The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 127: War 3


__ADS_3

Kenzi menepikan mobilnya di balik semak semak yang ada di tepi jalan raya. Lalu mereka keluar dari dalam mobil, berdiri menghadap ke barat, hari sudah sore nampak sinya oranye di atas langit. Mata Kenzi menatap lurus kedepan, tanah tandus terhampar luas dan terdapat dua bangunan berukuran cukup besar yang jaraknya tidak jauh dari gedung satu ke yang lainnya. "Kali ini, aku tidak akan tertipu lagi." Kenzi menoleh ke arah Siena.


Mereka berjalan menuju mobil yang mereka sembunyikan, lalu mengeluarkan tas dari dalam mobil. Siena memilih dua senjata api berukuran kecil lalu ia selipkan di balik pinggangnya. Matanya melirik pisau berukuran sedang lalu ia masukkan ke saku celananya yang terdapat banyak kantong. Sisanya ia masukkan kedalam tas gendong berukuran kecil.


Sementara Kenzi melakukan hal yang sama dengan Siena. Setelah semua di rasa cukup persiapan mereka. Kenzi dan Siena keluar dari balik semak semak. Kenzi menggenggam kedua tangan Siena erat menatap wajahnya cukup lama. "Sayang, ini tidak akan mudah. Jika aku-?"


Siena mengulurkan tangannya mendekap mulut Kenzi. "Jangan katakan apapun sayang.." potong Siena. Dengan tatapan lembut, Siena tersenyum menganggukkan kepalanya. Tidak akan ada yang pergi, atau tidak akan ada yang pulang ke Indonesia salah satu diantara mereka berdua. Hidup dan Mati akan selalu bersama, itu yang ada di pikiran Siena saat ini.


Kenzi menurunkan tangan Siena. "Maaf." Lalu ia memeluk erat tubuh Siena. "Kita bergerak sekarang." Siena mengangguk cepat, lalu mereka berjalan dengan tatapan waspada menuju salah satu gedung.


***


Kenzi berjalan merunduk bersama Siena dan berhenti di balik tembok tinggi. Jari telunjuk Kenzi ia dekatkan ke bibirnya lalu menunjuk ke arah dua penjaga di pintu gerbang. Siena menganggukkan kepala tanda mengerti kode dari Kenzi. Siena menggedor pintu gerbang dua kali, detik berikutnya seorang penjaga membuka pintu gerbang keluar menatap ke arah Siena. Dari arah belakang Kenzi menancapkan pisaunya ke punggung si penjaga sebanya tiga kali hingga ambruk ke tanah. Mendengar kegaduhan di luar gerbang, satu penjaga lainnya keluar mengarahkan senjata api. Siena langsung memeluk pria itu dan melesatkan peluru di perut penjaga tersebut tanpa menimbulkan suara letusan.


"Ahhk!" penjga gerbang itu ambruk tak bernyaea lagi. Lalu Kenzi dan Siena menyerey kaki kedua pria tersebut lalu di sembunyikan di balik semak semak.


"Kita selesaikan semuanya dengan cepat," ucap Kenzi pelan. Siena menganggukkan kepalanya. Lalu mereka berjalan memasuki pintu gerbang dengan mengambil jalan terpisah. Berlari, merunduk dan bersandar di balik tembok untuk menghindari bentrokan.


Siena berjalan menyusuri lorong gedung dengan kedua tangan menggenggam dua senjata api. Di pintu utama Siena langsung menembak dua penjaga yang tengah duduk di kursi.


"Dor! Dor!"


kedua penjaga itu langsung tidak berkutik lagi dan ambruk ke lantai. Siena berjalan melangkahi dua mayat pria itu. Lalu memasuki ruangan lain, terdapat beberapa pria dan wanita tengah bekerja mempersiapkan senjata ilegal. Siena langsung menembaki mereka dari balik pintu tanpa ada perlawanan dari mereka.


"Dor! Dor! Dor!"


Namun kali ini keberadaan Siena terlihat oleh penjaga lain, akhirnya kegaduhan pun terjadi. Siena berguling guling di lantai menghindari peluru yang berseliweran. Ia berdiri di balik pilar berukuran besar dengan tatapan ke kanan memperhatikan setiap gerakan musuh.


"Dor! Dor!"


