
Keesokan paginya, Jiro membawa Miko ke Kantor Polisi untuk menyerahkan barang bukti berupa rekaman. Di bantu Yu dan Pengacara yang di sewa. Sebelum kasus ini sampai di persidangan. Baik pihak Kenzi dan Kepolisian kembali melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Dua hari berlalu, setelah semua bukti di kumpulkan. Miko satu satunya saksi di bawah perlindungan Kepolisian.
Sidang atas kasus pembunuhan Kanaye pun di lakukan dengan lancar, berdasarkan kesaksian Miko dan bukti rekaman itu. Akhirnya Kenzi di nyatakan tidak bersalah. Sementara Adelfo di tetapkan sebagai tersangka pembunuhan Kanaye.
Hari itu juga Kenzi di bebaskan. Lim Kuan sebagai Ayahnya Kanaye meminta maaf secara langsung pada Kenzi.
Setelah persidangan selesai, Keluarga Kenzi pulang dengan bahagia. Karena mereka kembali bisa menang melawan kejahatan. Namun tidak bagi Jiro, sepulang dari persidangan ia mendapatkan kabar kalau Izanagi di bawa ke rumah sakit terkena serangan jantung. Akhirnya Jiro dan keluarga Kenzi pergi ke rumah sakit. Namun sayang, baru saja mereka sampai di rumah sakit, Izanagi baru saja menghembuskan napas yang terakhir.
Di sisi lain Jiro sangat terpukul kehilangan Izanagi. Tetapi bagi Kenzi dan Siena, berpikir lain. Mungkin itu sudah kehendak Yang Maha Kuasa untuk menyatukan keluarga kecil mereka tanpa ada benturan lagi.
Sore itu proses pemakaman Izanagi di lakukan dengan lancar tanpa ada halangan. Semua harta dan perusahaan yang Izanagi miliko sudah di wariskan pada Jiro.
Di suatu sore, Kenzi mengutarakan maksudnya untuk pulang ke Indonesia. Di luar dugaan Kenzi dan Siena, Jiro tetap menolak untuk ikut bersama kedua orang tuanya pulang ke Indonesia dengan alasan masih ada paman Egor, dan dia tidak mungkin meninggalkan perusahaan Izanagi.
Tentu penolakan Jiro membuat Kenzi dan Siena sedih, tapi pada akhirnya Kenzi ataupun Siena mengerti, kalau Jiro sudah menjadi bagian Izanagi. Akhirnya keputusannya, Kenzi dan Siena pulang Ke Indonesia membawa Ryu meski tanpa Jiro. Mereka menganggap Jiro sudah Dewasa dan bisa jaga diri.
"Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir, aku bisa jaga diri." Jiro memeluk kedua orangtuanya bergantian.
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu. Kami tidak bisa memaksamu. Kami pulang bukan tidak menyayangimu atau membuangmu. Tapi Ryu butuh perhatian ekstra. Kami khawatir, jika dia di sini terus akan membuat ulah yang bisa membuat keluarga susah." Kenzi menjelaskan panjang lebar.
"Aku mengerti. Meski kalian tidak bicara sekalipun."
Kenzi menghela napas panjang, hatinya berat untuk meninggalkan Jiro. Tetapi kejadian kemarin cukup membuat mereka khawatir. Apalagi Zoya bukan anak yang baik dan juga putri seorang mafia. Tentu saja tidak akan tinggal diam. Satu satunya adalah membawa Ryu keluar dari Hongkong.
***
__ADS_1
Pagi itu mereka telah bersiap siap untuk pulang Ke Indonesia. Jiro dan Kakak Yu mengantarkan Kenzi sampai ke Bandara.
Siena memeluk erat tubuh Jiro sembari terisak. "Maafkan Ibu, Nak."
"Ibu, aku akan sangat merindukanmu." Jiro melepaskan pelukannya, lalu beralih memeluk Kenzi.
"Ayah, aku bangga memiliki Ayah sepertimu. Aku akan merindukanmu Yah."
Kenzi menepuk punggung Jiro, lalu melepas pelukannya. Menangkup wajah Jiro, "kau putra Ayah yang paling hebat. Ayah percaya, kau bisa jaga diri." Lalu Kenzi mencium kening Jiro cukup lama.
Tatapan Jiro beralih pada Ryu. Lalu berjalan mendekatinya dan memeluknya erat.
