
Pemakaman sore itu berjalan lancar. Keluarga memakamkan jenazah Surya di taman belakang rumah Kenzi. Pemakaman hanya di lakukan oleh keluarga kecil mereka saja. Kerudung hitam panjang yang Siena gunakan basah oleh air matanya yang tak berhenti menangis. Ia merasakan sakit di dadanya dengan kematian Surya yang tragis. Di tambah lagi keterangan Polisi yang mengatakan bahwa kecelakaan yang di alami Surya di sengaja oleh orang yang tak di kenal. Kata kata Pak Polisi di rumah sakit terus berputar putar di kepalanya bagaikan kaset kusut. Membuat dadanya sesak di liputi amarah yang membara di dalam dadanya.
"Siapapun yang telah mencelakai Papa, aku bersumpah dia harus mati di tanganku," gumam Siena pelan namun jelas terdengar oleh Kenzi yang berdiri di samping Siena.
Kenzi sangat mengerti situasi hati Siena saat ini. Ia hanya mengusap punggung Siena untuk menenangkan. "Sayang, ayo kita masuk ke dalam rumah. Hari sudah mulai gelap." Kenzi merangkul bahu Siena, namun ia menolak untuk masuk ke dalam rumah. Saat ini yang ia inginkan tetap berada di dekat pusara Papanya.
Kenzi menoleh ke belakang menatap Yu dan memintanya untuk masuk ke dalam bersama yang lain. Yu menganggukkan kepala, ia melangkahkan kakinya sembari menggendong Helion di ikuti yang lain. Sementara Kenzi mundur beberapa langkah memperhatikan Siena yang masih diam terpaku di depan pusara Surya.
Kenangan akan pahit dan bahagia, duka cita mana yang lebih mengerikan. Tanpa arti jarak yang telah tertempuh bila kau pergi sesaat setelah semua sudah di mulai, kini semua telah usai.
"Ayah..kanku jaga setiap nasehatmu, di relung hatiku yang paling dalam akan tetap kuhangatkan namamu. Akan kunyalakan api dendam dalam hatiku..maafkan aku Papa..maafkan aku.." ucap Siena lirih, tangannya menyeka air mata dengan ujung kerudung yang ia kenakan.
Perlahan Siena balik badan menatap ke arah Kenzi yang masih setiap menunggu nya. Ia berjalan mendekati Kenzi dan memeluknya dengan erat. "Maafkan aku sayang."
Kenzi tersenyum tipis, "aku mengerti.." ucapnya pelan lalu mencium puncak kepala Siena dengan dalam. "Ayo masuk, kasihan putra kita menunggu."
Siena menganggukkan kepala, lalu mereka berjalan bersama memasuki rumah. Nampak dua sahabat Siena masih menunggu bersama yang lain.
"Terima kasih kalian sudah datang," ucap Siena suaranya terdengar serak.
"Kami pamit pulang dulu, Si.." ucap Rei menatap sedih wajah Siena.
"Iklaskan Si, aku tahu kau bukan wanita lemah." Rei memeluk Siena sesaat, lalu bergantian Keenan memeluk Siena erat. Membuat Kenzi mendengus kesal menatap tajam pada dua sahabat Siena. Sementara dua sahabat Siena acuh tak acuh dengan sikap Kenzi, bukan mereka tidak tahu. Lalu mereka berjalan keluar rumah.
__ADS_1
"Sayang, aku ke kamar dulu." Siena melirik sesaat ke arah Kenzi.
"Baiklah, nanti aku menyusul." Siena menganggukkan kepala, lalu ia berjalan perlahan menuju kamarnya.
Kenzi menghela napas panjang menatap sedih ke arah Siena, ia lalu duduk di kursi menundukkan kepala sesaat. "Aku harus mencari tahu, siapa yang telah mencelakai Papa." Kenzi menatap satu persatu anak buahnya.
"Mungkinkah Livian?" ucap Yu tidak yakin juga dengan dugaannya.
"Livian? bukankah dia di penjara? atau dia mengendalikan seseorang dari balik penjara?" Kenzi menduga Livian menyuruh orang lain untuk mencelakai Surya meski di dalan penjara. Yu dan yang lain tertegun memikirkan dugaan Kenzi. Tidak menutup kemungkinan jika apa yang di pikirkan Kenzi itu benar adanya.
