
Arini membuat nasi goreng cumi, untuk sarapan pagi Davian. Sementara Davian mandi, ia segera mempersiapkan keperluan Davian untuk bekerja hari ini.
Arini membawa nasi gorengnya ke kamar Davian, ia mengetuk pintu lalu masuk. Davian sepertinya sedang ganti baju di ruang ganti itu.
Haish, dasar Tuan menyebalkan satu ini. Dia punya ruang ganti pribadi, tapi tak memberitahuku, dia malah seenaknya membiarkan aku ganti pakaian disini. Eh? Apa memori di CCTV itu telah diambil? Apa Tuan sudah melihatnya? Tapi, dia terlihat bisa saja. Aku takut, kalau aku membahasnya lagi, aku takut dia malah ingin melihatnya. Bagaimana ini? Gumam Arini dalam hati.
Davian perlahan keluar dari ruang gantinya. Ia menatap Arini tak berkedip.
"Apa?" tanya Arini
"Lu belum mandi ya?"
"Gimana aku mau mandi, aku aja bangun kesiangan. Tuan yang menjadi penyebab aku belum mandi."
"Dih, nyalahin gue lagi." Davian protes
"Udah, jangan banyak bicara. Cepetan sarapan! Nanti kesiangan lagi." ucap Arini
"Emangnya kalo kesiangan kenapa? Siapa yang bakal marahin gue di perusahaan?"
"Ya sadar diri aja, karyawan Tuan harus datang on time, tapi Bosnya malah seenaknya. Apa gak malu sama mereka?"
"Emang lu pinter banget kalo ngomong."
Davian duduk di meja makan mininya, ia segera melahap nasi goreng cumi buatan Arini. Arini sedang membersihkan ranjang Davian, dan merapikan beberapa buku.
"Enak juga nasi gorengnya." ucap Davian
"Masakan aku itu memang selalu enak!" Arini bangga
"Nyesel gue muji lo. Baru dipuji gitu aja, udah meninggi lu!"
"Gak apa-apa, justru kita harus sombong dengan kemampuan kita. Itu akan memotivasi diri kita untuk lebih baik lagi kedepannya."
"Bisa aja lu ngeles, kayak bajaj tau nggak!"
"Bodo amat!!!" Arini kesal
"Nyebelin banget lu ya." ucap Davian
Arini melengos menuju kamar mandi. Ia akan mandi dengan cepat, sebelum Davian berangkat bekerja. Davian terus menikmati dengan lahap makanannya. Ia teringat, akan percakapannya dengan Arini tentang CCTV.
Davian jadi penasaran, apakah ia harus mengambil memori CCTV nya? Tapi, apa itu pelanggaran?
Tapi, gue penasaran. Apa aja sih yang dia lakukan didalam kamar gue, selagi gue nggak ada! Apa, gue coba ambil aja satu memori terdekat, di lemari itu?
Davian melirik kearah kamar mandi, Arini sedang mandi. Davian berjalan pelan-pelan menuju lemarinya, ia mencoba membuka stikcer CCTV tersebut. Ia mengambil memori kecil didalamnya, dan segera memasukannya ke saku kemejanya.
Davian kembali fokus dengan makanannya. Arini telah selesai mandi dan ganti baju. Ia takut, dengan intaian CCTV di kamar Davian.
"Kenapa gak ganti baju disini aja?" Davian menggoda Arini
"Sembarangan kalo ngomong! Aku kapok! Gak akan lagi mau ganti baju disini."
__ADS_1
"Udah siang nih, gue berangkat dulu ya." ucap Davian
Davian segera berdiri dan merapikan setelan jas dan kemejanya.
"Iya, hati-hati dijalan ya Tuan." ucap Arini
Davian masih mematung. Ia menatap Arini. Arini keheranan melihat Davian yang masih belum berangkat juga.
"Kenapa belum berangkat?" tanya Arini
"Ada yang kurang." jawab Davian
"Apaan?" tanya Arini lagi
"Masa lu gak ngerti?"
"Apaan sih?" Arini bingung
"Jika seorang suami akan berangkat kerja, istri harus memeluk dan memberikan ciuman lembut kepada suami. Kemudian, mengantarkan suami hingga ke depan rumah, menjabat serta mencium tangan suami dengan mesra. Tak lupa istri melambaikan tangan perpisahan saat melepas suami berangkat ke tempat kerja. Sepertinya itu yang lu lupakan selama ini." jelas Davian
"Hah? Aku harus melakukan semua itu?" ucap Arini
"Istri macam apa lu, menolak perbuatan yang di anjurkan oleh agama?"
"Aku nggak nolak, aku hanya kaget aja. Tuan begitu hafal dan paham akan rumah tangga yang sesungguhnya." Arini takjub
"Mungkin karena gue memang menginginkan pernikahan yang sesungguhnya, gue udah siap menjalani biduk rumah tangga yang bahagia."
