The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 92: Wake up honey


__ADS_3

Kenzi berjalan mendekati Siena yang terbaring di kasurnya. Pasca operasi Siena mengalami koma, napasnya terdengar teratur juga suara yang berasal dari elektrokardiagram, memastikan kalau Siena masih ada dan belum pergi seutuhnya. Kenzi meraih tangan Siena perlahan. Ia begitu takut jika melepaskan tangan Siena akan benar benar pergi meninggalkannya seperti kedua orang tuanya.


"Siena," ucap Kenzi dalam hati. Perlahan ia menarik kursi yang ada di belakangnya, lalu duduk di atas kursi, tanpa melepaskan genggaman tangannya. "Bangunlah sayang." ucap Kenzi pelan menatap dalam wajah Siena. Ia tidak pernah ada di situasi seperti ini sebelumnya. Berada dalam keputus asaan, rasa takut kehilangan membuat Kenzi selalu terjaga memperhatikan Siena.


"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, sayang, bangunlah," gumam Kenzi pelan. Air matanya membasahi tangan Siena yang sedari tadi ia genggam. Ia kecup jari jemari Siena perlahan dan menatap wajahnya cukup lama.


"I love you, very much."


Kenzi menarik napas dalam menggenggam tangan Siena dan menciumnya cukup lama. Dari arah pintu terbuka, mata Kenzi melirik, ia melihat Surya masuk ke dalam ruangan bersama Marsya.


"Bagaimana?" Surya mendekati Kenzi lalu mengusap punggung Kenzi untuk menenangkan. Surya merasakan tubuh Kenzi bergetar meski pria itu dapat menyembunyikannya dengan baik.


"Kita hanya bisa melihat perkembangannya Kenzi. Jika respon tubuh Siena baik, obat obatan yang di berikan Dokter, dia akan pulih dan cepat sadar." Surya hanya bisa menbesarkan hati Kenzi. Dan berharap putrinya cepat sadar.


"Semoga tidak ada kerusakan permanen setelah ia bangun nanti," timpal Marsya.


"Dokter akan melakukan pengecekan MRI dan CT-scan pada Siena setelah ia bangun nanti." Kenzi merundukkan kepalanya, menyembunyikan semua kesedihannya.


"Kenzi, bisa kita bicara sebentar?" ucap Marsya dengan sangat hati hati.


Kenzi menoleh ke arah Marsya, "katakan."


Marsya menghela napas panjang dan menundukkan kepala sesaat, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan kepadanya, jika Livian berhasil meloloskan diri saat perjalanan menuju tahanan khusus. Marsya melirik sesaat ke arah Surya, "jika kau sudah siap, kami membutuhkan keteranganmu." Marsya langsung balik badan meninggalkan kamar setelah bicara seperti itu pada Kenzi. Sementara Surya hanya diam, menatap wajah Siena. Hatinya perih tidak dapat berbuat apa apa untuknya.


Kenzi menautkan kedua alisnya menatap punggung Marsya. "Ada apa?" tanya Kenzi mengalihkan pandangan pada Surya.


"Aku tidak tahu, sebaiknya kau istirahat. Biar aku yang menggantikanmu." Surya menyentuh pundak Kenzi.

__ADS_1


"Tidak," jawabnya pelan.


Dua hari berlalu pasca operasi, Kenzi tidak pernah meninggalkan Siena sedikitpun meski sangat melelahkan apalagi menunggu hal yang tak pasti, membuat Kenzi semakin gelisah dan rasa takut kerap kali menghantuinya. Sesekali Dokter yang menangani Siena datang, memeriksa tekanan darah Siena.


***


Satu minggu berlalu, kondisi Siena sudah lebih baik dan di pindahkannya keruang rawat inap yang lain meskipun Siena masih dalam keadaan koma. Kenzi selalu berada di sisi Siena, sementara Surya dan tiga anak buahnya bergantian membawakan keperluan Kenzi. Bahkan Kenzi tidak tahu jika hari ini di luar ruangan inap Siena. Beberapa anggota polisi di siagakan untuk berjaga jaga dari kemungkinan yang tak terduga. Pasalnya Livian berhasil melarikan diri dan masih dalam pencarian Kepolisian.


Surya berdiri terpaku menatap Siena sedih, terkadang ia mengajak bicara Siena meski tidak banyak kenangan yang mereka miliki. Masa kecil Siena di habiskan di panti asuhan. Bukan bersamanya ataupun ibu kandungnya. Rasa penyesalan kerap menghimpit perasaan, ia belum bisa membahagiakan putrinya.


