Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Penjelasan Davian


__ADS_3

Davian benar-benar akan ucapannya. Davian sangat rindu pada Arini. Ternyata, satu hari saja tak bertemu istrinya, Davian tak bisa mengendalikan kerinduannya. Davian memutuskan untuk segera berangkat naik helicopter.


Sekretaris Dika awalnya sangat keberatan. Namun, Davian tetap memaksa. Akhirnya, ia harus mengalah saja. Padahal, banyak sekali yang harus ia kerjakan mengenai misinya saat ini.


"Bos, sudah selesai. Kita gedung paling atas saja. Heli akan mendarat di sana." ucap sekretaris Dika


"Baik."


Davian segera naik lift untuk menuju gedung paling atas perusahaannya. Davian hanya membawa tas dan satu pakaian ganti. Davian tak berniat lama-lama di tempat Arini. Besok pagi pun ia akan pulang kembali.


Perjalanan tak memakan waktu lama. Hanya sekitar dua jam, helicopter telah mendarat di sekitar pesisir pantai yang luas. Davian lega, perjalanan yang sangat bising dan berisik. Davian benar-benar tak suka sura helicopter. Kalau bukan karena Arini, ia tak mungkin mau memaksakan diri naik helicopter.


Davian sengaja tak memberi tahu Arini kalau dirinya sudah sampai di pesisir pantai. Davian menunggu sampai helicopter itu terbang kembali, karena Davian akan menelepon Arini, jika helicopter tersebut masih berada disini, tentunya akan sangat berisik sekali.


Benar-benar rindu yang tak bisa ditahan. Cinta Davian pada Arini kini tak bisa ditutup-tutupi lagi. Davian telah melabuhkan hatinya pada Arini. Tak akan pernah terganti, hanya Arini-lah yang akan selalu ada didalam hatinya. Davian ingin melakukan video call pada Arini. Ia ingin memberi kejutan pada Arini.


📲 Davian


[Halo, sayaaaaaaang.] Davian melambaikan tangannya pada Arini. Diiringi dengan senyumannya yang manis


Arini yang sedang tiduran di kamarnya terperanjat kaget, melihat Davian dengan background disekitar pantai. Arini merasa, sepertinya Davian sudah berada disini.


📲 Arini


[Mas, Mas Davian ada dimana? Apa Mas sudsh disini?] Arini menutup mulutnya karena kaget


📲 Davian


[Menurutmu, aku ada dimana? Nih, nih, lihat. Apa kamu ingat pemandangan pantai ini? Nih, sekretaris Dika juga ikut!] Davian menunjukan handphonenya ke segala arah, agar Arini melihatnya.]


📲 Arini


[HAH? Mas Davian bener-bener udah nyampe sini. Ya ampun, aku kira Mas itu becanda. Yasudah, tunggu di sana. Biar aku menjemput Mas ke pantai.]


📲 Davian


[Baik, aku tunggu disini. Ajak asisten Tira untuk mengantarmu, kamu jangan menjemput ku sendiri.]


📲 Arini


[Baik, Mas.]


Arini bergegas bangun dan mengajak Tira untuk segera menjemput Davian. Hati Arini berbunga-bunga. Davian yang baru saja menikah dengannya, dan menikah tanpa rasa cinta sedikitpun, kini mulai terasa, bahwa cinta Davian pada Arini sangatlah nyata.


Davian terlihat sedang berdiri di sekitar pantai. Arini dapat melihatnya dari kejauhan. Tak dapat Arini pungkiri, bahwa suaminya itu memang sangat tampan dan menawan. Arini mengeluarkan handphonenya dan segera memotret Davian. Tampan, sangat tampan, Arini mengucapkannya dalam hati setelah ia memotret Davian.


Arini berlari mendekati Davian. Ada perasaan senang dan khawatir. Arini senang, Davian bisa mengunjunginya lagi, namun Arini juga khawatir akan kesehatan Davian.


