The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 56: Stres


__ADS_3

Empat jam lebih Kenzi dan Siena melakukan perjalanan menggunakan pesawat pribadi dari Indonesia menuju Hongkong.


Setelah sampai mereka langsung naik mobil yang telah menunggu kedatangan mereka. Iring iringan mobil yang membawa Kenzi dan Siena akhirnya sampai di sebuah rumah megah dan halaman yang sangat luas jauh dari pemukiman warga.


Sesampainya di halaman rumah, seorang pria membukakan pintu mobil untuk Kenzi dan Siena. "Ayo turun," ucap Kenzi menatap wajah Siena yang murung sejak dari keberangkatan. Siena diam tak bergeming dengan menundukkan kepala.


Kenzi berbisik di telinga Siena, "ayo turun, jangan bikin malu aku."


Siena menoleh menatap Kenzi, matanya melotot dan berkata, "bukan urusanku."


Kenzi mendengus kesal, ia menarik paksa tangan Siena untuk keluar dari mobil. Mau tidak mau, akhirnya Siena mengikuti kemauan Kenzi. Mereka keluar dari pintu mobil, Kenzi dan Siena berjalan beriringan, nampak penjagaan di setiap sudut halaman.


Di depan pintu seorang pria membukakan pintu untuk Kenzi dan Siena. Mereka langsung masuk ke dalam rumah. Mereka berdiri menatap pria pria bermata sipit menggunakan setelan jas. Salah satu pria tambun paruh baya maju selangkah membungkuk hormat di hadapan Kenzi.


Mereka bicara menggunakan bahasa asing yang tidak dimengerti Siena. Ia hanya memperhatikan dan tidak terlalu memperdulikan apa yang di bicarakan mereka. Setelah mereka selesai bicara, Kenzi merangkul bahu Siena menunjukkan kamar yang akan di gunakan Siena beristirahat.


Sesampainya di dalam kamar, Kenzi memberitahu Siena, kalau keperluan dari pakaian dan lain sebagainya sudah di siapkan sebelum Siena datang.


"Aku harap, kau tidak melarikan diri disini," ucap Kenzi menatap Siena yang menundukkan kepala duduk di kursi. "Apa kau paham?" Siena diam tidak menjawab.


"Siena, aku sedang bicara denganmu. Apa kau dengar?" Siena tetap diam.


Kenzi mendengus kesal menatap Siena, "terserah kau, mau bungkam sampai tua pun." Kenzi melangkahkan kakinya hendak keluar.


"Kenapa kau membawaku kesini Kenzi?" tanya Siena masih menundukkan kepala.


Kenzi menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah Siena dan mendekatinya lagi. "Aku tidak bisa meninggalkanmu di sana, Siena."


Siena tengadahkan wajah menatap Kenzi, "kenapa?"


'Karena aku.." Kenzi terdiam.


'Kenapa? tanya Siena lagi.

__ADS_1


"Kau tidak perlu banyak bicara, diam dan istirahat."


Siena berdiri menatap tajam wajah Kenzi, "kenapa kau tidak membiarkan aku hidup bebas, kenapa kau membawaku ke duniamu yang berbahaya Kenzi! kenapa?! pekik Siena mencengkram kerah baju Kenzi.


" Aku..?" Kenzi tidak melanjutkan ucapannya, ia menatap lekat kedua bola mata Siena yang berkaca kaca. "Kau jangan menangis, jangan buat aku kesal."


"Aku? buat kamu kesal?" tanya Siena tersenyum samar.


"Sudahlah.." Kenzi menurunkan kedua tangan Siena dari kerah bajunya. Perlahan ia mengecup kening Siena sesaat. "Kau istirahat." Kenzi langsung berlalu pergi dari hadapan Siena.


"Aku tidak mengerti apa mau manusia satu ini," sungut Siena. Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi. "Rei..Keenan..kalian sedang apa?" gumam Siena.


Tak lama suara pintu di ketuk dari luar, seorang wanita muda masuk dengan membawa nampan di tangannya.


"Selamat sore nona Siena," sapanya.


Siena langsung berdiri dan tersenyum, "hei..kau bisa bahasa Indonesia?' tanyanya.


"Siena.." jawab Siena sambil membungkuk sesaat. "Duduklah, temani aku sebentar."


