The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

Hari minggu pukul 9:21.


Ryu janjian dengan Zoya di taman pusat kota. Tempat anak anak muda nongkrong. Diantara mereka duduk sepasang anak muda tengah berbincang menikmati hari libur dari rutinitas yang membuat penat pikiran. Ryu menggenggam setangkai bunga mawar lalu di berikan pada gadis pujaan hatinya. Pria yang cuek dan periang itu menyatakan cintanya pada Zoya. Gadis popyler di kampusnya. Selain cantik, dia gadis yang cerdas dan putri orang terpandang dan berpengaruh di kota itu.


"Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu di taman kampus." Ryu tersenyum tipis menatap wajah gadis itu.


"Ryu.." ucap Zoya pelan.


"Maukah kau, menjadi kekasihku?" tanya Ryu dengan mimik muka serius menatap gadis pujaan hatinya.


"Ryu, aku-?"


"Katakan, tidak perlu kau ragu," potong Ryu sudah tidak sabar menanti jawaban dari bibir tipis nan seksi itu.


Zoya menundukkan kepalanya, ia teringat kata kata Ayahnya semalam yang melarangnya untuk pacaran dengan pria sembarangan. Zoya tahu konsekwensinya jika gadis itu membangkang Ayahnya.


"Maaf Ryu, aku tidak bisa." Zoya berdiri lalu membuang setangkai bunga mawar di tangannya ke atas rumput.


Ryu menautkan kedua alisnya menatap Zoya tak mengerti, selama ini Ryu berpikir kedekatan mereka istimewa. Tapi ternyata tidak, "tapi kenapa? bukankah kita-?


"Kau jangan salah paham Ryu." Zoya memutar tubuhnya membelakangi Ryu. "Aku hanya menganggapmu sahabat, tidak lebih."


"Jadi? selama ini, kau-?"


Zoya balik badan menatap kedua bola mata Ryu, terlihat raut wajah kecewa. "Ya, kita sahabat."


Ryu menggelengkan kepalanya, melihat kedua bola mata Zoya berkaca kaca. Pria itu bisa melihat ada kebohongan di matanya.


"Aku mau pulang." Zoya balik badan, lalu berlari meninggalkan taman.


"Zoya, tunggu!" Ryu berlari menyusul Zoya hingga tepi taman, menarik tangan Zoya hingga berbalik menghadapnya. "Aku tahu kau bohong!"


"Buat apa aku membohingimu, lepas!" Zoya menepis tangan Ryu kasar, lalu berjalan mendekati pintu mobil yang sudah di buka oleh pengawalnya. Lalu gadis itu duduk di dalam mobil. Sang pengawal menutup pintu mobil lalu mendorong tubuh Ryu yang berusaha mendekati mobil milik Zoya.


"Zoya, tunggu!" pekik Ryu menatap mobil yang melaju meninggalkan taman. "Ahhhkk!" Ryu berteriak kesal sembari menendang kerikil di jalan.


"Brummm! Brummmm!


Ryu menoleh ke belakang, melihat delapan pria berada di atas motor berjajar di belakangnya.


"Kanaye? dia lagi. Sial," gumam Ryu menatap mereka satu persatu.


Ke delapan pria itu menjalankan motornya lalu berputar putar mengelilingi tubuh Ryu. Dengan tatapan waspada Ryu memperhatikan gerakan mereka.


"Brengsek! apa mau kalian?!" seru Ryu menatap salah satu pria yang menghentikan laju motornya lalu pria itu membuka helm. Di ikuti ke tujuh pria lainnya.


Kanaye maju lebih dekat dengan Ryu, tersenyum menyeringai padanya. "Sudah kuperingatkan. Jangan dekati Zoya!" ucapnya nyolot.


Ryu tertawa kecil menatap pria itu tajam. "Oh, itu rupanya. Satu lawan satu, ayo maju!" tantang Ryu tanpa memikirkan keselamatannya. Bahkan ia sama sekali tidak gentar meski sudah dua kali kalah.


Pria itu mengusap kasar rambutnya. Mendapat tantangan dari Ryu. Kanaye tertawa mencemooh melirik ke arah teman temannya yang ikut mentertawakan Ryu.

__ADS_1


Kanaye maju dengan mengepalkan tinju ke wajah Ryu dengan cepat.


