Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
pembantu cantik


__ADS_3

-Di rumah Davian Raharsya-


Arini telah selesai membersihkan kamar Davian. Kini, Arini akan mencuci piring dan mencuci baju. Setelah mencuci baju, seperti biasa Arini menjemurnya dihalaman belakang. Cuaca hari ini sangat mendukung untuk Arini menjemur pakaian.


Arini yang sedang fokus menjemur baju, tak menyadari kedatangan Rangga. Rangga tiba-tiba berada di belakang Arini.


"Hai, Rin!" sapa Rangga.


Arini kaget, ia menoleh kebelakang dan ternyata benar saja dugaannya. Itu adalah Tuan Rangga.


"Eh, Tuan Rangga! Maaf, saya kaget." ucap Arini.


"Tidak apa-apa Arini. Selesaikanlah dulu pekerjaanmu." ucap Rangga


"Memangnya, ada apa Tuan? Biarkan saja, pekerjaan ini nanti aku selesaikan."


"Tidak, tidak. Selesaikanlah dulu. Aku akan menunggu di sini." Rangga duduk di ayunan


"Baik, Tuan. Saya akan segera menyelesaikan pekerjaan saya." jawab Arini


Wanita yang malang. Kenapa harus menjadi pembantu seperti ini? Kalau saja Davian menyerahkannya padaku, kamu sudah ku jadikan istri saat ini juga. Davian bukan lawan yang lemah. Ucap Rangga dalam hati.


Arini telah selesai menjemur pakaian milik Davian. Arini berdiri tepat didepan Rangga.


"Tuan, saya sudah selesai. Ada yang ingin Tuan katakan pada saya?" tanya Arini


Rangga berdiri. Perlahan, ia berjalan. Arini mengikutinya dari belakang.


"Apa yang terjadi semalam antara kau dan Davian?" tanya Rangga


"Maksud Tuan? Terjadi apa?" Arini tak mengerti


"Kenapa Davian mendobrak pintu kamarmu?" tanya Rangga


"Oh, itu. Saya juga enggak ngerti, Tuan. Saya sedang istirahat di kamar, tiba-tiba Tuan Dav mendobrak pintu kamar saya. Dia bilang sepertinya ada maling." jelas Arini


"Kamu percaya itu?" tanya Rangga


"Saya percaya, tetapi mungkin Tuan Dav salah melihat." ucap Arini


"Lalu, semalam kamu tidur dimana?" tanya Rangga


Aduh, aku harus menjawab apa? Dia tahu nggak ya? Kalau aku bilang tidur di kamar tamu, nanti dia tahu, bagaimana? Guman Arini.


"Sa, saya tidur di kamar Tuan Dav! Tidur di sofabed miliknya." ucap Arini gugup


"Kenapa Davian tega sekali? Sudah menghancurkan pintu kamarmu, lalu membiarkanmu tidur di sofa!" jawab Rangga sedikit kesal


"Itu sudah menjadi kewajiban saya. Tuan Dav meminta saya untuk tidur di ranjangnya dan dia akan tidur di sofa, tetapi saya tolak, Tuan. Karena tak mungkin saja bagi saya untuk tidur di ranjang Tuan muda Dav!" jelas Arini


Kenapa kamu malah membela Davian, Arini? Kenapa kamu malah menyanjung Davian? Batin Rangga.

__ADS_1


"Oh, begitu!" jawab Rangga seadanya


"Tetapi, pagi tadi aku ke kamarku, pintunya sudah betul kembali, Tuan." ucap Arini


"Kau sudah melihatnya?" tanya Rangga


"Sudah, Tuan. Tadi pagi saya ke kamar saya. Kira-kira, siapa ya yang membenarkan pintunya? Apa itu atas perintah Tuan Dav?" tanya Arini


Rangga tertawa. Rupanya gadis cantik itu tak mengetahuinya.


"Itu aku yang membetulkan!"


Jawaban Rangga membuat Arini terkejut. Arini melotot melihat Rangga. Kenapa Tuan Rangga yang membetulkan pintu kamarku? Arini dalam hati.


"HAH? Tuan serius? Kenapa Tuan mau membetulkannya?" tanya Arini


"Aku kasihan melihatmu, baru bekerja disini sudah mendapati banyak masalah. Aku harap, kamu betah. Makanya, aku betulkan pintu kamarmu!" ucap Rangga


"Tuan bisa membetulkannya?" tanya Arini


"Tentu saja! Hanya sekedar membetulkan engsel pintu kenapa aku tak bisa?" Rangga sombong


"Tapi Tuan Dav sepertinya tidak bisa! Ngomong-ngomong, terima kasih ya Tuan, Tuan sudah mau membetulkan engsel pintu kamarku!" Arini menundukkan kepalanya


"Tentu saja, Rin. Oh iya, kamu banyak kerjaan gak?" tanya Rangga


"Pekerjaanku sudah selesai, tinggal nanti jam 3 aku harus memasak dan menyiapkan peralatan mandi serta baju untuk Tuan Dav." jawab Arini


