
Rei berdiri di depan kaca ruangan menatap ke arah Siena yang tengah duduk di kursi.
Keenan berjalan mendekati Rei dan berdiri di sampingnya menatap sama ke arah Siena.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Keenan. "Siena sahabatku dari kecil, jika saja aku tahu akan seperti ini..tak akan aku biarkan dia pulang ke rumah orang tuanya."
"Aku tidak tahu, tapi kita harus berusaha keras bagaimana caranya dalam tempo satu minggu. Kita harus melunasi semua hutang Bu Hana." Rei menatap Keenan sekilas.
"Aku setuju, aku akan membantumu mengeluarkan Siena dari jerat mafia brengsek itu!" ucap Keenan geram.
"Bagaimana dengan istrimu? kau jangan sampai melibatkan dia," ucap Rei.
"Tentu, untuk sementara akan aku antarkan dia ke kampung." Rei menganggukkan kepala tanda setuju.
"Bagaimana Rei?" sapa Kenzi dari arah belakang.
Keenan dan Rei menoleh ke arah Kenzi, "kau tenang saja tuan Kenzi. Aku akan melunasi hutang hutang Bu Hana, tapi ingat..jangan kau sentuh Siena sedikitpun selama itu."
Kenzi memalingkan muka sesaat, ia tersenyum sinis. "Oke.." jawabnya. Ia duduk di kursi dengan santai.
"Selama itu pula, jangan pernah kau mengatakan apapun tentang hal ini pada Siena." Rei berjalan mendekati Kenzi. "Jika kau melanggarnya, aku anggap perjanjian itu batal!"
Kenzi mengelus dagunya sendiri, ia tertawa kecil menatap Rei. "Deal."
Kenzi berdiri berhadapan dengan Rei, kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celananya, "jika kau tidak bisa melunasi semua hutang Hana dalam waktu yang sudah di tentukan, maka..Siena menjadi milikku selamanya."
Rei dan Kenzi saling tatap cukup lama, sementara Keenan hanya memperhatikan mereka berdua, akhirnya angkat bicara.
"Dan jangan kau berbuat curang pak Kenzi!
Kenzi menoleh ke arah Keenan, ia berjalan perlahan. " Tidak perlu bicara keras, Keenan." Kenzi merogoh pistol di balik jas hitamnya. Ia arahkan pistol itu ke pelipis Keenan.
"Sebuah kepercayaan itu mahal bagiku, tapi nyawamu?" Kenzi tersenyum miring, lalu ia turunkan pistolnya dari pelipis Keenan. Ia tertawa lalu balik badan melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua.
"Huffftt, gila ini benar benar gila! rutuk Keenan.
" Sudahlah, sekarang kita temui Siena," ucap Rei. Mereka berjalan keluar ruangan menghampiri Siena yang duduk di kursi.
"Kalian kemana saja? aku bosan tahu," sungut Siena.
"Ya sabar..namanya orang meeting, pasti lama," timpal Keenan.
"Aku lapar, kita makan yuk?" Siena menarik tangan Rei dan Keenan lalu menggandengnya keluar.
"Memang kau mau makan apa?" tanya Rei.
"Terserah kalian, aku ikut saja!" sahut Siena.
"Baiklah," ucap Rei sembari membukakan pintu mobil untuk Siena. Mereka bertiga mulai meninggalkan kantor.
__ADS_1
Sementara itu Kenzi dan Adrian menperhatikan mereka bertiga dari dalam kantor.
"Aku tidak akan melepaskan Siena," ucap Kenzi menatap mobil yang di kendarai Rei keluar halaman kantor. Ia berdiri dan melangkahkan kaki memasuki ruangan.
"Kau akan merasakan lebih dari apa yang di rasakan adikku," Kenzi menatap foto Siena yang di tempel di dinding ruangan. Tatapan mata Kenzi tajam mengarah ke foto Siena. Ia lemparkan sebilah pisau kecil tepat mengenai foto Siena.
***
Selesai makan siang, Siena langsung pulang ke rumahnya. Ia langsung memasuki kamar pribadinya. Baru saja ia hendak membuka pintu kamar. Dari arah belakang si mbok memanggil Siena.
"Neng, di luar ada tamu," ucap mbok.
Siena balik badan menatap mbok, "siapa mbok?" tanyanya.
"Tidak tahu neng," jawab mbok.
"Ya sudah mbok." Siena kembali menutup pintu lalu memberikan tasnya pada mbok untuk di simpan ke kamar. Sementara dia sendiri langsung menemui tamu tersebut.
"Mama alya!" seru Siena dari arah pintu, saat mengetahui tamu itu adalah Alya, mantan mertua Siena.
"Siena..mama kangen.." ucapnya sembari merentangkan kedua tangan memeluk Siena.
"Bagaimana kabar mama?" tanya Siena melepas pelukan Alya lalu mempersilahkannya duduk.