"Tep!"


Ryu menangkis kepalan tinju Kanaye lalu tangan kanannya meninju perut Kanaye hingga terhuyung ke belakang. Satu teman Kanaye menerjang punggung Ryu dari arah belakang, dengan sigap mata Ryu melirik lalu kaki kanan menendang kaki pria itu hingga ia tersungkur jatuh ke jalan aspal.


"Bukk! Kanaye maju menendang bokong Ryu hingga terjungkal ke depan lalu tersungkur ke jalan. Tangan Kanaye mencengkram kerah baju Ryu lalu meninju wajah Ryu hingga sudut bibir Ryu pecah dan berdarah.


" Hahahaha!" Kanaye tertawa terbahak bahak menatap wajah Ryu. Di ikuti teman temannya.


Dada Ryu naik turun, napasnya tersengal melotot ke arah Kanaye, lalu ia bangun dan menubruk pria itu, mencengkram lehernya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya meninju perut Kanaye berkali kali.


Melihat Kanaye kewalahan ketujuh temannya langsung menyerang Ryu bersamaan dari belakang. Dua pria mencengkram lengan Ryu. Satu pria lainnya mencengkram leher Ryu, tiga teman Kanaye lainnya hanya menonton dan tertawa saat Kanaye bertubi tubi meninju wajah dan perut Ryu. Darah segar mengalir dari hidung dan mulut Ryu.


"Buk!!!!


" Hentikan!"


Dari arah belakang Jiro mencengkram pria yang menahan leher Ryu lalu memukul wajahnya dengan helm yang Jiro bawa. Hingga pria itu ambruk. Ryu berusaha melepaskan diri dari cengkraman dua pria. Sementara Jiro menghajar Kanaye dan tiga teman pria itu bersamaan.


"Beraninya, main keroyok. Dasar pecundang!" pekik Jiro menerjang perut Kanaye dan dua temannya bersamaan hingga tersungkur ke jalan.


Kanaye langsung bangun mengusap bibirnya yang berdarah menatap tajam ke arah Jiro. "Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa."


Jiro tersenyum sinis. "Bapak sama anak sama sama otak kriminal!" hina Jiro membuat Kanaye murka. Ia langsung menerjang Jiro, namun dengan mudah Jiro menangkap kaki kiri Kanaye memutarnya hingga pria itu kembali ambruk ke jalan terbentur di keningnya. Ketujuh temannya Kanaye berhasil Jiro dan Ryu lumpuhkan.


"Pergi kalian, atau aku telpon polisi. Cepat!" seru Jiro menendang kaki Kanaye.


Kanaye berusaha bangun di bantu temannya lalu mereka naik ke atas motor melarikan diri dari Jiro. "Terima kasih." Ryu berjalan mendekati Jiro.


"Hei! aku tidak minta kau membantuku, ya! Ryu tak kalah kesal.


"Sudah, jangan banyak bicara. Aku antar kau pulang." Jiro memapah Ryu menuju motor miliknya.


"Kau bilang tidak mau di repotkan?" tanya Ryu di sela langkahnya.


"Kalau kau tidak di tolong, siapa yang akan merepotkanku lagi?" Jiro tertawa kecil mengacak rambut Ryu. Perasaan sayang kembali menyeruak di dalam dada Jiro. Perasaan asing yang tidak ia mengerti. Tiba tiba ia membayangkan hal yang tak lajim tentang Ryu. Dengan spontan tubuh Ryu ia hempaskan hingga terhuyung ke samping lalu jatuh terduduk di jalan.


"Apa kau sudah gila? sakit tahu?" sungut Ryu kesal.


"Sory.." ucap Jiro pelan, lalu ia kembali membantu Ryu untuk bangun.


Jiro tertawa terbahak bahak, mengingat ia memikirkan yang tidak tidak tentang perasaannya pada Ryu. "Mana mungkin aku menyukai sesama laki laki, aku masih normal kali," ucap Jiro dalam hati.


Ryu yang memperhatikan tingkah aneh Jiro yang mentertawakan apa? dia tidak tahu. Ryu menggelengkan kepalanya. "Jangan jangan kau sudah gila," gerutu Ryu.


"Apa? enak saja!" pekik Jiro menepuk kening Ryu cukup keras.


