The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 65: Beach


__ADS_3

"Siena..bangunlah sayang." Kenzi menepuk pipi Siena berkali kali.


Perlahan Siena membuka matanya, saat matanya terbuka ia melihat wajah Kenzi begitu dekat dengan wajahnya. Siena langsung menarik selimut untuk menutupi wajahnya.


"Hei, bangunlah..aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."


Siena mengintip dari balik selimut, "kemana?"


"Kita akan segera pulang dalam waktu satu minggu ini, tapi..sebelum kita pulang. Aku mau ajak kau ke suatu tempat." Kenzi menarik selimut yang menutupi wajah Siena.


"Benarkah?" Siena bangun dan duduk di atas tempat tidur.


Kenzi mengangguk cepat, "iya Siena.'


"Baiklah, kau tunggu di luar..aku mandi dulu." Siena turun dari atas tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Sementara Kenzi, menunggu Siena di bawah.


Lima belas menit berlalu, Kenzi menunggu di bawah. Tak lama kemudian Siena sudah selesai, ia langsung menemui Kenzi di bawah.


"Memangnya, kita mau pergi kemana?" tanya Siena sembari meremas ujung kaos yang ia kenakan.


"Kita jalan jalan ke pantai Shek O, Siena..kau mau?" tanya Kenzi merangkul bahunya.


Siena menganggukkan kepala, tidak masalah ia pergi ke pantai, apalagi Kenzi menjanjikan untuk pulang Ke Indonesia. Lalu mereka berjalan bersama memasuki mobil yang terparkir di halaman rumah menuju pantai.


Tanpa mereka sadari, gerak gerik mereka telah di pantau oleh anak buah Livian. Tidak hanya itu, Marsya dan kedua sahabat Siena mengikuti mereka dari belakang.


***


Sesampainya di pantai, Siena langsung keluar dari mobil menuju pantai di susul Kenzi. Siena merentangkan kedua tangan menatap pantai yang terlihat begitu tenang sembari menghirup udara segar. Sementara Kenzi berdiri di belakang Siena tersenyum memperhatikannya.


"Siena kau duduk dulu, aku akan memesan coktail." Kenzi mencium pipi Siena.


Siena melirik sesaat ke arah Kenzi dan menganggukkan kepala, "iya, jangan lama lama." Kenzi balik badan melangkahkan kakinya meninggalkan Siena.

__ADS_1


Siena jongkok, dan memainkan pasir di pesisir pantai. Tak lama kemudian ia melihat Kenzi tengah berjalan sambil membawa dua gelas coktail di tangannya. Siena tersenyum menatap ke arah Kenzi. Namun Siena melihat objek cahaya terang di kejauhan. Ia melihat dua pria tengah mengarahkan senjata api ke arah Kenzi. Siena mengalihkan pandangan menatap Kenzi dengan mulut menganga.


Dari kejauhan Kenzi melihat perubahan raut wajah Siena yang menegang. Sesaat ia melirik ke arah pandang Siena. Perlahan ia membungkukkan badan meletakkan dua gelas coktail di atas pasir. Detik berikutnya ia berguling bersamaan tembakan yang mengarahnya. Dengan sigap Kenzi mengeluarkan senjata api dan mengarahkan pada dua pria sekaligus hingga ambruk ke bawah.


Sementara Siena langsung berlari ke arah Kenzi. Satu pria dari arah lain langsung menembak Siena dan mengenai punggungnya.


"Kenzii!!" pekik Siena bersamaan tubuhnya ambruk ke pasir pantai.


"Siena!" Kenzi langsung menembak pria itu hingga ambruk. Ia langsung berlari ke arah Siena dan memeluk tubuh Siena.


"Bertahanlah sayang." Kenzi mengangkat tubuh Siena dan menggendongnya. Ia berlari ke arah mobil miliknya. Dari arah lain Marsya mengejar Kenzi dan mengarahkan senjatannya. Kenzi terus berlari dan Marsya mengejarnya.


Sesampainya di depan mobil, Kenzi langsung membuka pintu mobil memasukkan Siena ke dalam mobil. Ia mengarahkan senjata api ke arah Marsya yang berlari. Namun Marsya berhasil menghindari. Kenzi langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Marsya langsung masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Rei. "Ayo kejar mereka!" seru Marsya.


