
Kenzi duduk di kursi besi yang sudah berkarat, mendekap erat tubuh Siena dalam pangkuannya. Ia membiarkan istrinya beristirahat sejenak. Mendekap erat tubuhnya, mengusap rambut dan menggenggam erat tangan Siena sudah membuat Kenzi nyaman. Mendapatkan wanita seperti Siena adalah hal terindah yang ia miliki. Mencintai dengan segenap jiwa, melihat senyuman dan tawa candanya sudah cukup membuatnya bahagia. Tidak ada hal yang menakutkan dalam hidupnya meski kematian itu sendiri, selain kehilangan Siena. Mencintainya anugerah terindah yang Tuhan berikan padanya.
Kenzi mengecup puncak kepala Siena dengan dalam. "Kau lah hidup dan matiku.." gumamnya pelan.
Perlahan Siena membuka matanya, menatap wajah Kenzi dan tersenyum padanya. "Sayang, kau tidak tidur?" tangannya mengusap dada bidang Kenzi.
"Mana mungkin aku bisa tidur, aku takut.." ucap Kenzi mencium kening Siena sekilas.
Siena menautkan kedua alisnya menatap dalam Kenzi. "Takut?"
Kenzi menganggukkan kepala, "aku tidak mau, saat mataku terbuka. Kau hilang dari pandangannku."
Mata Siena melebar menatap horor Kenzi. "Mulai deh.." sungut Siena.
Kenzi tertawa kecil, tangannya mengusap lembut pipi Siena. "Sayang, kita lanjutkan perjalanan kita."
Siena menganggukkan kepalanya, lalu ia turun dari pangkuan Kenzi. Mendekati meja mengambil air botol mineral lalu ia kucurkan air ke wajahnya supaya tidak mengantuk , sisanya ia minum. "Nih.." Siena memberikan botol air mineral satunya lagi pada Kenzi.
"Terima kasih." Kenzi mengambil botol di tangan Siena.
"Sayang, kita mau kemana?" tanya Siena masih belum mengerti arah tujuan Kenzi.
"Kita ke perbatasan Kowloon sayang." Kenzi letakkan botol air mineral di atas meja, lalu membungkukkan badan memasukkan semua senjatanya ke dalam tas berukuran kecil. Satu ia selipkan di pinggangnya.
Tiba tiba mereka di kejutkan dengan kedatangan beberapa pria kekar, bertelanjang dada. Di lihat dari penampilannya, mereka petarung.
"Brukkk!"
Salah satu pria kekar itu mengdorong sosok pria dalam keadaan terikat kedua tangannya di belakang, jatuh tersungkur di hadapan Kenzi dan Siena. Kenzi menatap tajam ke arah pria kekar itu, lalu beralih menatap tubuh yang tersungkur di hadapannya. Ia membungkukkan badan memegang pundak pria tersebut lalu membalikkan tubuhnya.
"Adrian?!"
Kenzi jongkok mengangkat kepala Adrian, wajahnya lebam dan banyak luka sayatan pisau. "Apa yang terjadi padamu?"
__ADS_1
"Kk, kau," ucap Adrian kelu.
Siena menggelengkan kepalanya menatap wajah Adrian hampir tidak di kenali, meski ia kesal terhadap Adrian karena telah berkhianat. Namun bagaimanapun Adrian pernah menjadi bagian dari Kenzi. Siena memalingkan wajahnya menatap pria kekar itu dan maju satu langkah mendekati mereka. Siena meregangkan jari jemarinya, memutar leher ke kiri dan kekanan.
"Brengsek! maju kau!" Siena mengepalkan kedua tangannya. "Sudah lama aku tidak menggunakan kemampuan bela diriku." Ia tersenyum menyeringai.
Pria kekar itu tertawa mencemooh menatap kawannya sesaat lalu maju satu langkah mendekati Siena. "Aku antarkan kau lebih dulu ke neraka, Nona."
Tangan kanan pria itu meninju wajah Siena, tapi sebelum tangan si pria sampai ke wajah Siena. Dengan sigap tangan kirinya menangkis tangan si pria, tangan kanan meninju perut pria itu hingga terhuyung ke belakang. Siena memutar tubuhnya menerjang wajah si pria dengan kaki kanan hingga pria itu oleng ke samping kiri.
"Bukk!"
"Sayang, hati hati! pekik Kenzi langsung berdiri dan menyambut tubuh pria tadi dengan tangan kosong meninju wajahnya hingga hidung pria itu patah, darah segar mengalir dari hidung dan mulutnya.
Dan Siena menjatuhkan tubuhnya menerjang kedua kaki pria kekar lain hingga jatuh terjungkal kebelakang menubruk jendela kaca yang sudah hancur.
"Brukk!"
"Dor! Dor!
Dua pria di luar rumah yang hendak masuk ke dalam ambruk tak bernyawa lagi. Siena melirik ke arah Kenzi yang tengah melawan dua musuh sekaligus. "Aku percepat kematian kalian!"
