The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 17: Ilusi


__ADS_3

Keesokan pagi setelah Siena mengantarkan anak anak ke panti asuhan. Siena langsung mencari rumah untuk di sewa. Atas bantuan Reegan, tak butuh waktu lama akhirnya Siena mendapatkan rumah sewaan yang tak jauh lokasinya dari rumah tempat tinggal Reegan.


"Terima kasih atas semua bantuanmu," ucap Siena berdiri di teras rumah yang baru saja ia temapti.


"Nggak gratis," jawab Reegan tanpa ekspresi.


Siena mengerutkan dahi menatap Reegan tak mengerti, "maksudmu?"


"Apa yang aku lakukan hari ini, kau harus membayarnya."


"Bayar? yang benar saja?" ucap Siena menatap Reegan tidak suka.


"Ya, kau harus membayarnya dengan menemaniku makan malam," bisik Reegan di telinga Siena.


"Oh," kata Siena datar.


"Kau pikir, aku butuh uangmu?" Reegan tertawa kecil, lalu ia berjalan mundur perlahan. "Aku jemput kau jam tujuh malam." Lalu ia balik badan meninggalkan rumah Siena.


Siena menghela napas lega, "aku pikir suruh bayar pakai uang." Siena tertawa kecil kemudian ia kembali masuk ke dalam rumah.


***


Sementara itu di rumah Kakek Hardi, Reegan tengah duduk di depan monitor. Kakek Hardi masuk ke dalam ruangan kerja Reegan bersama Alya.


"Kakek senang, akhirnya kau menuruti permintaan kakek," ucap Kek Hardi berdiri di samping Reegan sembari menyentuh pundak Reegan.


Reegan tengadahkan wajah menatap kek Hardi tanpa ekspresi, ia hanya tersenyum tipis ke arah kek Hardi dan Alya kemudian kembali menatap monitor tanpa memberikan sedikitpun komentar.


"Siena gadis yang baik, mama suka dengan gadis mandiri seperti dia," sela Alya.


Reegan masih terdiam tak menanggapi kata kata Kakek dan Mamanya. Detik berikutnya baru ia angkat bicara. "Aku sudah melakukannya dengan baik, semua tinggal Siena nya..apakah dia akan menerimaku atau tidak."


"Mama rasa..Siena pasti akan menerimamu sayang," ujar Alya.


"Belum tentu Ma," Reegan berdiri dari kursi lalu ia berjalan ke arah meja lain mengambil dokumen di atas meja. "Mungkin dia sudah punya kekasih." Reegan berjalan lalu kembali duduk di kursi.


"Kakek rasa tidak mungkin Siena punya kekasih." Kakek Hardi duduk di kursi samping Reegan.


"Dari mana kakek tahu?" Reegan menoleh sesaat ke arah kek Hardi.


"Kakek sudah sepuh le..tentu kakek bisa tahu sifat dan karakter seseorang," balas kek Hardi.


"Mama setuju dengan apa yang di katakan kakekmu," timpal Alya.


"Aduh," Reegan menepuk keningnya lalu menatap jam tangan.


"Ada apa?" tanya Alya.


"Aku lupa Ma..malam ini aku mau makan malam bersama Siena," jawab Reegan.


"Oya?"

__ADS_1


Reegan menganggukkan kepala, ia bangkit dari duduknya. "Aku akan meluluskan keinginan kakek."


"Kakek senang mendengarnya, ayo cepat kau bersiap siap," ucap kakek Hardi menatap Reegan.


"Iya kek..Ma..aku ganti pakaian dulu."


"Iya sayang," Alya menepuk punggung Reegan.


Reegan langsung melangkahkan kakinya menuju kamar, lalu ia bersiap siap untuk menjemput Siena.


Sesampainya di halaman rumah Siena, Reegan langsung keluar dari pintu mobil dan mendapati Siena tengah berbicara dengan Keenan. Reegan langsung berjalan mendekat.


Keenan dan Siena menyadari kedatangan Reegan, mereka berdua menoleh ke arah Reegan.


"Kau sedang apa di sini?" tanya Reegan menatap tidak suka ke arah Keenan.


"Bukan urusanmu," jawab Keenan.


"Tentu saja memang bukan urusanku, tapi kau sudah memiliki Maria, apakah tidak akan jadi masalah kalau dia melihat kalian berdua?" Reegan tersenyum sinis menatap ke arah Keenan.


