
"Sya, lu tenangin diri lu di tempat ini. Terima kasih, atas semua informasinya. Gue pergi dulu." ucap Davian
"Eh, eh. Ya ampun, Dav!" tahan Tasya
"Kenapa, Sya?" tanya Davian
"Tas aku ketinggalan di hotel tadi. Aku lupa, aku menyimpannya dibawah sofa, soalnya tas itu ga ada apa-apanya, hanya sapu tangan dan make up ku yang sudah habis."
"Ah, yasudah lah. Biarkan pihak hotel membereskannya, asal tak ada barang berharga."
"Tidak, karena barang berhargaku semuanya ada di rumah Ayahku."
"Baiklah. Aku pergi. Terima kasih atas semua informasi yang kamu berikan. Jika kamu ingin makan, ambil saja di kulkas. Dika selalu menyimpan stok makanan." ucap Davian kemudian berlalu meninggalkan Tasya
Ya, Tasya di sembunyikan di rumah sekretaris Dika. Rumah yang jarang sekretaris Dika tempati, karena sekretaris Dika lebih sering tidur di apartemen Davian.
Davian segera menyusul sekretaris Dika menuju tempat rahasia detektif Jo. Sekretaris Dika sudah lebih dulu berada di sana. Tak lama, handphone Davian berdering. Sekretaris Dika meneleponnya.
"Ada apa, Dik?"
"Bos, gawat! Ternyata, tas Tasya itu ada penyadap suaranya. Bahaya. Apa lu udah ngejelasin semuanya ke Tasya? Kalo sampe iya, sepertinya Arkan sudah tahu tentang rencana kita!" Sekretaris Dika terlihat khawatir
"Sial. Mereka pintar juga. Tapi, lo tenang aja. Tasya melupakan Tasnya di hotel. Kalau dalam tas itu ada penyadap suaranya, gue harus segera ambil tas nya. Tunggu gue di sana, gue ke hotel dulu, mau ambil tas Tasya yang ketinggalan."
"Syukurlah, tenang gue jadinya. Oke, Bos. Segera kemari."
Davian memutar balikkan mobilnya menuju hotel lagi. Ternyata, Arkan dan kawan-kawannya sangat pintar. Dia berani juga memasang penyadap suara untuk memata-matai Davian.
Davian telah mengambil tas Tasya. Ternyata, benar saja, terdapat alat kecil yang menempel didalam tas. Davian segera membawa bukti ini menuju rumah detektif Jo.
"Bagaimana, Bos?" tanya sekretaris Dika
"Ada, alat penyadap, didalam tas ini."
"Kurang ajar. Sudah dimatikan?"
"Sudah, sejak tadi d hotel aku matikan." jawab Davian
"Tapi, apakah mereka tahu pembicaraan Tuan?" tanya detektif Jo
"Sepertinya tidak. Di hotel aku tak membicarakan hal yang aneh-aneh. Mari kita eksekusi esok hari." ucap Davian
__ADS_1
"Baik, Bos. Semua berkas telah dikirimkan . Detektif Jo telah menghubungi pihak kepolisian, dan mereka akan segera bertindak besok."
"Bagus. Apa Arini aman?"
"Tentu saja, dia sedang beraktifitas di Rumah sakit. Dia aman bersama Tira." jawab sekretaris Dika
"Bagus, hanya dia yang aku khawatirkan saat ini."
...____________________...
Keesokan harinya.
Davian dan sekretaris Dika telah melaporkan semua kebusukan Arkan. Penyidik dari pihak kepolisian dengan cepat meringkus Arkan dan kawan-kawannya di markas besar Arkan. Arkan tertangkap basah, semua barang bukti di markasnya diamankan oleh pihak kepolisian.
Selama penyidikan, Arkan, Aldric dan beberapa anak buahnya akan ditahan. Arkan berontak, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
Davian dan sekretaris Dika sudah berada di markas tempat Arkan dan Aldric ditangkap. Davian tersenyum puas, karena bisa mengalahkan Arkan.
"DAVIAN BRENGS*K. TERNYATA KAU MENJEBAK KU! SIALAN! AKU TAKKAN MEMAAFKAN MU SAMPAI KAPANPUN! AAARRGGGGHH
Arkan mengamuk. Arkan marah. Emosinya pada Davian benar-benar tak tertahankan. Arkan kehilangan kendali. Dengan sigap, Arkan segera menendang dan memukul polisi yang menangkapnya. Arkan menendang polisi itu.
Meskipun tangan Arkan di borgol, ia dengan siap mengambil pistol yang menempel di pinggang polisi. dengan kesulitan Arkan mengarahkan pistolnya pada Davian,
Peluru mengarah pada tubuh Davian, Davian kaget tak bisa menghindar, dan
DORRR, DORRR
Tembakan Arkan mengenai tubuh Davian.
