Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Rasakan, Meliza. 2


__ADS_3

"Apa maksud dari semua ini? Apa kalian sengaja melakukan hal keji seperti ini hah?" Meliza kesal.


"Maaf, Nona. Saya memang akan membawa saksi ini kehadapan Nona saya, saya ingin memberitahukan pada Nona saya mengenai kesedihan wanita ini. Ternyata, surprise untuk saya, orang yang harusnya mendengar cerita ini, malah ada disini, dihadapan saya. Baguslah, agar kalian mendengar juga." jelas sekretaris Dika.


"Apa maksudmu, Dika? Kamu ingin menghancurkan keluarga anakku, iya?" balas Tante Meisya.


"Dengarkan saya, Nyonya. Saya tidak bermaksud menghancurkan, saya bermaksud membeberkan fakta ke pengadilan dan jaksa, agar Arkan dijerat pasal berlapis. Kejahatannya tak hanya satu atau dua, tapi banyak sekali. Wanita ini salah satunya, dan saya akan memberitahu Nona Arini mengenai hal ini, saya tak menyangka kalian juga ada disini. Saya rasa, kalian harus tahu juga." jelas sekretaris Dika.


"JANGAN BERTELE-TELE!" Meliza marah.


Sekretaris Dika tersenyum, "Tasya, keluarkan semua barang bukti dari Tas mu yang tertinggal saat itu." perintah sekretaris Dika.


Tasya gugup, namun ia juga harus berani mengungkapkannya, Tasya diminta sekretaris Dika untuk jujur pada Arini, namun Tasya tak tahu kalau ternyata malah ada istri dan Ibunya Arkan disini.


"Maaf, saya disini hanya ingin menuntut keadilan atas perlakuan biadab Arkan pada saya. Bisa dilihat, dari Tas saya yang kumuh ini, ada sapu tangan dan dasi milik Arkan yang tertinggal setelah memperk*sa saya. Ada juga name tag Arkan disini. Arkan selalu membuat saya seperti pelac*r. Arkan beberapa kali meniduri saya, asal kalian tahu, saya disandera selama berminggu-minggu ditempat menyeramkan itu. Dan selama itu juga, saya menjadi piala bergilir untuk mereka. Tahukah bagaimana rasa trauma saya? Kini, berkat ulah Arkan, saya harus menjalani terapi di Dokter syaraf dan juga psikolog. Psikis saya hancur, saya selalu terngiang perbuatan yang Arkan dan kawan-kawannya lakukan. Kumohon, jangan terus membela yang salah. Aku adalah bukti kejahatan yang telah Arkan dan anak buahnya lakukan." jelas Tasya.


"OMONG KOSONG! Arkan tak mungkin seperti itu. Dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab pada anak dan istrinya. Kalian benar-benar tak masuk akal! Aku tak bisa percaya hanya dengan barang bukti seperti ini." jelas Meliza.


Sekretaris Dika mengeluarkan handphonenya, untuk memutar rekaman suara yang berhasil ia ambil dari penyadap suara yang ada di Tas Tasya. Ternyata penyadap itu sudah lama digunakan untuk Tasya, suara saat Arkan bermain-main dengannya pun terdengar jelas.


Sekretaris Dika menyeringai, "Tasya, hilangkan rasa malumu saat ini, agar mereka lebih malu mendengar rekaman ini. Maaf, jika harus aku putar semua ini didepan kalian." ucap sekretaris Dika.


Suara dalam rekaman di handphone Dika,


"Aku tak ingin apa-apa. Sepertinya, aku ingin mencicipi wanita ini saja. Apa boleh?" tanya Arkan


"Tentu saja, Bos. Tapi, apa Bos tak takut pada Nona Meliza? Bagaimana kalau ia tahu?" tanya Aldric


"Istriku sudah tak menyenangkan. Dia hanya ingin uang, uang, dan uang. Aku tak pernah mendapatkan kenikmatan yang sesungguhnya." jawab Arkan


"Baiklah, Bos. Kalau Bos menginginkan wanita ini, pakailah dia sampai Bos merasa puas. Dia memang wanita yang menggairahkan Bos." ucap Aldric


"Tentu saja, aku akan melahap habis wanita ini. Kau beruntung Dric, bisa mendapat kenikmatan dari wanita ini." Arkan tersenyum sinis


Sekretaris Dika mendengarkan rekaman itu sangat jelas, dengan jelas, meskipun tak ada video, tapi suara itu jelas adalah suara Arkan, suaminya.eliza mendengar erangan dan desahan Arkan ketika menyetubuhi Tasya. Terdengar suara Tasya yang menangis dan memaki-maki Arkan, namun Arkan tak mempedulikannya.

