
Dari belakang seorang pria menubruk tubuh Yeng Chen, dengan sigap kaki kananya menerjang perut pria itu hingga terjungkal ke belakang. Tangan kanan memukul wajah pria lainnya. Ia memungut balok yang tergeletak di bawah lantai ia lempar ke arah Akira.
"Akira!"
"Slep! Akira menangkap balok kayu itu langsung ia ayunkan ke wajah pria yang menubruknya hingga ambruk ke lantai darah memercik.
" Buk!!! Akira terhuyung dan jatuh ke lantai saat pria lainnya memukul punggung Akira dengan balok.
"Sreeettt!!"
Dari arah belakang Yeng Chen menebas punggung pria itu dengan pedang di tangannya. Akira bangun dan berdiri tegap, balok di tangannya ia ayunkan ke leher pria yang berusaha memukul Yeng Chen dengan tangan kosong.
Perkelahian berlangsung dengan imbang. Satu persatu musuh tumbang bersimbah darah tak berkutik lagi. Tersisa tiga orang dari sepuluh orang yang menyerang. Yeng Chen dan Akira berdiri saling membelakangi menatap waspada pada tiga pria yang tersisa. Darah segar mengalir dari mulut Akira. Ia meludah darah ke lantai dengan tatapan lurus ke arah tiga pria itu.
Beberapa detik mereka saling tatap waspada. Detik berikutnya tiga pria itu berlari menerjang ke arah mereka berdua. Yeng Chen berlari menyambut dua pria sekaligus, tangan kanan memukul wajah pria itu. Kaki kirinya menendang perut pria lainnya. Dua pria terjungkal sekaligys langsung bangun dan berdiri tegap. Salah satu pria itu mengeluarkan senjata api lalu ia arahkan ke punggung Yeng Chen yang tengah memukul wajah pria lainnya tanpa ampun.
"Dorrr!!"
Yeng Chen terhuyung ke depan langsung ambruk bersamaan darah menercik ke lantai. Akira menoleh ke arah Yeng Chen langsung berlari, namun pria lainnya menghadang Akira dengan balok menghantam kepala Akira hingga terjungkal ke belakang dan ambruk telentang di lantai.
Pria itu menginjak tangan Akira hingga terdengar gemeletuk suara tulang yang patah. Akira mengerang kesakitan menatap tajam pria itu. Dengan sisa tenaga yang ia miliki kaki kananya menerjang kaki musuh hingga terguling ke lantai. Dengan sigap Akira berdiri dan mengambil pedang yang tergeletak di lantai, ia sabetkan ke perut lawan hingga tak bernyawa lagi.
Yeng Chen yang menjadi bulan bulanan dua pria sekaligus tidak mampu melawan lagi, hingga Akira berlari menerjang satu pria dengan pedangnya ia tebas punggung pria itu.
"Bukkk!!"
Akira meninju pria yang memukul Yeng Chen tanpa ampun, "Kau tidak apa apa?" Akira mengangkat tubuh Yeng Chen untuk berdiri.
"Bukkk!
__ADS_1
Pria yang memegang senjata api menendang pinggang Akira hingga terjungkal dan mengarahkan senjata apinya pada Akira.
" Dorrr!"
Peluru meleset mengenai dada kanan Yeng Chen yang coba melindungi tubuh Akira dengan tubuhnya. "Kau?" ucap Akira pelan.
"Cepat kau tinggalkan tempat ini, kau harus kembali ke rumah." Yeng Chen berusaha berdiri namun pria itu kembali menembak Yeng Chen tepat di kakinya.
"Kita pulang sama sama! Akira berdiri dan mengambil pedang di lantai lalu ia arahkan pada pria itu tepat mengenai perutnya. Pria itu terjungkal bersamaan peluru melesat ke arah Akira. Lagi lagi Yeng Chen melindungi Akira hingga peluru itu mengenai punggung Yeng Chen yang ambruk dalam pelukan Akira.
" Tidak!" Akira ambruk bersama tubuh Yeng Chen dalam pelukannya.
Dengan tatapan lemah, Yeng Chen tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang berwarna merah darah. "Kau gadis cantik, aku senang bisa bekerjasama denganmu."
