The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

"Ibuuu...! Ayah..!


"Ibu! Ayah! jangan tinggalkan aku!"


"Tuan muda Jiro, bangun.." sapa seorang pria paruh baya, melihat pria itu gelisah dalam tidurnya. Kemudian pria paruh baya itu meletakkan nampan di atas meja yang berisi sarapan pagi.


Jiro membuka matanya, menatap langit langit lalu bangun dan menangkup wajahnya. "Hah, mimpi itu lagi," ucapnya pelan. Lalu menoleh pada pria paruh baya itu. "Paman Egor."


"Tuan muda bermimpi lagi?" tanya Egor menatap Jiro.


"Ya Paman, mimpi itu selalu menghantuiku." Jiro turun dari atas tempat tidur, lalu melangkahkan kakinya.


"Papa sudah bangun?" tanya Jiro melirik ke arah Egor.


"Sudah Tuan muda, Tuan Izanagi pergi ke kantor tadi pagi. Ada urusan mendadak." Egor membungkuk hormat.


Jiro kembali melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi. Sementara Egor kembali keluar meninggalkan kamar Jiro.


Dua puluh menit berlalu, Jiro telah selesai dengan dirinya. Lalu ia menemui Egor di meja makan. "Paman, aku berangkat kuliah dulu."


Egor membungkukkan badan sesaat menatap punggung Jiro, "tidak terasa kau sudah besar," ucap Egor dalam hati.


Sepanjang perjalanannya, ia terus memikirkan mimpi yang selalu menghantuinya. "Siapa mereka, api, wanita itu, ahhkk.." Jiro mendesah lalu mengusap wajahnya.


Tak lama kemudian, ia telah sampai di area parkir The Polytechnic Univrrsity. Tempat Jiro menimba ilmu. Baru saja ia membuka pintu mobil tiba tiba suara seseorang jatuh menabrak punggung Jiro.


"Buk!!"


Jiro menoleh ke belakang, melihat Ryu Kenziro terlentang di lantai area parkiran. Jiro mengulurkan tangannya. "Berdiri, kebiasaan kau ya!" sungut Jiro pada adik kelasnya, Ryu.


Ryu meraih tangan Jiro lalu berdiri tegap menatap horor Jiro. "Kau juga kebiasaan, buka pintu mobil tidak lihat lihat!" sungut Ryu kesal.


"Sudah, jangan banyak bicara. Ayo kita masuk." Jiro merangkul bahu Ryu lalu berjalan bersama. Sesampainya di halaman gedung, Ryu melepas tangan Jiro lalu berlari ke arah seorang gadis berambut panjang berwarna pirang tengah berjalan sendirian. "Zoya!" pekik Ryu melambaikan tangan.


Zoya menoleh ke arah Ryu, ia melambaikan tangan lalu tersenyum padanya. "Ryu?"


Jiro berdiri mematung, menggelengkan kepala menatap Ryu dan Zoya. "Dasar, ketemu si Zoya langsung lupa." Jiro tersenyum lalu ia memasuki gedung universitas.


Semenjak Ryu kuliah di Universitas itu, ia sudah berteman dengan Jiro. Ryu sering mendapat perlakuan buruk dari orang tak di kenal setiap kali pulang kuliah. Dan Jiro selalu melindungi dan membantunya. Sejak saat itu mereka bersahabat.


Waktu terus berlalu jam kuliah telah selesai. Ryu berjalan bersama Zoya, putri salah satu elit yang berpengaruh di kota itu. "Kita makan dulu, kau mau?" tanya Ryu pada Zoya.


Pemilik rambut pirang itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Boleh, tapi aku takut.." ucap Zoya menundukkan kepalanya.


"Kau takut apa?" tanya Ryu.

__ADS_1


"Kalau ada orang yang nyerang kau lagi bagaimana?" Zoya masih ingat kejadian dua hari yang lalu. Saat mereka tengah makan tiba tiba ada dua pria tak di kenal menyerang Ryu, beruntung Jiro ada dan membantunya.


