The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 135: All memories


__ADS_3

Kenzi duduk di kursi ruangan tempat Siena di rawat dengan perasaan yang campur aduk. Ia merutuki kebodohannya telah menyakiti wanita yang ia cintai. Sementara Yu mewakili Kenzi untuk berbicara dengan Dokter mengenai kondisi Siena setelah di lakukan pengecekan secara menyeluruh.


Sesaat Yu melirik ke arah Siena yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri, entah untuk berapa lama. Kemudian Yu berjalan keluar ruangan menemui Kenzi yang masih kalut dengan keadaannya sekarang. Yu berdiri terpaku di depan pintu ruangan menatap ke arah Kenzi. Pria itu kini dalam keadaan yang tidak stabil. Yu menghela napas dalam, walau bagaimanapun ia ikut andil dengan keadaan Siena.


Kenzi mendongakkan wajahnya menatap Yu yang sudah berdiri di hadapannya lalu duduk di sampingnya. "Bagaimana Kak Yu?" tanya Kenzi.


"Dokter bilang, setelah di lakukan St-scan. Kerusakan otak Siena semakin parah. Selama ini dia coba mengingat semuanya. Dia terlalu memaksakan diri hingga otaknya semakin parah, Brain dead akan terjadi jika Siena terus seperti itu. Dan kemungkinan nyawanya tidak bisa di selamatkan lagi."


"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan..." ucap Kenzi lirih, menangkup wajahnya menyembunyikan air mata di hadapan Yu.


"Kita tidak boleh putus harapan, aku tahu kau dan Siena mampu melewati ini semua. Ingat Kenzi, tidak ada yang mampu mengalahkan segalanya selain cinta kasihmu terhadap Siena." Yu menepuk punggung Kenzi pelan untuk menenangkan.


"Aku keluar dulu sebentar, kau butuh kopi?" tanya Yu.


Kenzi menurunkan kedua tangannya, lalu mengusap hidung dan kedua mata dengan telapak tangan, menganggukkan kepalanya. "Terima kasih Kak." Yu tersenyum tipis, lalu berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Kenzi.


"Maafkan aku yang terlalu memaksamu, maafkanku sayang," gumam Kenzi pelan. Lalu ia berdiri dan berjalan memasuki kamar rawat Siena lali duduk di kursi menatap wajah Siena. Alat alat penopang hidupnya kembali terpasang di tubuh wanita itu.


Tubuh Kenzi bergetar, air matanya turun saling memburu. Ia teringat saat pertama kali Siena hadir di kehidupannya. Hari hari Kenzi yang sunyi menjadi berwarna sejak adanya Siena. Pikiran dan jiwanya di sibukkan dengan satu wanita yang sekarang tertidur lelap tidak mampu melakukan seperti yang biasa wanita itu lakukan padanya.


Dia selalu mengganggu Kenzi bekerja di depan monitor dengan duduk di pangkuannya. Dia selalu bangun lebih pagi mengecup keningnya supaya Kenzi terbangun dan kopi hangat selalu tersedia sebagai pengganti minuman beralkohol. Dia selalu marah jika pakaiannya belum di ganti dengan yang baru karena wanita itu tidak suka dengan asap rokok yang menempel di baju Kenzi.


Dia selalu mengikuti kemanapun Kenzi pergi meski dalam situasi yang berbahaya sekalipun. Dia akan bergelayut manja ketika Kenzi melarangnya untuk ikut pergi bersamanya. Tawa, canda Siena dan semua yang wanita itu berikan sangat ia rindukan saat ini, sangat ia rindukan. Semua kenangan bersamanya memenuhi pikirannya dan menyesakkan relung batinnya.


"Kenzi? kau baik baik saja?" Yu yang baru saja datang dengan secangkir kopi panas di tangannya ia letakkan di atas meja, langsung mendekati pria yang tengah menangis tanpa bisa ia sembunyikan lagi.

__ADS_1


Kenzi menatap Yu sesaat, sembari menyeka air mata di pipinya. "Katakan padanya, maafkan aku.." ucap Kenzi lirih.


"Tenanglah, semua akan baik baik saja." Yu mengusap punggung Kenzi untuk menenangkan, meski ia sendiri tidak yakin.


"Kenapa semua ini harus terjadi padaku, andai kutahu akan seperti ini. Lebih baik aku tidak akan pernah jatuh cinta." Kenzi mengusap air matanya.


"Hei, kau jangan bicara seperti itu. Cinta tidak pernah salah. Keadaanlah yang membuat semuanya seperti salah." Yu coba membesarkan hati Kenzi.


