Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Restoran Pizza


__ADS_3

Rangga telah bertemu dengan Davian. Davian tak berlama-lama, ia hanya menyapa Rangga, setelah itu dia kembali berlalu. Rangga sudah biasa mendapati sifat aneh pada diri Davian. Davian mungkin hanya penasaran karena melihat Rangga dan Tira bersama.


"Kenapa Tuan Davian berlalu begitu saja, ya?" tanya Tira.


"Davian memang seperti itu, biarkan saja." balas Rangga.


Dan juga, kenapa sekretaris rese itu malah kelihatan gak suka liat aku! Kenapa dia seperti itu? Apa dia punya masalah denganku? Kenapa dia harus seperti itu. Dasar sekretaris gila. Batin Tira.


"Oh, baiklah Tuan." Tira tersenyum.


"Kamu kenapa, Ra? Kenapa wajahmu terlihat gelisah saat Davian menyapa kita?" tanya Rangga.


"Ah, ti-tidak, Tuan. Saya tidak apa-apa. Sungguh." Tira gugup.


"Mulutmu berbohong, tapi wajahmu tak pandai menutup kebohongan itu." ucap Rangga.


"Sungguh, saya tidak kenapa-napa, Tuan." Tira gugup.


"Apa ada sesuatu antara kamu dan sekretarisnya Davian?" Rangga menebak.


"Ti-tidak, Tuan. Tidak ada apa-apa, kenapa Tuan bicaranya ngawur sih." Tira tersedak.


"Kamu, terlihat sekali kalau kamu gugup. Apa kamu menyukai Dika?" tanya Rangga tiba-tiba.


"Uhukkk, uhukkkk," Tira tersedak.


"Aku pastikan, jawabannya iya, karena kamu tersedak!" ucap Rangga.


"Astaga, tentu saja tidak, Tuan."


Tiba-tiba, Keyza mengganggu ucapan serius Rangga dan Tira yang benar-benar membuat Tira tak nyaman.

__ADS_1


"Opah kecil, Key mau makan pizza!" ucap Keyza.


"Kenapa Key mau makan pizza? Di Mall ini gak ada pizza yang enak, Key gak akan suka, kalau mau Pizza, harus ke Pizza hut, lumayan jauh dari sini." ucap Rangga.


"Gak apa-apa, Opah kecil, Key mau makan pizza sekarang! Jauh juga gak apa-apa kok, ya ya sekarang ya. Ayo Opah kecil, please." Keyza terus memohon.


"Kenapa kamu ingin makan pizza Key? Nanti saja di rumah ya, kita delivery. Sekarang, kamu puas-puasin dulu main disini." rayu Rangga.


"Key ingat, dulu Key selalu makan sama Mommy sama Daddy, Key dibelikan Pizza yang besar sekali. Sudah lama, Key ingin pizza itu, Opah kecil. Tapi, sepertinya, ketika Mommy dan Daddy telah pergi, aku tak bisa memakannya bersama mereka lagi." Keyza tertunduk sedih.


"Tuan, biarkan saja. Mungkin Keyza sudah lama tak merasakan kehangatan keluarganya. Mungkin, dia merindukan kasih sayang dari orang tuanya yang selalu membawa ia pergi makan pizza bersama." bisik Tira pada Keyza.


Rangga berpikir sejenak, "Baiklah, opah kecil akan mengajak Keyza makan pizza bersama. Ayo, kita pergi sekarang!" ajak Rangga.


"Yeay, opah kecil memang baik, terima kasih banyak." Keyza tersenyum riang.


...***...


"Mel, layanin tuh meja nomer 10." ucap teman Melisa yang bernama Indah.


"Mel, kenapa ngelamun sih!!!" Indah protes.


"Ah, ya ampun. Sorry, Ndah. Gue pusing, lo aja ya yang ke meja tamu, please, gue butuh istirahat sebentar." jawab Melisa berbohong.


"Oh, ya udah. Istirahat aja, biar gue yang layanin." jawab Indah.


"Thanks, Ndah."


Ya, Melisa kini bekerja di restoran pizza yang dulu tempat ia sering satang bersama Arkan dan Keyza. Melisa sempat melarikan diri dari diskotik tempat ia bekerja dulu, karena ia tak mau di jamah dan dijadikan simpanan om-om beruang. Beruntungnya, Indah sang pelayan restoran yang mengenal Melisa, membantunya bekerja di restoran pizza ini.