"Mas, aku kira kamu cuma bercanda." mata Arini berbinar


"Aku sudah bilang padamu, bahwa aku sangat merindukanmu." Davian memeluk Arini


"Rasanya, baru kemarin kita bersedih karena perpisahan, tahunya sekarang malah bertemu lagi. Kalau begitu, rasanya sia-sia sekali air mataku kemarin itu." ucap Arini


"Tak ada yang sia-sia sayang, aku bahagia, jika kamu menangisi diriku. Itu tandanya kamu sangat mencintaiku." jawab Davian

__ADS_1


"Tentu saja aku mencintaimu." Arini memeluk Davian lebih erat


"Hemm, hemm. Sekarang udah mulai gak malu-malu lagi nih ceritanya, saling mengungkapkan perasaan satu sama lain. Sadar dong, disini ada jomblo. Bikin ngiri aja deh!" keluh sekretaris Dika


"Ups, gue bikin lu cemburu ya? Jangan sulit, Dik. Didepan lu juga ada cewek! Kenapa gak lu coba deketin dia aja?" Davian menatap Tira


"Dih, Tuan. Maaf maaf nih ya, saya gak bakalan jatuh cinta sama sekretaris sombong ini, dia bukan level saya sekali. Saya gak akan mungkin tertarik sama dia." jawab Tira


"Hihh, memangnya dia kira, dia aja yang gak tertarik sama gue? Nih ya, Bos. Gue juga gak bakal tertarik sama dia. Liat aja, dia bilang gak akan tertarik sama gue, suatu saat nanti, gue buat dia jatuh cinta sama gue. Lihat aja nanti."


"Sembarangan kalau ngomong. Gak kebalik tuh!"


Sekretaris Dika dan Tira terlihat perdebatan sengit. Davian dan Arini malah tertawa mendengar pertengkaran kecil mereka.


"Udah, udah! Kalian gak usah ngelanjutin omongan kayak gitu. Kemakan omongan sendiri baru rasa lu berdua!" ucap Davian


"Tira, hati-hati loh kamu, aku juga dulu sama Mas Davian bilangnya gak level dan gak tertarik sama dia, eh tapi sekarang, aku bener-bener jilat ludahku sendiri, aku jadi jatuh cinta sama dia." tambah Arini


"Tapi, itukan Nona Arini. Hal itu gak akan berlaku untuk saya. Sekretaris petakilan gini, haduh, gak banget deh Non." tambah Tira


"Eh, udah udah! Kalian ini, malah berantem. Karena ini udah petang, gue sama Arini mau nikmati indahnya pantai ini dulu. Lo berdua, mau kemana aja terserah deh. Mau jalan-jalan bareng juga boleh," jawab Davian


"NGGAK MAKASIH," jawab Tira dan Sekretaris Dika bersamaan


"Ciyeeee, gitu tuh kalo jodoh, apa-apa barengan dan samaan. Dah ah, kaburrrrrr. Ayo, sayang." ucap Davian


Davian dan Arini memandangi keindahan pantai di ujung selatan ini. Benar-benar pemandangan yang sangat indah dan menyejukkan. Davian memegang tangan Arini dengan hangat.


"Arini?" tanya Davian


"Kamu tahu gak, gimana perasaanku saat ini?"


"Gimana emang?"


"Aku benar-benar khawatir sama kamu, aku benar-benar mencintaimu, dan aku takut terjadi sesuatu sama kamu, ketika kamu jauh dariku. Makanya, aku memutuskan untuk datang kesini." jawab Davian


"Bukankah Mas Davi hanya ingin bercinta saja?" sindir Arini


"Bodoh! Mana mungkin aku hanya ingin begitu saja. Aku memang mencintai kamu, aku tak bisa jauh dari kamu. Jauh dari mu, membuat aku tak semangat, Arini. Untuk soal bercinta, itu kan memang sudah kewajiban kita." Davian terkekeh


"Mas bisa aja."


"Tapi, benar Arini. Aku sangat mengkhawatirkan mu." ucap Davian


"Kenapa Mas mengkhawatirkan aku? Bukankah aku akan aman disini?" tanya Arini


"Aku takut, Arkan menemukan keberadaan mu dan mengetahui sandiwara kita. Karena aku tahu, Arkan sangat kejam dan tak pernah mengampuni seseorang." ucap Davian


"Kenapa Mas bisa berkata begitu?" tanya Arini


"Tasya. Tasya ternyata disandera oleh Arkan. Tasya memiliki banyak utang pada anak buah Arkan. Aku pernah berbohong padamu akan satu hal." ucap Davian


"Apa itu?"


"Setelah bersamamu, aku pernah membayarkan utang Tasya, karena aku kasihan padanya. Dia meminta bantuan ku untuk melunasinya. Aku tak tega, ku putuskan untuk melunasinya, agar ia terbebas dari jeratan anak buah Arkan."

__ADS_1


"Lalu?"


Arini terus memperhatikan. Tak ada rona marah dalam dirinya. Ia terlihat biasa saja.


