
Siena dan Jiro baru saja selesai membersihkan rumahnya. Abel datang untuk menemui Jiro. Siena menyambut kedatangan Abel dan mempersilahkan wanita itu duduk.
"Kau tidak bertugas?
Jiro duduk di kursi memperhatikan Abel yang menggunakan pakaian biasa.
"Tidak." Abel tersenyum.
"Kau mau minum apa Nak? Ibu ambilkan."
"Tidak perlu Bu, aku tidak la-?" ucapan Abel terpotong, saat suara motor terdengar di halaman rumah. Bahkan dari suara motor di perkirakan jumlahnya lebih dari satu.
"Siapa lagi yang datang?"
Jiro berdiri di ikuti Siena dan Abel. Mereka melangkahkan kakinya menuju teras rumah. Betapa terkejutnya mereka saat melihat sejumlah motor berjajar di halaman rumah.
Ada sepuluh pria bertubuh kekar seusia Jiro turun dari atas motor. Kali ini bukan anak buah Adelfo, tapi orang bayaran Kanaye putra Kuan Lin. Orang nomer satu yang memiliki pengaruh besar di kota itu.
"Kanaye?" ucap Jiro pelan, namun terdengar oleh Siena dan Abel.
"Serahkan Zoya!" seru Kanaye menatap tajam Jiro.
Abel sebagai anggota kepolisian yang mentati aturan. Memberikan peringatan pada mereka untuk tidak membuat onar. Namun ancaman Abel tidak di gubris. Kanaye merasa, Ayahnya lebih berkuasa di banding Abel yang hanya opsir biasa.
"Zoya tidak ada di sini!" balas Jiro.
Namun Kanaye tidak mempercayai ucapan Jiro. Ia tertawa mencemooh lalu membungkukkan badannya mengambil batu berukuran kepalan bayi. Lalu ia lemparkan ke arah mereka. Dan batu itu tepat mengenai kening Siena.
"Ahhk!" Siena memejamkan matanya saat batu itu mengenai kening dan melukainya. Darah segar mengalir dari kening Siena membuat Jiro terpekik kaget.
"Ibu!"
Jiro merangkul bahu Siena menatap darah mengalir dari keningnya. "Kurang ajar!" Jiro memalingkan wajahnya menatap marah Kanaye. Ia melangkahkan kakinya tapi Abel mencegahnya.
"Serahkan semua pada Polisi!"
Namin Jiro menepis tangan Abel. Lalu berjalan mendekati mereka semua. Satu jarinya terulur ke hadapan Kanaye. "Maju semuanya brengsek! kalian telah melukai Ibuku!"
__ADS_1
Kanaye mengangkat tangannya memberikan kode pada mereka untuk menyerang Jiro.
"Serang!"
Tiga pria maju menerjang Jiro sekaligus menggunakan balok kayu berukuran sedang.
"Rupanya kalian cari mati!" pekik Jiro menendang salah satu pria dengan kaki kananya hingga terhuyung, tangan kanan menangkis balok kayu musuh, lalu kaki kirinya menendang perut pri tersebut dengan cepat hingga ambruk.
"Bukk!"
Jiro di pukul dari arah belakang, hingga terhuyung ke depan. Abel yang sedari tadi diam. Akhirnya turin ke halaman membantu Jiro, kekasihnya. Siena sendiri hanya diam memperhatikan pergerakan Ryu. Ia tersenyum kagum melihat putranya jago bela diri. Dua puluh tahun berpisah. Banyak hal yang Siena tidak ketahui tentang Jiro. Siena duduk di kursi sambil menyeka luka di keningnya memperhatikan Jiro dan Abel.
Meski pertarungan kalan jumlah, tapi tidak jadi halangan bagi Jiro dan Abel mengalahkan mereka.
"Bukkk!
Jiro memukul wajah Kanaye dan mencengkram lehernya kuat, hingga Kanaye kesulitan bernapas.
"Beraninya kau melukai Ibuku!"
"Akan kupatahkan tanganmu!" tangan kanan Jiro menarik tangan Kanaye dan memutarnya. Andai Abel tidak mencegahnya, hari ini nasib sial Kanaye.
"Lepaskan dia, kau bisa di hukum Jiro! pekik Abel menarik paksa tangan Jiro hingga cengkraman tangannya terlepas.
" Kenapa kau menghalangiku?!" Jiro menatap kesal Abel.
"Serahkan pada Polisi! biarkan mereka mendapatkan hukumannya."
Saat Abel dan Jiro bertengkar karena beda pendapat. Kanaye dan anak buahnya tidak membuang kesempatan. Mereka melarikan diri pergi menjauh dari rumah Siena.
