
Namaku Zoya, putri seorang mafia nomer satu di Hongkong. Semua yang aku inginkan harus aku dapatkan. Targetku adalah Jiro.
Hai namaku, Miko. Putri bos besar mantan mafia. Keinginanku hanya satu, mencintaimu, Jiro.
Nama kecilku Helion. Sekarang namaku Jiro, putra mantan mafia.
****
Zoya menepalkan kedua tangannya, dengan tatapan tajam ke arah Miko.
"Kau atau aku yang mati." Zoya tersenyum sinis, kedua tangan mengepal siap meninju Miko yang masih terlihat santai menanggapi Zoya.
"Jangan banyak bicara, ayo maju." Tangan Miko terulur ke hadapan Zoya, melangkah pelan memutari tubuh zoya untuk mengukur kekuatan lawan.
"Ayo Nona Zoya! habisi dia!" seru anak buahnya serempak memberikan semangat.
Mata Zoya melirik sesaat ke arah anak buahnya lalu menatap tajam Miko, tangan kanannya langsung meninju wajah Miko. Namun dengan sigap Miko berkelit ke samping, serangan Zoya mengenai udara. Kembali Zoya melayang kan tinju ke wajah Miko, kali ini Miko menepisnya dengan tangan kiri
"Tap!"
"Buk!" tangan kanan Miko meninju perut Zoya. Hingga gadis itu terhuyung ke belakang.
Miko tertawa kecil, jari telunjuknya ia ulurkan menatap Zoya. "Maju, jangan cengeng."
"Sialan!" Zoya maju menubruk tubuh Miko, dan mendorongnya hingga ujung Ring. Mencengkram baju Miko lalu menarik dan menghempaskan tubuh Miko.
"Buk!"
Tubuh Miko jatuh telungkup, lalu ia bangkit lagi. Saat Zoya mendekat menarik kerah baju Miko. Dengan kaki kanannya menendang perut Zoya hingga gadis itu terjungkal. Miko bangun menatap Zoya, menyeka darah kental di sudut bibirnya duduk di lantai ring.
"Ayo bangun, jangan cengeng."
Zoya mendengus marah lalu ia bangun dan berdiri, kembali mengepalkan kedua tangannya. "Aku belum kalah, jangan senang dulu."
"Nona Zoya! tangkap!"
Salah satu anak buahnya melemparkan balok kayu berukuran sedang. Dengan sigap Zoya menangkap balok itu. "Tamatlah riwayatmu, gadis sialan!" pekik Zoya maju selangkah mengayunkan balok ke tubuh Miko. Serangan pertama Zoya gagal, namun serangan kedua mengenai kening Miko hingga darah segar mengalir deras di kening Miko.
__ADS_1
"Hahahahaha, masih mau melawanku?"
Dada Miko naik turun, napasnya memburu menatap marah Zoya. Tangan kanannya menyeka darah di keningnya. Lalu maju menerjang Zoya.
"Buk!"
Kaki kiri Miko menendang pinggang Zoya, hingga oleng ke samping. Tidak ingin memberikan kesempatan pada Zoya. Tangan Miko meraih keraih baju Zoya lalu meninju wajah gadis itu hingga darah segar mengalir di hidungnya. Balok kayu di tangan Zoya terlempar cukup jauh.
"Kau terlalu sombong, tapi licik!" seru Miko menatap Zoya yang mengerang kesakitan.
"Nona Zoya, ayo bangun!" salah satu anak buahnya.
Zoya bangun dan berdiri, sembari mengusap darah di hidungnya dengan tatapan lurus ke arah Miko. "Brengsek!"
"Hiyaaaa!"
Zoya maju dan menubruk tubuh Miko, keduanya jatuh di lantai berguling gulinng, kedua tangan Zoya mencengkram leher Miko.
"Habis sudah riwayatmu, Miko!
Zoya semakin mengeratkan cengkramannya di leher Miko. Wajah Miko mulai pucat, ia kesulitan untuk bernapas. Dengan kekuatan penuh, tangan kanan Miko meninju wajah Miko hingga cengkraman di lehernya tetlepas. Situasi berubah, sekarang Miko yang mencengkram leher Zoya dengan kuat membuat gadis itu kesulitan bernapas. Namun detik berikutnya Zoya berhasil menjauhkan tangan Miko dari lehernya. Zoya langsung bangun dan berdiri tertatih memegang lehernya dengan tatapan tajam ke arah Miko yang berdiri di hadapannya. Napas mereka saling memburu, darah segar mewarnai wajah mereka.