"Mereka pergi kemana?" tanya Keenan.


"Di ujung jalan!" ucap Marsya memberikan petunjuk.


***


Sesampainya di halaman rumah sakit, Kenzi langsung keluar dari pintu mobil dan menggendong tubuh Siena masuk ke dalam rumah sakit.


"Suster! di mana ruang UGD! seru Kenzi pada dua perawat di rumah sakit itu.


" Di sebelah kanan tuan, mari!"


Kenzi mengikuti langkah dua suster memasuki ruang UGD.


"Kenapa dia?" tanya Dokter.


"Dia tertembak," jawab Kenzi meletakkan tubuh Siena di atas tempat tidur.

__ADS_1


Dokter langsung meneriksa Siena. "Ukur tekanan darahnya, siapkan alat operasi," ucap Dokter memerintahkan suster. "Siapkan alat monitor detak jantung!"


Sementara di luar rumah sakit, Marsya, Rei dan Keenan telah sampai. Mereka langsung masuk dan bertanya tentang pria yang membawa gadis yang terluka. Setelag mendapatkan info. Mereka langsung masuk ke ruang UGD.


"Dokter, jangan hiraukan kami. Kami dari kepolisian!" seru Marsya sembari mengarahkan senjata api ke arah Kenzi. Dokter terkejut, tapi mereka tetap tenang memeriksa Siena.


"Kau hanya mencelakai Siena!" pekik Rei mencengkram kerah baju Kenzi. Namun Marsya menarik Rei ke belakang supaya menjauh dari Kenzi dan tidak membuat keributan.


"Kau di tangkap Kenzi! Marsya langsung mengunci kedua tangan Kenzi sembari mengarahkan senjata apinya.


"Tenanglah, aku hanya ingin memastikan istriku baik baik saja, setelah itu aku akan menyerahkan diri." Kenzi menatap Marsya dengan tenang, lalu mengalihkan pandangan pada Siena yang tengah menjalani operasi pengangkatan peluru.


Marsya dan dua sahabatnya menatap lekat wajah Kenzi, lalu beralih menatap Siena. Marsya merasa Kenzi bukanlah pembunuh berdarah dingin. Ia terlihat sangat mengkhawatirkan Siena.


Marsya mengabulkan permintaan Kenzi, hingga operasi pengangkatan peluru di punggung Siena telah selesai. Dan Siena berhasil melewati masa kritisnya. Kenzi bernapas lega menatap Siena.


"Bersabarlah Siena, aku akan menjemputmu kembali," ucap Kenzi dalam hati.


Marsya yang sedari tadi memperhatikan akhirnya meminta Kenzi untuk keluar dari rumah sakit, dan akan di proses di kantor Polisi.


Mau tidak mau Kenzi mengikuti perintah Marsya. Sesampainya di halaman rumah sakit, Kenzi balik badan memukul lengan Marsya. Dengan cepat ia berlari ke arah mobil miliknya, ia langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Marsya mengejar Kenzi sembari menembakinya.


Melihat baku tembak di halaman rumah sakut, sebagian pengunjung rumah sakit berhamburan mencari tempat berlindung.


Marsya terus menembaki mobil Kenzi namun usahanya sia sia. Kenzi berhasil menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah sakit.


"Sial! ucap Marsya.


" Bagaimana ini?" tany Rei yang baru saja keluar dari persembunyian saat terjadi baku tembak. Marsya menggelengkan kepala menatap mobil Kenzi yang melaju dengan kencang. Namun kegagalannya untuk kesekian kali tidak mengecewakan Marsya. Menurut dia dengan adanya Siena, ia akan berhasil menangkap Kenzi dengan umpan Siena sendiri.


Sementara Kenzi sendiri, tidak benar benar meninggalkan rumah sakit. Ia memutar balik arah dan kembali ke rumah sakit. Ia bersembunyi dan memperhatikan dari jarak jauh.


"Maafkan aku Siena, bukan aku meninggalkanmu. Tapi dengan cara ini, aku bisa menjemputmu kembali. " Dan kau Livian, akan aku balas lebih dari ini, kau telah melukai orang yang aku cintai."

__ADS_1


__ADS_2