The Mafia Bride

The Mafia Bride
POV : RYU


__ADS_3

Sore itu, sepulang dari tempatnya menimba ilmu. Ryu dan Zoya panik setengah mati. Karena telah kehilangan Siena. Dia dan Zoya langsung mencari keberadaan Siena, entah itu di kantor Polisi atau tempat tempat yang mungkin Siena kunjungi.


Ethan menghubungi semua rumah sakit di kota itu, dia berpikir kalau Siena pergi ke rumah sakit untuk persalinan. Namun di rumah sakit manapun tidak ada Siena. Kemudian Ethan memerintahkan anak buahnya untuk menelusuri keberadaan Siena.


Sehari sudah terlewati pencarian Siena tidak, membuahkan hasil. Akhirnya ke esokan harinya Ryu dan Zoya melaporkan hilangnya Siena. Dan Ryu menduga kalau Ibunya di culik oleh musuh musuhnya Kenzi. Namun semua dugaan Ryu di patahkan oleh tidak adanya bukti penculikan Siena. Membuatnya semakin patah hati, dan tidak tahu lagi harus melakukan apa.


"Kenapa semua meninggalkanku.." ucap Ryu lirih, duduk di kursi menatap kakinya.


"Aku anak yang tidak berguna! tidak berguna! Ryu terus memukul kakinya sendiri.


Zoya yang duduk di kursi lain, langsung menghampiri dan jongkok di hadapannya.


" Cukup, jangan kau sakiti dirimu sendiri." Zoya menahan tangan Ryu dan menggenggamnya erat. "Aku mohon.."


"Aku akan membalas perbuatan mereka!" Ryu berdiri tangannya mengepal.


"Tidak, Ryu!" Zoya ikut berdiri lalu memeluk Ryu erat. Gadis itu menangis merasakan kepedihan yang sama, sambil terus memeluk Ryu.


"Kau tidak perlu mengotori tanganmu dengan membalas dendam pada mereka, sama saja kau bunuh diri." Ethan yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.


"Kau tidak bisa mengubah apapun yang sudah terjadi, tapi kau bisa merubah dari dirimu sendiri." Pria itu duduk di kursi menatap tajam gelas yang ada di atas meja.


"Tetaplah kejar cita citamu sampai dapat. Soal Ibu dan Ayahmu, kita cari sama sama. Yang kita butuhkan saat ini adalah ketenangan dan sebaiknya kita tinggalkan tempat ini sebelum mereka menemukanmu."

__ADS_1


Akibat tuduhan tuduhan Ryu pada musuh musuh Kenzi, situasinya semakin tidak membaik. Ryu dan Zoya menjadi incaran mereka selanjutnya. Sebelum hal itu terjadi, Ethan memutuskan untuk membantu dan menjaga Ryu dan Zoya. Mengajak mereka pindah tempat untuk sementara.


***


Saat fajar menyingsing, jauh dari keramaian kota. Menjadi begitu ranum dan penuh. Menyembuhkan trauma dan perasaan cemas. Dalam kelembutan fajar, seseorang yang begitu ingin memeluk dan memasuki dirinya sendiri. Kedua kaki Ryu melangkah lembut di pagi hari menemukan ranting ranting kering, rindangnya pohon, permukaan tanah yang yang begitu langka di sebuah kota yang tertutupi dengan sempurna oleh aspal, dan beton.


Kenangan indah bersama orangtuanya kembali mengiyak batinnya yang terluka. Seorang Ibu yang lebih sabar dari kekasih. Suara Kenzi memanggilnya saat baru saja datang dan tersenyum lebar sehabis pulang bekerja.


Semua kenangan tentang rumah, semua kepolosan, kebahagiaan dan tidak ada rasa cemas. Menikmati hari, tentang semua hal. Kini berubah duka dan menjelma menjadi sebuah kenangan. Perasaan itu, sudut rumah, kenangan sewaktu masih kecil. Perasaan manja yang nyaman, suasana hangat dalam keluarga.


Kerinduan akan Siena yang penuh kelembutan terkadang cerewet. Ayah yang selalu memanjakan dan menghibur saat tengah menangis dalam keputusasaan.


"Ibu, Ayah, sampai kapan seperti ini?" ucap Ryu lirih.


"Ibu, aku menyesal telah membuang waktuku percuma, membuatmu khawatir dan letih menua, Tuhan kembalikan mereka padaku."


"Ibu, aku ingin menaruh usiaku yang tak seberapa, agar kulayak memberimu kebahagiaan yang terenggut oleh keadaan."


Ryu menjatuhkan tubuhnya di atas tanah, duduk menundukkan kepala sesaat, lalu tengadah menatap matahari yang bersinar lembut.


"Ibuuuuu..!!!!" jeritnya terdengar pilu, di sertai derai air mata.


"Kau tidak sendirian, ada aku yang akan selalu menemanimu. Kita cari sama sama, meski entah sampai kapan."

__ADS_1


Ryu menundukkan kepalanya, menatap jari jemari Zoya yang melingkar di pinggangnya.


"Jangan putus harapan.." bisik Zoya lirih.


Ryu membalikkan badannya, lalu memeluk gadis itu dengan erat.


"Terima kasih.."


**


ayah..ibu..


Telapak tanganmu, denyut nadimu, percikan keringat yang membasahi tubuhmu kala merawatku.


Kau yang selalu sendirian dalam duniamu yang penuh dengan rintangan, kau yang selalu diam di kala sakit dan terluka.


kau yang selalu mengasihi dan menyayangi, mengajariku, menasehatiku tanpa lelah. Meski dewasaku beranjak kacau dan rapuh, namun sedikitpun kau tidak pernah membenciku.


Selembut kasih, melebihi luas samudera kau curahkan tenaga dan pikiran untuk anakmu, sehaluskah engkau memindai sabar di relung hati diantara sebuah doa di antara ribuan doa untukku.


Ayah..Ibu


**

__ADS_1


__ADS_2