
Malam ini terasa sunyi dan aneh, tidak seperti malam malam sebelumnya. Apakah karena besok Siena akan melangsungkan pernikahannya? entahlah. Siena duduk termenung di teras rumah dengan kedua lutut ia dekap.
"Apa sebenarnya yang aku inginkan?" gumam Siena. Hatinya terasa hampa, benarkah ia menginginkan pernikahan itu? Siena menurunkan kedua kakinya ke bawah dan berdiri hendak melangkah masuk ke dalam rumah.
"Siena.."
Siena menoleh ke belakang, ia menatap tak percaya, "Rei? kau?"
Rei tersenyum menatap Siena, ia berjalan mendekat. "Maaf, aku mengganggumu malam malam."
"Kau tahu rumahku, Rei?" Siena benar benar tidak mengerti dengan pria satu ini.
"Ya, aku tahu segalanya tentangmu, Siena," ucapnya. "Boleh aku duduk?"
Siena mengangguk perlahan, "iya silahkan Rei."
"Terima kasih." Rei langsung duduk di kursi berhadapan dengan Siena.
"Kau tahu dari mana alamat rumahku? dan kau bisa ada di butik? yang lebih aneh lagi, kau menawarkan pekerjaan saat aku di keluarkan di perusahaan, jawab Rei..kau siapa? dan bagaimana mungkin kau tahu tentang aku? sementara kita baru dua kali bertemu, itu pun secara kebetulan." Siena ungkapkan semua pertanyaan di benaknya.
Rei tersenyum, "kedatanganku ke sini, untuk memberitahu semuanya tentangmu."
Siena mengerutkan dahi, ia menggeser duduknya lebih dekat dengan Rei, "tentangku? tentangku yang mana?" tanya Siena semakin penasaran.
"Tentang asal usulmu, orangtuamu," jawab Rei.
Siena tertawa samar sembari menggelengkan kepala, "lelucon apa lagi ini..tidak..tidak mungkin aku memiliki orang tua," ucap Siena.
Rei mengangguk anggukkan kepala, tersenyum tipis, "sudah kuduga kau tidak akan percaya, tapi..selepas nanti aku bercerita terserah kau mau percaya atau tidak..tapi aku harus menyampaikannya padamu."
"Kenapa aku harus mempercayaimu? sementara kita tidak saling mengenal."
"Baiklah Siena..jika hari ini kau tidak mau mendengarkanku..mungkin lain kali kau yang akan mencariku untuk mengatakannya."
"Aneh.." ucap Siena pelan.
"Kalau begitu..aku permisi pulang.." Rei berdiri menatap Siena.
"Aku punya satu pertanyaan buatmu, Rei."
__ADS_1
"Iya silahkan."
"Jika kau tahu segalanya, katakan padaku..di mana Bu Silvi menemukanku pertama kali?"
Rei tersenyum, "mudah..kau ditemukan Bu Silvi di depan pintu rumah panti asuhan, waktu itu tubuh kecilmu di balut kain berwarna krem..dan di keranjang bayi itu terdapat liontin dan sepucuk surat..benar atau tidak?"
Siena terdiam menatap lekat wajah Rei, bagaimana mungkin dia bisa tahu semuanya. Sementara yang mengetahui semua itu hanya Bu Silvi, dan anehnya lagi Rei bisa tahu tentang liontin dan sepucuk surat?
Ya, Siena punya surat itu yang ia simpan dan belum pernah di buka sama sekali semenjak Bu Silvi memberikannya pada Siena. Aneh? tentu saja.
"Kenapa kau bengong?" tanya Rei, ia kembali duduk di kursi.
"Bagaimana dia bisa tahu? tidak..tidak..bisa saja dia menjebakku, selama ini aku tidak tahu Rei itu siapa,' ucap Siena dalam hati.
" Siena..benar atau tidak?"
"Tidak..kau salah.." jawab Siena.
"Oya?" Rei kembali tersenyum merekah. "Baik..jika kau tidak mau mengakui, tidak apa apa." Rei kembali berdiri.
"Kau mau kemana?" tanya Siena.
"Baiklah Rei kalau kau mau pulang,"
Rei menganggukkan kepala, "terima kasih, sampai ketemu lagi di lain waktu."
Rei menyentuh rambut Siena sesaat lalu ia beranjak pergi.
"Aneh.." gumam Siena menatap kepergian Rei.
***
Hari pernikahan telah tiba, Siena berdiri dengan anggun menggunakan balutan baju pengantin, ia terlihat cantik.
