The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and Love


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Siena hanya diam menyandarkan kepalanya di bahu Kenzi. Sementara Adelfo tetap fokus ke depat melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju perbatasan kota Hongkong. Di perbatasan Ryu, Jiro dan yang lainnya sudah menunggu kedatangan mereka.


"Sayang, kau jangan seperti ini." Kenzi memeluk tubuh Siena erat. "Apa kau lupa? hari ini adalah hari istimewaku?"


Siena hanya diam, ia enggan untuk menimpali kata kata Kenzi.


"Kau pasti lupa, bukan?" kembali Kenzi bertanya.


"Hari ulang tahunmu." Siena mengangkat wajahnya sesaat menatap Kenzi dengan tatapan sendu.


Pria itu tertawa kecil mengusap rambut istrinya dengan penuh rasa sayang. "Aku pikir kau melupakannya."


"Mana mungkin aku melupakan hari ulang tahunmu, sayang."


Kenzi mencium puncak kepala Siena dengan dalam, biasanya Siena sudah mempersiapkan pesta kecil kecilan untuk Kenzi, tapi kali ini berbeda situasinya.


"Aku punya kado spesial untukmu.." ucap Siena lirih tanpa melihat ke arah Kenzi.


"Oya? kau punya hadiah untukku? bagaimana bisa kau mempersiapkannya, sayang?" Kenzi mengangkat wajah Siena dan menangkupnya. Menatap dalam kedua bola mata Siena yang berkaca kaca.


"Ya, hadiah ini aku sembunyikan dari sebulan yang lalu. Aku ingin memberikannya saat ulang tahunmu." Tangan Siena meraih tangan Kenzi lalu menariknya pelan. Ia dekatkan tangan Kenzi di perutnya.


"Ini, hadiah untukmu." Satu bulir air mata jatuh di sudut mata Siena.


"A, appa?" ucap Kenzi lidahnya kelu.


Siena menganggukkan kepalanya, tersenyum getir. "Iya sayang, Baby.."


Mata Kenzi perlahan mulai menggenang. Mulutnya menganga menatap perut Siena sekilas. "Baby?"


"Grep!"


Kenzi memeluk tubuh Siena dengan erat, perasaan bahagia bercampur sedih menjadi satu. Tidak ada kata yang mampu ia ucapkan untuk mewakili perasaannya saat ini. Tetes demi tetes, air mata Kenzi membasahi bahu Siena. Begitu juga sebaliknya dengan Siena. Antara bahagia karena mereka akan memiliki anggota keluarga baru. Di usianya yang tak muda lagi, sedih saat kabar membahagiakan untuk Kenzi di situasi yang sangat rumit. Hanya air mata yang mampu mewakili perasaan mereka berdua saat ini.


Adelfo yang sedari tadi fokus menatap ke depan. Namun ia bisa dengan jelas mendengarkan percakapan mereka. Sesekali ia memperhatikan mereka berdua lewat kaca spion. Tidak terasa dari sudut matanya menitikkan air mata, antara haru dan ikut bersedih dengan mereka saat ini. Adelfo tidak bicara sepatah katapun, ia hanya diam seribu bahasa mendengarkan isak tangis mereka berdua. Cinta, kasih sayang dan kelembutan yang mereka miliki, mampu membawa mereka sampai sekarang dan mengatasi berbagai rintangan. Ini dunia mafia, bukan dunianya pasangan pada umumnya. Kehidupan mereka selalu di bayang bayangi kematian dan kesulitan. Namun tidak ada kejahatan yang bertahan lama di muka bumi ini, begitu juga dengan kebaikan. Hanya cinta dan kasih sayang yang mampu mencairkan lautan yang membeku. Inikah yang dinamakan Cinta? inikah yang di sebut sehidup semati? seperti yang mereka tunjukkan?

__ADS_1


"Kita sudah sampai." Adelfo menatap mereka berdua lewat kaca spion lalu menepikan mobilnya.


Kenzi melirik sesaat ke arah Adelfo, lalu ia melepas pelukannya. Perlahan ia membuka pintu mobil dan menarik tangan Siena pelan keluar dari pintu mobil.


"Ayah! Ibu!" seru Ryu memeluk mereka berdua.


"Sayang, apa kalian baik baik saja?" tanya Siena menatap satu persatu, Jiro dan yang lain.


"Kami baik baik saja, tante." Zoya berjalan mendekati Adelfo lalu memeluknya.


