The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: vendetta and love


__ADS_3

Dengan menggunakan motor. Jiro menyusuri setiap jalan dari awal kejadian sampai ia kehilangan gadis yang merekam kejadian pembunuhan itu. Sejak pagi, Jiro sudah berputar putar. Namun gadis itu tidak di temukannya.


"Krucuk!"


Perut Jiro berbunyi, ia merasakan lapar. Sejak pagi, ia belum makan apa apa. Akhirnya Jiro memutuskan untuk makan sesuatu untuk mengganjal perutnya yang lapar. Supaya pencariannya bisa diteruskan sebelum hari semakin gelap.


Jiro menepikan motornya di sebuah kedai mie ramen. Helmnya ia lepas lalu di letakkan di atas motor. Kira kira sepuluh langkah lagi menuju kedai. Tanpa sengaja matanya menoleh ke kanan. Melihat gadis itu tengah berlari kencang seperti di kejar hantu. Tak mau kehilangan kesempatan, Jiro menunda niatnya untuk makan. Ia memilih mengejar gadis itu, khawatir ketinggalan jejaknya. Jiro berlari sekuat tenaga menyusul gadis itu.


Usahanya tidak sia sia, Jiro berhasil mensejajarkan larinya lalu menarik tangan gadis itu hingga dua dua nya mundur ke belakang dan terjungkal duduk di tepi jalan.


"Aawww!" gadis itu mengerang sambil memegang bokongnya. Lalu menoleh ke arah Jiro. Matanya melebar langsung berdiri hendak berlari. Namun dengan sigap Jiro berdiri sembari mencengkram tangan gadis itu dengan kuat.


"Lepas!" teriak gadis itu. Tetapi Jiro tidak mau melepaskannya.


"Diam! sergah Jiro menatap tajam gadis itu.


Gadis itu terdiam, membalas tatapan Jiro. " Apa maumu?" tanyanya.


"Dengar, aku butuh bantuanmu. Ayahku di penjara atas perbuatan yang tidak di lakukannya. Dan kau tahu itu." Tanpa basa basi Jiro langsung bicara pada intinya.


"Apa maksudmu," sungut gadis itu memalingkan wajahnya sesaat.


"Kau jangan pura pura, aku tahu kalau kau mengetahui kejadian itu. Bahkan kau merekamnya bukan?"


Gadis itu terdiam sesaat, ia baru mengerti alasan Jiro mengejarnya.


"Sekarang katakan, apa kau menyimpan rekaman itu?" tanya Jiro memperhatikan gadis di hadapannya, rambutnya yang kucel tak terawat tapi gadis itu terlihat cantik.


"Aku akan memberikan apapun yang kau mau, asal kau mau membantuku," tawar Jiro. Menurutnya gadis itu bukan berasal dari kalangan ornag kaya. Bisa terlihat dari pakaian yang ia kenakan.


"Apapun?" gadis itu mengulang ucapan Jiro


Jiro menganggukkan kepalanya. "Apapun."


Gadis itu kembali terdiam, matanya menilis dalam wajah Jiro. "Awas kalau kau bohong," sungut gadis itu lalu mengulurkan tangannya yang kotor. "Miko"


Jiro menatap sesaat tangan gadis yang bernama Miko itu. Lalu ia mengulurkan tangan membalas jabatan tangannya.


"Jiro."

__ADS_1


Jiro kembali menarik tangannya. "Jadi? bagaimana?" tanya Jiro sudah tidak sabar menunggu jawaban gadis itu.


"Baik, tapi sebagai awal. Aku ingin ikut denganku." Miko tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih.


"Kemana?" tanya Jiro menautkan kedua alisnya.


"Ikuti saja, jangan bawel. Kau mau di bantu apa tidak?!" gerutu Miko melangkah mendahului Jiro.


"Kau?" Mata Jiro melebar, menatap gadis itu. Beraninya dia menyuruh. Namun demi Ayahnya apapun akan dia lakukan. Akhirnya Jiro mengikuti langkah Miko.


Mereka terus berjalan dan cukup jauh dari tempat tadi. Langkah gadis itu teehenti di sebuah bangunan tua yang tak terpakai di pinggir kota. Jiro memperhatikan sekitar, ia sedikit bingung dan khawatir gadis itu menjebaknya. Dengan tatapan curiga, Jiro menarik tangan Miko.


"Kau tidak menipuku kan?" ucap Jiro curiga.


Miko tertawa lebar, baginya sudah biasa di curigai, mengingat pakaiannya yang kotor.


"Kenapa kau tertawa? ada yang lucu dengan pertanyaanku?" mata Jiro menyipit menatap gadis itu. Wajar Jiro curiga, mengingat kejadian kejadian yang sudah di alaminya.


"Kau tenanglah, apa wajahku tampang penipu?" Miko tertawa kecil, tangannya ia kibaskan kehadapan Jiro. "Ayo masuk!


Jiro terdiam sesaat menatap punggung Miko. Lalu ia berjalan mengikuti langkah Miko masuk ke dalam gedung tua itu. Langkah mereka terhenti di dalam ruangan. Terutama Jiro sangat terkejut melihat wanita seusia Siena berjalan meraba raba memanggil nama gadis itu.


