
Satu minggu pasca kepindahan, Marsya dan dua sahabat Siena datang berkunjung. Selain mereka ingin bertemu Siena. Ada hal penting yang ingin di sampailan Marsya pada Kenzi.
"Keenan!" jerit Siena sembari merentangkan kedua tangannya.
Keenan tertawa ikut merentangkan kedua tangannya, namun sebelum ia sampai memeluk Siena. Kenzi sudah berdiri ditengah tengah mereka. Dengan menyilangkan kedua tangan menatap tajam ke arah Keenan. Keenan berdiri terpaku menatap Kenzi, perlahan ia turunkan kedua tangannya.
"Ayolah, aku cuma kangen sahabatku saja," sungut Keenan mundur selangkah, wajahnya ia miringkan menatap Siena yang berdiri di belakang Kenzi mendekap mulutnya mentertawakan Keenan.
"Silahkan bicara, tapi tidak ada peluk pelukan, paham?" Kenzi berjalan kesamping membiarkan Siena melepas rindu pada Keenan sahabatnya.
"Yuk!" ajak Siena, menarik tangan Keenan untuk duduk di kursi. Sementara Kenzi berbincang bersama Marsya di teras rumah, di temani Surya dan Samuel.
"Kau menyusul ke sini? ada apa?' tanya Kenzi heran.
" Begini." Marsya membenarkan duduknya. "Aku mendapatkan info, kalau Livian mengejar kalian ke sini juga."
Kenzi menautkan alisnya, tersungging senyum sinis di sudut bibirnya, "Livian berhasil lolos ke Indonesia? kalian ngapain saja?!" sahut Kenzi dengan nada kesal.
"Itu masalahnya," Marsya terbatuk sesaat. "Livian melakukan operasi plastik."
"Apa?!" Surya menggeggebrak meja tak percaya dengan apa yang Marsya katakan. Jika apa yang di katakan Marsya benar, maka nyawa Siena atau Kenzi kembali terancam.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku membawa Sketsa wajah Livian yang terbaru." Marsya membuka tasnya lalu mengambil selembar kertas lalu ia berikan pada Kenzi.
Dengan seksama Kenzi memperhatikan sketsa wajah Livian. Ia tidak mau kecolongan lagi seperti waktu lalu. Apalagi sekarang Siena tengah hamil dan tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Siena dan bayinya.
Kenzi menggelengkan kepala sembari memberikan sketsa wajah Livian pada Samuel dan yang lain untuk mereka kenali.
__ADS_1
"Kalian bisa seceroboh itu?!" ucap Kenzi sinis menatap ke arah Marsya.
"Tuan Kenzi, kau tahu bukan? bagaimana organisasi kalian berkembang pesat tanpa bisa tersentuh pihak kami?" balas Marsya.
"Ya, aku tahu itu. Tapi Livian bisa meloloskan diri dalam genggaman kalian?" Kenzi berdecak tak mengerti bagaimana cara kerjanya. "Yang terpenting sekarang adalah waspada, sepengetahuanku Crips telah menyebar di sini juga."
Marsya menganggukkan kepala, "aku membutuhkanmu Kenzi."
Kenzi menarik napas dalam dalam, yang dia pikirkan saat ini adalah Siena dan bayinya. "Oke, kabari jika kau tahu sesuatu."
"Jangan sampai Siena tahu," ucap Surya menatap Kenzi. Ia sangat mengkhawatirkan kandungannya. Jika Siena panik atau takut, itu akan mempengaruhi bayi dalam kandungannya.
***
Ini Indonesia, tentu tidak akan sama seperti di tempat lain. Livian tidak akan semudah itu menggunakan senjata api. Tapi cara liciknya bisa saja tidak di ketahui Kenzi.
"Sayang, kau di mana?!"
Kenzi menoleh ke dalam kamar, nampak Siena tengah berjalan perlahan mencari keberadaannya. Ia langsung berdiri menghampiri Siena dan menggenggam tangannya. "Aku disini."
"Sedang apa kau di sini?" tangannya meraba lengan terus ke dada Kenzi.
"Aku pikir kau sedang mandi, jadi aku menunggumu di sini. Kau sendiri dari mana?" Kenzi mengangkat tubuh Siena ke dalam pangkuannya duduk di kursi.
"Aku mau ke pemakaman Mama. Boleh?" matanya nenatap wajah Kenzi meskipun samar samar.
