
"Kakak Yu, katakan di mana suamiku?" tanya Siena, ia menatap ke pintu ruangan. Namun Kenzi tak kunjung datang. Membuat dia semakin khawatir dan bingung. Semenjak ia sadar dari amnesianya sampai hari ini Kenzi belum menampakkan batang hidungnya.
Yu menggeser kursinya lebih dekat dengan Siena. Sebelum ia mengatakannya pada Siena. Yu meminta Siena untuk tenang. Kemudian Yu menceritakan semua kejadian sewaktu ia amnesia.
"Jadi? suamiku ada di penjara?" Siena mendekap mulutnya, ia tidak percaya selama amnesia begitu banyak hal yang telah Kenzi lewati sendirian. Siena memukul kepalanya sendiri sembari menangis. "Bodohnya aku telah melupakanmu, bodoh!" pekik Siena.
Yu berdiri menarik tangan Siena untuk tidak menyakiti dirinya sendiri. "Tenanglah Siena, tenang!"
"Sayang, maafkan aku.." ucapnya lirih.
"Ini bukan salahmu Siena, kau tidak perlu menyalahkan dirimu." Yu kembali duduk.
"Aku mau menemuinya.." Siena turun dari atas tempat tidur. Namun Yu mencegahnya.
"Tenanglah Siena, tenang. Kita masih punya kesempatan untuk membebaskan Kenzi." Yu menahan tubuh Siena.
"Tapi, dia membutuhkanku. Kak!" Siena terus memberontak.
"Aku tahu, tapi pulihkan dulu kondisimu..mengertilah Siena.." Yu memeluk tubuh Siena yang terus memberontak.
"Lepas Kak! Kenzi membutuhkan aku.." ucap Siena lirih. Tubuhnya gemetar mencengkram lengan Yu.
"Tenanglah Siena, musuh kita sekarang bukan anggota crips atau triad lagi. Tapi mereka yang punya kuasa di kota ini. Salah bertindak akan merugikan Kenzi sendiri." Yu memeluk tubuh Siena erat supaya tidak melarikan diri. "Tenanglah.."
Perlahan Siena mulai tenang, ia menyeka air mata dengan tangannya.
Yu kembali membaringkan tubuh Siena ke atas tempat tidur. "Kau tenang, bisa?"
Siena menganggukkan kepalanyanya menatap kedua bola mata Yu. "Bagaimana keadaannya sekarang? apa dia baik baik saja?"
"Dia baik baik saja, Kenzi pria yang tangguh. Dia lemah kalau kau terluka Siena."
Siena memalingkan wajahnya menatap langit langit kamar. "Andai aku tidak amnesia."
"Kita tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita semua Siena. Semua sudah terjadi." Yu menepuk lengan Siena untuk menenangkan.
"Kakak, pergilah temui Kenzi. Katakan aku baik baik saja." Siena tersenyum samar Menatap Yu.
Yu menganggukkan kepalanya, lalu ia berdiri dan menatap Samuel yang berdiri di belakangnya. "Kau temani Siena, aku ke Kantor Polisi." Samuel menganggukkan kepalanya.
Dari rumah sakit, Yu bergegas menemu Kenzi. Dia mengabarkan kabar gembira pada Kenzi tentang Siena yang sudah pulih ingatannya. Kenzi tidak dapat membendung air mata bahagia, hari hari kelamnya tentang wanita itu telah berakhir. Harapan besar di depan mata, kebebasan dan memulihkan namanya di mata hukum akan terjadi.
"Kakak Yu, katakan padanya aku sangat merindukannya," ucap Kenzi lirih sembari menyeka air matanya.
"Kau tidak perlu khawatir, semua akan baik baik saja. Percayalah.." Yu menatap wajah Kenzi yang terlihat sangat berantakan. Lingkaran hitam di sekitar mata jelas terlihat. Pria itu tidak pernah lelap tidur hanya memikirkan istri dan putranya. Sesak rasa di dada Yu. Namun ada secercah harapan, Siena telah sadar dan bisa membebaskan Kenzi. Yu dan Kenzi seperti mendapat asupan energi tambahan. Membuat mereka kembali bersemangat.