__ADS_1


Wajah Meliza pucat. Ia tak menyangka, kini ia percaya, laki-laki itu adalah laki-laki yang menjadi Ayah dari anaknya. Namun apa? Dia malah bercinta dengan wanita lain dengan kesadarannya, dengan mengatakan bahwa istrinya tak bisa memberinya kepuasan lagi.


Meliza lari meninggalkan Tante Meisya. Ia kecewa, ia marah, ia benar-benar tak bisa terima bahwa suaminya berkhianat. Padahal, dirinya ingin membela Arkan, dirinya ingin mempertahankan rumah tangganya, namun Arkan malah memberi pecutan pada diri Meliza.


"Mel, Meliza! Kamu mau kemana?" tante Meisya bingung.Ia akan mengejar Meliza, namun sekretaris Dika menahannya.


"Nyonya, jangan dulu pergi." tangan sekretaris Dika mencengkeram erat lengan Tante Meisya.


"Apa sih kamu, Aarrgghh! Lepaskan!"


"Nyonya, jangan pernah membuat keributan lagi kalau anda ingin harta anda tetap utuh, jangan membuat masalah tambah runyam, cukup diam dan terima semua apa yang telah terjadi. Mengerti? Saya tak akan melepaskan Nyonya kalau Nyonya tidak bisa diajak bekerja sama!" Ancam sekretaris Dika.


"Sekretaris sialan! Lepaskan! Lepas! Aaarrrggghhhh, baiklah! Aku akan diam. Namun, jika saatnya anakku terbukti tak bersalah, lihat saja! Kamu orang pertama yang akan aku tendang!" Tante Meisya pura-pura kuat.


"Silahkan, kalau Anda berani." sekretaris Dika tersenyum sinis.


"Dasar brengs*k!!!" Tante Meisya meninggalkan ruangan tersebut.


Hening. Itulah yang terjadi. Setelah kepergian Tante Meisya, semuanya terdiam. Arini dan Tira, menatap Tasya dengan penuh misteri. Wanita itu? Mungkinkah wanita itu adalah orang yang dulu Davian cintai?


"Nona, maafkan saya membawanya kemari. Sebenarnya, saya tak berniat sedikitpun untuk membawa Tasya kesini, namun Tira mengabari saya, bahwa disini darurat, ada Nona Meliza dan Nyonya Meisya. Sebenarnya, saya akan membawa Tasya, ke kantor polisi untuk dimintai keterangan mengenai perlakuan bejad Arkan dan kawan-kawannya. Maafkan saya, Nona. Kalau begitu, saya permisi dulu." ucap sekretaris Dika.


Dalam hatinya, Tasya ingin menjenguk Davian, ingin melihat daei dekat, namun Tasya tak bisa. Ada hati yang harus Tasya hargai, yaitu Arini, sang istri dari lelaki yang menolongnya.


"Tunggu!" Arini menahan mereka.


"A-ada apa, Nona?" sekretaris Dika sedikit gugup.


Arini melangkah mendekati Tasya. Arini fokus menatap Tasya. Ia melihatnya dengan tulus. Dengan sigap, Arini segera menghamburkan pelukannya pada Tasya. Arini memeluk Tasya. Tira dan Dika sangat kaget melihatnya. Begitupun juga Tasya, ia sangat gugup dan bingung.


"Tasya, aku memang sempat terjadi perdebatan sengit denganmu saat itu, dan kamu pasti kesal padaku. Tapi, jika melihat kondisimu seperti ini, Aku tahu, kamu pasti sedih, kamu pasti terluka, maafkan aku dan suamiku yang telat menolong mu. Kamu pasti ketakutan di sana. Kamu memang wanita yang kuat, kamu wanita yang hebat. Aku harap, kau segera menemukan kebahagiaanmu. Lupakan kejadian menyeramkan yang menimpa padamu, jangan biarkan kamu terus-menerus larut dalam kesedihan. Aku sangat prihatin pada kondisimu." perlahan, Arini melepaskan pelukannya.


"Non, Nona tak marah pada Tasya?" sekretaris Dika kaget.


