The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 77: Rotten


__ADS_3

Goldenfly masih seramai biasanya, suara dentuman musik terdengar dari gedung sebelah. Kenzi berusaha meraih kesadarannya dan mencoba untuk bangun. Matanya melirik ke arah pintu yang terbuka, nampak Samuel berlari ke arahnya di susul beberapa anggota Polisi. Samuel terlihat panik, tangannya memegang pinggang Kenzi membantunya untuk berdiri. "Bos."


Tangan Kenzi mencengkram kuat bahu Samuel, matanya melirik sesaat ke arah Marsya mencoba menyadarkan dua sahabat Siena. Ia tersenyum nanar, gadis itu pasti ketakutan berada di tangan Bos besarnya. Pria itu akan melakukan apa saja jika mereka melukai wanita yang di cintainya. Ia akan berbalik menyerang dan mengacaukan Outfit jika sedikit saja mereka menyakiti Siena. "kita kejar mereka." Kenzi menoleh ke arah Samuel sesaat.


"Tidak bos, sebaiknya lukanya di obati dulu." Mustahil bisa melawan bos besarnya, apalagi keadaan Kenzi terluka parah. Ia tidak akan mampu melindungi dua orang sekaligus, mengingat kejamnya mereka. Samuel memapah langkah Kenzi berjalan tertatih. Sesekali ia mengerang kesakitan tangannya mencengkram kuat bahu Samuel.


"Berhenti!" seru Marsya berdiri di depan mereka berdua, senjata api mengarah ke mereka.


Kenzi tertawa samar, matanya menatap tajam ke arah Marsya. "Apa maumu?' Kenzi terbatuk dan meludah darah ke lantai.


"Kalian harus ikut kami," ucap Marsya menurunkan senjata api kembali menyarungkannya di balik pinggang.


Kenzi menoleh ke arah Samuel, memiringkan wajahnya memberikan kode pada Samuel untuk mengabaikan Marsya dan dua anggota polisi lainnya. Samuel mengangguk sesaat, kembali memapah Kenzi keluar ruangan. Matanya melirik sesaat ke arah Marsya.


Marsya berdiri terpaku menatap mereka berdua lalu memalingkan wajahnya memandang Rei dan Keenan yang telah sadarkan diri, lalu menoleh ke arah Kenzi dan Samuel yang semakin jauh dari ruangan. Ia bergegas menyusul Kenzi dan berdiri di hadapan mereka, senjata api di tempelkan ke pelipis Samuel. "Menyerah dan bekerjasama dengan kami."


Samuel menatap tajam Marsya, ia tidak melakukan perlawanan saat Marsya memerintahkan dua anggota polisi memborgolnya.


Kenzi terhuyung, memegang dadanya. Ia tertawa menyeringai menatap Marsya, lalu beralih menatap Samuel. "Kau tidak perlu khawatir, aku akan membebaskanmu."


Samuel mengangguk cepat, ia percaya pada pria di hadapannya. Meski Kenzi sendiri sekalipun, pria itu tidak pernah takut apapun. Kenzi akan menghancurkan siapapun jika sudah menyangkut orang orang terdekatnya. Kini pria itu dalam ke adaan terluka, Samuel menundukkan kepala sesaat, ia mengikuti langkah dua Polisi yang menggiringnya masuk ke dalam mobil.


Tanpa banyak bicara, Marsya memegang ke dua tangan Kenzi, di bantu salah satu anggota polisi memapah tubuh Kenzi untuk di bawa ke rumah sakit dalam pengawasan pihak polisi.


****

__ADS_1


Tangan Livian mencengkram kerah baju Siena, menyeretnya kesebuah ruang gelap bawah tanah. Ia berusaha memberontak, tapi sia sia, semakin berusaha memberontak semakin kuat cengkraman tangan Livian menyakitinya.


"Apa maumu!" teriak Siena.


Livian tertawa menyeringai, mengambil senjata api di balik pinggangnya, menempelkan di pelipis Siena, perlahan menggerakkan menyisir wajah Siena. "Aku ingin kau mati, termasuk suamimu." Livian menurunkan senjata apinya, kembali menyarungkan di balik pinggang.


"Cuih! Siena menanggapi dingin pernyataannya, ia berusaha melawan rasa takutnya.


Klik.


