The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 100: My Son


__ADS_3

Sesampainya di halaman rumah sakit, Kenzi melihat beberapa anggota Kepolisian tengah berjaga, ia langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit bersama Keenan juga Surya.


"Di mana kamar istriku?" tanya Kenzi di sela sela langkahnya.


"Di sana! tunjuk Keenan pada salah satu kamar no 4.


Kenzi langsung membuka pintu kamar, di ikuti mereka berdua di belakang. Ia berjalan dengan bernapas lega melihat Siena baik baik saja. " Siena.."


Menyadari kedatangan Kenzi dan yang lain, ia berusaha bangun. "Samuel..dia tertembak," ucap Siena pelan dengan air mata berurai di pipinya.


Kenzi langsung memeluk Siena erat dan mengusap lembut rambutnya. "Tenanglah sayang, Samuel pasti baik baik saja."


Siena menggelengkan kepalanya, "tidak..tidak.." ucapnya terisak. "Apa yang baik baik saja!" pekik Siena mendorong tubuh Kenzi dan menatap wajahnya tajam. "Sampai kapan kita hidup seperti ini! di depan mataku mereka menembak Samuel!" Siena tidak dapat menahan dirinya, tangannya memukul Kenzi dengan sangat keras.


Kenzi hanya diam membiarkan Siena memukulinya, ia mengerti akan kecemasan dan perasaan takut kehilangan anggota keluarganya membuat Siena dalam keadaan fase frustasi. Bukan berarti ia sndiri menganggap enteng masalah yang tengah ia hadapi, di sini bukanlah di tempat lain yang bisa sesuka hati menggunakan senjatanya. Kenzi hanya bisa memeluknya meski Siena terus memaki.


"Sayang, tenanglah." Surya ikut membantu menenangkan Siena dengan mengusap punggungnya.


"Tenang, Papa bilang?" mata Siena melirik ke arah Surya. "Mama..Samuel.."suara Siena terdengar bergetar.


"Setelah ini siapa lagi Pa?" mata Siena menatap tajam Surya lalu beralih menatap Kenzi. "Aku? atau putraku yang akan jadi korban berikutnya? jawab!"


"Sstttt..jangan bicara sepertu itu sayang." Kenzi langsung memeluk tubuh Siena erat.


Surya menundukkan kepala, ia tidak dapat menjawab pertanyaan putrinya. Ia tersenyum samar mengangkat wajahnya menatap Siena. Kini putrinya bukan lagi seorang gadis yang hanya memikirkan dirinya. Siena telah menjadi seorang Ibu. Sosok Ibu yang mengkhawatirkan keselamatan putra dan keluarganya. "Maafkan Papa, Nak."


"Tenanglah, jangan bicara seperti itu lagi," timpal Kenzi memegang tangan Siena di pipinya, lalu ia mencium tangan Siena berkali kali. Siena hanya diam menatap wajah Kenzi. Bukan ia menyesali telah menjadi bagian dari dunia Kenzi. Tapi masalahnya sekarang berbeda. Ada seorang putra yang telah hadir di tengah tengah mereka. Masa lalu Siena menjadi trauma tersendiri, jangan sampai putranya ikut menjadi korban.


"Selamat ya Pak, Putra Bapak, laki laki."


Kenzi dan yang lain menoleh ke arah Perawat yang tengah berjalan menggendong bayi yang menggunakan selimut warna krem.

__ADS_1


"Laki laki?!" Kenzi melirik sesaat ke arah Siena yang mengusap air matanya, lalu ia bangun dan berdiri. Tangannya terulur saat Perawat memberikan bayi dalam gendongannya pada Kenzi.


Dengan tangan gemetar, ia mengambil bayi itu ke dalam pangkuannya. Matanya berkaca kaca menatap wajah bayi yang masih merah, lalu mencium kening sang bayi dengan sangat lembut.


"Kalau begitu, saya permisi dulu."


Kenzi menganggukkan kepala, "terima kasih Sus." Ia kembali mencium bayi itu, lalu ia tunjukkan pada Surya.


Surya tersenyum lebar, menatap wajah bayi itu cukup lama. Dengan derai air mata ia berkata, "Hana, kita punya cucu."


Keenan mengusap punggung Surya untuk menenangkan. Ia melihat Siena yang masih terisak.