"Ehhmm, eh i-iya Tuan. Tuan bener." Arini gugup
Dasar kau laki-laki nakal. Bisa-bisanya membahas adab rumah tangga. Lalu, aku harus mencium dia dengan lembut? Oh tidak, jantungku berdegu kencang. Kenapa ini? Tolonglah, bersikap sewajarnya saja. Jangan terlihat seperti ini, aku terlalu malu untuk menghadapinya. Batin Arini.
Arini mendekati Davian dengan gugup. Detak jantungnya berdetak sangat kencang, ia benar-benar menikmati hal ini. Arin semakin dekat dengan Davian. Nafas Davian berhembus diwajah Arini. Arini mulai melingkarkan tangannya dileher Davian. Davian membalasnya, dengan melingkarkan tangannya di pinggang Arini.
Perlahan tapi pasti, Arini mulai mencium bibir Davian dengan lembut. Mereka saling berpelukan. Mencium pasangan yang halal dengan segenap perasaan yang sulit diartikan.
Davian tergoda. Ia malah meneruskan ciumannya. Ia tak melepaskan Arini. Davian terus membalas ciuman Arini. Hingga dering telepon mengagetkan Davian. Arini melepaskan tangannya yang menempel di bahu Davian.
"Maaf, Tuan. Ada telepon."
"Huh! Ganggu aja." Davian mendengus kesal
Davian mengeluarkan handhphone dari sakunya. Melihat nama kontak yang memanggilnya. Sialan, ternyata sekretaris Dika. Ganggu aja cecunguk satu ini. Keluh Davian.
"Apa?" Davian kesal
"Cepetan Bos. Kita ada meeting hari ini. Gue udah starmy dibawah daritadi."
"Oke, gue turun sekarang." Davian mematikan teleponnya.
Ciuman hangatnya dengan Arini, melupakan tugas Davian sebagai CEO Raharsya Group. Ia lupa, hari ini ada meeting dengan rekan kerjanya di perusahaan.
"Maaf, aku harus berangkat sekarang."
__ADS_1
"Iya, mari Tuan, aku antar turun."
Davian dan Arini turun bersamaan. Wajah mereka berdua terlihat berseri-seri. Asisten dan pegawai keheranan melihat wajah Davian yang sumringah. Ia tak pernah terlihat seperti itu sebelumnya.
"Ayo, Bos!" ucap sekretaris Dika
Davian melihat sekretaris Dika dengan pandangan kesal dan tak suka. Sekretaris Dika yang telah mengganggu suasana romantis Arini dan Davian.
"Aku berangkat dulu." ucap Davian
"Iya, Tuan. Hati-hati dijalan."
Arini teringat ucapan Davian saat di kamar. Arini menjabat tangan Davian, kemudia mencium tangannya. Ia terlihat sangat tulus. Davian pun sangat bahagia.
"Bye." Davian melambaikan tangan pada Arini
Arini melakukan hal yang sama. Arini melambaikan tangan, sebagai ucapan perpisahan.
"Hati-hati, Tuan."
"Hadeh, jatuh cinta itu rasanya kayak dunia hanya milik berdua. Gak lihat apa, ada jomblo disini. Ngenes banget dah ah!" sekretaris Dika geleng-geleng kepala melihat Arini dan Davian yang sedang dimabuk cinta.
***
Davian berlalu, dan Arini telah berada dirumah besar itu lagi. Arini membantu asisten lain membersihkan rumah Davian.
Tiba-tiba, Rangga datang mendekati Arini. Arini kaget dengan kedatangan Rangga yang tak diduga.
"Arini?" sapa Rangga
"Iya, Tuan?"
"Bisa ikut gue ke taman?"
"Ehm, bo-boleh Tuan." Arini ingin menolak, namun tak mampu.
Singkat cerita, mereka telah berada ditaman bersama. Rangga duduk di gazebo taman tersebut. Rangga mempersilahkan Arini duduk.
"Rin? Besok aku terbang ke Swiss."
"Hah? Kenapa Tuan?"
"Aku mulai sibuk dengan pekerjaanku. Ada satu permintaanku padamu." ucap Rangga tiba-tiba
"Apa itu Tuan?" tanya Arini
"Temani aku jalan-jalan dihari terakhirku disini, aku akan pergi untuk beberapa bulan. Dan aku, ingin hari terakhirku sangat indah disini. Apa kamu mau, menghabiskan hari ini bersamaku? Aku mohon Arini, jangan menolakku."
"Tuan, tapi..."
"Arini, ayolah. Sekali ini saja.." Rangga terus memohon
"Tuan, aku tidak..."
__ADS_1
"Arini.."
*Bersambung*