Dengan air mata berlinang, Akira memeluk tubuh Yeng Chen. "Simpan rayuanmu, kita pulang." Akira berusaha mengangkat tubuh Yeng Chen yang mulai hilang kesadarannya. Ia berusaha memapah tubuh Yeng Chen meninggalkan gedung itu. Jalan yang sulit membuat Akira berkali kali jatuh terguling memapah tubuh Yeng Chen.
"Tinggalkan aku disini, aku sudah tidak kuat," ucap Yeng Chen pelan.
Kaki Akira tersandung batu, ia terjatuh bersama tubuh Yeng Chen. "Maaf, aku melukaimu lagi." Akira kembali berdiri dan mengangkat tubuh Yeng Chen yang sudah tidak berdaya. "Kita pulang."
Akira tersenyum lebar menatap ke arah mobilnya, "kita sampai." Kakinya yang sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri, dengan tenaga yang tersisa ia menyeret tubuh Yeng Chen menuju mobilnya. Akira membuka pintu mobil dan meletakkan tubuh Yeng Chen di kursi depan. Lalu ia masuk ke dalam mobil melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Sepanjang perjalanan Akira berkali kali melirik ke arah Yeng Chen yang sudah tidak sadarkan diri, darah terus mengalir dari tubuh Yeng Chen membasahi kursi mobilnya. Sementara Akira sendiri pandangan matanya sering mengabur, pusing di kepala membuat Akira hampir hilang kesadarannya dan berkali kali ia hampir saja menabrak pengendara lain.
"Tidak, aku harus sampai ke rumah. Bos harus tahu niat busuk Livian," ucap Akira lirih.
Berkali kali ia kerjapkan mata untuk tetap fokus ke jalan raya. "Ayo Akira, jangan lemah.." ucap Akira memotivasi dirinya sendiri. Ia melirik ke arah Yeng Chen, wajahnya terlihat pucat pasi.
"Bertahanlah, bertahanlah! ucap Akira terisak dengan tatapan lurus ke depan.
__ADS_1
Satu jam berlalu, akhirnya mereka sampai di halaman rumah Kenzi. Akira membuka pintu mobil bersamaan hilangnya kesadarannya.
Yu dan Kenzi yang baru saja hendak keluar mencari Yeng Chen dan Akira. Terdiam sesaat, menatap ke arah mobilmereka langsung berlari saat tubuh Akira ambruk dari pintu mobil yang terbuka.
Yu dan Kenzi yang baru saja keluar dari pintu rumah langsung berlari menghampiri mereka berdua.
Yu langsung mengangkat tubuh Akira dan menggendongnya. Setengah berlari Yu membawa tubuh Akira ke dalam rumah. Sementara Kenzi mengeluarkan tubuh Yeng Chen dari dalam mobil. Dengan mata berkaca kaca, Kenzi menggendong tubuh Yeng Chen dan berlari memasuki rumahnya.
"Sam! seru Kenzi.
Samuel menganggukkan kepala, ia langsung menelpon Dokter pribadi Kenzi. " Ada apa?" tanya Siena dari arah belakang.
Samuel menoleh ke arah Siena. "Yeng Chen dan Akira terluka parah, sekarang ada di dalam kamar."
Siena langsung menuju kamar di mana Yeng Chen dan Akira berada. Ia mendekap mulutnya saat nelihat mereka terluka parah.
"Sayang, sebaiknya kau masuk ke kamarmu." Kenzi menarik tangan Siena.
"Tidak, aku mau di sini." Siena menolak untuk kembali ke kamar.
"Apa yang terjadi?!" seorang Dokter pria masuk ke dalam ruangan bersama Samuel. Kenzi dan Siena menepi.
"Selamatkan mereka Dok?" ucap Siena menatap ke arah Dokter.
"Baik, kalian tunggu di luar." Kenzi, Yu dan Siena keluar kamar, sementara Samuel membantu Dokter mengeluarkan alat alat medisnya.
"Sepertinya mereka di jebak," ucap Yu menatap ke arah Kenzi.
Kenzi mendengus geram, giginya gemeletuk menahan amarah. "Kemanapun kau pergi, akan kukejar Livian."
__ADS_1
"Tenang, cara yang di gunakan Livian bukan mengajak kita perang Kenzi." Yu menepuk bahu Kenzi. Setidaknya Yu lebih berpikir tenang di banding Kenzi yang sudah di kuasai emosi.
"Sebaiknya kau dengarkan apa kata kakak Yu," sela Siena dengan malas. Ia msih kesal dengan sikap Kenzi tadi pagi.