The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 61: Cold


__ADS_3

Perlahan Siena membuka pintu kamar Kenzi, ia mengintip di balik pintu memperhatikan sekitar kamar Kenzi.


"Sepertinya dia belum pulang," ucapnya pelan. Ia menengok ke belakang memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Lalu ia masuk ke dalam kamar Kenzi dan menutup pintu kamar. Ia berjalan perlahan mendekati meja tempat Kenzi menyimpan kunci mobil yang tak pernah di gunakan. Ia sudah mengetahui tempat dan kebiasaan Kenzi menyimpan barang.


"Aku harus menemui Rei dan Keenan, mereka ada di sini memcariku." Siena membuka laci meja, dan akhirnya ia menemukan kunci mobil dan sejumlah uang yang tak seberapa.


"Akhirnya, aku bisa pulang!" Siena matanya berbinar memegang kunci mobil dan beberapa lembar uang. Saat ia balik badan hendak keluar kamar. Tiba tiba pintu kamar di buka dari luar. Siena menatap pintu kamar sesaat, ia bergegas berlari ke arah pintu kamar mandi dan bersembunyi di dalam.


Dari dalam kamar mandi, Siena dapat mendengar suara langkah kaki Kenzi membuka lemari pakaian. Detik berlalu, menitpun berganti. Siena tidak mendengar pergerakan atau langkah kaki Kenzi lagi.


"Apakah dia keluar lagi? tapi aku tidak mendengar suara pintu di buka?" gumam Siena, perlahan ia membuka pintu kamar mandi dan mengintip di balik pintu. Ia melihat Kenzi tengah berbaring di atas tempat tidur. Ia kembali menutup pintu kamar mandi dan diam di tempat semula.


"Aku harus menunggu dia sampai tidur." Siena duduk di lantai kamar mandi, kakinya cukup pegal jika harus berdiri terus.


Lima belas menit berlalu Siena mengusap tengkuknya yang merasakan pegal, matanya mulai merasakan kantuk dan lelah. "Apa dia sudah tidur?" Ia perlahan berdiri dan membuka pintu kamar mandi.


"Sepertinya dia sudah tidur," perlahan Siena keluar dari kamar mandi, ia berjalan mengendap endap matanya lurus ke arah Kenzi yang sedang telungkup. Entah dia tidur atau tidak.


Sesampainya di depan pintu, Siena memegang panel kunci perlahan lahan lalu ia menariknya. "Terkunci?" ia melebarkan matanya menatap pintu kamar yang terkunci. Lalu ia memalingkan wajahnya menatap Kenzi.


Perlahan Siena berjalan mendekati tempat tidur Kenzi, ia memperhatikan meja mencari kunci pintu kamar. Namun ia tidak menemukannya. "Di mana dia menyimpannya?" Siena menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia mulai merasa kesal, rasanya ia ingin membangunkan Kenzi dan memakinya. Tapi niatnya ia urungkan, Siena berjalan mondar mandir memikirkan cara untuk keluar dari kamar Kenzi.


"Apa yang harus aku lakukan?" kini Siena terjebak di dalam kamar Kenzi. Akhirnya ia duduk di bawah tempat tidur Kenzi dan merutuki kebodohannya sendiri.


"Aku sudah bilang berkali kali, apapun yang kau kerjakan aku tahu Siena."

__ADS_1


Siena langsung menoleh ke arah suara, ia melihat Kenzi tengah menatapnya tersenyum manis. Siena langsung berdiri dan melemparkan kunci mobil ke tubuh Kenzi.


"Jadi, kau sudah tahu dari tadi?"


Kenzi bangun dan turun dari tempat tidur, "tentu saja istriku."


"Apa? istrimu? bermimpilah Kenzi!" seru Siena memalingkan wajahnya.


Kenzi tertawa menatap Siena yang cemberut dan kesal terhadapnya. "Terserah, kau mau berdiri di situ sampai pagi, atau kau mau tidur di samping aku?" Kenzi kembali naik ke atas tempat tidur.


"Cuih!" Siena menanggapi dingin Kenzi. Ia memilih duduk di sofa.


Kenzi melirik sesaat ke arah Siena, ia membiarkan Siena tertidur di sofa. "Kapan kau akan bersikap lembut Siena.." ucapnya tertawa kecil menatap ke arah Siena yang memejamkan mata. Sementara Siena berpura pura tidur, untuk menghindari Kenzi.


