
Sebelum membaca, tekan like dulu ya niar aku semangat up nya..
Selamat membaca, jangan di skip-skip ya, takut ada yang terlewatkan ❤
Beberapa jam sebelum Elang bertemu dengan Nisha ....
Elang terdiam, ia serasa mendapat tamparan hebat. Ucapan orang tuanya membuat Elang tak bisa berpikir jernih. Bagaimana tidak, sekretaris Dika mengatakan pada Elang, bahwa Bos nya, yaitu Davian, berniat akan menjodohkan Nisha dan Calandra.
Karena hal itu, Sekretaris Dika meminta Elang untuk tak mengganggu Nisha lagi, karena sekretaris Dika begitu patuh pada Davian, dan tak ingin mengecewakan Davian. Karena beberapa pertimbangan, sekretaris Dika mengambil pilihan sulit ini.
Ternyata, Davian telah mengetahui semua yang dialami oleh Nisha dan Calandra. Sekretaris Dika telah mengetahui penyebab mereka berciuman, bahkan sampai Nisha diusir dari rumah kedua orang tua angkatnya. Karena hal itulah, Davian memutuskan untuk menjodohkan Nisha dan Calandra, karena Davian ingin membuat Nisha bahagia, sebagai penebus kesalahan anaknya.
Mendengar hal itu, muncul ide gila di kepala Elang. Setelah mendapat kabar itu, Elang memutuskan menghubungi Dio dan Andre. Elang segera pergi menuju kontrakan Dio. Ada hal yang harus Elang lakukan, karena Elang begitu kecewa mendengar Ayahnya mengatakan, agar Elang tak mengganggu Nisha lagi.
"Ngapain sih, lo? Penting banget apa ya?" tanya Dio.
"Yo, lu suka maen sama cewek lu, kan? Bagi gue obat perangsang yang lu punya dong!" pinta Elang.
"Anj1ng lo. Buat apa obat perangsang? Bukannya elu cowok sok suci yang pernah gue kenal? Kenapa sekarang jadi gini?" tanya Dio.
"Mungkin dia udah ngebet, pengen wik wik sama sapi. Hahahha." Andre menertawakan Elang.
"Berisik lu. Gue serius! Apa lu masih punya pil perangsang?" tanya Elang.
"Ya punya, lah. Gue selalu sedia itu obat, biar cewek gue hot di ranjang! Gue sih gak munafik, karena gue sama dia sama-sama suka!" ucap Dio.
"Ya udah, bagi gue satu!" pinta Elang memaksa.
"Gue pengen tahu dulu alesannya dong! Elu mau wik wik sama siapa minta obat perangsang?" tanya Dio.
__ADS_1
"Iya, lo Lang! Apa lo gak takut sama Bokap lo yang garang?" tambah Andre.
"Justru karena gue mau ngelawan Bokap gue, gue mau ngelakuin ini." ucap Elang.
"Sama siapa?" tanya Dio dan Andre bersamaan.
"Lu berdua gak usah tahu. Udah cepet mana obatnya, gue gak bisa lama-lama disini," ucap Elang.
"Munafik, lo. Bilang takut, gak berani, tahunya maniak juga!" sambar Gio sambil berlalu menuju lemarinya.
Dio menyerahkan obat perangsang itu pada Elang. Elang pun menyeringai, dan segera berlalu dari kontrakan Dio. Elang segera melajukan mobilnya, dan pergi ke tempat yang telah ia janjikan bersama Nisha. Ya, Elang akan memberikan obat perangsang itu pada Nisha. Elang sakit hati, karena orang tuanya malah mendukung Nisha dengan Calandra, bukannya malah mendukung anaknya sendiri.