Miko tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang berwarna merah darah, lalu ia meludah ke lantai ring.
"Gadis sialan!" maki Zoya napasnya terengah engah. Zoya kembali melangkah hendak meninju wajah Miko. Namun langkahnya tertahan.
"Zoya! Miko! hentikan!.
Kedua gadis itu menoleh, ke arah Jiro yang naik ke atas ring dan berdiri di antara mereka berdua.
"Jiro?" ucap mereka serempak menatap wajah Jiro.
"Cukup!" pekik Jiro menatap tajam Zoya, lalu beralih menatap Miko.
"Jangan ikut campur, Jiro!" Zoya berjalan satu langkah mendekati Jiro. "Ini urusan kami berdua."
"Tidak akan aku biarkan kalian melukai diri kalian sendiri-?"
"Diam!" seru kedua gadis itu serempak menunjuk ke arah Jiro bersamaan.
"Miko dengar, aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi apa apa denganmu." Jiro menatap dalam wajah Miko yang berlumuran noda darah.
"Diam kau!" Bentak Zoya panas, merasa tidak di perdulikan Jiro.
__ADS_1
Jiro menoleh ke arah Zoya, "aku tahu kau gadis baik, berhenti menyakiti dirimu."
Hanya dengan kata kata seperti itu, asal keluar dari bibir Jiro. Membuat hati Zoya semakin meleleh. "Kau perduli?" tanya Zoya senang.
Miko membuang mukanya, lalu berjalan keluar dari ring. "Miko tunggu!" seru Jiro.
"Kau mau kemana?" Zoya mencekal tangan Jiro.
Sesaat Jiro menatap tangan Zoya, lalu beralih menatap wajahnya yang lebam. "Pulanglah, ayahmu pasti marah melihat kau seperti ini. Aku mohon jangan buat masalah."
Selesai bicara seperti itu Jiro tersenyup pada Zoya lalu menepis tangan gadis itu pelan. Ia tidak ingin menambah masalah, ia tidak ingin membuat susana semakin kisruh. Lalu ia balik badan keluar dari ring menyusul Miko.
Zoya tersenyum menatap punggung Jiro. "Jiro, kau memang pria lembut. Dan kau Miko, urusan kita belum selesai."
Sementara Miko terus melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu.
"Miko tunggu!" Jiro menarik tangan Miko hingga mundur ke belakang, pria itu langsung mendekap tubuh Miko.
"Kenapa kau terima tantangan dia?" tanya Jiro menatap kedua bola mata Miko. "Apa kau mencintaiku?"
Miko membulatkan matanya, memajukan bibirnya. "Hei, kau terlalu percaya diri. Aku terima tantangannya bukan berarti mencintaimu. Pantang bagi Miko untuk mundur bila di tantang ya!"
"Oh, begitu.." Jiro melepaskan pelukannya, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kenapa memangnya? kau pikir aku mencintaimu? hhh." Miko tersenyum samar di sudut bibirnya. "Jangan berpikir aneh aneh, lebih baik kau antarkan aku pulang."
Jiro terdiam menatap wajah Miko. Apa benar? Miko tidak memiliki perasaan apa apa terhadapnya?
"Hei, malah bengong. Ayo!" Miko menarik tangan Jiro lalu menggenggamnya erat.
Jiro menggelengkan kepala, wanita memang sulit untuk di mrngerti. Pria itu tersenyum mengikuti langkah Miko menuju mobil milik Jiro.
"Miko! urusan kita belum selesai!" seru Zoya dari arah samping. Berdiri menatap ke arah mereka, lalu gadis itu berjalan mendekati Jiro. Tangannya terulur mengusap dada Jiro. "Aku pulang dulu, sampaj ketemu lagi."
"Cup!"
Mata Jiro melebar saat Zoya mencium bibir Jiro sekilas. Lalu beralih menatap Miko yang membuang muka ke samping.
"Ya ampun, anak ini benar benar sudah gila," ucap Jiro pelan mengusap bibirnya. Lalu berjalan mendekati Miko. Namun gadis itu langsung membuka pintu mobil dan menghindari Jiro.
"Rupanya kau senang di perlakukan seperti itu." ucap Miko sinis.
Jiro menoleh ke arah Miko yang duduk di sampingnya. Ia tidak ingin membalas kata kata Miko. Pria itu tersenyum menatap lama wajah Miko yang merengut.
__ADS_1
"Aku tahu kau cemburu," ucap Jiro dalam hati.