"Iya, Tuan. Pekerjaanku lenggang siang ini, tak terlalu sibuk." jawab Arini


"Kalau begitu, kamu bisa anterin aku gak?" tanya Rangga


"Antar kemana, Tuan?" tanya Arini


"Aku mau beli buku di Gramedia. Antar yuk? Rasanya, kesepian kalau sendirian." Rangga merayu


"Tetapi, saya tidak berani kalau tidak izin pada Tuan Dav." ucap Arini


Rangga berpikir. Kalau Arini meminta izin pada Davian, Davian pasti tak mengizinkannya. Kalau Rangga memaksa, Arini pasti menolak habis-habisan.


"Oh iya, kalau begitu kamu pamit aja sama Kakak ipar ku. Pamit pada Mama Davian, Rin." usul Rangga


"Tuan Rangga bener juga. Yasudah, Tuan tolong tanyakan pada Nyonya Amel, apakah boleh saya mengantar Tuan pergi?" Arini menyuruh Rangga


"Kamu gak mau izin sendiri?"


"Kan Tuan yang ajak saya, Tuan dong yang harus minta izin pada Nyonya! Hehe." Arini terkekeh


"Kamu pinter ya emang! Ya sudah, kamu siap-siap saja dulu, kalau sudah siap kita izin! Kak Amel pasti mengizinkannya." jawab Rangga


"Apa Tuan bisa menjamin kalau akan dibolehkan?" Arini mendesak Rangga

__ADS_1


"Percaya saja padaku. Ayo masuk! Aku akan mengganti bajuku." Rangga berlalu


"Baik, Tuan."


Arini mengganti bajunya. Ia berpikir, Davian tak akan marah karena Arini sekarang sedang tak ada pekerjaan. Arini mengganti bajunya sedikit lebih fashionable, berbeda dari pakaian sehari-harinya di rumah besar ini.


Nyonya Amel sedang berbincang bersama kedua temannya. Sepertinya, Nyonya Amel tipe-tipe wanita sosialita. Terlihat dari pakaiannya yang glamour dan riasan make up yang berlebihan.


"Kak, Rangga boleh kan ajak Arini pergi? Rangga minta antar Arini ke toko buku. Biar Rangga ada temannya." ucap Rangga


"Ga, apa kamu sudah meminta izin pada Davian? Kalau Davian mengizinkan, ya boleh saja!" jawab Mama Davian


"Davian pasti sedang sibuk! Aku izin pada Kakak saja, nanti Kakak tolong sampaikan pada Davian, ya?" pinta Rangga


"Ya sudah kalau begitu! Jangan pergi terlalu lama!" pinta Mama Davian


"Baik, Nyonya. Saya pamit, permisi semuanya." jawab Arini sopan.


Arini dan Rangga berlalu. Ibu-ibu sosialita teman Mama Davian membicarakan Arini dan Rangga


"Itu pacarnya Adikmu ya jeng?" tanya Wina, teman Mama Davian


"Bukan, si Rangga gak punya pacar! Itu pembantunya Davian!" jawab Mama Davian


"HAH? PEMBANTU?" jawab teman Mama Davian bersamaan


"Masa pembantu cantik kayak gitu sih jeng?" tanya Wina


"Iya loh! Dia gak pantes jadi pembantu! Minimal dia jadi SPG gitu, jeng!" jawab Mela


"Nasib berkata begitu. Dia harus menjadi pembantu. Auranya memang bagus. Dia membuat Davian dan Rangga seperti tertarik padanya! Heran saya jeng, masa anak dan adikku berebut pembantu?" Mama Davian geleng-geleng kepala


"Ya kalau pembantunya cantik kayak gitu sih wajar saja kalau anakmu tertarik! Lha wong cantik tenan tho!" ucap Wina dengan logat jawanya


"Tapi, sepertinya adik ipar ku juga menyukainya. Aku tak mau, kalau sampai mereka berdua berantem gara-gara Arini, memang dia itu cantik, hanya saja nasib baik tak memihak padanya." jawab Mama Davian


"Iya sih, tetapi rasanya pembantu itu juga tak pantas jadi orang miskin. Wajahnya tak bisa dikategorikan sebagai orang miskin." jawab Mela


"Dia kuliah di fakultas kedokteran. Dia ingin menjadi dokter. Kalau ada lowongan di klinik. Dia pasti segera mengundurkan diri jadi pembantu di rumah ini." jawab Mama Davian


"Dia ingin jadi dokter jeng? Suamiku kan dokter! Apa jeng mau aku merekomendasikannya pada suamiku?" usul Wina


"Betul juga kamu, Win. Biar nanti aku tanyakan pada Davian." ucap Mama Amel


*Bersambung*


Ini Visual Davian dan Arini ya ❤



__ADS_1


__ADS_2