The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 131: Amnesia


__ADS_3

Satu bulan lebih tiga hari. Kenzi kembali tertidur di sisi Siena setelah ia membujuk Helion untuk menunggu di rumah bersama Yu dan Samuel. Pria itu berusaha untuk tidak tertidur tapi entah mengapa ia tidak bisa menahan rasa kantuknya. Selama ia berada di kamar Siena, pria itu hanya melamun, sesekali ia keluar kamar hanya untuk mencari udara segar dan melepas penat pikirannya.


Kenzi terbangun dari tidurnya saat merasakan ada yang bergerak di rambutnya. Perlahan ia bangun melebarkan matanya menatap jari jemari Siena yang bergerak gerak. Matanya berbinar dan berharap kali ini Siena benar benar bergerak bukan sekedar gerakan motorik biasa. Kenzi segera memencet tombol untuk memanggil Dokter dan Suster.


"Apa yang terjadi?" Dr Chiang lin menghampiri Kenzi yang berdiri gelisah.


"Dokter, tangannya bergerak. Aku yakin kalau gerakan kali ini bukan sekedar false alarm." Kenzi berusaha untuk tenang.


"Sebaiknya anda tunggu di luar." Dr Chiang Lin melakukan pengecekan fisik seperti yang biasa ia lakukan. Dr Chiang Lin meminta Kenzi untuk menunggu di luar.


"A, apa?" Kenzi menatap Dokter Chiang Lin dengan tatapan bingung. Lalu salah satu suster menariknya pelan ke arah pintu. "Ada apa dengan istriku?" Dr Chiang lin tidak menjawab pertanyaan Kenzi dan segera memeriksa Siena.


Saat Kenzi melihat Siena ia segera menyadari kalau kedua mata yang biasanya tertutup itu, terbuka lebar. Menatap kosong ke langit langit kamar. Kenzi terpaku di depan pintu kamar Siena, suster tidak mengizinkannya masuk sampai pemeriksaan selesai dan Kenzi hanya bisa menunggu dengan cemas.


Kenzi merogoh saku celananya mengambil ponsel dan menelpon Yu untuk datang ke rumah sakit. Setelah selesai ia kembali terpaku di depan pintu kamar Siena.


Tak lama kemudian dari kejauhan ia melihat Yu setengah berlari menghampirinya. "Ada apa?"


"Siena sadar." Kenzi bergumam pelan.


"Benarkah?" Yu menatap wajah Kenzi dengan mata berbinar. "Lalu? kenapa kau berdiri di sini?"


"Dr memintaku untuk menunggu di sini." Kenzi menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah Yu. Mereka duduk di kursi menunggu hingga pemeriksaan selesai.


***


"Sayang.." Kenzi mendekati Siena. "Akhirnya kau bangun."


Siena menoleh ke arah Kenzi dengan kedua alis saling bertaut. Matanya memperhatikan Kenzi dari ujung rambut hingga kaki. Setelah itu ia alihkan pandangannya pada Yu yang berdiri di samping Kenzi.


"Siena.." sapa Yu.

__ADS_1


Namun Siena hanya diam, menelisik mereka berdua, membuat Yu dan Kenzi saling pandang menatap Siena bingung. "Sayang?" sapa Kenzi lagi.


"Apa? kau siapa?" tanya Siena bingung.


"Apa?" Yu bertanya bingung lalu melihat Kenzi yang masih berdiri dengan tatapan bingung di sebelahnya. "Dia Kenzi, suamimu."


"Kenzi? aku tidak mengenal dia, bahkan aku juga tidak mengenalmu." Siena terlihat tidak berbohong atau tengah bercanda ketika mengatakannya. Ia melihat Kenzi dengan tatapann meneliti dan bingung.


Yu menatap Dr Chiang Lin yang berada di sudut ruangan, menunggu reaksi pasiennya. "Dr Chiang Lin."


Dr Chiang Lin kemudian menghampiri Siena untuk melakukan pemeriksaan. "Aku akan memeriksanya lagi."


"Kepalaku pusing." Suara Siena terdengar serak dan kering.


"Aku akan memeriksamu." Dr Chiang Lin mulai pemeriksaan standar seperti mengecek mata, telinga, hidung dan mulut Siena. Lalu ia memberikan pertanyaan pertanyaan standar. "Sepertinya ada masalah."


"Dia tidak mengingatku?" suara Kenzi terdengar bergetar.