"Kalau kau takut, ya sudah tidak perlu." Ryu tersenyum tipis menatap wajah gadis cantik di hadapannya.


"Bagaimana kalau kita makan di sana!" tunjuk Zoya ke arah toko mie ramen.


"Boleh, yuk!" Ryu menarik tangan Zoya menuju tempat yang di maksud Zoya. Ryu sangat senang bila berdekatan dengan gadis itu. Sudah sejak lama, Ryu menyukai Zoya.


Dari jauh, Jiro memperhatikan Ryu dan Zoya. Sejak pertama kali melihat Zoya, Jiro menyukainya. Namun ia bukan pria yang mudah bergaul apalagi dengan wanita. Tetapi kedekatannya dengan Ryu tidak bisa ia jelaskan. Setiap kali melihat Ryu belum pulang ke rumahnya. Jiro selalu merasa khawatir, "mana mungkin aku suka sama si Ryu? dia kan laki laki." Jiro menepuk keningnya sendiri. "Ya ampun, aku ini berpikir apa." Jiro begidik ngeri membayangkannya.


Jiro menggelengkan kepalanya, lalu ia melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan ia kembali teringat dengan mimpi mimpinya yang selalu datang tiap kali ia tidur. "Wanita itu, pria itu, siapa mereka? tapi aku memanggilnya Ayah dan Ibu," gumam Jiro. Ada keinginannya untuk bertanya pada Izanagi, Papanya. Namun setiap kali Jiro bertanya. Izanagi selalu menolak untuk membicarakan tentang mimpi mimpi Jiro.


"Aku harus mencari tahu, tapi kemana?" ucap Jiro menggigit bibir bawahnya sendiri. Berkali kali Jiro menepis semua mimpinya hanyalah bunga tidur. Tapi anehnya ia merasa kalau mimpinya bukan sekedar mimpi. Namun Jiro sampai saat ini masih belum mengerti.


Sesampainya di halaman rumah, Jiro langsung masuk ke dalam rumah. "Tuan muda di tunggu Tuan Izanagi di ruang kerja." Egor membungkuk hormat.


"Baik paman." Jiro langsung menuju ruang kerja Papanya. Ia mengetuk pintu lalu membukanya. Melihat Izanagi tengah duduk di sofa memegang dadanya yang terasa nyeri.


"Papa!" Jiro langsung berlari mendekati Izanagi, lalu duduk di sebelahnya. "Papa kenapa?" tanya Jiro.


"Papa baik baik saja Nak," Izanagi menggeser duduknya. "Papa mau bicara sebentar."


"Ada apa Pa?" Jiro menautkan kedua alisnya menatap Izanagi yang terlihat pucat.


"Papa minta, teruskan perusahaan Papa. Rasanya Papa sudah tidak sanggup lagi bekerja." Izanagi mengeluhkan jantungnya sering merasa sakit dalam dua minggu terakhir.


Jiro kembali duduk, merangkul bahu Izanagi. "Ada apa Pa?"


"Kau tidak perlu memanggil Dokter, Papa hanya mau di temani kau saja." Izanagi tersenyum menatap Jiro.


Jiro tersenyum lalu memeluk Izanagi dengan erat. "Tentu Pa.."


Izanagi menepuk lengan Jiro, meski bukan putra kandungnya, namun Izanagi sangat menyayangi Jiro. Apapun yang Jiro inginkan selalu ia turuti. Jiro pria yang mandiri dan penyayang, meski ia putra Izanagi salah satu pengusaha terkenal di kota itu. Tapi Jiro tidak pernah menunjukkan sikap arogan. Bahkan ia bisa memasak sendiri untuk makan malamnya.


Suara pintu di ketuk dari luar, Jiro menoleh ke arah pintu. Melihat Egor mendekati mereka. "Tuan, di luar ada tamu." Egor membungkukkan badannya sesaat.