Akira membungkuk sesaat, lalu ia letakkan nampan yang berisi makanan di atas meja untuk Siena. "Tuan Kenzi memintaku membawakan makanan kesukaan nona Siena."


"Apa? memang dia tahu makanan kesukaanku?" tanya Siena sembari memeriksa makanan di atas nampan. "Wah kau benar, dia tahu makanan kesukaanku."


"Benar nona.." sahut Akira.


"Akira, apa kau sudah lama bekerja untuk Kenzi?" tanya Siena.


Akira menggelengkan kepala, "belum lama nona, sekitar empat bulan yang lalu.." jawabnya. "Nona..aku permisi dulu..masih banyak pekerjaan."


Siena menganggukkan kepala, "ah iya..terima kasih."


Akira menganggukkan kepala, ia berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan Siena sendirian.

__ADS_1


Sepeninggal Akira, Siena bangun dari duduknya. Ia memutuskan untuk membersihkan badan terlebih dahulu. Ia berjalan perlahan menuju kamar mandi.


Siena mulai berendam di dalam bak mandi yang berukuran besar. Ia termenung di dalam bak mandi, teringat masa lalunya.


Hingga ia tak menyadari kehadiran Kenzi tengah berdiri di pintu kamar mandi memperhatikan Siena yang tengah melamun.


"Siena.."


Namun Siena tetap diam, matanya terpejam. Bahkan ia tidak mendengar panggilan Kenzi.


"Siena!" seru Kenzi kesal. Namun tetap saja tidak ada respon dari Siena.


Kenzi mendengus kesal, ia tidak berani mendekat karena Siena dalam keadaan tidak memakai apa apa. Karena kesal di abaikan Siena, akhirnya ia melemparkan handuk ke arah Siena. Handuk itu jatuh tepat di wajah Siena dan menutupinya. Kenzi mengerutkan dahi menatap Siena yang tak bergerak sama sekali.


"Tidak mungkin dia tidur, atau..jangan jangan dia pura pura seperti dulu.' Kenzi tersenyum miring, lalu ia kembali menutup pintu kamar mandi. Ia duduk di kursi menunggu Siena keluar dari kamar mandi. Ia menoleh ke arah meja menatap makanan yang masih utuh.


" Apa kau tidak lapar Siena.." ucapnya pelan. Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi yang masih saja tertutup. "Kenapa lama sekali."


Kenzi melirik jam tangannya, ia mulai gelisah karena Siena belum juga keluar dari kamar mandi. Akhirnya ia memutuskan untuk melihat Siena lagi di kamar mandi. Kali ini Kenzi membetanikan diri mendekati Siena.


Perlahan Kenzi mengambil handuk yang masih menutupi wajah Siena, ia melebarkan matanya melihat bibir Siena membiru. Ia langsung mengangkat tubuh Siena dari dalam bak mandi dan menggendongnya. Setengah berlari Kenzi meletakkan Siena di atas tempat tidur, lalu ia menyelimuti tubuh Siena dengan selimut tebal.


"Cho Yun! seru Kenzi memanggil salah satu anak buahnya. Tak lama seorang pria mengetuk pintu dan membukanya perlahan.


Dengan menggunakan bahasa asing, Kenzi memerintahkan anak buahnya memanggil Dokter. Pria itu membungkuk hormat dan berlalu pergi.


" Siena, bangunlah.." ucap Kenzi menepuk pipi Siena. Ia meraih tangan Siena dan menggosok gosok tangannya untuk memberi kehangatan "Dasar wanita keras kepala, apa susahnya menuruti apa mauku," gerutu Kenzi menatap wajah Siena yang pucat pasi.


Tak lama kemudian seorang Dokter datang dan langsung di bawa ke kamar Siena. Kenzi di minta untuk menunggu di luar selama pemeriksaan. Kenzi menunggu di luar dengan cemas.


tiga puluh menit berlalu, akhirnya Dokter keluar dari kamar Siena. Kenzi langsung bertanya perihal kondisi Siena dalam bahasa asing. Dokter mengatakan kalau Siena baik baik saja, dia hanya stres saja.


Setelah berbincang bincang dengan Dokter, Kenzi langsung masuk ke dalam kamar menemui Siena yang tengah tertidur pulas setelah di betikan obat penenang. Kenzi membenarkan selimut Siena lalu ia meninggalkan Siena untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2