Mata Siena memperhatikan pematik yang berada di tangan bos besar. Klik klik, bos besar tertawa menyeringai saat ia memainkan tutup pematik. Pria tambun itu menghisap cerutu dalam dalam, menatap sosok gadis di hadapannya dengan tatapan mencemooh.


"Jadi kau sudah menikah?" Livian yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.


Bos besar memalingkan wajahnya menatap Livian. "Jangan kau sakiti gadis ini," ucap Bos besar menatap ke arah Siena, wajahnya menegang.


Livian menautkan kedua alisnya mendengar pernyataan Bos besar. Ia tidak mengerti mengapa bos besar berubah pikiran. "Kenapa?"


Pria tambun itu mengulurkan tangannya mengangkat dagu Siena ke atas. Ia turunkan tangannya kembali memalingkan wajah menatap Livian yang terlihat kesal. Ia menginginkan Kenzi kembali, dan gadis itu yang akan menjadi pancingannya. Jika ia melenyapkan Siena saat ini juga. Kenzi akan berubah menjadi monster, menjadi ancaman untuknya dan juga Outfit.


"Kita dan Outfit membutuhkan Kenzi." Bos besar menepuk pundak Livian. "Mira, bawa gadis itu ke kamar!" Bos besar berdiri, ia jatihkan cerutu ke lantai lalu menginjaknya.


Mira menganggukkan kepala, ia berjalan mendekati Siena yang berdiri terpaku. Ia merangkul bahu Siena, membawanya keluar dari ruangan gelap dan pengap.


Livian mendengus kesal, kecemburuan di hatinya semakin besar. Rasa ingin menguasai Outfit semakin kuat. Ia tersenyum sinis menatap punggung mereka hingga hilang di balik pintu. Livian tertawa menyeringai berkata pelan

__ADS_1


"Sebentar lagi Bos."


***


"Ini kamarmu sekarang," ucap Mira berdiri di depan pintu, memperhatikan punggung Siena yang berada di depannya.


Siena membalik tubuhnya menghadap Mira, "kau siapa?"


Mira menutup pintu kamar, ia tersenyum sinis melirik sesaat ke arah Siena, lalu duduk di tepi tempat tidur. Kakinya di silangkan, "Mira, aku sudah lama di sini."


Siena memperhatikan seluruh sudut ruangan kamar, matanya tertuju pada Mira. Ia memperhatikan Mira dan mengikuti pergerakan tangan Mira, menyalakan rokok dan menghisapnya dalam dalam lalu di hembuskan ke udara.


Mira menurunkan kakinya, ia berdiri menghampiri Siena sebelum bicara, ia hisap rokoknya lalu kembali menghembuskan ke udara. "Sebaiknya kau beristirahat dengan tenang, aku akan menemanimu." Mira tangannya terulur memegang bahu Siena, namun gadis itu ngeloyor mendekati tepi jendela. Mira mengangkat kedua bahu, acuh tak acuh. Menatap punggung gadis itu, memperhatikan halaman mansion yang luas dari kaca jendela.


"Kenzi.." ucapnya lirih. Ia tundukkan kepala, matanya terpejam mengingat kedua sahabatnya. Seharusnya mereka tidak ikut terlibat. Cukup dia saja yang masuk ke dalam dunia hitam, cukup dia saja yang menderita. Tapi tidak dengan dua sahabatnya. Siena membuka mata perlahan, menelan salivanya susah. "Aku tahu kau akan menjemputku Kenzi.." ucap Siena dalam hati.


"Apa kau baik baik saja?"


Siena memalingkan wajah ke belakang, melihat Mira mematikan rokoknya di asbak yang ada di atas meja.


Siena memutar tubuhnya, memperhatikan wanita yang menggunakan pakain seksi duduk di kursi. "Apa kau akan menemaniku seharian, Mira?"


Mira mengangkat bahunya, ia memainkan gelas di atas meja dengan jari tangan. "Tentu Siena, Hidupku akan berakhir jika menolak."


Siena mendengus kasar, kembali memutar tubuhnya menatap ke luar jendela. Ia bisa melihat dari kaca jendela dengan jelas ke bawah. Nampak penjagaan yang begitu ketat di setiap sudut luar mansion yang berukuran cukup luas dan jauh dari pemukiman warga.

__ADS_1


__ADS_2