"Kenapa aku harus marah padanya? Kejadian mereka itu sudah lama, dan kini suamiku pun sudah melepaskannya, aku tak marah sedikitpun. Justru aku sangat khawatir akan kondisinya, aku sedih, Tasya menjadi korban keserakahan Arkan. Semuanya karena kekesalannya pada Davian, jadi Tasya terbawa masalah ini."

__ADS_1


"Terima kasih, Nona. Nona telah mengerti. Maafkan saya, saya tak bermaksud apa-apa pada Davian. Saya menyesal telah menyakiti hati Nona Arini pada waktu itu. Saya hanya.." ucapan Tasya terpotong.


"Sudah, lupakan. Sekarang, perjuangkan hak-hak mu, buat pembalasan yang setimpal. Buat Arkan mendekam di penjara dengan waktu yang sangat lama, aku mendukungmu." Arini tersenyum tulus.


"Baik, terima kasih atas kebaikan hati Nona. Saya permisi dulu, akan segera menuju kantor polisi." ucap sekretaris Dika


"Eh, Non. Saya juga akan membeli makan siang untuk Nona makan. Saya pergi ke restoran dulu ya." ucap Tira.


"Baik, Tira. Hati-hati."


Tasya tersenyum pada Arini, "Nona, terima kasih. Saya permisi dulu." Tasya membungkukkan badannya.


"Iya, hati-hati dijalan." Arini tersenyum tulus.


Arini melambaikan tangan pada mereka. Mereka satu persatu keluar meninggalkan Arini. Kini, hanya ada Arini yang sedang menunggu keajaiban pada diri Davian. Arini berharap, Davian akan segera sadar, karena semua masalah telah selesai.


"Mas, apa Mas bisa merasakan, kalau aku berbicara? Mas, barusan Tasya kesini, tapi aku tak membiarkannya mendekatimu. Aku gak mau, karena aku cemburu kalau Tasya harus mendekatimu. Aku tak mau, ada wanita lain selain aku yang merindukanmu. Maafkan aku ya, Mas?" Arini memegang tangan Davian, dan berbicara sendiri.


"Oh, iya. Aku berterima kasih pada Tasya, karena dia, aku bisa selamat. Karena kamu lebih mementingkan keselamatan ku, kamu membiarkan aku pergi. Padahal, jika saja Mas tidak membawaku pergi jauh, mungkin yang saat itu ada di posisi Tasya, adalah aku. Aku sangat berterima kasih pada Mas, karena dirimu lah, aku selamat dan aman. Aku sangat mencintaimu, Mas."


"Mas, kapan kamu sadar? Aku sangat merindukanmu, kumohon, sadarlah. Aku kesepian, hidupku hampa. Tanpa kamu, ternyata hari-hariku tak ada yang spesial. Aku lupa bagaimana caranya tertawa, karena tak ada kamu, yang bisa membuatku tertawa. Mas, kapan kamu akan membuka matamu dan melihat aku?"


"Mas, bolehkah aku mencium mu? Aku sangat merindukan kehangatan itu. Ternyata, kamu benar-benar berarti dalam hidupku, Mas. Izinkan aku, mencium mu, maafkan aku yang tak bisa menahan hasrat ini."


Arini berdiri, mendekati tubuh Davian, memegang lembut wajahnya, dan tak terasa, air mata jatuh dari pelupuk matanya, betapa Arini sangat merindukan kehadiran Davian disisinya. Dengan lembut, Arini mencium kening Davian untuk waktu yang lama, ia sangat kehilangan sosok Davian yang membuat hari-harinya bahagia.


Arini membisikkan sesuatu di telinga Davian, sambil sesekali menciumi tubuh Davian yang pucat dan tak memberikan reaksi apapun,


"Mas, sadarlah. Bangunlah dari tidur panjang mu. Banyak yang sangat merindukanmu, banyak yang sedih karena kejadian yang menimpamu, apalagi aku, yang benar-benar begitu kehilangan sosok dirimu. Sungguh, aku ingin kamu membuka matamu, dan menatap aku, seraya berkata,


I love you, Arini. Seperti yang Mas lakukan setiap pagi, padaku. Aku mohon, bangunlah Mas. Aku merindukanmu......"


*Bersambung*


Selamat pagi, semoga sehat selalu.

__ADS_1


Jangan lupakan like komentar dan vote ya..


Sabar menunggu, sebentar lagi Davian akan sadar. 😚🥰


__ADS_2