
Berhari hari mereka mengumpulkan uang untuk menebus Siena. Semua barang yang mereka punya, harus mereka jual. Namun harus berakhir sia sia hanya dengab sebuah alasan yang tak masuk akal. Hana menangis sejadi jadinya, ia sangat menyesali perbuatannya di masa muda hingga ia menghancurkan hidup putrinya sendiri. Seandainya dulu, ia tidak gila judi. Mungkin sekarang hidupnya bahagia bersama putri dan suaminya.
"Putriku, maafkan mama..maafkan mama nak.." ucap Hana lirih.
"Tante..percuma menyesali yang sudah terjadi. Lebih baik kita cari jalan keluar yang lain," ucap Rei duduk di sebelah Hana.
Sementara Keenan hanya bisa diam, ia tidak dapat berkata apa apa lagi. Keenan tidak menyangka jika sahabat terbaiknya harus berakhir di tangan seorang pria akibat ulah ibunya sendiri. Ada rasa ingin memaki Hana, tapi itu akan sangat percuma ia katakan.
"Apa yang di katakan Rei benar tante..menangis saja tidak akan mengembalikan Siena ke tengah tengah kita. Menyesal saja tidak akan mampu memutar waktu kembali ke belakang..ada baiknya kita tenang dan berpikir jernih."
"Maafkan tante..kalian ikut repot," ucap Hana terisak.
"Tidak perlu tante meminta maaf, aku melakukan ini semua demi Siena.." Rei menambahkan.
"Rei..jika tante sudah tidak ada di dunia ini, maukah kau menjaga dan melindungi Siena seumur hidupmu?" tanya Hana.
"Tanpa tante minta..aku akan melakukannya demi Siena," jawab Rei menundukkan kepala.
"Apakah kau mencintai Siena, Nak?" tanya Hana menatap tajam ke arah Rei.
Rei tersenyum tipis dan menganggukkan kepala. Hana tersenyum, mengusap lengan Rei. "Tante percaya sama kamu nak."
"Langkah kita selanjutnya bagaimana?" tanya Keenan menatap ke arah Rei.
"Kita tunggu besok, rencana apa yang akan Kenzi berikan pada kita. Tapi kali ini kita jangan mudah terjebak ataupun percaya kata katanya. Dengan mudah dia akan memutar balikkan fakta," jelas Rei.
Keenan menganggukkan kepala. "Aku setuju Rei."
"Sebaiknya tante istirahat, kami akan menunggu di sini sampai ada perintah selanjutnya dari Kenzi," ucap Rei.
"Baiklah.." Hana berdiri dan melangkahkan kakinya dengan gontai memasuki kamar pribadinya.
"Rei, keluar yuk?" ajak Keenan.
__ADS_1
"Kemana?" tanya Rei mengerutkan dahi menatap Keenan.
"Aku bosan, pikiranku stres memikirkan masalah Bu Hana," jawab Keenan ia merebahkan tubuhnya di kursi panjang, ia menutup wajahnya dengan menggunakan lengan kanan. Sementara Rei menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Siena..bertahanlah dan bersabar..aku pasti membebaskanmu," gumam Rei tapi jelas terdengan Keenan.
Keenan melirik Rei dari balik lengannya, lalu tersenyum sendiri.
****
Sementara itu di tempat lain, dengan paksa Kenzi membawa Siena ke ruangan lantai dua club milik Kenzi. Ia hempaskan tubuh Siena ke atas sofa.
"Apa salahku!! seru Siena menatap marah ke arah Kenzi yang berdiri di hadapannya.
Dengan menyilangkan kedua tangan di dada, ia tertawa terkekeh melihat Siena ketakutan, " jangan bermimpi aku akan memperlakukanmu dengan baik, dan jangan kau berharap kalau aku akan menempatkanmu di kamar mewah." Kenzi membungkukkan badan dan berbisik di telinga Siena. "Kamar kecil dan pengap ini cukup untukmu tinggal Siena." Kenzi kembali berdiri tegap.
"Apa kau sudah gila! apa salahku!" pekik Siena sembari mengayunkan kaki kananya menendang perut Kenzi, namun dengan sigap Kenzi menahan kaki Siena dan mencengkramnya kuat.