"AAARRGGGHHHHH," Davian meringis kesakitan saat peluru menusuk tubuhnya
Bruggghhkk,
Davian tersungkur ke aspal. Davian merasakan tubuhnya bergetar hebat, karena peluru tajam yang menghujam dadanya. Nafas Davian tersenggal-senggal. Dengan cepat, sekretaris Dika membantu Davian. Tak kuasa menahan tangisnya, didepan Davian yang sedang kesakitan, sekretaris Dika menangis, ia menjerit kesal, ia meluapkan amarahnya. Sekretaris Dika tak menyangka, Arkan akan se-gila ini.
Beberapa kali Arkan menembak Davian. Davian shock, ia tak menghindar. Dari beberapa tembakan yang dilayangkan Arkan, dua peluru tembakan mengenai tubuh Davian. Peluru lain melesat tanpa arah. Peluru pertama benar-benar mengenai dadanya, peluru kedua mengenai lengannya, namun tak separah peluru pertama.
Tanpa basa-basi, polisi segera melumpuhkan kaki Arkan dengan tembakan.
DORRRRR,
__ADS_1
AARGGGHHH, Arkan meringis kesakitan.
Kaki Arkan ditembak. Arkan menjerit menahan rasa sakit. Tak ada cara lain bagi polisi, untuk menghentikan kegilaan Arkan. Arkan CS segera digiring polisi masuk kedalam mobil. Arkan akan dihukum seberat-beratnya atas perlakuannya kini.
Detektif Jo segera menelepon ambulan, meminta pertolongan segera agar pihak Rumah sakit datang. Pertolongan pertama yang dilakukan detektif Jo adalah menekan bagian yang luka, agar pendarahan tak kunjung melebar.
Dengan terkulai lemah, Davian menyempatkan diri berbicara pada sekretaris Dika.
" Dik, Dika. Jangan biarkan Arini tahu mengenai kondisiku saat ini. Sembunyikan hal ini dari Arini. Katakan saja padanya bahwa aku baik-baik saja. Aaahh, Auwhhh, jangan pernah berkata, bahwa aku terluka. Aku tak ingin dia khawatir padaku. Aaaah, sakit sekali, Dik.." Davian meringis kesakitan
"Bos, semuanya sudah terlambat. Banyak wartawan dan media yang meliput. Sudahlah, tak perlu kau mengkhawatirkan Arini, khawatirkan saja dirimu, aku lebih sedih melihat kondisimu saat ini, Bos."
"A, a-ku, aku tak ingin Arini menangis karena aku, Dik. Arrrgghhh, luka ini sungguh menyakitkan." Davian tak kuasa menahan rasa sakitnya.
"Sudahlah, Bos. Bertahanlah, jangan memikirkan apapun untuk saat ini. Nyawamu lebih berharga dari apapun."
Jantungnya benar-benar dihujam. Davian tak menyangka Arkan akan melakukan hal gila ini padanya. Davian kira, ini adalah akhir bagi Arkan untuk membuat masalah, tapi ternyata Arkan membuat masalah terakhir untuk Davian.
Davian tak siap menerima peluru yang Arkan tembakkan pada dirinya. Karena, Davian tak menyangka jika Arkan akan berbuat seperti itu.
Polisi yang menjaga di sekitar Davian pun tak menyangka akan kejadian ini. Pistol yang kebetulan Arkan ambil dari sang polisi, adalah pistol dengan peluru tajam, karena sang polisi mengantisipasi perlakuan brutal Arkan jika Arkan memaksakan dirinya kabur.
Bukan tanpa persiapan, Davian memang sengaja tak membawa pengawal, karena Davian mengira bahwa Arkan tak akan berbuat aneh-aneh lagi. Davian tak menyangka bahwa Arkan akan melakukan perlawanan terakhir untuk dirinya.
Semua sudah terlambat. Kini, Davian sudah dibawa masuk ke ambulan untuk ditangani lebih lanjut oleh pihak Rumah sakit keluarganya. Sekretaris Dika tetap berada di sampingnya. Sekretaris Dika menginformasikan kepada keluarga besar Davian mengenai apa yang telah terjadi.
...__________________...
Arini sedang beristirahat di rumahnya sambil menonton televisi. Tiba-tiba acara gosip kesukaannya harus berhenti sementara karena ada breaking news yang akan tayang selama lima menit.
"Haish, kenapa harus ada berita, orang lagi seru-serunya nonton gosip video pemersatu bangsa selama 19 detik itu kan! Ah, menyebalkan. Pindahin deh, gak penting."
Arini memindahkan channel televisinya ke stasiun televisi lain, karena tak mau melihat berita yang ia rasa kurang penting.
*Bersambung*
Hai, hai..
Pantengin terus ya, 🥰
jangan lupa like dan komentarnya..
__ADS_1
Baca cerita temenku ya guys, bagus banget ❤🤗