Di tengah keheningan, ponsel milik Kenzi berdering. Ia merogoh saku celananya mengambil ponsel dan menatapnya. "Marsya?" ucap Kenzi pelan. Lalu ia menggeser icon yang berwarna hijau, ponsel ia dekatkan di telinganya.
"Halo!" sapa Kenzi saat sambungan terhubung.
"Kenzi, aku mendapatkan kabar jika Livian sudah di bebaskan bersyarat oleh Adrian!" suara Marsya terdengar tergesa gesa.
"Ya, sebaiknya kau hati hati. Dan..aku turut berduka cita atas kematian Tuan Surya." Kenzi mengangguk anggukkan kepala mendengarkan dengan seksama informasi yang di berikan Marsya. Tak lama kemudian Kenzi memutus sambungan telepon.
"Ada apa?" tanya Yu penasaran.
Kenzi memasukkan kembali ponselnya, ia menatap ke arah Yu. "Livian berhasil di bebaskan Adrian."
"What?!" Yu menarik napas panjang, ia menggelengkan kepala. Begitu mudahnya Livian bisa di bebaskan.
__ADS_1
"Dugaanku tidak meleset, yang mencelakai Papa adalah Livian." Kenzi mendengus geram. "Lagi lagi kita kecolongan, sial!" Kenzi menggebrak meja. Lalu mengusap wajahnya dengan hati dongkol.
Siena yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka di lantai atas langsung balik badan masuk ke dalam kamar. Ia mengambil senjata api milik Kenzi lalu bergegas menutuni anak tangga menghampiri Kenzi.
Kenzi terperangah melihat Siena mendekatinya dengan senjata api di tangannya. "Sayang?!" Kenzi berdiri di ikuti yang lain menatap ke arah Siena.
"Aku sudah mendengar semuanya," ucap Siena dengan tatapan tajam ke arah Kenzi.
"Sayang, dengar aku dulu." Kenzi menatap kilat amarah di kedua bola mata Siena. "Kau mau apa dengan senjata itu?" Kenzi melirik ke tangan Siena yang menggenggam senjata api.
"Katakan di mana si brengsek Livian! pekik Siena menatap tajam ke arah Kenzi lalu beralih menatap Yu dan yang lain.
"Sayang, tenanglah dulu." Kenzi berjalan satu langkah mendekati Siena.
"Katakan di mana dia! aku akan membalaskan kematian Papa!" pekik Siena dengan derai air mata. Tubuhnya gemetar menahan amarah seakan meledak di dalam dada.
"Tenanglah sayang..tenang.." Kenzi mengerti keadaan Siena sekarang, jiwa dan mentalnya sedang tidak stabil. Dengan tatapan lembut penuh kasih sayang tangan Kenzi terulur meminta dengan sangat hati hati senjata api di tangan Siena. "Sayang, pikirkan putra kita.." langkah Kenzi semakin dekat dengan Siena yang masih berdiri di tempatnya dengan berlinangan air mata.
"Berikan padaku.." perlahan tapi pasti, Kenzi berhasil merebut senjata api di tangan Siena, lalu memeluknya dengan erat. Senjata api ia lemparkan pada Yu. Dengan sigap Yu menangkap senjata api tersebut lalu ia selipkan di balik pinggangnya.
"Kita kekamar, sebaiknya kau istirahat." Kenzi merangkul bahu Siena lalu membawanya kembali ke kamar. Yu bernapas lega begitu juga yang lain. Kenzi berhasil membuat Siena kembali tenang.
****
__ADS_1
Sementara di tempat lain Livian tengah duduk termenung di kamar hotel tempat ia dan Adrian menginap. Karena rencananya besok baru mereka terbang menuju Hongkong. "Kali ini, aku tidak akan menggunakan otot. Tapi otak untuk menghancurkanmu Kenzi." Livian tersenyum sinis. Isi kepalanya penuh dengan siasat licik yang akan dia gunakan untuk menghancurkan keluarga kecil Kenzi.
"Jika aku tidak bisa memiliki Siena, maka aku pastikan kau pun tidak bisa memilikinya. Perlahan ia berdiri dari tempat duduknya, lalu mengambil jaket yang tergeletak di atas tempat tidur. Ia kenakan jaketnya lalu beranjak keluar kamar. Adrian yang tidur di kamar terpisah tidak mengetahui kepergian Livian karena ia sendiri sudah tertidur pulas.