The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 86: Family?


__ADS_3

Entah sudah berapa lama Kenzi duduk melamun di balkon kamar. Berdasarkan kesaksian Surya dan tiga anak buahnya. Siena bukanlah gadis kemarin yang penakut. Tapi kali ini ia berbeda dari sebelumnya. Siena menjadi seorang wanita yang mahir menembak, padahal sebelumnya ia gadis yang lugu dan lembut. Kenzi senyum sendiri bila mengingat semua hal tentang Siena. Rasa takutnya mulai berangsur hilang, awalnya ia berniat menindahkan Siena ke tempat aman lagi. Namun setelah mendengar penuturan mereka, Kenzi mengurungkan niatnya.


"Mikirin apa sih!"


Kenzi menatap tangan Siena yang melingkar di dadanya. Ia tengadahkan wajah menatap Siena yang sudah berdiri di belakang dan memeluknya erat.


"Kemarilah.." Kenzi menarik tangan Siena supaya duduk di pangkuannya.


Siena langsung duduk dan melingkarkan tangannya di bahu Kenzi, ia sedikit memiringkan wajahnya menatap Kenzi. "Kau baik baik saja?"


Kenzi menganggukkan kepala, ia tersenyum tipis tangannya mengusap lembut bibir Siena. 'Jadi? hari ini kita bisa?"


Mata Siena membulat, ia memajukan bibirnya. "Tidak ada yang lain kah? selain itu?" sungut Siena. Kenzi tertawa kecil lalu membenamkan wajahnya di dada Siena.


Siena merengkuh kepala Kenzi dan mencium puncak kepalanya dengan dalam. "Selesaikan masalah ini, kita secepatnya pulang ke Indonesia."


Mata Kenzi menatap Siena, "tentu Siena, segera aku keluar dari organisasi itu."


"Tapi itu tidak mudah." Siena menampuk wajah Kenzi dan menatap lekat wajahnya.


"Aku tahu, sisanya serahkan pada Polisi."


Siena tersenyum merekah, lalu mencium kening Kenzi cukup lama. "Aku mencintaimu."


"Aku mau punya anak banyak" timpal Kenzi.


"Apa! Siena mencubit kedua pipi Kenzi gemas. " Aku tidak mau!"


"Aku mau!" Kenzi tertawa terbahak bahak melihat wajah Siena yang cemberut.

__ADS_1


"Ya sudah, tidak usah sekalian," sungut Siena, ia turun dari pangkuan Kenzi. Namun pria itu menahannya dan Siena kembali duduk.


"Oke, terserah kau saja!" Kenzi kembali membenamkan wajahnya di dada Siena. Gadis itu tertawa kecil saat Kenzi berbisik di telinga Siena. Ia menggelengkan kepala, namun Kenzi mengangkat dan menggendong tubuh Siena masuk ke dalam kamar.


Satu jam berlalu, Siena turun dari atas tempat tidur, ia memalingkan wajahnya menatap Kenzi yang tengah tertidur pulas. Ia tersenyum tangannya membenarkan selimut Kenzi, lalu ia berjalan menuju kamar mandi.


Lima belas menit berlalu, Siena telah selesai dengan dirinya. Ia menggunakan kaos longgar dan celana jeans seukuran paha. Ia melirik sesaat ke arah Kenzi lalu berjalan keluar kamar menuju ruang bawah tanah.


Sesampainya di ruangan bawah tanah, Siena berjalan menuju meja, terdapat beberapa senjata api dengan ukuran yang berbeda. Mata memperhatikan senjata itu lalu mengambil salah satu di antara yang lainnnya. Ia tersenyum menyeringai menarik pelatuk, matanya merah menyala namun tidak menghilangkan sisi kelembutan Siena.


Ruangan yang gelap, hanya sedikit penerangan membuat suasana ruangan bawah tanah memiliki energi magis yang kuat. Gadis itu langsung balik badan mengarahkan senjata api ke arah botol botol minuman yang berjajar di atas meja.


"Ini untuk Mama!"


Dorr! satu botol pecah.


"Ini untuk Papa!


"Ini untuk Kenzi!


Dor! Dor!


"Dan ini untuk kematianmu Hernet, tidak akan kubiarkan kau melukai keluargaku lagi!" pekik Siena


Dor! Dor! Dor! Semua botol yang berjajar hancur tanpa sisa. Siena mengangkat senjatanya. "Huhh" lalu meniup ujung senjata sembari tertawa menyeringai.