Melisa menatap Keyza dari belakang kasir, ia benar-benar tak bisa menahan air matanya terjatuh. Ia benar-benar merindukan anak semata wayangnya yang dulu ia tinggalkan saat ia tak bisa menerima kenyataan bahwa Arkan telah meniduri wanita lain.

__ADS_1


Key, anak mommy, Keyza Likanny Raharsya! Ini Mommy Nak, maafkan keegoisan Mommy-mu ini. Aku benar-benar tak berpikir jernih saat itu, maafkan aku. Ternyata, kamu bersama adik dari nenekmu. Pantas saja, ketika aku mengunjungi rumah kita, rumah itu kosong tak ada penghuni. Aku ingin mengambil mu kembali pada saat itu, tapi ternyata aku terlambat. Siapa wanita itu? Apa dia istrinya Rangga? Apa Key telah bahagia bersama mereka? Key, bagaimana aku bisa mengambil mu kembali, aku benar-benar merindukanmu. Aku menyesal telah meninggalkan kamu, maafkan aku sayangku, sungguh maafkan aku. Batin Melisa.


"Mel, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Bima, kasir laki-laki.


"Enggak, aku gak apa-apa Bim, maaf aku hanya sedih," jawab Melisa.


"Baiklah, katakan padaku jika terjadi sesuatu." ucap Bima.


Melisa menangis di pojokan kasir. Ia sedih sekaligus bahagia bisa melihat Keyza kembali. Ternyata, Keyza dirawat oleh orang yang tepat. Namun, Melisa tetap merasa ingin memiliki Keyza lagi. Namun, setelah melihat Keyza bahagia bersama mereka, rasanya hati Melisa sedih. Ia tak tahu bagaimana cara agar bisa mengambil Keyza kembali.


Melisa segera bangkit, dan ia segera menuju ke toilet, karena ia tak mau kehadirannya ketahuan oleh Rangga, dan ia pun ingin membasuh air matanya yang sedikit sembab karena telah menangis.


Melisa merenung seorang diri didalam toilet. Ia benar-benar ingin menemui Keyza, namun rasanya, tak mungkin ia bisa bertemu dengan Keyza, karena Rangga pasti sangat membencinya, dan tak akan membiarkan dirinya menyentuh Keyza lagi.


Mas Arkan, setelah kamu membusuk di penjara, hidupku dan anakku benar-benar hancur. Aku tak mengerti, kenapa keluarga kita jadi berantakan seperti ini. Kenapa kamu harus menembak Davian? Davian tentu saja sangat berpengaruh dan mempunyai kekuasaan, ia bisa menghancurkan mu dengan mudah. Karena ulah mu, aku khilaf meninggalkan putri kita, aku menelantarkannya. Karena kamu juga, Mama meninggal, karena ulah mu yang berani-beraninya meniduri wanita lain, aku benar-benar muak dan tak bisa bertahan dengan keadaan ini. Tapi kini, aku menyesal meninggalkan anakku. Keyza ku, anak yang sangat aku rindukan, bagaimana caranya agar kamu bisa kembali ke pelukanku, sayangku. Melisa merenung lagi.


Melisa tak mau berlarut-larut, ia harus kembali bekerja. Setelah membasuh mukanya, ia bergegas keluar dari toilet wanita. Ia tak memperhatikan orang-orang disekitar, hingga pada akhirnya, ada yang menahan tangan Melisa didekat toilet laki-laki. Melisa kaget, matanya membulat, ia segera membalikkan tubuhnya, dan melihat sosok yang menahan tangannya.


"Ba-bang Rangga?" tangan Melisa bergetar hebat, ternyata Rangga yang menahan tangannya.


Astaga, kenapa dia harus melihatku, bagaimana ini, aku takut ia mencaci maki diriku. Ya Tuhan, tolong aku. Bantu aku, aku takut. Kenapa sorot matanya sangat menyeramkan? Kenapa aku sangat takut melihatnya? Melisa menguatkan dirinya.


*Bersambung*


Hai, cerita ini sangat sepi LIKE, KOMENTAR, DAN VOTE-NYA.


Bagi kalian yang berbaik hati, tinggalkan jejaknya ya untuk cerita ini...


Aku beri bonus visual Rangga nih,


__ADS_1


__ADS_2