"Bodoh, kau jaga Ibu dan Ayah dengan baik. Jangan buat mereka susah."
"Baik Kak, maafkan aku.." ucap Ryu sambil menyeka air matanya. Jiro melepas pelukannya menatap sayang mereka bertiga.
"Kalian tenanglah, nikmati masa tua kalian. Aku pasti menjaganya tanpa harus kau minta," sahut Rei.
Lalu Kenzi menatap Samuel, memeluknya sekilas. "Jaga putraku dengan baik."
"Baik Bos!" ujar Samuel.
Kenzi menghela napas panjang menatap wajah Jiro, sementara Siena hanya menangis. Tak lama kemudian, salam perpisahan dan kata kata rindu dan cinta terucap dari bibir Siena untuk Jiro.
Mata Jiro berkaca kaca menatap punggung mereka bertiga, tangannya melambai saat Siena berkali kali menoleh ke arah Jiro.
__ADS_1
"Aku pasti merindukan kalian," gumam Jiro lirih, matanya terus menatap ke arah mereka hingga hilang dari pandangan mata.
Yu menepuk pundak Jiro. "Ayo kita pulang."
Jiro menoleh sesaat, lalu mereka meninggalkan bandara kembali ke rumah. Samuel ikut kerumah Jiro. Yu dan Rei juga Marsya kembali pulang ke rumahnya masing masing.
***
Dua hari berlalu kepergian orangtua Jiro. Aktifitas Jiro kembali normal mengurus semua perusahaan Izanagi dan selalu di temani Samuel.
Miko, gadis yang telah menyelamatkan Kenzi dari penjara. Pergi entah kemana bersama Ibunya, setelah Jiro mbiayai operasi wanita itu sampai sembuh total dan bisa melihat lagi. Sampai sekarang identitas dan keberadaan Miko menjadi sebuah misteri buat Jiro. Sementara Zoya, meneruskan pekerjaan Ayahnya selama Adelfo di penjara.
Abel, kekasih Jiro. Di panggil kembali ikut bergabung di Kepolisian, tapi gadis itu di pindah tugaskan ke tempat lain.
Minggu berganti, bulanpun berganti. Namun rasa rindu Jiro terhadap orangtuanya tidak pernah tergantikan dengan hal apapun. Usia Jiro semakin tambah dewasa, tiga puluh tahun kini usia Jiro. Perusahaan yang dia kelola semakin pesat dan menjadi perhatian semua kalangan di kota itu. Banyak dari perusahaan legal dan Ilegal yang ingin bergabung dengan perusahaan raksasa milik Jiro. Namun sampai saar ini Jiro belum ada niat untuk menerima perusahaan manapun untuk bergabung.
Bahkan, sampai sekarang Jiro tidak ada keinginan untuk menjalin hubungan dengan wanita manapun setelah jalinan cintanya dengan Abel putus di tengah jalan. Kabar terakhri yang Jiro tahu, Abel sudah menikah dengan pria lain di mana tempat ia bertugas.
"Tuan muda, sarapannya sudah siap." Egor membungkukkan badannya sesaat.
"Baik Paman, kita sarapan sama sama." Jiro melangkahkan kakinya menuju meja makan. Di ikuti Egor dari belakang. Mereka duduk bersama menikmati sarapannya. Paman Egor kini sudah tidak muda lagi. Pria itu sudah tua begitu juga Samuel. Jiro memulangkan Samuel untuk hidup tenang bersama Kenzi dan Siena di Indinesia.
Sementara Jiro sendiri memiliki banyak anak buah yang siap siaga menjaganya 24 jam.
"Hari ini pulang malam. Jadi, Paman tidak perlu menungguku." Jiro berdiri setelah sarapannya selesai.
__ADS_1
"Baik tuan muda." Egor ikut berdiri dan membungkuk sesaat. Mengantarkan Jiro sampai teras rumahnya.
Seorang pria menggunakan setelan jas membukakan pintu mobil untuk Jiro. Setelah Jiro duduk di dalam mobil, pria itu kembali menutupnya dan membungkuk sesaat menatap mobil yang membawa Jiro meninggalak rumah. Di ikuti mobil yang mengawalnya menuju gedung yang sudah di sewa oleh salah satu perusahaan lain untuk pertemuan penting dengan Jiro dan beberapa klien lainnya.