__ADS_1
***
Tersisa waktu dua hari, Siena memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Hidup matinya Kenzi sekarang ada di tangan Siena. Dan dia harus memberikan kesaksian dan bukti bukti. Samuel mengurus semua surat surat rumah sakit. Sementara Yu kembali memberikan bukti bukti baru pada pihak berwajib. Di bantu Marsya dan pengacaranya. Mereka optimis Kenzi bisa bebas setelah Siena sadar.
Setelah semua selesai, Samuel menjalankan mobilny menuju rumah. Siena sudah tidak sabar ingin bertemu putranya Helion. Sepanjang perjalanan, Siena terus memikirkan buah hati dan suaminya yang ada di tahanan.
"Sayang, bersabarlah. Aku pasti menjemputmu pulang," gumam Siena pelan.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di halaman rumahnya. Samuel langsung keluar dari pintu mobil dan membukakan pintu lainnya untuk Siena. Siena keluar dari dalam mobil, sekilas matanya menangkap beberapa pria berpakaian putih tengah berjalan menuju rumahnya.
Siena menoleh ke arah Samuel, "beritahu yang lain, kita pergi dari rumah ini sekarang." Siena langsung berlari masuk ke dalam rumah mencari putranya.
Samuel menautkan dahi, masih belum mengerti ucapan Siena. Ada yang aneh, seharusnya ada penjagaan dari pihak berwajib. Tapi Samuel tidak melihat satupun hari ini. Matanya menatap sekitar luar gerbang dan melihat beberapa pria yang sama seperti Siena lihat. Samuel bergegas masuk ke dalam rumah dan memberitahu seluruh penghuni rumah.
'Ambil senjata masing masing, kita tinggakan rumah ini secepatnya." Samuel memberikan perintah pada Akira dan yang lain.
Sementara Siena menemui Helion di kamarnya yang tengah tertidur pulas. Helion langsung bangun saat Siena mengangkat tubuh Helion dan menggendongnya. Senjata api sudah terselip di pinggangnya. "Ibu..?"
"Sayang, ayo ikut Ibu."
"Kemana?" tanya Helion melingkarkan kedua tangan di leher Siena.
"Menemui Ayahmu sayang." Siena mencium pipi Helion sekilas. "Ayo kita pergi." Baru saja Siena balik badan.
"Dor!
"Ibu.."
Di luar kamar, Rei dan Keenan sibuk saling melindungi satu sama lain dari para musuh yang menyerang dengan jumlah yang tidak sedikit.
"Dor! Dor!
Siena berlari merunduk, dengan satu tangan terus menembaki musuh untuk melindungi putranya. Helion terus menangis dalam pangkuan Siena. " Sayang, jangan menangis." Siena melirik sesaat ke arah Helion, lalu beralih pada dua musuh yang datang dari arah pintu belakang.
"Dor! Dor!
"Prankkk!! kedua pria itu terjungkal menubruk kaca jendela.
Samuel melihat Siena tengah menggendong Helion langsung berlari menghampiri Siena dan mengambil alih tubuh Helion membawanya sembunyi di balik dinding dapur.
"Rei! pekik Siena melemparkan senjata api milik musuh ke arah Rei.
Dengan sigap Rei menangkapnya lalu berguling menembaki musuh yang terus berdatangan.
"Dor! Dor! Dor! Rei berlari ke arah Keenan dan menarik kerah bajunya hingga berguling ke lantai dan bersembunyi di balik lemari besi.
__ADS_1
Sementara Akira mendorong kursi roda Yeng Chen berlari menuju dapur tempat persembunyian Samuel sambil menembak musuh dari berbagai arah. Yeng Chen tidak mau tinggal diam meskioun kakinya lumpuh, tapi tangannya bisa di pergunakan.
" Dor Dor! Yeng Chen menembaki musuh membantu Akira.
Siena keluar dari persembunyian menghampiri Rei dan yang lain. "Mobil ada di luar, aku akan melindungimu. Bawa Helion keluar dari sini!"
"Dor! Dor! Dor!
Rei dan Keenan berlari di bawah perlindungan Siena menuju dapur lalu mendobrak pintu keluar dari arah dapur. membawa Helion keluar lewat pintu lain, peluru berseliweran berdesing memekakkan telinga. Siena keluar dari persembunyian, dengan kedua tangan memegang senjata api di arahkan pada semua musuh yang datang dari pintu atau jendela rumah yang kacanya hancur.
