
"Sepertinya ini lokasinya." Kenzi melirik ke arah Adelfo sesaat lalu keluar dari pintu mobil, di ikuti Adelfo.
"Ayo kita masuk," ucap Adelfo dengan tatapan waspada ke sekitar.
Mereka berjalan mendekati pintu bangunan tua lalu menyusuri sebuah lorong. Langkah mereka terhenti di pintu besi. Melihat seorang pria paruh baya menghampiri mereka.
"Tuan San San, apa kabarmu." Kenzi mengulurkan tangannya menjabat tangan pria yang bernama San San.
"Ayo kita masuk, sebelum ada yang melihat kita." San San membuka pintu besi menggunakan alat seukuran chip yang menyala berwarna merah saat chip di masukkan ke dalam lubang pintu besi. Perlahan pintu terbuka lalu mereka masuk ke dalam ruangan.
"Apa sebenarnya tujuan mereka terus memburuku?" tanya Kenzi menatap ke arah San San.
"Kau akan tahu sendiri." San San menjawab singkat, melirik ke arah mereka berdua.
San San langsung membuka layar monitor dan melihat beberapa file.
"Setiap bisnis tunggal di lakukan melalui komputer ini, dengan alogaritma canggih. Jadi tidak mungkin ada yang bisa mengakses termasuk file file rangkaian rencana mereka." San San dan yang lain fokus menatap layar monitor.
"Apa yang terjadi?" tanya Adelfo menatap raut wajah San San terlihat tegang.
"Seseorang meng-hack komputer ini," jawab San San.
"Kapan?" tanya Kenzi melirik ke arah San San yang mulai panik.
"Sejak semalam, sebelum aku memberikan alamat lokasi ini." San San menatap Adelfo dan Kenzi cukup lama.
"Apa kau tidak bisa melacak lokasi mereka" tanya Adelfo.
"Akan kulakukan," jawab San San singkat. Lalu mereka kembali fokus menatap layar monitor.
"Dapat! seru San San, lalu ia memindahkan semua file file penting ke dalam chip lain yang akan di bawa Kenzi dan Adelfo untuk di pelajari lebih lanjut lagi.
Sementara mereka tengah memindahkan beberapa file penting tentang serangkaian agenda yang akan musuh kerjakan. Di luar gedung sebuah mobil berwarna hitam menepi, dua pria keluar dari pintu mobil dengan membawa senjata laras panjang memasuki gedung itu.
" Aku menemukan komputer mereka, dan baru saja meng-copy semua file dan deskripsinya," ucap San San. Jari jemarinya terus mengetik. "Kita download terlebih dahulu, supaya kau bisa melacaknya nanti."
Raut wajah mereka semakin menegang, dengan tatapan fokus ke layar monitor. "Berhasil!" seru San San. Lalu ia mencabut chip nya dan di berikan pada Kenzi.
"Jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah, ada misi besar yang akan mereka kerjakan dan akan melibatkanmu." San San menatap Kenzi sesaat. Lalu Kenzi mengantongi chip ke dalam saku celananya yang berukuran sangat kecil.
Tiba tiba terdengar bunyi alarm. San San tengadahkan wajah pada lampu yang menyala merah dan berbunyi.
"Seseorang ada di sini." San San dan yang lain menoleh ke arah pintu. Melihat dua pria dengan senjata laras panjang. "Cepat keluar dari sini!" pekik San San mengambil senjata apinya lalu mendorong tubuh Kenzi dan Adelfo ke belakang.
"Dor! Dor! Dor!
__ADS_1
Kedua pria itu menembaki mereka. Kenzi dan Adelfo bersembunyi di balik meja besi. Sementara San San bersembunyi di meja lainnya lalu mengambil dua senjata api, ia lemparkan pada Kenzi dan Adelfo. Peluru terus berdesing dari senjata dua pria itu yang terus berseliweran menembaki apa saja yang ada di dalam ruangan tersebut, juga komputer komputer yang berjajar hingga hancur berantakan.
" Dor! Dor! Dor!
Kenzi mengangkat meja besi yang tidak terlalu tebal itu, sementara Adelfo ikut berdiri menembaki dua pria tadi.
"Dor! Dor! Dor!
Satu pria ambruk ke lantai bersimbah darah dan tak berkutik lagi. Pria satunya lagi berlari dan bersembunyi di balik pilar berukuran cukup besar.
" Dor! Dor! Dor!
San San mengambil tabung gas berukuran panjang lalu ia lemparkan ke arah pria yang bersembunyi, dengan sigap Kenzi menembaki tabung itu.
"Durrr!! ledakan yang cukup kencang terdengar bersamaan sebagian alat alat ikut terbakar dan hancur. Namun sayang, pria itu mampu menghindarinya.
" Dur!!!!
Pria itu membalas dengan menembaki tabung gas yang berjajar. Alhasil ledakan dahsyat tidak dapat di hindari. Kenzi dan Adelfo terpental jauh, begitu juga dengan San San.
"Kita harus cari jalan keluar!" pekik Adelfo menatap ke arah Kenzi yang menarik kerah baju San San yang dalam keadaan terluka.
"Lewat belakang," sahut San San.
"Dor! Dor! Dor!
" Jangan sentuh! kita sudah terjebak di dalam ruangan ini dan akan meledak!" San San memegang perutnya yang terus mengeluarkan darah segar.
"Kau benar, kita tidak bisa melalui pintu yang sudah di pasang peledak, kita cari jalan keluar yang lain!" Kenzi balik badan menghampiri San San dan Adelfo yang memapah tubuh pria itu.