Siena menyembulkan separuh badannya melesatkan peluru ke arah musuh yang berdatangan dari arah pintu dan jendela ruangan.

__ADS_1


"Dor! Dor!


" Aaahhhkkhh!!! suara jerit erangan dari mulut mereka yang tumbang bersamaan darah memercik di lantai. Siena berlari lagi ke arah ruangan lain untuk menyusul Kenzi.


Sementara Kenzi yang berada tak jauh dari tempat Siena berada, terus menggempur musuh tanpa ampun.


"Brakkk! Musuh tumbang menabrak lemari obat obatan dan menimpa tubuh mereka.


" Dor Dor Dor!!!


"Prankkk!!"


Kaca jendela pecah dan hancur berantakan bersama dua tubuh pria melayang menabrak kaca dan ambruk ke lantai. Langkah Kenzi terhenti di sebuah pintu yang tertutup, ia berusaha membuka tuas namun pintu terkunci.


"Sayang.."


Kenzi menoleh ke belakang menatap Siena yang sudah berada di dekatnya. Siena maju lalu mengarahkan senjatanya ke tuas pintu supaya terbuka.


"Siapa anak ini?" tanya Siena mengusap wajah anak perempuan bernama Akira.


"Dia putri Kakak Yu." Siena mendekap mulutnya sendiri. "Ya Tuhan.." ucapnya pelan. Siena atau Kenzi semakin mengerti mengapa Yu berkhianat padanya. Bukan karena Yu sengaja melakukannya, tapi Yu sendiri di bawah tekanan karena putrinya di jadikan sandera.


"Kita keluar dari sini!" seru Kenzi.


"Tunggu sayang, biar kugendong anak ini. Kau bisa leluasa bergerak."


Kenzi menganggukkan kepalanya lalu membetikan Akira pada Siena, anak itu hanya diam dengan tatapan kosong raut wajahnya pucat pasi. Dengan langkah pasti mereka keluar ruangan. Melihat musuh berdatangan, Kenzi mengarahkan senjatanya pada mereka.


"Dor! Dor!


Kali ini tidak ada kata ampun buat Kenzi. Mereka berani menghalalkan segala cara dengan menyandera anak balita. Dengan marah Kenzi terus mengarahkan senjatanya ke arah musuh.

__ADS_1


" Go to hell!" pekik Kenzi.


"Dor! Dor Dor!


Siena yang berada di belakang Kenzi merunduk memeluk tubuh Akira, satu tangannya mengarahkan senjata pada musuh yang datang dari arah lain.


"Sayang, mereka semakin banyak!" seru Siena melirik ke arah jendela lalu ia menembak dua musuh sekaligus.


"Kau keluar dari pintu belakang, aku akan melindungimu!" ucap Kenzi.


"Dor! Dor! Dor!


Kenzi menarik lengan Siena dan bersembunyi di balik tembok. " Kau ke arah sana, cepat!"


Siena menganggukkan kepalanya, lalu ia berlari merundukkan kepala sembari memeluk Akira keluar dari dalam gedung. Kenzi berdiri tegap mengarahkan senjatanya pada musuh yang berusaha mengejar Siena.


"Dor ! Dor! suara letusan terdengar memekakkan telinga. Peluru berseliweran, lalu Kenzi ingin menyelesaikannya dengan cepat. Ia kembali sembunyi di balik tembok membuka tasnya dan mengambil tiga bahan pekedak. Lalu Kenzi keluar dari persembunyiannya melemparkan satu bahan peledak ke dalam ruangan di mana musuh berdatangan.


" DUARRR!"


Ledakan terdengar sangat kencang. Kenzi berlari ke arah pintu luar sambil melemparkan satu bahan peledak lagi ke dalam gedung.


"DUARR!"


Gedung itu meledak, bersamaan suara jeritan musuh dari dalam gedung. Kenzi berlari menjauh dari gedung itu menuju tempat persembunyian Siena dan Akira.


"Sayang, kau tidak apa apa?" tanya Siena yang sudah berada di dalam mobil truk milik musuh.


Kenzi menganggukkan kepalanya, "kita pergi dari sini."


Siena menganggukkan kepala terus memeluk Akira. Sementara Kenzi menjalankan mobilnya menuju gedung satunya lagi. Di mana Livian dan Yu berada.

__ADS_1


__ADS_2