"Apa maksudmu?" Siena menatap Yu bingung. Dia melupakan sesuatu, tatapannya beralih pada Dokter dan sosok pria yang sedari tadi diam memperhatikan. "Siapa dia?"


"Kenzi? aku tidak mengenalnya," ucap Siena bersikeras.


"Dia Kenzi," ucap Yu sedikit kesal. "Demi Tuhan, kau melupakan suamimu sendiri!"


"Siena! aku suamimu!"


"Aku tidak mengenalmu, sejak kapan aku menikah?" Kenzi tiba tiba merasakan sakit di hatinya ketika melihat tatapan yang Siena berikan kepadanya. Tidak ada lagi cinta, kehangatan, kerinduan di dalamnya, kehangatan yang memberikan kesan kalau dia adalah pria yang selalu mengertinya. Semua hilang di gantikan dengan tatapan yang awal mula Siena berikan pada orang asing.


"Aku tidak mengenalmu," ucap Siena dengan tatapan tajam menusuk ulu hati Kenzi.


"Apa yang kau bicarakan Siena?" ucap Kenzi lirih.

__ADS_1


Yu sangat terkejut dan bingung, lalu ia bicara dengan Dr Chiang Lin. Sementara Kenzi berjalan keluar kamar menahan rasa sakit di hatinya


***


Yu memberikan secangkir kopi pada Kenzi lalu duduk di kursi di sebelah Kenzi. "Dr Chiang lin bilang kalau kepalanya terkena benturan cukup keras. Dia lupa sebagian besar memori traumatis dalam hidupnya. Post-traumatic amnesia. Keadaan ini bisa berlangsung sementara atau permanen."


Kenzi menyecap kopinya dalam diam, enggan menimpali perkataan Yu. "Kenzi tenanglah, dia akan kembali mengingatmu."


"Kau tidak boleh berhenti berharap." Yu menepuk pundak Kenzi.


"Kau tahu, bagaimana perasaanku?" Kenzi menatap lurus ke cangkir yang ada dalam genggamannya.


"Aku tahu," sahut Yu menundukkan kepalanya.


"Aku menunggunya berhari hari, berharap dia sadar. Hingga ia sadar dan melupakanku." Kenzi memalingkan wajahnya. Ia teringat ucapan Siena tadi.


Mereka bilang kalau itu adalah Post-traumatic amnesia. Siena melupakan banyak hal semenjak peristiwa itu. Sehari atau bertahun tahun sebelumnya, ada satu hal yang benar benar terhapuskan dari pikiran Siena. Segala hal tentang pria yang selama ini ia cintai dan rela berkorban nyawa telah terhapuskan dari benaknya. Kini hanya ada memori kosong tanpa ada isi yang dulu di isi memori tentang Kenzi. Akankah dia melupakan putranya, Helion?


Jika Siena melupakan Kenzi, tidak menutup kemungkinan wanita itu akan melupakan putranya sendiri.


"Kita lihat nanti, setelah Siena kita bawa pulang ke rumah. Apakah dia juga tidak ingat dengan putranya?" Entahlah, keduanya sama sama bingung, dan tidak tahu harus bagaimana untuk meyakinkan Siena. Sementara wanita itu amnesia.


Kenzi menarik napas panjang, menundukkan kepalanya.


***


Kenzi merasa dirinya seperti penjahat yang dulu ketika memasuki kamar rawat Siena diam diam. Dia tidak pernah merasa sekaku ini ketika masuk ke dalam kamar Siena sebelum Siena sadar dari komanya. Ia menatap bunga sedap malam yang ia letakkan di atas meja. Lalu ia merapikan barang barang di atas meja untuk di bawa pulang ke rumah.


Kenzi berdiri bimbang dan sedih di dekat tempat tidur Siena, menatap wajahnya tertidur pulas. Alat alat medis sudah di singkirkan dari sisi ranjang. Tidak ada lagi alat alat bantu pernapasan yang menutupi wajahnya, atau kabel kabel penyambung hidup Siena. Ironisnya saat Siena terbangun, wanita itu tidak mengingat sedikitpun memori tentang Kenzi.


Kenzi menarik napas dalam menundukkan kepalanya sesaat, lalu balik badan, namun tangannya di cekal Siena.

__ADS_1


"Sayang.." Kenzi berucap lirih melihat Siena menahan tangannya.


"Siapa kau sebenarnya," tanya Siena dengan tatapan kosong.


__ADS_2