Persetan dengan ucapan Ayah. Ayah selalu aja nyalahin gue! Ayah gak pernah berikan gue kesempatan untuk bahagia. Selalu saja mementingkan kebahagiaan keluarga si Calandra sialan itu. Ayah gak pernah lihat hati gue. Ayah gak pernah bisa perjuangin gue sama si Nisha. Emang, emang salah gue pernah tergoda oleh Rena, hingga gue terpaksa mutusin Nisha. Tapi, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, bukan? Harusnya, Nisha tetep memberi gue kesempatan dan kita bisa balikan lagi. Tapi, apa? Nisha pergi, Rena pun cuma mau duit gue doang. Sial, pokoknya, hari ini gue harus tidurin Nisha, biar keluarga Pak Davian gak akan menjodohkan Nisha sama si sialan itu.Biarlah gue disiksa dan dicaci maki oleh semua orang, yang penting Nisha bisa sama gue, dan hamil anak gue.
Elang berniat meniduri Nisha dengan memberikan obat perangsang, karena Elang terlanjur sakit hati dengan ucapan Ayahnya. Elang tak sudi, jika Nisha akan dijodohkan dengan Calandra. Elang begitu terobsesi dengan Nisha karena Calandra. Elang sudah gelap mata, pikirannya telah kotor dan ia bertekad untuk melancarkan aksinya itu. Berharap Nisha tak akan bersama Calandra, dan Nisha pun akan hamil anaknya.
...🌳🌳🌳...
Calandra mengemudikan mobilnya dengan cepat, berharap segera sampai ke rumah sakit. Karena ia melihat Nisha sudah mulai merasa tak enak. Calandra yakin, bahwa Elang memang menaruh obat perangsang di minuman Nisha. Nisha terlihat begitu lemas dan berkali-kali memegangi tubuhnya.
"Nish, Nisha ... gimana badan kamu? Sabar ya, sebentar lagi sampai, Nish." ucap Calandra.
"Aku gerah, Andra. Aku gak nyaman, kenapa ya? Aduh, aku merasa tubuhku seperti ingin sesuatu, tapi aku tak mengerti perasaan apa ini. Ah, gak enak banget." Nisha masih bisa menyadari bahwa tubuhnya ada yang aneh.
Elang sialan! Obat itu mulai bereaksi di tubuh Nisha. Sabar, Nish. Aku akan segera membawamu ke Rumah sakit, agar kamu mendapat pertolongan. Maafkan aku yang lengah atas semua ini. Aku masih tak menyangka Elang akan senekad itu padamu. Akan ku hajar dia habis-habisan. Aku sungguh tak bisa memaafkan Elang! Batin Andra.
"Calandra, aduh, aku gak nyaman banget. Andra ..." Nisha mulai merasakan reaksi dari obat perangsang itu.
Calandra semakin bingung dibuatnya. Ia tak peduli mobil lain yang berada di depannya, Andra terus mengemudikan mobilnya dengan cepat. Andra kesal, karena tiba-tiba saja, jalanan menjadi macet dan jika Andra melewati jalan tersebut, ia pasti akan terjebak dalam macet yang lumayan panjang, karena terjadi kecelakaan antara truk besar dan sebuah mobil yang menghalangi akses jalan.
__ADS_1
"Calandra, aku ingin ..." Nisha mulai meracau dan sesekali memegang bagian tubuhnya.
"Astaga, Nisha. Nish, kamu harus sabar, tetap tenang, semua ini akan segera berakhir. Macet sialan, kenapa aku harus terjebak macet seperti ini. Nisha, pegangan! Aku akan putar balik, dan melewati jalan pintas. Biarlah jalannya kurang layak, tapi aku yakin akan sampai lebih cepat daripada menunggu kemacetan ini." Calandra pun memutar arah mobilnya sebelum banyak mobil yang berada di belakangnya.
Dengan hati berdebar tak karuan, Calandra mengemudikan mobilnya, karena ia tak tega, jika Nisha terus-menerus begitu. Calandra ingin melindungi Nisha, bukan ingin menghancurkan Nisha. Calandra tak mungkin mengambil kesempatan dalam kesempitan, karena yang ia pikirkan adalah Nisha. Ia bukan laki-laki yang mudah merusak wanita, justru ia sangat menghargai wanita, sebagaimana ia menghargai Arini, sebagai Ibunya.