"Mama baik sayang..kamu sendiri?" tanya Alya balik.
"Seperti yang mama lihat.." jawab Siena tersenyum.
"Pindah? kenapa ma? lalu Reegan dan Sandra?"
"Reegan dan Sandra ikut mama nak," jawab Alya.
"Bagaimana dengan perusahaan kakek di sini?" tanya Siena lagi. Ia menggeser duduknya lebih dekat dengan Alya.
"Perusahaan kakek mengalami kebangkrutan selama kau tidak ada sayang, jadi kami bermaksud pindah ke Belanda untuk meneruskan perusahaan kakek yang di sana," jelas Alya panjang lebar.
Siena menganggukkan kepala, "jika itu yang terbaik buat kalian. Aku hanya bisa berdo'a saja ma."
"Terima kasih sayang, sore ini kami berangkat. Dan kalau kau tak keberatan..sekali kali telpon mama..kau mau?"
"Tentu ma," sahut Siena.
"Ah sayang, maafkan mama..mama selalu sayangi kamu.." Alya memeluk lagi Siena dengan erat.
"Mama jaga kesehatan ya, jangan sampai banyak pikiran."
"Iya sayang." Alya melepas pelukannya. "Kalau begitu, mama pulang dulu."
"Baik ma..kabari aku kalau sudah sampai sana," ucap Siena.
__ADS_1
Alya menganggukkan kepala, ia berdiri di ikuti Siena yang ikut berdiri. Mereka berpelukan cukup lama. Perkenalan menjadi sebuah keluarga yang sangat singkat tapi cukup menorehkan luka di hati Siena.
"Mama sayang Siena.." ucap Alya melepas pelulannya. Siena tersenyum dan memejamkan mata saat Alya mengecup keningnya. "Mama pulang..jaga diri kamu baik baik sayang."
Siena menganggukkan kepala, ia menatap wajah Alya. "Hati hati Ma."
Alya tersenyum, ia melangkahkan kakinya menuju halaman. Siena tersenyum menatap punggung Alya hingga hilang di balik gerbang rumah Siena.
Siena duduk di kursi menghela napas dalam dalam, "Reegan, kau bahkan tidak menemuiku walau sekedar berpamitan," gumam Siena.
Tak lama kemudian, Siena melihat mobil Hana memasuki halaman rumah. Ia langsung berdiri menyambut Hana.
"Mama?" Siena melebarkan matanya saat melihat Hana berjalan sempoyongan di antarkan seorang pria tambun tak di kenal Siena. "Mama kenapa?!" seru Siena membantu pria itu memapah Hana memasuki rumah. Lalu mereka meletakkan Hana di atas sofa.
"Kau siapa? dan mama kenapa?" tanya Siena menatap pria tambun itu.
"Bu Hana mabuk di cafe, makanya saya antarkan pulang," jawab pria itu.
"Mabuk?" Siena menatap Hana yang setengah sadar.
"Maaf, saya permisi dulu," ucap pria tambun itu, sesaat ia berikan kunci mobil pada Siena.
Siena menerima kunci mobil menatap pria tambun itu sesaat, "ma..mama kenapa.." ucap Siena pelan.
"Siena.." ucap Hana pelan. "Antarkan mama ke kamar."
"Ya ampun ma..mama kenapa..ada apa ma.."
Siena mengangkat satu tangan Hana dan memapahnya masuk ke dalam kamar. Ia baringkan tubuh Hana di atas tempat tidur.
"Ma.." ucap Siena menatap wajah Hana sesaat. Ia lepaskan sepatu Hana dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Siena duduk di tepi tempat tidur memperhatikan Hana.
"Apa yang sebenarnya yang terjadi dengan mama..kenapa mama mabuk? apakah sudah kebiasaan mama?" gumam Siena. Begitu banyak pertanyaan di benaknya.
Siena berdiri melangkahkan kakinya keluar kamar untuk menemui mbok di dapur.
"Mbok.." sapa Siena.
Mbok langsung mendekat ke arah Siena dan membungkukkan badan sesaat, "iya neng, ada apa?" tanya Mbok.
"Mbok..apakah mama sudah biasa mabuk mabukkan?" tanya Siena.
Mbok menundukkan kepala sesaat, ia tengadah menatap Siena.
"Maaf sebelumnya neng..dulu nyonya memang sering pulang ke rumah dalam ke adaan mabuk. Tapi..sudah lama nyonya berhenti mabuk..itu seingat mbok, Neng.." ungkap si mbok.
Siena menganggukkan kepala, "terima kasih mbok..nanti kalau mama bangun, tolong antarkan susu hangat ke kamar mama, mbok."
"Baik neng," kata mbok.
__ADS_1
Siena kembali ke kamar Hana untuk memastikan ibunya baik baik saja.