nya?
"Emang lu pernah ganti baju di sini?" tanya Davian
"Jangan pura-pura! Tuan pasti tahu. Jujur saja. Dasar omes!!!" Arini marah
"Sumpah, gue gak tahu. Gue udah beberapa minggu ini nggak cek CCTV. Memorinya aja masih tersimpan didalamnya. Jadi, lu pernah ganti baju disini?"
"Jangan pura-pura enggak tahu deh!"
"Kesempatan dong buat gue. Gue bisa lihat video lu lagi ganti baju. Makasih lho ya, udah ngasih tahu gue. Ntar gue lihat CCTV gue pas lu lagi ganti baju. Kayaknya seru. Hahaha!" Davian tertawa puas sambil melengos menuju kamar mandi
Aaargggghhhh, keluh Arini.
Arini menyesal. Ternyata, Davian memang tak tahu. Ia menyesal memberi tahunya. Arini mengejar Davian menuju kamar mandi.
"Tuan! Tunggu!" Arini masih kesal
Davian yang akan menutup pintu kamar mandinya tertahan karena tangan Arini.
"Apa? Lu mau mandi bareng sama gue? Ayo, sini masuk!" Davian memegang tangan Arini
"Ehhh, apaan sih! Lepasin!!!"
*Bersambung*
Hihihihi..
Gimana nih? Baper gak kelean?
Jangan lupa like dan komen ya ❤😍
Apalagi yang niat beri vote, aku ucapkan terima kasih🥰
__ADS_1
Dukung terus ya say.. Jangan unfav cerita ini..
makasih..