"Dor Dor! dua musuh yang Kenzi hadapi tumbang bersamaan darah memercik ke lantai yang berdebu dan kotor.
Kenzi menoleh ke arah Siena menggelengkan kepalanya. Lalu ia ambil senjata api di balik pinggangnya di arahkan pada musuh yang baru saja datang.
" Dor! Dor ! Dor!"
"Tak akan kusia siakan kesempatan kedua." Kenzi tersenyum menatap Siena. Lalu ia berlari ke arah pintu untuk memastikan tidak ada lagi musuh yang datang. Dengan tatapan waspada, ia menatap sekitar luar rumah. Setelah di rasa aman, Kenzi kembali berjalan mendekati Siena dan Adrian.
Kenzi mengambilkan air mineral untuk Adrian lalu ia berusaha untuk meminumkannya. Adria terbatuk memuntahkan darah segar, ia tersenyum lebar menatap Kenzi. "Aku tidak mau mati seperti binatang."
"Jangan bicara seperti itu, kau bukan binatang." Kenzi menyeka darah di mulut Adrian.
__ADS_1
"Apakah aku binatang?" tanya Adrian menatap nanar wajah Kenzi dan Siena bergantian.
"Tidak, kau bukan binatang. Kau keluargaku." Kenzi menundukkan kepalanya sesaat.
Adrian mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya lalu ia berikan pada Kenzi. "Aku sekarat, tapi tidak punya peluru." Adrian napasnya tersengal sengal.
"Tidak, aku akan membawamu pergi dari sini." Kenzi mengulirkan tangannya hendak mengangkat tubuh Adrian. Namun ia menolaknya, "di ujung kematianku, aku tidak sendirian. Kau teman dan keluargaku." Adrian menarik tangan Kenzi yang tengah menggenggam senjata api, lalu ia arahkan ke pelipisnya. "Bunuh aku."
"Tidak, tidak akan pernah!" sahut Kenzi menarik tangannya. Namun Adrian menarik jari Kenzi hingga peluru menembus pelipisnya. "Adrian?!" mata Kenzi berkaca kaca menatap wajah Adrian.
Siena menundukkan kepalanya sesaat lalu mengusap punggung Kenzi untuk menenangkan. "Sayang.."
Kenzi hanya ingin melenyapkan Livian saja, tapi ternyata itu sulit. Orang orang yang pernah dekat dengannya satu persatu ikut menjadi korban. Meski itu bukan kesalahannya. Kenzi menitikkan air mata, meletakkan tubuh Adrian di lantai. Lalu ia memalingkan wajahnya menatap ke arah Siena.
"Sayang, ayo kita pergi!" Kenzi berdiri menarik tangan Siena lalu meraih tas yang ada di atas meja. Mereka berdua bergegas meninggalkan rumah tua tersebut.
Kenzi memberikan secarik kertas pemberian Adrian pada Siena. Lalu ia kembali fokus menjalankan mobilnya. "Sayang, kau buka apa isinya."
Siena menganggukkan kepalanya, lalu membuka lipatan kertas yang rusak, tertera tulisan alamat lengkap. "Sayang, sepertinya Adrian memberikan alamat lengkap keberadaan Livian." Siena menoleh ke arah Kenzi.
"Dimana sayang? bisa kau sebutkan?" Kenzi melirik sesaat ke arah Siena.
"Kawasan Yuen Long pinggiran Hongkong. Kowloon Walled city park."
Tiba tiba Kenzi berhenti mendadak, hingga terdengar deritan suara ban mobil beradu dengan jalan aspal. "Sayang, ada apa?" tanya Siena terkejut.
"Sudah ku duga, beruntung Adrian memberitahu kita." Kenzi menoleh ke arah Siena. "Kita harus memutar arah dan buat strategi baru."
Siena menganggukkan kepalanya, ia mengusap bahu Kenzi sesaat. "Berpikirlah dengan tenang, jangan sampai kita gagal."
Kenzi menganggukkan kepalanya, lalu ia memutar arah mobilnya ke jalur yang lain. Ia menarik napas dalam dalam mengingat kematian Adrian. "Selama ini kau salah menilaiku, aki sudah menganggapmu keluarga," ucap Kenzi dalam hati. Lalu ia kembali fokus ke jalan.
Crips memiliki sejarah panjang, perkumpulan rahasia organisasi perdagangan untuk melindungi wilayah dan terkadang aktifitas terlarang. Dan mereka digunakan para elit global untuk menyerang musuh dalam hal kepentingan mereka. Siapa yang menduga, kawan bisa jadi musuh, musuh bisa menjadi kawan. Satu sama lain tidak bisa saling percaya, selalu ada kecurigaan. Dalam organisasi itu tidak ada jaminan kata 'teman' hidup dengan cara masing masing, bertahan dengan segala cara, termasuk melenyapkan teman satu organisasi.
__ADS_1