The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 72: Nightmare


__ADS_3

Tepat pukul 12:30, Kenzi baru saja sampai di halaman rumah, ia menepikan motor lalu langsung masuk kedalam rumah menuju kamar Siena. Saat ia membuka pintu kamar, melihat Siena tengah gelisah dalam tidurnya. Kenzi menutup pintu kamar mendekati Siena dan memperhatikan keringat yang mengucur di wajahnya.


"Tidak!" pekik Siena dalam tidurnya. Kenzi naik ke atas tempat tidur dan menepuk pipi Siena.


"Siena.." ucapnya berkali kali menepuk pipi Siena. Namun ia tidak juga bangun.


'Siena!" Kenzi menepuk pipi Siena sedikit lebih keras. Hingga akhirnya mata Siena terbuka dan mendapati Kenzi sudah berada di sampingnya.


"Kenzi.." ucap Siena bangun langsung memeluk erat tubuh Kenzi.


"Tenanglah, kau bermimpi." Kenzi mengusap rambut dan menciun puncak kepala Siena berkali kali.


"Jangan tinggalkan aku..temani aku malam ini." tengadahkan wajah menatap wajah Kenzi.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, tidurlah..biar aku tidur di sofa."


"Tidak, tidurlah bersamaku," ucap Siena melepaskan pelukannya.


"Baiklah." Kenzi merebahkan tubuhnya bersamaan dengan Siena.


"Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu." Kenzi tersenyum tipis menatap kedua bola mata Siena.


"Kau dari mana?" tanya Siena menggenggam erat tangan Kenzi.


"Tidak kemana mana Siena, kau tidak perlu khawatir." Kenzi langsung memeluk Siena erat.


"Kau tidak bohong kan?" Ia lepaskan genggaman tangannya mengusap pipi Kenzi.


Kenzi menyentuh tangan Siena di pipinya, "tidak, aku sudah berjanji padamu."


"Kau tidak perlu berjanji lagi padaku, aku tidak akan meminta pulang lagi. Aku tetap di sini bersamamu." Perlahan ia mengecup kening Kenzi.


"Tidak, aku tetap akan tepati janjiku. Sekarang kau tidurlah."


Siena tersenyum, ia benamkan wajahnya di dada bidang Kenzi. Ada ketenangan dan rasa aman saat berada dekat dengan Kenzi. Tapi mimpi buruk yang baru saja ia alami, membuat Siena bergumam lirih. "Jangan tinggalkan aku."


Kenzi tersenyum menatap wajah Siena, "tidak akan pernah aku meninggalkanmu." Kenzi mencium kening Siena cukup lama.


***

__ADS_1


Sementara itu, Livian dan bos besar sangat marah atas perbuatan Kenzi yang merugikan outfit. Namun bos besar tidak ingin kehilangan Kenzi sebagai penasehat yang sudah di percayanya. Tentu saja hal itu menimbulkan kecemburuan Livian. Namun ia sembunyikan di depan bos besar.


"Aku tidak mau tahu, singkirkan gadis itu dari kehidupan Kenzi," ucap bos besar geram.


"Tenang bos, semua bisa di atur. Serahkan Kenzi dan gadis itu padaku." Livian tersenyum sinis.


"Cari Kenzi, dan bawa dia kehadapanku." Bos besar memberikan perintah pada Livian yang langsung berdiri dan membungkuk hormat.


Livian langsung balik bada melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan dan menemui Adrian dan anak buahnya.


"Kau pasti tahu di mana Kenzi sembunyi," tanya Livian pada Adrian.


Adrian mengangguk cepat, "tentu saja."


"Kau cari Kenzi dan lenyapkan gadis itu secepatnya." Livian tersenyum miring menatap Adrian.


"Baik." Adrian langsung berlalu bersama tiga anak buah Livian.


Livian tersenyum menatap kepergian mereka. "Tamat riwayatmu Kenzi."


***


"Pagi Siena.." sapa Kenzi mengusap lembut rambut Siena yang tersenyum menatapnya.


Baru saja Kenzi hendak duduk di kursi, dari arah pintu luar di dobrak paksa Asrian dan tiga pria lainnya dan menembaki Siena dan Kenzi. Dengan sigap Kenzi memeluk tubuh Siena dan berguling di lantai. Kenzi langsung mengeluarkan senjata apinya dan menembak dua pria sekaligus hingga ambruk di lantai.


"Ahhhh!" Siena merunduk dan bersembunyi di kolong meja kedua tangannya menutup telinga saat peluru berdesing di dekatnya.