"Maaf, jika aku tak jujur padamu. Saat itu, keadaan Tasya sangat mendesak, aku kasihan. Setelah ku lunasi utangnya, kukira mereka telah membebaskan Tasya, ternyata Tasya malah diculik lagi karena Arkan tahu, yang melunasinya adalah aku. Awalnya, Arkan akan memancingku dengan Tasya, tapi karena aku sudah mencintaimu dan melupakan Tasya, Arkan jadi mengincar mu. Arkan ingin aku hancur, dengan orang yang aku sayangi. Karena itulah, aku membuat drama seperti ini. Aku sangat khawatir padamu." ucap Arini


"Lalu, Tasya bagaimana sekarang?" Arini malah penasaran dengan Tasya


"Dia sangat mengkhawatirkan. Dia dijadikan budak s*ks oleh Arkan dan anak buahnya. Aku kira, mereka akan melepaskan Tasya, ternyata tidak. Aku sangat khawatir kalau sampai kamu tertangkap oleh Arkan, karena itu aku akan mempercepat melaporkan Arkan. Aku takut, jika terlalu lama, mereka akan mencium sandiwara kita." jelas Davian


"Aku mengerti. Tapi, kenapa Mas tak membebaskan Tasya? Apa Mas tak kasihan padanya? Lepaskan dia, dia pasti tersiksa, Mas. Aku sebagai wanita tahu betul bagaimana rasanya harga diri kita dipermalukan, Tasya pasti sangat trauma. Aku benar-benar marah dengan si Arkan itu."


"Akan ku coba, aku sedang mencari cara untuk membebaskannya. Apa kamu tak keberatan kalau aku juga menolong Tasya?" tanya Davian


"Tentu saja tidak. Dia harus kita tolong, Mas. Bergerak cepat, jangan biarkan Tasya mati konyol di tangan Arkan. Aku ingin semua ini cepat selesai."


"Tentu saja, makanya aku kesini malam ini. Karena, esok dan seterusnya aku akan benar-benar sibuk, dan mungkin akan lupa untuk mengabari mu. Aku akan mempercepat pelaporan mengenai Arkan. Aku akan mencari bukti lebih banyak, sayang." ucap Davian


"Mendengar betapa mengerikannya Arkan, aku jadi semakin khawatir padamu, Mas. Apa kamu yakin, kamu akan baik-baik saja? Kenapa aku jadi takut kamu kenapa-napa?" Arini khawatir


"Aku akan menjaga diriku dengan baik, sayang. Percayalah padaku, aku tak akan terluka sedikitpun. Aku akan benar-benar membuat semuanya kembali seperti sedia kala. Arkan memang harus dihancurkan, kalau tidak, akan banyak perusahaan yang mengalami kerugian karena ulahnya. Bisa-bisa perusahaan ku juga bangkrut kalau dia tetap berkeliaran bebas!"


"Baiklah, aku percaya padamu. Jaga tubuhmu untukku, Mas. Jangan sampai kamu terluka." ucap Arini


"Iya, sayang. Tentu saja, aku akan menjaganya! Ngomong-ngomong soal tubuh, kamu udah ngebet ya Rin?" Davian mulai nakal


"Ngebet apaan sih?" Arini heran


"Ya itu, kamu udah bahas-bahas tubuh! Kamu menginginkan tubuhku sekarang? Iya?" tanya Davian


"Enggak Mas, nggak! Aku cuma khawatir tubuh kamu terluka oleh Arkan, hanya itu saja!"


"Tapi, wajahmu bilang, kamu ingin segera memeluk dan menciumi tubuhku. Iya kan?"


"MAS! Mulai deh, nyebelin." Arini kesal


"Jangan malu-malu, Arini. Ayo, kita pulang ke rumahmu. Kita nikmati malam romantis kita. Akan ku serahkan seluruh tubuhku beserta isi-isinya untukmu malam ini. Kamu pasti sudah tak sabar untuk memegangnya bukan?" Davian mencolek buah dada Arini


"Eh, Mas. Jangan pegang-pegang!" Arini menepis tangan nakal Davian


"Aku gak akan memegangnya, aku akan melahapnya dengan nikmat! Ayo, kita pulang! Aku sudah tak sabar, membayangkannya saja membuat bulu kudukku merinding. Tanya saja pada pembaca, mereka juga pasti dagdigdug serrr ketika kita akan melakukan hal itu. Iya kan? Jujur aja deh?"




*Bersambung*


wkwkwk


Selamat membaca 😘😘😘


Selamat malam apa? malam.....


Jangan lupa like dan komentarnya 🙂

__ADS_1


__ADS_2