"Hei sayang, kau jangan sedih lagi. Lihat putra kita." Kenzi memberikan bayi itu pada Siena. Perlahan tangan Siena mengambil bayi di tangan Kenzi lalu memeluknya. Kenzi duduk di kursi sembari menyeka air mata Siena dengan tisu.


"Keenan, antarkan aku ke ruangan Samuel, Pa..kau telpon Akira dan Yeng Chen untuk datang kesini." Kenzi berdiri, ia membungkukkan badan mencium puncak kepala Siena sesaat. Lalu ia melangkah bersama Keenan menuju kamar lain.


Surya langsung menelpon Akira dan Yeng Chen untuk datang ke rumah sakit, lalu ia memberitahu pada mereka apa yang telah terjadi dengan Samuel. Surya kembali memperhatikan Siena yang mulai tenang.


"Aku tidak mau kehilangan kalian, aku tidak mau kalian terluka," ucap Siena terisak.


Surya menganggukkan kepala, ia tersenyum dan memperhatikan cucu pertamanya.


***


"Saudara Kenzi?" sapa salah satu anggota Polisi yang berjaga di depan pintu kamar tempat Samuel di rawat.


"Benar Pak." Kenzi mengulurkan tangannya membalas jabatan tangan Pak Polisi.


"Anda belum bisa menjenguk korban, saat ini masih dalam keadaan kritis." Pak Polisi menjelaskan apa yang di katakan Dokter. Mereka juga meminta beberapa keterangan dari Kenzi perihal penembakan tadi.


"Besok kami tunggu kedatangan anda di kantor."

__ADS_1


Kenzi menganggukkan kepala, "baik Pak. Saya akan bekerjasama."


Dari arah pintu, seorang Dokter dan dua perawar keluar dari dalam ruangan. Dokter langsung memberitahu Kenzi juga Polisi, Samuel telah melewati fase kritis.


Kenzi bernapas dengan lega, ia mengusap wajahnya berkali kali, "terima kasih, Dok."


Dokter menganggukkan kepala, lalu ia melangkahkan kakinya bersama dua anggota Polisi untuk di mintai keterangan perihal Samuel. Sementara Kenzi dan juga Keenan, langsung masuk ke dalam ruangan. Kenzi duduk di kursi memperhatikan Samuel dengan alat alat medis di tubuhnya.


Samuel melirik ke arah Kenzi, "Bos..bagaimana Nona Siena?" ucapnya pelan nyaris tak terdengar Kenzi atau Keenan.


"Kau tidak perlu khawatir, sekarang kau sudah menjadi, Om." Kenzi tersenyum lebar menatap Samuel yang tertawa kecil.


"Ah, syukurlah." Samuel melirik ke arah Keenan. "Terima kasih, kau telah membantuku."


Keenan mengangguk, "santai saja, Siena sahabatku dari kecil. Tidak akan kubiarkan ada yang melukainya."


Kenzi langsung beralih menatap tajam Keenan mendengar pernyataannya mengenai Siena. Membuat pria itu salah tingkah, "hei tenang, jangan marah sobat. Dia sudah seperti adikku sendiri." Kenzi berdiri, berjalan mendekati Keenan.


"Hei, kau jangan marah." Keenan tambah serba salah. Ia berpikir Kenzi akan memukulnya. Namun di luar dugaan Keenan, pria itu berbalik memeluknya sekilas.


"Terima kasih." Kenzi menepuk bahu Keenan berkali kali.


Keenan terbatuk kecil, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kalau kau butuh bantuan, aku siap."


"Bos!"


Kenzi dan Keenan menoleh ke arah pintu, Yeng Chen berjalan mendekati Samuel.


"Bagaimana kau, Sam?" tanya Yeng Chen.


"Aku baik baik saja." Samuel tersenyum menatap Yeng Chen matanya berkaca kaca. "Kau menangis? pffffttt." Samuel menahan tawa, saat melihat mata Yeng Chen. Untuk pertama kalinya selama mereka bersama, Yeng Chen terlihat sedih.

__ADS_1


Yeng Chen tertawa samar, memukul pelan lengan Samuel. Kenzi ikut tertawa melihatnya, ada rasa yang berbeda dari sebelum sebelumnya, rasa hangat menjalar ke hatinya. "Jangan sampai semua ini membuatku lemah," ucap Kenzi dalam hati.


__ADS_2