"Menyerahlah Kenzi!" seru Adrian memperhatikan pergerakan Kenzi yang bersembunyi di balik kursi besi.


Kenzi hanya diam memperhatikan Siena yang bersembunyi di kolong meja. Ia mulai khawatir ketika Siena mulai merangkak keluar dari kolong meja dan berdiri hendak berlari keluar. Bersamaan dengan berdirinya Siena, Kenzi langsung berlari memeluknya dari belakang. Bersamaan itu pula, Adrian menembak punggung Kenzi tiga kali.


Bersamaan robohnya Kenzi dengan Siena kelantai, bersamaan dengan Samuel datang dari arah luar menembak pria yang masih tersusa hingga ambruk di lantai. Adrian menoleh langsung menembak lengan hingga senjata api di tangan Samuel terpental cukup jauh.


Adrian tertawa menatap benci Samuel, "katakan padaku, apa pesan terakhirmu," ucap Adrian mencemooh sembari mengarahkan senjata api pada wajah Samuel yang terdiam menatap geram Adrian.


Sementara Kenzi yang bersimbah darah tak sadarkan diri membuat Siena panik, ia memalingkan wajah pada Adrian sesaat. Ia bangun sembari mengambil senjata api di tangan Kenzi. Ia berdiri dan mendekati Adrian dengan senjata api mengarah ke kepala Adrian.


"Seharusnya Kenzi tidak pernah mengampunimu, pengkhianat!" seru Siena.

__ADS_1


Adrian menoleh ke arah Siena, ia tersenyum sinis, "tutup mulutmu!"


"Apa salah Kenzi padamu! seharusnya kau sadar, berapa kali Kenzi mengampuni kesalahanmu, apa pernah dia melukaimu!" ucap Siena seiring tangannya menarik pelatuk dan menembak lengan Adrian hingga senjatanya jatuh kelantai. Dengan sigap Samuel mengambil senjata api milik Adrian dan mengarahkan padanya.


Sementara Siena langsung melempar senjatanya ke belakang saat ia sudah menembak Adrian. Ia melebarkan matanya sambil mendekap mulutnya sendiri, tidak menyangka kalau dirinya telah menembak Adrian.


"Pergi dari sini dan jangan tunjukkan mukamu lagi di hadapanku!" pekik Samuel. "Bisa saja aku membunuhmu Adrian, tapi bos tidak akan suka jika aku membunuhmu, pergi!"


Perlahan Adrian melangkahkan kakinya sembari memegang lengannya yang tertembak. Sementara Samuel terus waspada hingga Adrian pergi menjauh.


"Kenzi!" Siena langsung berlari ke arah Kenzi yang masih telungkup di lantai tak sadarkan diri.


Siena langsung duduk di hadapan Kenzi, mengangkat tubuhnya ke pangkuan. Ia menepuk pipi Kenzi, "buka matamu! buka matamu!' Siena terus berusaha menyadarkan Kenzi.


" Bos!" Samuel jongkok di hadapan Kenzi, lalu ia berdiri dan berlari ke dapur untuk mengambil pisau dan stok obat


"Kenzi bangun! jangan tinggalkan aku!" Siena memeluk Kenzi dengan berlinangan air mata.


Perlahan Kenzi membuka matanya, menatap sendu Siena yang tengah menangis.


"Siena.."


"Kau masih hidup?" Siena tertawa samar, ia peluk tubuh Kenzi erat nersamaan dengan erangan kecil di mulutnya.


"Maaf.." ucap Siena pelan.


"Bos," Samuel langsung jongkok di hadapan Kenzi dengan berbagai peralatan untuk mengangkat peluru di punggung Kenzi.


Siena langsung membuka pakaian Kenzi dan membiarkan dia tetap ada di pangkuannya. Kenzi membalikkan tububnya, sementara Samuel mulai merobek daging punggung Kenzi dan mengambil tiga peluru di punggungnya.


Siena memegang tangan Kenzi erat saat satu persatu peluru di punggung Kenzi berhasil di angkat. Setelah selesai Siena mulai mengobati luka di punggung Kenzi.


Setelah selesai Kenzi bangun dan duduk di hadapan Siena, sementara Samuel tersenyum melihat bos nya sudah kembali normal.


"Maafkan aku, aku tidak akan menyulitkanmu lagi." Siena menangkup wajah Kenzi.


"Tidak Siena, jangan bicara seperti itu." Kenzi langsung memeluk Siena erat.


"Maafkan aku.." ucap Siena lirih.

__ADS_1


Sementara Samuel berdiri dan meninggalkan mereka berdua.


__ADS_2