Rei dan Keenan berhasil keluar membawa Helion lalu menjalankan mobilnya mendekati pintu keluar rumah. Siena berlari ke arah pintu keluar dengan senjata api di tangannya terus di arahkan pada musuh. Ia melihat mobil polisi bensinnya mengalir ke jalan. Lalu ia arahkan senjatanya pada bensin itu. Ledakan dahsyat terdengar bersamaan dengan meledaknya mobil itu.
" DUAR!!!
"Dor Dor Dor!!!
Siena dan Samuel berlari ke arah mobil lalu masuk ke dalam. Sementara Samuel menggunakan mobil lain bersama Akira dan Yeng Chen. Mengerahui Siena melarikan diri, musuh mengejar mobil yang di gunakan Siena. Wanita itu melirik ke belakang sambil mendekap erat Helion, kepalanya menyembul menembak pria yang mengemudikan mobilnya hingga oleng ke samping.
" Cepat Rei!" pekik Siena.
Rei menambah kecepatan laju mobilnya, lalu menabrakkan mobilnya ke mobil musuh yang menghadangnya di depan.
"BRAKk!" mobil musuh terbalik ke arah samping.
Akhirnya mereka berhasil selamat menjauh dari para musuh. Setelah di rasa aman dan jauh dari rumah mereka. Siena meminta Rei untuk berhenti. Ia merasakan sakit dan panas di lengannya. Siena keluar dari pintu mobil di ikuti Rei dan Samuel.
"Sakit sekali," ucap Siena pelan menatap lengannya, lalu duduk di tepi jalan di temani Rei dan Samuel.
"Aku akan mengeluarkan pelurunya Nona, kau tahan rasa sakitnya." Samuel mengeluarkan pisau kecil dan satu buah peluru. lalu peluru itu di belah menjadi dua.
"Nona tahan," ucap Samuel. sembari menyalakan sebatang rokok. Lalu bubuk mesiu ia tabur di lengan Siena. "Tahan."
Siena mengambil bambu kering lalu ia gigit untuk menahan rasa sakit. Samuel menyulut bubuk mesiu di luka tembak lengan Siena. Wanita itu menggigit bambu di mulutnya dengan memejamkan mata, ia mencoba mengingat wajah Kenzi untuk mengurangi rasa sakitnya. Lalu Samuel mengangkat peluru di bahu lengan Siena. Sementara Rei hanya memperhatikan sambil begidik ngeri. Ia tidak menyangka wanita yang pernah ada di hatinya begitu dekat dengan kematian.
"Sudah.." ucap Samuel.
Siena membuka mata lalu membuang bambu di mulutnya memperhatikan Samuel mengikat luka di lengannya menggunakan sobekan kaos yang ia kenakan. "Terima kasih."
Siena menarik napas dalam dalam, ia menoleh ke arah mobil menatap Helion dalam dekapan Keenan. "Andai kau ada di sini sayang, kau tidak akan membiarkanku terluka.." ucap Siena lirih dengan mata berkaca kaca. Sejak ia memutuskan untuk mencintai Kenzi dan menerimanya menjadi suami. Sejak saat itu pernikahannya di bayang bayangi oleh kematian. Siena menundukkan kepalanya, menangis dalam diam.
Bukan pernikahan yang salah, bukan pula cintanya yang telah salah memilih Kenzi. Tapi keinginannya untuk merubah Kenzi dan kehidupannya. Keluarga yang coba ia lindungi. Namun pada akhirnya semua sia sia. Surya mengorbankan nyawanya demi keluarga kecil yang ia miliki. Yeng Chen tidak bisa berjalan lagi hanya untuk melindungi keluarga kecilnya. Kini suaminya sendiri harus mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia buat.
"Aahhhkkkh! Siena menjerit, ia memukul dadanya yang tiba tiba serasa menyesakkan batin. " Mengapa semua ini terjadi padaku, aku telah gagal menjaga keluarga kecilku."
"Ini bukan soal menang atau kalah, tak ada yang bisa melawan semua orang. Kalah bukan berarti gagal Siena." Rei menghela napas dalam.
__ADS_1
"Maaf, aku telah melibatkanmu dalam masalah ini.." Siena menatap sendu Rei.
"Tidak, kita keluarga Siena."