"Aku tidak tahu dengan aturanmu, tapi mereka telah melukai Ibuku. Jangan coba coba kau halangi aku." Jiro menatap tajam Abel lalu balik badan melangkahkan kakinya menghampiri Siena di ikuti Abel.
"Ibu, Ibu tidak apa apa?" Jiro duduk di kursi tangannya menyentuh kening Siena.
"Ibu tidak apa apa sayang."
"Kau sendiri?" Siena mengusap keringat di wajah Jiro.
__ADS_1
Jiro menggelengkan kepalanya, lalu tengadahkan wajah menatap Abel yang tengah menghubungi pihak kepolisian mengenai penyerangan yang di lakukan Kanaye.
"Buat apa kau menghubungi Polisi?" Jiro berdiri. Ia masih kesal dengan Abel.
"Aku harap kau mengerti dengan tugasku, tidak bisa kah kau mengerti?" Abel memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Aku tidak tahu apa tugas dan aturan yang kau patuhi. Yang kutahu, kau kekasihku. Tapi jika ada yang berani melukai Ibuku sedikit saja. Aku tidak akan tinggal diam."
"Kau tidak bisa seperti itu, ini sudah urusan kepolisian." Abel tetap bersikeras dengan pendapatnya. Wanita itu menjunjung tinggi keadilan dan patuh pada aturan yang ada. Berbeda dengan Jiro yang memiliki pendapat lain. Ibu adalah segalanya bagi dia, kepentingan keluarha diatas segalanya. Jiro berpegang teguh pada keyakinannya itu. Sehingga pertengkaran diantara dia dan Abel terus berlanjut.
Siena yang sedari tadi diam memperhatikan akhirnya angkat bicara. "Berbeda pendapat boleh, pada intinya apapun niat kalian satu tujuan. Jangan jadikan perbedaan menjadi halangan untuk kalian berdua. Menyatukan dua perbedaan itu memang sulit. Tapi bukan berarti kalian harus saling menundukkan mana yang benar di antara kalian berdua."
Abel dan Jiro langsung berhenti bicara. Apa yang di katakan Siena memang benar dan mereka membenarkannya. Namun darah muda yang mengalir dalam diri Jiro tetap bersikeras dengan pendapatnya. Begitu juga dengan Abel, dia akan menjalankan tugasnya dengan sebaik baiknya.
"Tante, aku permisi dulu ke kantor." Abel membungkuk sesaat.
"Iya sayang, hati hati di jalan. Dan terima kasih ya." Siena berdiri.
"Jiro, aku pergi dulu." Abel menatap Jiro yang masih kesal padanya. Lalu beralih menatap Siena yang menganggukkan kepala sebagai tanda Jiro akan baik baik saja. Lalu Abel melangkahkan kakinya keluar rumah.
Siena mengalihkan pandangannya pada Jiro. "Sayang, jangan marah terlalu lama. Tidak baik."
Siena kembali duduk, di ikuti Jiro duduk di samping Siena. "Aku tahu Bu, tapi aku tidak bisa membiarkan orang yang sudah melukai Ibu."
"Ibu mengerti, kau sama seperti Ayahmu. Marah jika ada yang melukai Ibu."
Jiro memeluk tubuh Siena erat. "Dua puluh tahun lebih, aku terpisah dari kalian. Aku tidak mau kehilangan kalian lagi. Aku sayangi Ibu dan Ayah. Aku kehilangan banyak waktu kebersamaan dengan kalian. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Terima kasih sayang." Tangan Siena mengusap punggung Jiro untuk menenangkan.
Jiro melepaskan pelukannya. "Bahagiamu, bahagiaku Ibu. Jangan halangi aku untuk menghajar siapapun yang berani melukai keluargaku."
Siena tersenyum tipis, matanya berkaca kaca menangkup wajah Jiro. "Kejar Abel. Minta maaf padanya. Kau jangan keras kepala, bukankah kau mencintainya?"
Jiro mengangguk. "Biarkan saja Ibu, aku sudah janji pada Ayah untuk menjaga Ibu."
Siena menghela napas dalam dalam, lalu menarik tangannya. Seharusnya hal seperti ini tidak terjadi, jika saja Ryu tidak keras kepala. Tetapi Siena juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Ryu. Dari awal pertama kenal Kenzi. Dunia kriminal sudah menjadi bagian hidup Kenzi. Sejauh mana Kenzi berlari dan menghindar. Pada akhirnya akan bertemu lagi dengan permasalahan seperti ini.
__ADS_1