Di kamar itu hening tak ada pembicaraan, Siena tertidur pulas di sofa. Kenzi turun dari atas tempat tidur membawa selimut. Ia selimuti tubuh Siena menggunakan selimutnya. Ia mengusap lembut rambut Siena.


" Tidak ada, kau tidur saja dan jangan berisik!" Kenzi membungkukkan tubuhnya dan mencium bibir Siena sekilas. Lalu ia kembalu berdiri tegap tersenyum menatap wajah Siena sesaat.


Siena mengusap bibirnya lalu ia tarik selimut untuk menutupi wajahnya. Kenzi menggelengkan kepala.


"Keras kepala." lalu ia kembali melangkah keluar kamar. Membiarkan Siena tidur di kamarnya sementara dia sendiri tidur di ruang kerjanya. Ia tidak ingin merusak hidup Siena lebih dari itu.


****


Pagi pagi sekali Kenzi meninggalkan rumahnya. Kali ini ia tidak mengajak Siena. Ia meninggalkan Siena di rumah hanya di awasi oleh Yeng Chen. Sementara dirinya pergi bersama Samuel untuk mengikuti pertemuan yang di adakan oleh Bos Besar.

__ADS_1


Dalam pertemuan itu tidak hanya Kenzi, tapi Livian Aghler sebagai kaki tangan kedua bigbos, atau di sebut bos kedua yang memberikan perintah kedua setelah bigbos. Sementara Kenzi sendiri sebagai penasehat yang memberikan solusi atau pertimbangan dalam mengambil sebuah keputusan dalam jaringan tersebut. Namun Kenzi di anggap keluar jalur pengambilan sumpah masuk ke dalam jaringan tersebut.


"Semua benda punya harga, apalagi manusia," ucap Kenzi menatap lurus ke arah bos besar.


"Aku tahu." Livian Aghler menyela kata kata Kenzi. Sementara bigbos masih mendengarkan pendapat kedua orang kepercayaannya.


"Kita berada di sini bukan untuk memberikan keadilan, aku harap waktu kita tidak terbuang percuma." Salah satu kepala anggota jaringan tersebut angkat bicara.


Kenzi memalingkan wajahnya menatap kepala anggota itu. "Kau diam sebelum aku minta kau untuk bicara." Kenzi menatap geram pria itu.


"Kenyataannya kau telah keluar jalur dari kesepakan awal Kenzi, aku dengar kau hendak membangun fasilitas rehabilitasi untuk para pecandu." Livian sengaja menyulut emosi untuk mengeluarkan Kenzi dari jaringan. Sementara bos besar sangat mengandalkan Kenzi dalam jaringan tersebut.


"Itu di luar aturan yang sudah di sepakati, aku harap kau tidak menyinggung hal itu." Kenzi menatap tajam Livian Aghler.


"Apa alasanmu Kenzi?" tanya bos besar angkat bicara.


Kenzi memalingkan wajahnya menatap bos besar, "aku rasa Don sudah tahu apa maksudku."


Bos besar menganggukkan kepala, ia merasa Livian Aghler terlalu berlebihan, akhirnya ia memutuskan untuk tidak meributkan tentang keinginan Kenzi untuk membangun panti rehabilitasi selama hal itu di lakukan di luar wilayah jaringan tersebut. Tentu keputusan bos besar tidak di sukai Livian Aghler. Tapi untuk saat ini Livian tidak mendebat keputusan bos besar.


Setelah pertemuan itu di tutup, Livian Aghler dan Kenzi sempat adu mulut di luar ruangan.


"Kau menginginkan aku keluar jaringan ini bukan?" Kenzi tersenyum sinis menatap Livian.


"Kita lihat nanti Kenzi," jawab Livina sembari berlalu meninggalkan tempat.

__ADS_1


Kenzi terdiam di tempatnya menatap punggung Livian, meski tak banyak bicara tapi Kenzi mengetahui kelicikan Livian yang ingin menguasai jaringan tersebut dan menyingkirkan dirinya terlebih dahulu


Kenzi melangkahkan kakinya keluar ruangan bersama Samuel untuk kembali pulang.


__ADS_2