Mencintai seseorang dan memutuskan untuk membina sebuah pernikahan bukanlah seperti dongeng dongeng yang sering di ceritakan atau roman picisan yang ia baca yang di tulis di novel novel. Pernikahan bukanlah akhir yang bahagia yang seperti ia kira atau orang impikan. Pernikahan adalah babak baru dengan tingkat kesulitan yang tinggi, apalagi masa lalu Kenzi berlatar belakang seorang mafia. Kenzi tidak pernah tahu kalau memcintai seseorang akan menjadi sesulit ini.


Ada keinginan Yu untuk memeluk Kenzi yang sudah di anggapnya seperti adik. Dan mengatakan semuanya akan kembali normal seperti apa yang pria itu inginkan. Tapi ia tidak mampu melakukannya, tidak ada satu katapun yang terucap lagi dari bibir Yu.


"Apakah Siena akan meninggalkanku selamanya?" Kenzi menatap wajah Yu sesaat. "Apakah dia akan baik baik saja?" Kenzi tidak tahu apakah dia sendiri baik baik saja, semua terasa begitu cepat terjadi.


Pria di hadapannya kini bukanlah Kenzi yang dulu, yang tersisa kini hanyalah rasa sakit yang menjalar di dadanya juga orang orang sekitarnya. Yu mengusap punggung Kenzi lagi terus berusaha mencoba menarik Kenzi dari lingkaran setan yang tengah ia buat sendiri karena di dominasi pikirannya yang kalut dan tak mampu berpikir jernih lagi.


***


Rei menatap istrinya, Marsya. "Apa kau yakin cara ini efektif dan bisa menjamin keselamatan Helion dan yang lain?" tanyanya.


"Tentu, setidaknya mereka berpikir dua kali untuk datang ke sini," jawab Marsya dengan yakin.


"Apakah Kenzi sudah tahu?" sela Keenan.


"Ya." jawab Marsya singkat.

__ADS_1


Saat mereka tengah berbincang, Yu yang baru saja datang langsung menghampiri mereka lalu duduk di kursi. "Di mana Helion?" tanya Yu pada Keenan.


"Dia di kamarnya bersama Akira." Keenan menunjuk ke arah kamar Helion.


"Bagaiamana keadaan Kenzi dan Siena?" Marsya menoleh ke arah Yu.


Yu hanya menggelengkan kepala, pertanda bahwa semua tidak baik baik saja. "Aku tidak yakin."


Semua yang ada di ruangan itu menunduk, mereka tidak tahu lagi bagaimana membuat Siena sadar. Sementara saat ini, Kenzi sangat membutuhkannya.


Yu tertawa kecil memecah keheningan. "Bagaimana bisa, Kenzi bisa jadi tersangka. Sementara mereka asik berkeliaran."


Marsya hanya bisa menghela napas dalam, ia percaya keadilan bisa di tegakkan tapi ia sendiri terikat aturan. Tidak banyak yang bisa ia lakukan selain memberikan kesaksian saat persidangan nanti. Dan dia berharap bisa meringankan hukuman Kenzi. Andaikan Siena tak kunjung sadar.


"Tersisa satu hari lagi, aku harap Kenzi kooperatif." Marsya menatap ke arah Yu.


"Tidak perlu kau ingatkan. Dia bukan pria pengecut." Yu tersenyum. Lalu ia berdiri membenarkan pakaiannya. "Aku akan kembali ke rumah sakit. Kalian jaga putra Kenzi dengan baik, mereka bisa melakukan segala cara."


"Kau tenang saja, akan aku lakukan tanpa kau minta." Rei dan Keenan menjawab serempak.


***


"Sayang, tersisa satu hari lagi. Andai besok aku tidak berada di sampingmu lagi, maafkan aku." Kenzi memegang erat tangan Siena dan menciumnya dengan segenap perasaan yang ia miliki.


"Ada atau tiadanya aku di sampingmu nanti, aku harap kau sadar. Ada putra kita yang membutuhkanmu. Tidak mengapa kau tidak mengingatku lagi. Yang terpenting bagiku, kau kembali sadar dan bisa membesarkan putra kita."

__ADS_1


Kenzi tersenyum menatap wajah Siena, tangannya terulur mengusap lembut pipinya. Demi kebahagiaan putra dan wanita itu, kini ia rela apapun yang akan terjadi padanya nanti. Untuk pertama kali ia menyadari dan mengerti ucapan Siena dulu. Cinta dan kebenaran dua hal yang sama. Hati Kenzi sedikit lebih tenang, dan dia akan menjalani hukumannya.


__ADS_2