"Aww! Ryu mengerang kesakitan.


"Ayo naik." Jiro naik ke atas motor, di susul Ryu.

__ADS_1


***


Sesampainya di halaman rumah, Jiro menepikan motornya lalu memapah tubuh Ryu masuk ke dalam rumah. Siena yang tengah duduk di sofa bersama Kenzi terkejut melihat putranya babak belur. "Sayang! kau kenapa?!" pekik Siena berdiri lalu menghampiri Ryu dan Jiro.


"Apa yang terjadi?" tanya Kenzi menatap wajah Ryu.


"Ayo bawa ke sini." Kenzi mengambil alih tubuh Ryu lalu di bawa ke sofa. "Duduk."


Sementara Siena mengambil obat dan air hangat untuk membasuh luka di wajah Ryu. "Sayang, bisa tidak? kau tidak membuat Ibumu khawatir?" Siena membasuh wajah Ryu dengan pelan.


"Aw, sakit Bu." Ryu mengerang kesakitan saat tangan Siena menekan luka di bibirnya.


"Jiro? duduk Nak." Kenzi tersenyum menatap Jiro yang berdiri terpaku memperhatikan seluruh ruangan rumah Kenzi. Ia merasa tidak asing dengan rumah itu.


"Terima kasih, Om." Jiro duduk di kursi memperhatikan Siena yang mengobati luka di wajah Ryu. Setelah selesai Siena duduk di samping Ryu.


"Hei Nak, siapa namamu?" tanya Siena menatap wajah Jiro.


"Jiro."


Siena menganggukkan kepalanya, ia menatap bekas luka di dahi Jiro, mengingatkannya dengan Helion yang memiliki bekas luka yang sama. Perlahan Siena berdiri mendekati Jiro menyentuh keningnya. "Keningmu kenapa Nak?" Siena menyentuh kening Jiro dengan lembut.


"Oh ini Tante? aku tidak tahu. Tapi sejak kecil sudah ada," sahut Jiro tersenyum menatap kedua bola matanya.


"Oh.." Siena berdiri tegap menatap Jiro sesaat. "Kau mau minum apa? biar Tante buatkan."


"Tidak usah, aku tidak bisa lama lama. Om, Tante." Jiro menatap Kenzi.


"Kapan kapan main lebih lama, biar kita bisa ngobrol." Kenzi menepuk bahu Jiro.


Jiro menganggukkan kepalanya lalu berdiri. Di ikuti Kenzi. "Aku pamit pulang Om."


Kenzi menganggukkan kepala, lalu Jiro beralih menatap Siena yang masih terpaku memperhatikan Jiro. "Tante.."


"Kenapa buru buru.." ucap Siena pelan.


"Lain kali, aku main lagi." Jiro tersenyum.


"Baiklah, hati hati di jalan." Kenzi memegang lengan Jiro. Sesaat Jiro menatap tangan Kenzi lalu menganggukkan kepala.


"Hei bodoh, aku pulang dulu," ucapnya menatap Ryu yang hanya menganggukkan kepalanya.


Kemudian Jiro melangkahkan kakinya keluar di ikuti Siena dari belakang. Naluri seorang Ibu tidak mungkin bisa bohong. Tanpa Siena sadari ia terus mengikuti langkah Jiro hingga halaman. Sementara Kenzi kembali duduk menemani Ryu.


"Nak.."


Jiro menoleh ke belakang menatap Siena yang berdiri terpaku di belakangnya. Membuat Jiro kaget. "Tante? ada apa?"


"Tidak, hati hati di jalan ya." Tangan Siena terulur menarik wajah Jiro lalu mencium keningnya sekilas.


Jiro termangu, menatap bingung sikap lembut Siena padanya. Dalam hati ia menyukainya, belum pernah ia di perlakukan seperti itu oleh Ibunya. Bahkan ia tidak pernah tahu wajah Ibunya. Izanagi tidak pernah menceritakan apa apa.

__ADS_1


"Sudah, pulanglah. Nanti Ayahmu mencari." Siena mengelus pelan lengan Jiro.


Jiro menganggukkan kepalanya, lalu ia naik ke atas motor. Meninggalkan rumah Ryu dengan perasaan campur aduk, antara bahagia dan bingung.


__ADS_2