"Oh, itu pasti Kenzi. Papa temui dia dulu Nak." Izanagi berdiri di bantu Jiro keluar dari ruangan menemui Kenzi.


Kenzi berdiri mengulurkan tangannya saat melihat Izanagi. "Tuan, selamat sore."


"Sore, duduklah." Izanagi mempersilahkan Kenzi duduk. Sementara Jiro menatap lekat wajah Kenzi. Jiro teringat wajah samar samar dalam mimpinya.


"Tidak mungkin, ini hanya halusinasiku saja," ucap Jiro dalam hati.


"Jiro?" sapa Izanagi tengadahkan wajahnya menatap Jiro yang termangu memperhatikan Kenzi.

__ADS_1


"Iya Pa.." sahut Jiro membuyarkan lamunannya.


"Ini Tuan Kenzi, klien Papa. Nanti kau bisa bekerjasama dengan Tuan Kenzi." Izanagi memperkenalkan. Jiro mengulurkan tangannya dengan tatapan lurus ke wajah Kenzi.


Kenzi tersenyum menatap Jiro, dan tatapan matanya terhenti di dahi Jiro. Terdapat bekas luka yang sudah ada sejak lama. "Jiro, Om."


Kenzi menganggukkan kepalanya, "kau masih kuliah Nak?" tanya Kenzi dengan tatapan lurus ke dahi Jiro. Ia teringat dengan Helion yang memiliki bekas luka benturan keras di lantai sewaktu di hempaskan Livian dulu.


"Iya Om." Jiro menyebutkan salah satu universitas tempat ia menimba ilmu.


"Loh, putra Om juga sekolah di sana. Namanya Ryu, kau kenal?" tanya Kenzi.


"Ryu, Om? tentu saja. Dia sahabatku." Jiro tersenyum.


"Wah, kebetulan sekali." Kenzi tersenyum lebar.


"Tapi Om, siapa yang selalu menyerang Ryu di luar sekolah?" tanya Jiro penasaran.


"Apa? di serang?" Kenzi terkejut, selama ini Ryu tidak pernah cerita apa apa padanya atau Siena.


Jiro menganggukkan kepalanya, lalu menceritakan kalau ia sudah dua kali membantu Ryu dari penyerangan orang orang tak di kenal.


Kenzi tertegun, ia kembali teringat masa lalunya. Apakah mungkin orang orang itu masih mengincarnya? rasanya tidak mungkin. Sudah 20 tahun berlalu, hidup Kenzi lebih damai dan aman sejak Sam Hoi di hukum mati.


***


"Ibuuu!" seru Ryu dari arah pintu, lalu ia melemparkan tasnya sembarangan di kursi.


"Sayang, kebiasaan deh!" sungut Siena melihat kebiasaan Ryu putranya yang suka suka hati dan pemalas.


"Maaf Ibu.." ucapnya pelan, lalu ia ambil tasnya kembali.


"Ayah kemana Bu?" tanya Ryu menatap sekitar rumah.


"Ayah belum pulang, katanya mau menemui Tuan Inazagi di rumahnya." Siena duduk di sofa, di ikuti Ryu.


"Oh, kenapa tidak di kantornya?" tanya Ryu.


"Tuan Izanagi sedang sakit." Siena mengusap pipi Ryu dengan lembut. "Bagaimana kuliahmu hari ini? katanya kau mau ajak Zoya ke rumah?"


"Dia di telpon Papanya tadi, Bu." Ryu menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Kau menyukai Zoya, Nak?" tanya Siena membuat Ryu tersipu malu.


"Tidak Bu," katanya singkat.

__ADS_1


Siena menggelengkan kepalanya, "ya sudah, ganti pakaianmu." Ryu menganggukkan kepalanya lalu beranjak pergi menuju kamar pribadinya.


"Ibu jangan sampai tahu kalau aku menyukai Zoya, malu aku.." gumamnya pelan.


__ADS_2