
Empat jam berlalu perjalanan Indonesia - Hongkong. Kenzi beristirahat di rumah lamanya. Perlahan ia membuka pintu rumah yang sudah lama ia tinggalkan. Begitu banyak kenangan di rumah ini. Tangannya mengusap debu di kain putih penutup barang barang dirumah itu. Kenzi menghela napas panjang lalu berjalan menuju kamar dan meletakkan kopernya di atas tempat tidur, beristirahat sejenak menunggu malam tiba.
Satu jam berlalu Kenzi memutuskan untuk segera mengambil tindakan. Tidak ingin membuang waktu percuma dan mulai memeriksa persediaan senjata api yang di simpan di ruang bawah tanah. lalu ia mengambil dua senjata api yang ia selipkan di balik pinggang. Kenzi bergegas keluar dari ruang bawah tanah. Kembali ke kamar menggunakan mantel hitam dan syal panjang berwarna putih, ia gantungkan di lehernya. Sesaat ia tertegun, lalu bergegas keluar rumah menuju Cafe tempat ketua Crips berkumpul.
Tak lama kemudian ia telah sampai di halaman Cafe The Ritz Bar, yang berada di tengah tengah kota kowloon. Kenzi langsung masuk ke dalam memperhatikan sekitar ruangan. Terdapat beberapa pengunjung tengah asik menikmati suara seorang wanita yang bernyanyi. Dengan tatapan waspada, Kenzi melangkahkan kakinya dengan santai menyusuri lorong Cafe, langkahnya terhenti tepat di depan pintu yang tertutup. Kenzi menyandarkan tubuhnya di dinding, tangan kanannya mengetuk pintu menggunakan ujung senjata dalam genggamannya. Seorang pria membuka pintu dari dalam, Kenzi langsung berdiri di hadapan pria itu.
"Dor! Dor!
Pria itu ambruk ke lantai tak bernyawa lagi. Beberapa pria yang tengah duduk mengelilingi meja bundar sedang bermain kartu langsung berdiri dan mengarahkan senjatanya pada Kenzi. Kedua tangan Kenzi yang memegang senjata api terlebih dulu melesatkan pelurunya ke arah mereka.
"Dor! Dor! Dor!"
Suara letusan terdengar bersamaan dengan tumbangnya kepala anggota Crips ke lantai, darah segar memercik ke lantai. Kenzi balik badan saat salah satu pria bersembunyi dan
mengarahkan senjata padanya. Kaki Kanan Kenzi dengan sigap menendang meja lalu melesatkan pelurunya ke arah pria itu hingga tak berkutik lagi.
Mata Kenzi melirik ke arah kaca jendela yang hancur, melihat anak buah anggota Crips melarikan diri. Ia langsung berlari ke luar ruangan mengejar mereka yang kabur dengan terus mengarahkan senjatanya. Peluru melesat kembali bersamaan dengan tumbangnya tubuh mereka ke lantai.
"Dor! Dor! Dor!
Baku tembak antara Kenzi dan anggota Crips tidak dapat di elakkan satu persatu anak buah Crips berjatuhan. Kepanikan dari beberapa pengunjung yang berlari keluar bersamaan dengan suara sirine dari mobil patroli Kepolisian setempat. Kenzi berbaur dengan para pengunjung berlari keluar.
Ia menghela napas dalam dalam, tersenyum menyeringai memperhatikan beberapa anggota Polisi mengamnkan tempat itu.
"Tunggu kedatanganku brengsek, kali ini tidak akan kubiarkan kau hidup," gumam Kenzi pelan. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju mobil miliknya di tepi jalan. Ia bergegas meninggalkan tempat itu, dan menemui salah satu ketua anggota Triad. Musuh bebuyutan organisasi Crips.
Sesampainya di rumah kecil, Kenzi mengetuk pintu. Dan seseorang membuka pintu dari dalam langsung mengarahkan senjatanya di pelipisnya. Ia memeriksa tubuh Kenzi dari dada hingga kakinya. "Kau tidak percaya padaku?" tanya Kenzi dengan wajah datar.
"Harus?" jawab pria itu dengan terus mengarahkan senjatanya ke pelipis Kenzi.
Kenzi tersenyum lebar, "ya kau benar, dalam pekerjaan ini kita tidak tahu harus percaya pada siapa."
Pria itu menurunkan senjatanya lalu mempersilahkan Kenzi untuk duduk di kursi. "Kenapa kau meminta bantuanku?" pria itu menatap Kenzi penuh selidik. Ia letakkan senjatanya di atas meja.
Kenzi mengeluarkan Foto Livian dari balik saku mantelnya lalu ia letakkan di atas meja. Pria itu tersenyum sinis menatap foto Livian. "Si brengsek rupanya masih hidup."
"Aku ingin kita bekerjasama." Kenzi mengeluarkan kotak rokok lalu di letakkan di atas meja.
__ADS_1
"Aku mau di bayar," sahut pria itu.
"Berapapun kau minta," ucap Kenzi sembari mengeluarkan sebatang rokok dari kotak lalu menyalakannya.
"Kapan? pria itu memiringkan wajahnya menatap Kenzi sembari mengusap dagunya yang lancip.
"Lusa."
Pria itu mengulurkan tangannya. "Setuju."
Kenzi tersenyum sinis, mengulurkan tangannya dan menjabat tangan pria itu. Lalu ia kembali menarik tangannya dan berdiri menghampiri pria itu. Tubuh Kenzi membungkuk mendekatkan wajahnya di telinga si pria dan membisikkan padanya lokasi target yang akan mereka tuju nanti.
