
Hari-hari semakin sibuk di rumah keluarga besar Davian. Keluarga besar Davian akan menyelenggarakan pernikahan Davian dan Arini dua hari lagi. Keluarga Davian tak akan menggelar pernikahan yang mewah, pernikahan ini diadakan tertutup dan hanya keluarga saja yang datang.
Hari ini hari minggu. Arini memutuskan pulang dulu ke rumahnya. Arini akan mempersiapkan pernikahan sandiwaranya itu. Arini pasrah dengan jalan hidup yang harus ia lalui saat ini, yang jelas ia tak boleh mengecewakan keluarganya dan juga keluarga Davian.
Semua sudah terlanjur. Arini tak bisa mengelak lagi. Sejujurnya, Arini keberatan menikah dengan Davian, Arini tak mencintai Davian, Arini mencintai cita-citanya, namun takdir berkata lain, bahwa Arini harus melakukan pernikahan palsu ini.
"Rin, kamu nanti pakai baju yang mana?" tanya Ibu tiba-tiba
"Nanti sekretaris Dika akan mengantarkannya kemari, Bu. Kita tak tahu apa-apa, mereka yang akan mengurusnya." jawab Arini
"Kak Arini beruntung banget bisa nikah sama orang kaya." ucap Mita tiba-tiba
"Kak Davian itu memang ganteng dan baik hati ya kak?" tanya Alif
"Iya, Alif. Kak Davian memang sangat baik." jawab Arini tersenyum
"Syukurlah, kak Davian akan menikahi Kakak kita. Kalau sampai Mas Adit yang akan menikahi kak Arini, kita tak akan bisa makan enak terus. Bener gak de?" tanya Mita pada Alif
"Bener banget, Kak. Alif setuju."
"Kalian gak boleh begitu, nduk." ucap Ibu Arini
Arini melupakan sesuatu. Mas Adit, lelaki itu pasti menunggu jawaban dari Arini. Bagaimana kalau nanti Mas Adit tahu bahwa Arini akan menikah? Arini tak ingin Mas Adit tahu, karena Mas Adit lah kehidupan nyata Arini.
Mas Adit yang pasti menerima Arini dengan sungguh-sungguh. Davian hanya kehidupan halu Arini, suatu saat Davian pasti akan meninggalkan Arini. Hanya Mas Adit yang akan setia menerima Arini. Mas Adit tak boleh mengetahui bahwa Arini akan menikah.
"Alif, Mita?" tanya Arini
"Ya, kak?" jawab Alif dan Mita bersamaan
"Apa Kak Arini boleh meminta satu permintaan sama kalian?" ucap Arini
"Tentu saja, apa kak?" tanya Mita
"Kalian tahu kan, kalau Mas Adit mengejar-ngejar kak Arin. Nah, Kak Arin mohon sama kalian, kalian jangan bilang pada Mas Adit kalau Kak Arin akan menikah, ya? Kak Arin kasihan pada Mas Adit. Biar nanti Kak Arin yang akan memberitahunya sendiri." jelas Arini
"Baik, Kak. Mita mengerti." jawab Mita
"Alif, apa kamu dengar ucapan kakak barusan?" tanya Arini
"Alif dengar, tetapi Alif tak setuju. Padahal Alif ingin memberitahu Pak Adit kalau Kakak mau menikah, agar Pak Adit tak mendekati kakak terus." ucap Alif polos
"Eh, Adit! Kamu gak boleh gitu, Nak. Kamu gak boleh jahat sama Pak Adit. Biar kak Arin saja yang memberitahu, ya? Alif pura-pura tak tahu saja, jangan sampai bicara kalau kak Arin menikah." Arini menjelaskan
"Baik, baik Kak Arin. Alif mengerti."
__ADS_1
Ibu Arini tersenyum melihat keakraban Arini dan kedua adiknya.
"Rin, kamu harus bisa jadi istri yang baik untuk Davian. Kamu harus patuh padanya. Jadilah seorang istri yang shalehah untuk suamimu." ucap Ibu
"I, iya Bu." jawab Arini
"Kedudukan suami itu lebih tinggi daripada istri. Kamu harus patuh dan sopan terhadap suamimu nanti. Kamu tak boleh membantahnya. Jadilah sekuntum mawar saat suamimu ada di dekatmu, sehingga dia bisa mencium aroma wangi ketika bersama mu. Bahagiakan dia dengan jasmani dan rohani, hiduplah dengan tentram dan damai. Kamu mengerti kan?" ucap Ibu
"Me, mengerti Bu." Arini gugup
DEG. Arini kaget mendengar ucapan Ibunya. Ibunya benar-benar menganggap pernikahan ini adalah pernikahan yang sesungguhnya. Arini bingung harus berbuat apa, kalau Arini jujur pada Ibunya, Arini yakin, Ibunya akan menolak habis-habisan.
Ibu Arini berpendapat bahwa pernikahan adalah suatu hal yang sakral dan tak boleh dipermainkan. Kalau Ibunya tahu bahwa Arini akan melakukan pernikahan sandiwara, akan bagaimana responnya?