"Apa yang bisa kita lakukan, percuma jalan keluar lain. Semua sudah di pasang bahan peledak," sela Adelfo.
"Lihat! peledaknya berbunyi semakin cepat!" seru Adelfo.
"Saluran udara!" Kenzi mengambil tabung gas lain lalu ia naik ke atas meja memecahkan jendela.
"Cepat!" seru San San. Lalu Adelfo membantu Kenzi memecahkan jendela. Usaha mereka akhirnya membuahkan hasil. Kenzi membantu Adelfo naik ke atas jendela. Kenzi kembali mendekati San San lalu mengangkat tubuhnya. Namun pria itu mengerang kesakitan.
"Kenzi, cepatlah!" ia menoleh menatap mereka berdua.
"Ayo kita pergi dari sini," ucap Kenzi.
"Tidak, kau tidak punya banyak waktu. Pergilah dan tinggalkan aku di sini. Dan File itu, temukan bom yang sebenarnya sebelum semua menjadi terlambat."
"Cepatlah!" pekik Adelfo pada Kenzi.
__ADS_1
Namun Kenzi tidak ingin meninggalkan sahabatnya, ia terus memapah San San menuju jendela meski ia menolak. Saat sudah sampai di depan jendela, dengan sisa tenaga. San San mendorong tubuh Kenzi dengan paksa keluar dari ruangan. Bersamaan dengan ledakan di dalam ruangan itu di susul peledak lainnya.
"DUARRR!!!
Kenzi dan Adelfo kembali terpental, lalu Kenzi bangun dan berdiri tegap menarik tubuh Adelfo dan menyeretnya paksa menjauh dari gedung itu.
" DUARRR!!
Mereka terdiam duduk di jalan aspal memperhatikan gedung itu meledak dan hancur.
Kenzi menepuk dada Adelfo pelan. "Uji nyali kau bilang, ini bunuh diri namanya."
Adelfo meringis kesakitan lalu menoleh ke arah Kenzi dan tertawa lebar. "Ini masalah serius, aku tidak menduganya."
"Ayo kita pergi dari sini, kau terluka." Kenzi berdiri lalu membantu Adelfo untuk berdiri. Ia memapahnya menuju mobil milik Kenzi yang terparkir di tepi jalan.
***
Sementara di rumah Siena. Zoya dan Jiro begitu juga Siena menyambut ke datangan Ryu. Putra bungsu Kenzi dan Siena, kini terlihat berbeda. Lebih dewasa dan penampilannya rapi, selama ini Ryu kuliah mengambil jurusan kimia.
"Ibu.." ucapnya pelan, kedua tangannya ia rentangkan lalu memeluk Siena erat. "Aku kangen Ibu, ayah di mana Bu?" Ryu melepaskan pelukannya, lalu mengedarkan pandangannya.
"Ayahmu ada urusan di luar sayang, mungkin malam baru pulang." Siena menepuk pipi Ryu dengan sayang.
"Hai Zoya!" Ryu mengalihkan pandangannya pada gadis yang dulu pernah ia cintai. "Kau tambah cantik saja." Ryu memeluk Zoya sekilas.
"Kau juga," sahut Zoya.
"Kak, apa kabar." Ryu beralih memeluk Jiro dengan erat.
"Baik, kau sendiri?" Ryu melepaskan pelukannya.
"Aku baik kak." Ryu merangkul bahu Jiro lalu mengajaknya duduk di kursi meja makan. "Aku kangen makan bareng kakak lagi."
"Ya sudah, ibu siapkan makanannya dulu. Kalian duduklah." Siena mulai menyiapkan makanan yang sudah tersaji di meja makan. Lalu mereka makan bersama, canda tawa terlontar indah di meja makan. Ryu bercerita banyak tentang kuliahnya dengan nilai tinggi, dan dia mendapatkan tawaran untuk ikut bergabung dalam sebuah aliansi yang bergerak di bidang game theory.
Sementara Jiro, tidak banyak yang ia ceritakan. Jiro hanya menceritakan seputar pekerjaan dan sehari harinya. Zoya hanya diam mendengarkan mereka berbagi cerita. Sesekali Ryu menatap ke arah Zoya, bukan karena ia masih mencintai gadis itu. Namun selama di Indonesia, Ryu sering komunikasi dengan Zoya dan berbagi cerita apapun termasuk kisah cinta segitiga antara Miko dan Zoya. Tanpa harus Jiro atau Siena ceritakan, Ryu sudah mengetahuinya dari Zoya.
Tiba tiba saja Ryu menepuk pundak Jiro.
"Hei kak, sudah saatnya kau menentukan sikap. Mana calon istrimu yang terbaik, jangan sampai keduluan aku loh," bisik Ryu pelan. Namun jelas terdengar oleh yang lain.
"Aku-?" Jiro tidak melanjutkan ucapannya, matanya melirik ke arah Zoya sesaat.
"Jangan lama lama, ntar di ambil orang baru nyesel." Ryu tertawa lebar, setengah menggoda Jiro, setengah menyindir.
__ADS_1
Sementara Siena hanya tersenyum menggelengkan kepala, sikap Ryu yang cuek masih sama. Sesekali ia melirik ke arah pintu rumah. Siena mulai gelisah, sudah hampir gelap. Namun Kenzi belum juga kelihatan batang hidungnya.
"Semoga tidak terjadi apa apa," ucap Siena dalam hati.