Si pria tersebut tertawa menyeringai, lalu tengadahkan wajahnya menatap Kenzi. "Kau atur semuanya." Kenzi menganggukkan kepalanya, lalu menepuk pundak pria itu sekilas. Tanpa banyak bicara lagi, Kenzi melangkahkan kakinya keluar rumah pria tersebut.
Kenzi menyalakan rokok lalu menghisapnya dalam dalam, ia menoleh ke belakang sesaat lalu kembali berjalan menuju mobil yang ia parkir di tepi jalan tak jauh dari rumah pria itu. Kenzi mengawasi pergerakan pria itu dari dalam mobilnya, dengan tatapan waspada.
***
Sementara di tempat lain, Siena sama sekali tidak dapat memejamkan mata sedetik saja. Ia terus teringat Kenzi yang berada jauh di sisinya. Semalaman ia duduk termenung di kamarnya mempertimbangkan langkah yang akan ia ambil besok pagi.
Hingga pagi menjelang, Siena mulai menyiapkan semua surat surat penting yang akan dia bawa. "Semua sudah lengkap," gumamnya pelan. Lalu ia mengganti pakaiannya menggunakan kaos berwarna putih dan celana jeans. Rambutnya panjangnya ia ikat sembarangan.
Dengan langkah pasti Siena beranjak keluar kamar dengan tas berukuran sedang di punggungnya. Ia menemui putranya yang berada di ruang tamu bersama yang lain.
Rei juga Kenan menatap ke arah Siena, "kau mau kemana?" tanya Rei. Namun Siena tidak buru buru menjawab hanya melirik sesaat ke arah Rei dan keenan.
Siena membungkukkan badan mengangkat tubuh Helion lalu menggendongnya. "Pagi jagoan Ibu.." ia kecup pipi Helion.
"Ibu, mau kemana?" tanya Helion mengusap kedua pipi Ibunya.
"Ibu pergi sebentar, kau jangan nakal ya. Ibu segera kembali." Siena mengecup hidung mancung Helion.
"Ikut.." rengeknya dengan melingkarkan kedua tangan di leher Siena.
"Kau boleh ikut Ibu, kalau sudah besar." Siena mengusap rambut Helion. Lalu ia memberikan tubuh putranya pada Rei.
Rei mengambil tubuh Helion dan menggendongnya. "Kau mau menyusul Kenzi?"
__ADS_1
Siena menganggukkan kepala. "Si, Si..di sana berbahaya." Keenan menarik lengan Siena untuk duduk di kursi.
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa hanya menunggu di sini. Sementara suamiku di sana sendirian." Siena menghela napas panjang.
"Apa kau tidak dengar, apa yang di pesankan suamimu?" Rei duduk di kursi. Ia tidak setuju dengan niat Siena yang hanya akan membahayakan nyawanya.
"Kalau terjadi apa apa denganmu bagaimana? apa kau tidak kasihan dengan putramu?" Keenan meminta Siena untuk berpikir ulang.
"Aku sudah pikirkan dengan matang, kalian jangan khawatir." Siena menatap kedua sahabatnya dan Dinda yang hanya diam memperhatikan.
"Kak, jangan pergi.." Dinda akhirnya angkat bicara.
"Dengar, kalian jangan halangi aku. Aku butuh dukungan kalian." Siena menatap tajam satu persatu sahabatnya.
"Jika terjadi sesuatu padaku, atau pada kami berdua. Aku mohon.." Siena berdiri lalu mendekati sahabatnya dan menggenggam erat tangan Rei dengan tatapan penuh harap.
"Apa?"
"Jaga putraku, sayangi dan cintai dia layaknya putramu sendiri." Mata Siena berkaca kaca
Rei memalingkan wajahnya, ia tidak ingin mendengar kata kata seperti itu dari bibir Siena. "Pergilah, jika tekadmu sudah bulat."
Siena tersenyum tipis, "terima kasih, kau percaya padaku." Siena berdiri. "Aku titip Helion dan yang lain. Anggap mereka seperti keluarga kalian."
"Tak perlu kau minta, Siena." Keenan dan Dinda berdiri, di ikuti Rei.
Siena menganggukkan kepalanya, lalu berpaling menatap Helion. Menarik wajah Helion mencium keningnya cukup lama. Lalu ia balik badan berjalan menuju pintu rumah.
"Kau harus kembali Siena!" seru Keenan dan Dinda serempak.
Rei hanya diam memperhatikan Helion yang menangis memanggil Ibunya. "Ibuuu..!
Bukan ia tidak perduli dengan putranya, Siena terus melangkah hingga hilang dari pandangan mereka. Rei memeluk Helion yang terus berontak di pelukannya minta di turunkan dari pangkuan. " Ibu..! Ibu..!
Rei memeluk erat Helion, dan berusaha untuk menenangkan Helion. Keenan berlari ke arah pintu dan menguncinya dari dalam. Dinda membantu Rei untuk menenangkan Helion.
Sementara Samuel, Akira dan Yeng Chen yang duduk di kursi roda hanya diam memperhatikan, kepala tertunduk.
__ADS_1
"Aku tidak berguna, harusnya aku yang menyusul Bos," ucap Yeng Chen dalam hati.
"Harusnya kami yang menjaga kalian, bukan sebaliknya kalian yang berjuang," gumam Akira menoleh ke arah Samuel yang menangis dalam diam.