Calandra melewati jalan dengan kerikil tajam. Jalan perkampungan yang akses jalannya sudah tak layak, karena tidak terurus oleh pemerintah setempat. Hingga Calandra melewati sebuah jalan yang begitu curam dari jalan sebelumnya. Dan terjadilah hal yang sangat tak diinginkan oleh Calandra.
Mobil yang Andra bawa, adalah mobil lama Arini. Mobil ini mogok saat Andra menginjak pedal gas dan ternyata ban mobilnya melindas batu yang ukurannya cukup besar. Mobil pun mogok. Entah bannya yang kempes, atau mesin didalamnya yang bermasalah karena Calandra membawa mobilnya dengan rusuh dan tak memperhatikan jalan.
"Sialan! Mobilnya mogok. Aarrgghhhh," Calandra emosi.
Nisha sudah tak kuasa lagi mengontrol dirinya. Nisha gelisah, tubuhnya tak karuan, ia memegangi bagian tubuhnya berkali-kali, ia pun merasakan panas di sekujur tubuhnya. Rasa gelisah dan tak nyaman membuat tubuhnya merasakan gejolak dan hasrat yang sulit untuk ditahan. Ia ingin melakukan itu, karena efek obat rangsang yang telah Elang masukan dalam minumannya.
"Elang, tubuhku ... ah, aku sungguh tak nyaman. Ingin rasanya aku melakukan itu, aarghhh." Nisha menggeliat dan memegangi buah dadanya.
Kejantanan Calandra sebagai lelaki normal pun tak bisa dipungkiri. Pedang nya bangun melihat kehidupan dihadapannya. Namun, Calandra menepis pikiran kotor itu dan ia harus segera mencari cara agar mobilnya bisa dibetulkan. Ia akan keluar dari mobilnya dan meminta pertolongan orang sekitar. Namun, rasanya seperti sulit menemukan orang didalam jalan yang hanya dikelilingi pepohonan rindang.
"Nish, tunggu sebentar! Aku akan keluar memeriksa mobil ini dulu," ucap Andra.
Tangan Nisha menarik lengan Andra, hingga Andra kaget dibuatnya. Nisha melarang Andra keluar dari mobilnya. Nisha menarik lengan Andra, dan Nisha pun mendekatkan tubuhnya pada wajah Andra. Nisha mencium Andra tanpa permisi. Andra benar-benar kaget mendapat serangan dari Nisha. Sungguh tak bisa disangka, ternyata obat itu bisa membuat Nisha menjadi liar seperti ini.
Nisha terus menciumi Andra dengan ganasnya, hingga membuat Andra kesulitan bernafas. Tubuh Nisha sudah tak bisa dikendalikan lagi, dan ia benar-benar sudah diluar batas. Obat itu telah sepenuhnya bereaksi, dan Nisha sangat menginginkan melakukan hal tersebut.
"Mmhhh, aarrgggh, Nisha, lepaskan aku! Hentikan, ini salah, Nisha! Cukup! Tubuhmu sudah dikuasai oleh obat itu!" Andra mencoba menjauhkan Nisha dari tubuhnya.
"Andra, aku ingin. Nikmati tubuhku sekarang juga ... Aku mohon, aku tak kuat lagi, aku sangat ingin, dan sudah tak tahan lagi. Jamah aku, dan mari kita lakukan." Nisha berbisik ditelinga Andra dan mulai menciumi telinga Andra.
"ASTAGA, NISHA!!!" Calandra tak bisa mengontrol dirinya, karena pedang yang sedari tadi hidup pun, sudah memaksa ingin segera mendobrak keluar.
__ADS_1
Ya Tuhan, tolong aku. Harus bagaimana aku? Aku tak mungkin merusak Nisha. Tapi, bagaimana aku menghentikannya?
*Bersambung*