"Hei! apa maksudmu?" Keenan merasa tersinggung dengan ucapan Reegan.


"Keenan, sebaiknya kau pulang..percayalah..aku baik baik saja," potong Siena.


Keenan mengalihkan pandangan menatap Siena, "tapi Si?"


Siena menganggukkan kepala, "kita berteman sejak kecil, kau tidak perlu minta maaf apalagi menjelaskannya padaku..aku bisa mengerti Keenan."


"Pulanglah.." ucap Siena pelan.


"Baiklah..kau jaga diri baik baik." Keenan tersenyum pada Siena lalu ia beralih menatap Reegan sesaat lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Siena dengan perasaan lega atas kejadian pemecatan Siena tempo hari.


"Ada apa?" tanya Reegan melangkahkan kaki mengikuti Siena dari belakang, kemudian mereka duduk di kursi teras rumah.


"Tidak ada apa apa," jawan Siena menundukkan kepala.


"Katakan Siena, ada apa?" Reegan memaksa.


Siena mengangkat wajahnya menatap Reegan. "Aku di keluarkan dari perusahaan Keenan atas permintaan Maria."


Reegan melebarkan matanya menatap Siena, ia tidak percaya dengan apa yang dikatakannya baru saja," tidak mungkin."


"Percaya sukur..tidak percaya juga tidak masalah..tidak ada untungnya bagiku kau percaya atau tidak." Siena menyenderkan tubuhnya di kursi.


Reegan terdiam menatap lekat wajah Siena, ada keraguan di hati Reegan. Benarkah Maria sejahat itu? tapi Siena nampak tidak sedang berbohong. "Oke, lupakan masalah ini..bagaimana dengan makan malam kita?" tanya Reegan mengalihkan pembicaraan.


"Males, aku sudah tidak berselera lagi," jawab Siena datar datar saja.


"Tapi kau berhutang padaku," ucap Reegan menggeser duduknya di samping Siena.


"Aku bayar lain kali," jawab Siena ketus.

__ADS_1


"Tidak bisa, harus sekarang!" sahut Reegan menatap wajah Siena.


"Kau ini kenapa sih?" Siena membuka matanya menatap Reegan.


"Aku? kau mau tahu kenapa?" tanya Reegan.


Siena mengangkat kedua bahunya memperhatikan wajah Reegan yang rupawan.


"Karena aku menyukaimu, aku mau kau jadi kekasihku..dan aku tidak mau tahu..kau harus menerimaku malam ini juga..dan tidak boleh ada kata penolakan, titik!"


Siena bengong mendengarkan kata kata Reegan yang terus saja bicara tanpa ada jeda. Detik berikutnya Siena tertawa terbahak bahak.


Reegan diam tanpa ekspresi memperhatikan Siena lalu ia berkata, "ketawamu yang kencang sebagai pertanda bahwa kau sudah menerimaku menjadi kekasihmu..dan malam ini kau resmi menjadi kekasihku."


Siena berhenti tertawa, lalu ia terdiam menatap aneh Reegan, "kau tidak sedang sakit bukan?" tanya Siena.


"Kau pikir aku gila?" Reegan balik bertanya.


Siena mengangkat bahunya, "siapa tahu."


"Enak saja.." ucapnya pelan.


Sesaat mereka terdiam dan saling pandang.


"Eumm" Siena mengerjapkan mata, ia menunduk sesaat. "Kau tidak bisa begitu, aku belum memberikan jawaban apa apa."


"Sudah," jawab Reegan.


"Kapan?"


"Tadi..dengan tawamu..itu sudah cukup bagiku sebagai jawaban." Reegan tersenyum tipis menatap ke arah Siena.


"Aneh.." ucap Siena.


"Kau yang aneh." Reegan menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Aku tidak mau," ucap Siena.


"Tidak mau apa?" tanya Reegan, melirik sesaat ke arah Siena.


"Tidak mau-?" Siena menghentikan ucapannya.


"Tidak mau makan malam bukan? ya sudah..tidak apa apa..malah bagus..irit uang," jawab Reegan.


"Dasar pelit!" sahut Siena.


"Terserah!"


"Aneh!" sahut Siena lagi.


Lama lama mereka pun tertawa terbahak bahak, mereka mentertawakan diri mereka masing masing. Ada rasa hangat menjalar di hati keduanya. Benarkah mereka telah jatuh cinta? atau sebuah kenyamanan belaka?

__ADS_1


__ADS_2