Miko berjalan mendekati wanita paruh baya itu dan meraih kedua tangan wanita itu. "Iya Bu, ini aku."


"Nak? kau dengan siapa?" tanya wanita itu ternyata buta. Namun penciumannya tajam mampu membedakan jika ada bau orang lain yang bukan putrinya.


Miko menoleh menatap Jiro. "Oh, itu Bu. Teman baruku, namanya Jiro."


"Nak Jiro? benarkah kau teman putriku?" wanita itu berjalan mendekati Jiro di bantu Miko memapahnya.


Tangan wanita itu meraba lengan Jiro lalu menyentuh pipi Jiro dengan lembut. "Ah, sepertinya kau tampan. Kulitmu halus sekali." Wanita itu tersenyum lebar.


Perlahan tangan Jiro memegang tangan wanita itu, hatinya tersentuh melihat keadaan wanita itu. "Iya Bu, aku sahabatnya Miko." Jiro menatap Miko sesaat.


"Terima kasih sudah mau berteman dengan Miko." wanita itu menarik tangannya.


"Tidak apa apa Bu." Jiro tersenyum pada wanita itu meski, dia tidak melihatnya.


"Bu, sudah malam. Sebaiknya istirahat."

__ADS_1


Miko memapah lagi tubuh wanita itu masuk ke ruangan lain. Tak lama kemudian Miko telah kembali dan mempersilahkan Jiro duduk di kursi besi yang sudah berkarat.


"Jadi? kau tinggal di sini?" Mata Jiro memperhatikan seluruh ruangan.


"Ya," sahut Miko.


Sejak Ayahnya tiada. Hidupnya dan sang Ibu terlunta lunta di jalanan. Tidak memiliki tempat tinggal. Sudah sepuluh tahun mereka menjalani hidup seperti itu.


"Maaf, Ibumu buta sejak kapan?" tanya Jiro hati hati sekali.


Miko menghela napas panjang. "Seseorang tidak sengaja melukai mata Ibu menggunakan senjata api. Aku tidak punya uang untuk mengganti kornea matanya. Sebulan yang lalu, mata Ibu masih bisa melihat walau samar samar. Tapi sekarang tidak sama sekali." Miko meminta Jiro untuk membiayai Ibunya dan di tukar dengan rekaman itu.


"Bagiku tidak masalah membiayai Ibumu sampai sembuh." Jiro menyetujui persyaratan Miko tanpa harus mempertimbangkannya lagi.


"Benarkah? tapi biayanya mahal sekali." Miko ragu, Jiro akan melakukannya.


"Kau tidak perlu khawatir masalah uang, aku memiliki dua orang tua. Mereka pasti mau membantu."


"Tetima kasih," kata Miko.


Kemudian Jiro mengambil ponselnya di balik jaket. Menghubungi Samuel untuk menjemput wanita itu dan membawanya pulang terlebih dahulu. Dan Jiro memutuskan untuk membawa wanita itu dan Miko ke rumah Kenzi. Di sana lebih aman, Jiro khawatir kalau Adelfo akan melakukan cara licik untuk menggagalkannya.


Setengah jam menunggu, akhirnya Samuel telah sampai dan langsung memboyong wanita itu dan Miko ke rumah Kenzi.


Setengah jam berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah Kenzi. Wanita itu dan Miko langsung di perkenalkan pada Siena. Tentu saja Siena tidak keberatan. Setelah perkenalan, wanita itu beristirahat di kamar tamu. Sementara Miko di minta membersihkan diri. Tak lupa Siena memberikan pakaiannya pada Miko.


"Wah, kau cantik juga Nak." Tangan Siena mengusap pipi Miko dengan lembut.


"Terima kasih Tante." Miko tersenyum, matanya melirik ke arah Ryu yang hanya diam menundukkan kepala.


"Oh ya, kenalkan ini Ryu, putra Ibu yang kedua." Siena menyentuh pundak Ryu. Hingga anak itu menoleh lalu menatap Miko sembari tersenyum.


"Ryu.."


"Miko," jawab gadis itu tersenyum.


"Ibu buatkan makan malam buat kalian ya, kau ngobrol saja dengan Ryu." Siena berdiri lalu melangkahkan kakinya ke dapur.


Sementara Jiro menghubungi Yu untuk datang ke rumahnya malam ini juga, untuk membicarakan rekaman itu. Jiro tidak ingin menunda lagi dan ingin secepatnya mengeluarkan Kenzi sebelum persidangan di mulai. Lim Kuan, Ayah dari Kanaye. Tidak tetima putranya di bunuh. Dan dia ingin Kenzi di hukum seberat beratnya. Bukan hal yang mustahil, permintaan Lim Kuan akan di patuhi. Mengingat pria no satu di kota itu memiliki pengaruh besar.

__ADS_1


Jiro sangat bersyukur dan optimis, Kenzi akan segera bebas. Mengjngat saksi pembunuhan itu ada di depan matanya beserta barang bukti.


__ADS_2