"Berteriaklah sesukamu, aku suka melihatnya.." Kenzi tertawa kecil, ia hempaskan kaki Siena ke bawah.
"Aku ingin melihat kau menderita, Siena.."
"Kau gila! kau gila! seru Siena memukul dada Kenzi berkali kali, sementara kakinya menendang kaki Kenzi tak berarturan. Namun Kenzi tetap diam tak bergeming menatap tajam Siena. Hingga akhirnya Siena kelelahan sendiri, ia terduduk di kursi mengusap rambutnya yang berantakan menghalangi pandangan matanya.
Kenzi tersenyum sinis, " sudah cukup, nona Siena?" ucap Kenzi. Siena hanya diam menatap geram Kenzi.
"Simpan energimu Siena, karena tiga hari lagi kita akan melakukan satu pertunjukan," ucap Kenzi di akhiri tertawa kencang.
"Apa yang akan kau lakukan pada keluargaku, Kenzi?"
Kenzi mengangkat kedua bahunya, "kita lihat nanti Siena.." Kenzi menurunkan kedua tangannya lalu ia duduk di sebelah Siena tanpa bicara apa apa dia langsung mencium bibir Siena dengan paksa. Siena mendorong tubuh Kenzi supaya menjauh darinya.
Kenzi tertawa kecil menatap Siena, "aku sudah membelimu Siena, jadi kau adalah milikku." Kenzi mengusap bibirnya lalu berdiri menatap Siena. "Persiapkan dirimu, diam dan tenanglah..sebentar lagi akan ada pertunjukkan baru."
__ADS_1
Dada Siena naik turun menahan amarah, ia menatap geram Kenzi yang berlalu begitu saja meninggalkan dirinya di kamar yang berukuran sedang.
"Aahhkk! sial! maki Siena. " Kenapa hidupku seperti ini!"
Siena duduk di kursi menangkup wajahnya, ia menurunkan tangannya menatap pintu yang perlahan terbuka. Nampak seorang wanita muda masuk ke dalam dan menghampiri Siena membawa nampan berukuran besar.
"Selamat siang nona Siena.." ucap wanita itu meletakkan nampan di atas meja. "Nona di minta tuan Kenzi untuk makan dan mengganti pakaian nona."
"Terima kasih.." jawab Siena.
"Saya permisi dulu nona." Wanita itu menundukkan kepala sesaat. Dia kembali melangkah keluar ruangan.
Siena terdiam menatap makan siang yang ada di atas meja, ia menyentuh gaun berwarna coklat yang di berikan wanita itu.
Sementara itu, Kenzi yang berada di ruangan lain. Tengah duduk di depan layar monitor mengawasi Siena.
"Tuan, ini kopinya," ucap Adrian meletakkan nampan kecil di atas meja.
"Terima kasih.." ucap Kenzi melirik sesaat ke arah Adrian. "Besok kau ada tugas untuk menemui Hana dan Rei."
"Baik tuan, apa yang tuan perintahkan pada mereka?" tanya Adrian berdiri di samping Kenzi.
Kenzi tertawa kecil, "kita akan mengadakan pertunjukan kedua, kita akan menyaksikan mereka menderita."
"Baik tuan," kata Adrian.
"Sekarang kau istirahat, biar aku yang mengawasi gadis itu."
"Terima kasih tuan, saya permisi." Adrian membungkuk sesaat, lalu ia melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Kenzi menghela napas dalam dalam, "Siena..ini belum apa apa. Kau akan lebih menderita lagi." Kenzi menatap layar monitor memperhatikan aktifitas Siena di ruangan lain. 'Naina..adikku..aku akan membalaskan dendammu pada keluarga Karta."
Kenzi membuka laci meja, ia mengambil sebuah foto keluarga yang ia simpan. Kenzi menatap foto keluarga di tangannya. Tangan kananya terulur mengusap pelan wajah ibu dan adiknya di foto itu.
__ADS_1
"Ibu..Naina adikku..aku merindukan kalian." Kenzi memejamkan matanya sesaat, ia menarik napas panjang melepaskan rasa rindu terhadap keluarganya.
"Hana..kau akan melihat, putrimu satu satunya akan aku hamcurkan hidupnya sampai dia tidak ada keberanian untuk mengangkat wajahnya." Kenzi membuka mata, menatap ke layar monitor.