
Di antara ambang batas kesadaran, Kenzi mendengar suara Siena memanggil namanya berkali kali. Perlahan ia mencoba untuk bangkit kembali namun berkali kali Livian menendang dan memukulnya hingga berkali kali Kenzi harus ambruk. Ia memuntahkan darah segar di mulutnya. Menatap tajam ke arah Livian yang tertawa terbahak bahak. Sementara Samuel dan Yeng Chen menundukkan kepala, menahan gejolak amarah melihat Kenzi mempertaruhkan nyawanya untuk mereka. Dan Akira merutuki kebodohan dirinya masing masing. Begitu mudahnya terpedaya musuh, tapi ia memiliki kepercayaan terhadap Kenzi. Ia tidak berhenti memberikan semangat meski harus berkali kali di injak punggungnya oleh anak buah Livian.
Tangan kanannya mukul lantai berkali kali dengan senyum lebar memperlihatkan giginya yang berwarna merah darah.
"Cukup Livian! Bos besar berdiri, ia mulai bosan. Ia berjalan menghampiri Kenzi dan menginjak tangan Kenzi.
Kenzi menahan rasa sakit yang ia terima, wajahnya tengadah menatap Bos besar dengan tatapan marah. "Aku beri kau kesempatan, tunjukkan kesetiaanmu padaku." Bos besar menarik kembali kakinya lalu ia berikan senjata api di tangan Livian kepada Kenzi.
Kenzi melirik ke arah Samuel dan yang lain, Bos besar meminta pria itu untuk melenyapkan ketiga anak buahnya. Maka dia akan mengampuni Kenzi dan kembali bergabung bersama mereka. Perlahan tangan Kenzi terulur mengambil senjata api itu di tangan Bos besar. Ia mencoba untuk berdiri menghadap Samuel dan yang lain.
Anak buah Livian menarik tubuh Samuel dan yang lain. Lalu mereka menyuruh Samuel dan dua temannya untuk berdiri menghadap Kenzi. "Bos.." ucap Akira pelan. Menatap ke arah Kenzi.
"Buktikan Kenzi!" seru Bos besar, sementara Livian tertawa terkekeh mencemooh.
Samuel dan dua temannya menatap sedih ke arah Kenzi. Mereka menggelengkan kepala saat Kenzi mengarahkan senjatanya ke arah mereka. Sorot mata Kenzi tajam menatap ke arah mereka. Dengan tertatih ia berjalan lebih dekat lalu ia menarik pelatuk. Di saat bersamaan Kenzi alihkan senjatanya ke arah Bos besar. Kenzi tersenyum menyeringai menatap Bos besar.
"Lebih baik aku mati, dari pada mengkhianati keluargaku sendiri," ucapan Kenzi pelan namun jelas terdengar oleh mereka. Rasa ingin melindungi satu sama lain semakin besar di hati Samuel dan yang lainnya.
***
Sementara di luar ruangan tempat Kenzi berada, Siena dan Surya mulai merangsek masuk ke dalam bangunan menghancurkan semua yang ada di dalam bangunan itu. Ledakan terjadi di mana mana, suara jerit seiring korban berjatuhan. Para gangster bayaran Siena menembak dan menghancurkan apa saja tanpa memberikan kesempatan mereka untuk melawan.
__ADS_1
Satu persatu musuh mulai berkurang, Siena terus berlari mencari keberadaan Kenzi, di ikuti Surya dari arah belakang bersama empat pria bayaran.
Siena semakin kebingungan, semua ruangan sudah ia datangi namun keberadaan Kenzi dan yang lain belum di temukan. Surya berusaha menenangkan Siena yang sudah putus asa. Ia menduga Kenzi tidak ada di dalam markas itu. "Bagaimana Pa?"
"Sebaiknya kita cari di tempat lain," jawab Surya merangkul bahu Siena. Di saat bersamaan dua anak buah Livian datang mengarahkan senjata ke arah mereka. Dengan sigap Siena dan Surya menjatuhkan diri ke lantai lalu berguling sambil mengarahkan senjatanya ke arah dua pria itu dan menembaknya hingga tak berkutik lagi.