Begitu pula dengan Kenzi, hampir setiap menit ia mengajak bicara Siena, menceritakan tentang apa apa saja yang telah mereka lewati bersama saat bahagia. Menurut Dokter, bila mengajak Siena bicara akan mempercepat proses kesadarannya. Bahkan berkali kali Dokter memperingatinya untuk selalu memiliki harapan besar, meski di luar kuasanya jika Siena tidak sadar lagi.


Kenzi menggerakkan kepalanya yang kaku ke kiri dan ke kanan setelah ia tertidur di kursi samping tempat tidur Siena. Ia meremas lembut tangan Siena dan berbisik di telinganya. "Sayang, aku sangat merindukanmu." Ia kembali duduk tegap dan mengusap lembut pipi Siena. "Kau wanita istimewa meski awalnya aku membencimu." Kenzi tersenyum samar mengingat masa lalu.


Sesaat Kenzi tertegun, apakah ini nyata atau hanya halusinasi saja? saat merasakan tangan Siena membalas remasan tangannya.


"Tuan, ada apa?" Dokter menghampiri Kenzi yang berdiri gelisah.


"Dok, tangannya bergerak. Aku yakin kalau itu bukan sekedar false alarm." Kenzi menatap Dokter dengan penuh harapan besar.


"Sebaiknya kau tunggu di luar." Dokter mulai melakukan pengecekan.


"A-ada apa?" Kenzi menatap Dokter dengan tatapan khawatir, lebih lebih ketika salah satu suster menariknya pelan ke arah pintu.


Kenzi berdiri di depan kaca ruangan inap Siena. Ia mulai menyadari kalau Siena telah sadar. Matanya terbuka menatap langit langit kosong. Kenzi sangat ingin masuk ke dalam dan memeluk Siena erat. Namun Suster tidak mengijinkan sebelum pemeriksaan selesai.


Ia bernapas lega, melihat Siena sudah sadar. Mata Kenzi melirik ke arah beberapa anggita Polisi yang berkumpul di deoan lorong rumah sakit tak jauh dari ruangan Siena. Ia menautkan kedua alisnya. Kakinya melangkah hendak bertanya pada mereka. Namun langkahnya terhenti. Ia menoleh ke arah lain terdengar suara Surya memanggilnya.

__ADS_1


"Kenzi!


Surya dan tiga anak buah Kenzi berjalan mendekatinya. " Kenapa kau di sini? bagaimana Siena?" tanya Surya hendak masuk ke dalam ruangan dan membuka pintu. Namun Kenzi mencegahnya.


"Kenapa?" tanya Surya menatap ke arah Kenzi yang tersenyum.


"Istriku sudah sadar, di dalam ada Dokter." Kenzi langsung merangkul bahu Surya dan memeluknya.


"Benarkah?" Suara Surya terdengar bergetar, air matanya jatuh di pipinya, ia tidak dapat menyembunyikan raut bahagia.


Kenzi melepaskan pelukannya, ia menoleh ke arah Samuel dan dua temannya. "Kenapa polisi itu ada di sini?" tanya Kenzi dengan tatapan tajam.


"Bos, Livian melarikan diri." Samuel menjelaskan kronologi yang terjadi pada Kenzi.


Kenzi mendengus kesal, giginya gemeletuk menahan amarah. "Bagaimana bisa!" Ia berjalan mendekati Samuel, Akira dan Yeng Chen. "Apa kau tahu, kemana dia?" tanya Kenzi lagi.


"Semua sudah di upayakan, kemungkinan menurut Polisi. Livian merubah identitas dirinya semua, termasuk wajahnya," jelas Samuel.


Kenzi menarik napas panjang, "dia tidak akan diam saja, kita harus berhati hati."


"Kenzi, tenanglah..yang terpenting sekarang adalah Siena. Lebih baik kita semua pulang ke Indonesia." Surya memberikan saran pada Kenzi. Dan pria itu menyetujuinya.


"Kau benar." Kenzi kembali mengalihkan pandangan ke arah kaca jendela. "Biar Polisi yang menuntaskannya."


"Bagaimna dengan Livian?" tanya Akira. Lolosnya Livian tidak boleh di anggap enteng. Pria itu sangat licik dan di lindungi oleh para elit tertentu untuk kepentingan.


Kenzi memalingkan wajahnya menatap Akira, "kau benar, aku harap kalian tidak memberitahu soal Livian pada istriku. Biarkan dia tenang. Aku akan sesegera mungkin membawanya pulang."

__ADS_1


"Siap Bos!" jawab mereka serempak.


__ADS_2