Grepp!!


Siena melihat kebawah, tangan Kenzi sudah melingkar dipinggangnya memeluk erat dari belakang. Gadis itu langsung balik bada cepat merengkuh pundak Kenzi.

__ADS_1


"Sayang, kau tidak melupakan kodratmu sebagai wanita bukan?" ucap Kenzi menatap kedua bola mata Siena.


Gadis itu tersenyum mencium bibir Kenzi sekilas, "tentu tidak."


Kenzi langsung memeluk erat tubuh Siena, lalu mencium leher gadis itu. "Hei, apa yang kau lakukan!" pekik Siena begidik saat bibir Kenzi mencium telinga Siena.


"Aku menginginkanmu lagi." Kenzi tertawa kecil.


"Di sini?" Siena melebarkan matanya menatap Kenzi yang menganggukkan kepala, lalu ia lemparkan senjata api ke lantai.


"Kembali ke kamar," Kenzi langsung menggendong tubuh Siena menuju kamar.


Dari arah pintu kamar Surya, ia berdiri memperhatikan mereka yang tengah berbahagia. Surya tersenyum samar, dan berkata dalam hati. "Kau pantas bahagia Siena." Surya kembali menutup pintu kamarnya dan duduk di tepi tempat tidur.


"Hana, andai kau mau mendengarkanku, hari ini kita berkumpul bersama dengan putri kita." Air mata perlahan menetes dari sudut netranya. Tubuhnya melorot ke bawah dan duduk di lantai, kepalanya ia sandarkan di tepi tempat tidur. Pikirannya mengembara jauh ke masa silam, waktunya terbuang sia sia hanya untuk membalas dendam. Tapi bukan dendam yang terbalaskan, hidupnya terkatung katung di Negara orang lain dan menjadi pecandu. Perlahan ia terisak menumpahkan semua penyesalannya.


Entah sudah berapa lama, ia menangis di kamarnya. Hingga ia tersadar saat Siena membuka pintu dari luar. Ia buru buru mengusap air matanya. "Kau belum tidur?"


Surya menarik kaki dan melipatnya, tangannya terulur menarik tangan Siena untuk duduk di lantai bersamanya. "Papa sendiri kenapa belum tidur?" ucap Siena menatap kedua bola mata Surya. Ia bisa melihat dengan jelas jejak jejak air mata di matanya.


"Pa.." ucap Siena pelan, wajahnya menunduk lalu tangannya menggenggam erat tangan Surya, mengusapnya lembut. "Tidak ada yang perlu di sesali dari masa lalu."


Surya terdiam, ia mendengarkan semua kata kata Siena yang menyandarkan kepalanya di bahu Surya. Tangannya terus menggenggam erat tangan Surya seolah olah tidak ingin berpisah lagi. Siena memang putrinya, tapi gadis itu lebih dewasa dari usianya. Ada rasa kagum terhadap Siena yang mampu menenangkan hati Surya yang tengah sedih.


"Papa sayang kamu, Nak." Surya menarik tangannya lalu memeluk Siena erat. Mencium puncak kepalanya berkali kali.


"Aku juga sayang Papa, sayang Mama." wajahnya tengadah menatap wajah Surya. Tangannya terulur mengusap air mata di pipi Surya yang mulai keriput. Surya meraih tangan Siena di pipinya lalu mencium tangan Siena berkali kali.


"Maafkan Papa..maafkan Mamamu.." ucap Surya lirih.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi, sebentar lagi kita pulang ke Indonesia. Papa mau kan? kita ke pemakaman Mama." Siena tengadahkan wajahnya sesaat menatap wajah Surya yang masih berurai air mata.


Surya menganggukkan kepala, pria itu semakin mengeratkan pelukannya, tidak ada kata yang mampu mewakili hatinya saat ini. Dengan segenap perasaan yang ia miliki ia menangis terisak di depan putrinya sendiri. Bagaimana tidak? selama ini ia berpikir tidak akan pernah bisa bertemu dengan putrinya. Namun pria yang selama ini ia kenal dan selalu membantunya di saat ia membutuhkan bantuan. Kenzi selalu ada untuknya. Dan siapa sangka, pria itu juga yang mempertemukannya dengan Siena.


__ADS_2