Bukan, bukan dua tapi ada banyak pasukan Livian datang menyerang dari arah berlawanan. Siena yang jaraknya berjauhan dengan Surya bersembunyi di balik pilar yang berukuran besar. Matanya melirik waspada ke arah musuh. Sesekali kepala Siena menyembul sembari menembaki musuh. Peluru bersiweran berdesing memekakkan telinga.
"Dor!! Dorrr!
Satu, dua, musuh mulai berjatuhan. Siena kembali berlari menuju tempat Surya bersembunyi. " Tinggal dua Pa," ucap Siena pelan. Surya menganggukkan kepala.
Sekelebat Siena dapatkan gerakan dari arah belakang kira kira 10 meter. Terlihat dua orang pria sedang mengacungkan senjata api. Kedua tangan Siena memegang dua senjata api, dengan reflek Siena melompat keluar dari persembunyian berdiri tegap.
Kedua pria itu berteriak bersamaan tubuhnya tumbang dengan warna merah darah memercik di lantai. Siena tersenyum menyeringai menatap tubuh dua pria itu. Sementara Surya berdiri di belakang putrinya berdecak kagum akan keberanian Siena.
"Bagus Nak," ucapnya sembari menepuk bahunya. Siena menoleh ke arah Surya dan tersenyum.
"Ayo pergi Pa!" Surya menganggukkan kepala, lalu mereka melangkah. Namun baru saja mereka berjalan beberapa langkah. Terdengar suara Samuel berteriak memanggil nama 'Kenzi'.
Mereka menghengikan langkahnya, lalu saling pandang sesaat mengalihkan pandangannya pada sebuah pintu yang terbuka. Siena menganggukkan kepala, lalu mereka memasuki pintu yang terbuka menyusuri sebuah lorong gelap menuju sebuah ruangan besar. Sesampainya di pintu ruangan Siena bisa melihat dengan jelas, Kenzi tengah mengarahkan senjata pada Bos besar. Sementara Samuel dan lainnya berdiri tak jauh dari tempat Kenzi berdiri.
__ADS_1
Di balik tembok Siena mulai menghitung jumlah anak buah Bos besar yang ada di dalam ruangan itu bersama Surya. Dan Surya memberikan ide untuk Siena.
"Papa dulu yang masuk, kau belakangan."
Siena menganggukkan kepala, lalu ia memeriksa senjata apinya untuk memastikan peluru yang ia miliki cukup untuk menghabisi mereka, itu pun kalau tidak meleset.
"Apa kau sudah siap?" tanya Surya pelan, menatap sajah putrinya yang berkeringat bercucuran di wajahnya. "Kau harus kuat sayang, Papa mengandalkanmu."
Siena mengangguk cepat, ia memeluk Surya sesaat, lalu ia membiarkan Surya masuk ke dalam ruangan hanya dengan berbekal satu senjata api saja. Sementara Siena telah siap siaga dengan dua senjata api di tangannya. Ia memperhatikan Surya di balik tembok.
Dengan langkah pasti Surya masuk ke dalam ruangan dengan melompat, lalu menjatuhkan tubuhnya ke lantai bersamaan dengan beberapa peluru melesat ke arah Livian dan anak buahnya.
"DOR! DOR! DOR!
Kenzi dan semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut mendapat serangan tiba tiba. Anak buah Livian langsung bereaksi menembaki Surya yang bersembunyi di balik tumpukan balok. Sementara Kenzi ikut membantu Surya menembaki mereka semua walau pun meleset. Samuel dan dua sahabatnya langsung berlari ke tempat tersembunyi karena mereka tidak memiliki senjata api. Bersamaan itu, Siena masuk lalu menembaki semua anak buah Livian hingga tersisa tiga orang saja. Lalu ia berlari ke arah Kenzi meski peluru berseliweran, berdesing.
Livian dan Bos besar bersembunyi di balik lemari besi tempat penyimpanan minuman beralkohol dan obat obatan.
" Siena.." ucap Kenzi pelan lalu memeluk erat tubuh Siena.
"Kau terluka parah, kita selesaikan secepatnya." Kenzi menganggukkan kepala, lalu ia ambil satu senjata api di tangan Siena. Ia berlari menjauh dari tempat persembunyian Siena. Untuk memancing musuh keluar dari persembunyian. Sementara Siena berlari ke arah Surya.
__ADS_1
"Kita pasti berhasil."