"Ayah, aku minta maaf. Gara gara aku, semua menjadi seperti ini." Jiro menundukkan kepalanya di hadapan Kenzi.


"Tidak Nak, ini bukan salahmu, tapi ini salah Ayah. Kalian ikut menanggung beban masa lalu Ayah." Kenzi menarik bahu Jiro lalu memeluknya erat. "Kemarilah Nak."


Tangan Kenzi terulur menyambut tubuh Ryu lalu memeluk kedua putranya dengan segenap perasaan yang ia miliki.


"Aku menyayangi kalian.." ucapnya lirih.


"Aku juga sayang, Ayah," jawab mereka serempak. Mereka berpelukan cukup lama, saling mengungkapkan perasaan mereka lewat keheningan.


Ryu menundukkan kepala sembari menyeka air matanya. Begitu juga Jiro, ia yang paling merasa bersalah terhadap Kenzi dan situasi yang tengah mereka hadapi sekarang. Namun Kenzi tetap membesarkan hati kedua putranya.


"Ayah tidak minta apa apa dari kalian." Kenzi mengangkat dagu kedua putranya untuk melihat ke arahnya. "Hanya satu permintaan Ayah."


"Katakan, Ayah!" sela Ryu dan Jiro.


"Jaga Ibu kalian..dan..?"


"Ya?" kedua putra Kenzi menatap wajah Kenzi, menunggu kata kata yang akan di ucapkan Kenzi selanjutnya.


Kenzi menurunkan kedua tangannya, menarik tangan Siena. Lalu satu tangannya ia letakkan di perut Siena.


"Jaga adik kalian denga. baik."


"Apa?! adik?!" timpal mereka serempak menatap dalam wajah Siena yang tak berhenti menangis.

__ADS_1


"Iya sayang, kalian akan punya adik lagi." Siena mengusap perutnya.


Kedua putra Kenzi hanya diam dengan tatapan sendu, tidak ada sepatah katapun yang mereka ucapkan setelah mendengar kabar membahagiakan itu.


"Ayah mohon, ikuti kata kata Ayah. Jaga Ibumu dan adikmu. Kalian pulanglah ke Indonesia, dan jangan membantah."


"Ayah harus ikut bersama kami!" Ryu mencengkram tangan Kenzi kuat. "Tinggalkan mereka semua, Ayah."


Kenzi menggelengkan kepalanya, "tidak mungkin sayang, percuma Ayah menghindar. Lebih baik, Ayah selesaikan semuanya. Biar kalian bisa hidup dengan tenang dan layak seperti orang lain."


"Tapi, Ayah?"


"Jangan membantah!" bentak Kenzi menatap Ryu.


Ryu kembali terdiam, memeluk Siena erat. "Baiklah Ayah."


"Bagus." Kenzi memeluk mereka bersamaan untuk terakhir kalinya. Lalu beralih menatap Adelfo yang tengah memperhatikan mereka.


"Aku titip mereka, dan pastikan mereka pulang dengan selamat."


Adelfo menganggukkan kepalanya. "Tanpa kau minta, pasti kulakukan dengan nyawaku. Terima kasih, kau mengajarkanku arti cinta."


Kenzi tersenyum tipis, lalu melepas pelukannya. "Sayang, jaga calon anak kita. Kau harus kuat demi putra kita." Tangan Kenzi menggenggam erat tangan Siena. Perlahan ia berjalan mundur, dengan tangan terus menggenggam tangan Siena erat.


"Jaga dirimu baik baik, aku sayang kalian semua."


Siena hanya menggelengkan kepalanya, menatap Kenzi dengan derai air mata yang tak dapat lagi ia bendung. Tangannya masih tetap menggenggam tangan Kenzi. Ia enggan untuk melepaskannya.


"Aku tidak punya waktu lagi, segera tinggalkan tempat ini." Kenzi menarik paksa tangannya lalu balik badan dan melangkahkan kakinya menuju mobil.


"Sayang!" pekik Siena hendak berlari mengejar Kenzi. Namun Ryu memeluk erat tubuh Siena.


"Sayang!"


Kenzi terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun, lalu masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya meninggalkan mereka dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Sayang.." ucap Siena lirih, ia menjatuhkan tubuhnya di jalan aspal menatap mobil Kenzi hingga hilang dari pandangan matanya. Ryu jongkok di samping Siena dan terus membesarkan hatinya. Adelfo dan yang lain hanya diam dan membiarkan Siena untuk tenang terlebih dahulu sebelum berangkat.


__ADS_2