"Aku yang mengantarmu," ucap Kenzi menyelipkan rambut di telinga Siena.
__ADS_1
'Tidak perlu, aku bersama Papa."
"Iya, tapi tetap saja aku yang akan mengantarmu." Kenzi menurunkan tubuh Siena di pangkuannya. "Ayo."
Siena menganggukkan kepala, ia tidak bisa membantah jika Kenzi sudah memutuskan. "Baiklah."
Kenzi menggenggam tangan Siena erat, lalu mereka keluar kamar menemui Surya yang sudah menunggu mereka. "Kau ikut?" tanya Surya pada Kenzi yang mengangguk sekilas.
Kemudian mereka bertiga berangkat ke pemakaman. Sementara Yeng Chen di tugaskan Kenzi untuk membantu Marsya menyelidiki keberadaan Livian. Akira dan Samuel mengurus pekerjaan Kenzi lainnya.
Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di depan pusara Hana. Siena langsung jongkok dan meletakkan sebuket bunga mawar di atas pusara Hana. Tangannya menyentuh batu nisan bertuliskan nama 'Hana' Ia tersenyum dengan mata berkaca kaca. Lalu ia melipat kedua tangannya memanjatkan serangkaian doa untuk Hana. Di ikuti Surya dengan melipat kedua tangannya. Sementara Kenzi berada beberapa langkah di belakang mereka. Untuk memastikan tidak ada musuh yang mengintai.
"Ma, aku datang bersama Papa.." ucap Siena suaranya serak. Surya menoleh ke arah Siena dengan air mata yang mulai merembes. Tangannya mengusap lembut punggung putrinya.
"Ma, sebentar lagi-? ucap Siena terbata bata. " Mama dan Papa punya cucu." Siena menutup wajahnya dengan kedua tangan sembari terisak. Surya merangkul bahu Siena dan mengusapnya lembut.
Dengan tatapan mata penuh genangan air mata memperhatikan Siena. Surya tidak dapat berkata kata apa apa lagi, jangankan bicara, menelan salivanya saja susah.
Sementara Kenzi hanya memperhatikan mereka berdua. Ia tidak ingin mengganggu atau sekedar menenangkan Siena. Untuk kali ini, ia memberikan ruang pada mereka yang tengah mencurahkan rasa rindu, sedih di hadapan pusara Hana. Keluarga kecil, kaya dan terpandang. Hancur berantakan di meja judi, tapi nasib baik masih berpihak pada Siena. Ketidak beruntungan membawanya pada sosok Kenzi yang mencintainya dengan sepenuh hati.
"Kita pulang," ucap Surya mengangkat tubuh Siena untuk berdiri. Siena mengusap air matanya ikut berdiri, dan menatap lekat pada batu nisan. "Mama, aku pulang."
Siena mengalihkan pandangan pada Surya, lalu mereka melangkahkan kaki. Samar samar Siena bisa melihat di mana posisi Kenzi berada. Dia langsung berlari menghampiri suaminya. Menyadari Siena tengah berlari ke arahnya. Kenzi langsung menyambut Siena dan memeluknya erat. Membiarkan wanita yang ia cintai menumpahkan semua rasa kecewa dan rasa sedih sekaligus. Siena menangis dalam pelukan Kenzi cukup lama. Sementara Surya hanya berdiri, kepalanya tertunduk. Sesekali tangannya ia angkat untuk mengusap air matanya supaya tidak jatuh.
"Hei, dengar." Kenzi melepas pelukan Siena lalu menatap dalam wajah Siena. Bulu matanya yang lentik basah oleh air mata. "Jangan menangis lagi, kasihan bayi kita." Tangannya terulur mengusap kedua pipi Siena lalu mencium keningnya dengan dalan.
"Semua akan baik baik saja." Kenzi merengkuh Siena ke dalam pelukannya. Tanpa menunggu persetujuannya, ia langsung mengangkat dan menggendong Siena. "Kita pulang." Kenzi melangkahkan kakinya menuju mobil, sesekali ia menatap Siena yang membenamkan wajahnya di dada Kenzi. Ia tersenyum bahagia, Siena sudah bisa menerimanya sebagai seorang pria yang mengerti segala hal tentang Siena.
__ADS_1
Surya berjalan di belakang Kenzi, sesekali mengusap kedua matanya. Ia berjalan sambil menperhatikan sekitar. Meski dalam keadaan apapun, kewaspadaan terus ia tingkatkan.