Semuanya jadi begitu rumit ketika Davian malah berkata akan menikahi Arini dengan tulus pada Ibunya. Padahal jelas-jelas semua itu hanyalah kebohongan belaka. Davian pintar bersilat lidah, membohongi Ibunya, tetapi Davian menyakiti hati Arini yang tak suka dengan caranya.
Tanpa Arini sadar, ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Seorang lelaki yang wajahnya tak asing bagi mereka. Mas Adit, ia datang ke rumah Arini tanpa diundang. Betapa kagetnya Arini melihat Mas Adit ada dihadapannya.
"Assalamualaikum, Arini."
"Waalaikumsalam, Eh Mas Adit. Kenapa gak nelepon dulu kalau mau kesini?" tanya Arini
"Sengaja, karena aku tahu, hari minggu adalah hari libur mu kan? Kamu pasti berada di rumah." jawab Mas Adit
"Masuklah, Nak Adit. Arin, ajak Nak Adit masuk kedalam." ucap Ibu
Arini terkejut dengan ucapan Mas Adit. Tak menyangka Mas Adit bermain pintar dan mengajak Arini pergi keluar. Ibu Arini pun gugup dengan ucapan yang dilontarkan Mas Adit. Namun, sesuai permintaan Arini, mereka tak boleh terlihat mencurigakan dan jangan sampai Adit tahu mengenai pernikahan Arini.
"Eh, terserah Arini saja, Nak Adit." ibu sedikit gugup
"Rin, ayo. Aku ajak kamu ke taman kota sebentar." ajak Mas Adit
"Eh, iya. Tunggu sebentar Mas. Arin mau pakai switer dulu." ucap Arini
Akhirnya, Arini ikut Mas Adit jalan-jalan. Mas Adit membawa motornya pelan-pelan. Mas Adit akan membawa Arini menuju taman kota.
Sesampainya di taman kota, Mas Adit membelikan Arini minuman dingin sebagai penghilang rasa haus. Arini canggung berada di samping Mas Adit. Arini takut, Mas Adit akan menanyakan hal yang saat itu ia tanyakan pada Arini.
"Rin?" tanya Mas Adit
"Ya, Mas?" jawab Arini
"Kenapa kamu seperti menghindar dariku?" tanya Mas Adit lagi
"Tidak, Mas. Aku hanya sangat sibuk saja." jawab Arini gugup
__ADS_1
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku saat itu." ucap Mas Adit lirih
"Pertanyaan apa?" Arini pura-pura
"Kamu lupa, apa pura-pura lupa?"
"Maaf." Arini menunduk
Aku sudah tahu alasan kamu membawaku kesini, Mas. Aku tahu, kamu ingin menanyakan hal itu. Aku bingung harus menjawab apa. Kalau ku jawab iya, semuanya sudah terlambat! Maafkan aku Mas Adit, mungkin belum saatnya kita bersama. Arini dalam hati.
"Jawablah, Arini. Apa kamu mau hidup bersamaku?" tanya Mas Adit lagi
Arini terdiam. Sangat sulit baginya untuk menjawab pertanyaan Mas Adit. Kalau Arini bisa memilih, Arini lebih baik memilih Mas Adit saat ini juga, karena Mas Adit tak akan menyakitinya, namun Davian? Apakah ada jaminan kalau Davian akan menyayangi Arini setulus hati? Adakah jaminan Davian tak akan melukai hati Arini?
"Rin? Kenapa tak mau jawab. Apa aku tak ada artinya didalam hidupmu?"
Arini tetap tak menjawab. Tiba-tiba handphonenya berdering. Arini segera membuka handphonenya. Arini kaget. Kontak atas nama Tuan muda Davian menghubunginya, Arini telah mengganti kontak Davian. Arini harus mengangkat telepon Davian, takut kalau ada sesuatu yang penting.
"Mas Adit, maaf aku angkat dulu teleponku." ucap Arini.
Arini mengangkat telepon Davian. Arini tak bisa menjauh dari Mas Adit, kalau Arini menjauh, Mas Adit pasti curiga.
[Halo, Tuan. Ada apa?]
[Lu dimana?]
[Em, saya lagi di taman kota. Ada apa Tuan?]
[Sama siapa?]
[Sama teman, Tuan. Apa ada yang bisa saya kerjakan saat ini?]
[Nggak perlu!]
Tut..tut..tut..
Telepon terputus. Davian mematikan teleponnya. Di ujung jalan tempat masuk taman kota, dua pasang mata sedang mengamati Arini dan Adit. Satu pasang mata itu seperti melihat calon istrinya yang sedang selingkuh.
"Dia berbohong! Jadi, itu pacarnya Arini?"
*Bersambung*
Hai teman-teman..
Kalian suka gak cerita Terjerat cinta sang pembantu ini? Kalau suka, rekomendasikan cerita ini ke teman atau saudara kalian juga ya. Aku juga butuh dukungan kalian pembaca setiaku demi kelanjutan novel ini. Jangan lupa like dan komen. Apalagi yang bersedia memberi vote. Aku ucapkan banyak-banyak terima kasih..
__ADS_1
Makasih atas dukungannya🥰🥰🥰