Acara pernikahan berjalan lancar, mereka berdua berjalan menuju kursi yang sudah di sediakan lalu duduk di kursi. Semua tamu undangan dari kalangan kelas menengah dan atas datang mengucapkan selamat menempuh hidup baru dan untaian doa dari mereka semua.
Reegan tersenyum sumringah pada setiap tamu undangan yang mengucapkan selamat. Sementara Siena tersenyum samar, entah mengapa di hari pernikahannya ia terlihat sangat gelisah.
"Kau kenapa?" bisik Reegan di telingan Siena.
__ADS_1
"Tidak apa apa," jawab Siena tanpa menoleh ke arah Reegan.
"Jangan cemberut, malu di lihat teman temanku..ayo tersenyum." Siena menoleh ke arah Reegan dan tersenyum tipis, lalu beralih pandangan pada seorang wanita yang tengah berdiri di belakang tamu undangan. Siena sangat mengenali wanita itu.
"Maria? aku tidak mungkin salah lihat, itu Maria..lalu di mana Keenan?" ucapnya dalam hati. Rasa penasaran yang besar, Siena mengangkat gaunnya lalu melangkah perlahan.
"Hei, kau mau kemana?" ucap Reegan pelan menarik tangan Siena.
"Aku mau toilet sebentar," jawab Siena sembari mundur ke belakang.
"Ya ampun Siena, tahan dulu..kau jangan buat aku malu..sebentar lagi pestanya usai. Kau paham?" Siena mengangguk pelan.
"Loh..kemana perginya Maria?" Siena menilik seluruh ruangan tapi keberdaan Maria tidak di temukan. "Aneh..aku tidak mungkin salah lihat..perasaanku jadi makin tak enak," ucapnya pelan nyaris tak terdengar.
"Apa?" tanya Reegan, samar samar ia mendengar Siena menggerutu.
"Tidak," kata Siena datar.
"Kau itu istri Reegan, Keluarga Hardi yang di segani..jadi tolong kau jaga nama baik keluargaku," ucap Reegan sedikit kesal karena melihat Siena tidak nyaman dan memperlihatkan sikap sikap kampungan, pikir Reegan.
"Bawel," jawab Siena.
Waktu berlalu akhirnya pesta telah usai dan berjalan dengan lancar, semua tamu undangan berdecak kagum apalagi melihat Siena yang terlihat elegan dan cantik Mereka berpikir bahwa Siena berasal dari keluarga kaya. Tidak ada satupun yang mengetahui identitas Siena. Alya dan Hardi mengatur semuanya dengan sangat rapi. Walau bagaimanapun mereka tidak mau malu hanya karena memiliki menantu yang berasal dari panti asuhan.
Siena sendiri mengetahui hal itu saat acara ijab qobul di lakukan, entah ia menganggap semua itu anugrah atau sebaliknya. Terhina? ya, sudah pasti Siena merasakan hal itu. Tapi mau bagaiman lagi, Siena sudah terlanjur menyetujui permintaan kakek Hardi dan Alya. Jika dari awal ia tahu semua identitasnya di rubah. Mungkin dia akan berubah pikiran dan tidak akan menerima pernikahan itu. Namun sekarang Siena sudah resmi menjadi menantu dari kalangan terhormat. Suka atau tidak, Siena terikat dengan aturan aturan di keluarga itu nantinya.
"Nah Siena..selamat datang di rumah kami sebagai menantu di rumah ini," ucap Alya tersenyum menatap wajah Siena.
"Terima kasih Nduk, sudah memenuhi permintaan kami," timpal kakek Hardi. "Jangan sungkan lagi, sekarang kau juga cucu kakek. Jadi..kau pun punya hak yang sama seperti Reegan."
Siena tersenyum, ia tundukkan kepalanya sesaat, "terima kasih kek..ma.." ucap Siena.
Alya menganggukkan kepala, "sama sama sayang..sekarang kau istirahat saja, oya? mana Reegan?" tanya alya.
"Dia sedang terima telpon dulu ma," jawab Siena menunjuk ke luar rumah.
"Telpon? dari siapa?" tanya Alya menatap Reegan dari dalam yang berdiri di teras.
Siena mengangkat bahunya, "tidak tahu ma.."
__ADS_1
"Ya sudah..kau istirahat duluan." Siena menganggukkan kepala, ia tersenyum menatap punggung Alya dan kek Hardi yang berlalu pergi. Siena menghela napas dalam, sesaat menatap Reegan yang masih menerima telpon. Lalu ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.