
Kenzi bereaksi dengan cepat, ia segera fokus melacak arah Livian dan Bos besar. Ujung matanya melirik melihat dua bayangan, dengan sigap Kenzi melompat.
"Dor! Dor!
Tembakan susulan meleset, tetapi kini ia tahu pasti arah tembakan yang harus di lesatkan. Ia hanya melihat dua pria itu, tiada yang lain. Sementara anak buah Livian bagian Samuel dan yang lain untuk menuntaskannya.
Kenzi bersembunyi di balik lemari kayu yang berukuran besar, ia bisa melihat dengan jelas Livian dan Bos besar mengendap hendak melarikan diri. Kenzi langsung berlari dan mengarahkan senjatanya tepat di dada Bos besar, empat peluru bersarang di dada kiri Bos besar menembus jantungnya. Pria tambun itu tersungkur bersimbah darah tak bernyawa lagi. Sementara Livian hanya terkena tembakan di paha dan bahunya saja. Saat Kenzi hendak menghabisi Livian, ia kehabisan peluru.
KLIK KLIK!
Dua kali Kenzi menarik pelatuk, dengab tatapan marah ke arah Livian yang tertawa menyeringai sembari mengerang kesakitan. Ia duduk di lantai tak berdaya, saat Kenzi hendak menghantam Livian dengan balok. Marsya dan anggota kepolisian datang dan mencegah Kenzi untuk menghabisi Livian.
"Cukup Kenzi! sisanya serahkan pada kami!" seru Marsya mengarahkan senjata api pada Livian. Tentu saja Livian lebih senang di tangkap Polisi. Ia tertawa sama sekali tidak memperlihatkan wajah ketakutan. Dengan sangat geram, di depan Marsya. Kenzi menendang dan memukul wajah Livian hingga babak belur. Namun Marsya dan dua polisi langsung menarik tubuh Kenzi untuk menjauh dari Livian.
***
Di luar bangunan, pihak kepolisian langsung membereskan anak buah Livian yang terluka ataupun meninggal lalu di angkut menggunakan mobil polisi bersama barang bukti. Sementara jasad Bos besar menggunakan mobil lain.
Kenzi memeluk erat tubuh Siena, pakaian yang Siena kenakan ikut basah terkena noda daeah di tubuh Kenzi. Berkali kali Kenzi mencium puncak kepala Siena. Hari hari kelam telah berakhir, meski ia terluka parah namun melihat Siena selamat itu lebih utama.
"Seharusnya kau sudah ada di Indonesia," ucap Kenzi menatap kedua bola mata Siena.
Siena hanya mengangkat kedua bahunya, "aku tidak bisa pergi tanpamu." Kenzi tertawa kecil lalu mencium keningnya.
"Papa senang kita semua selamat," ucap Surya dari arah belakang.
Kenzi dan Siena menoleh ke arah Surya lalu mereka memeluk Surya cukup lama. Betapa bahagianya mereka, telah selamat dari kematian. Sementara Samuel dan yang lain tersenyum lalu mereka berpelukan.
"Hahahahaha!"
__ADS_1
Kenzi dan yang lain menoleh ke arah suara, melihat Livian tengah di berdiri di antara marsya dan polisi lainnya dengan kedua tangan di borgol di depan.
Kenzi tersenyum sinis, menatap Livian. "Tertawalah Livian, kau akan mati membusuk di penjara!"
Livian menghentikan tawanya, ia mendengus geram menatap ke arah Kenzi dan Siena yang berada di samping Kenzi. "Ayo jalan!" bentak Marsya pada Livian.
Kenzi menghela napas panjang, lalu ia menoleh ke arah Siena dan yang lain. "Kita pulang." Siena dan yang lain menganggukkan kepala, mereka balik badan melangkahkan kakinya.
"Kenzi! terima kasih!" seru Marsya.
Kenzi dan Siena menoleh sesaat, menganggukkan kepala. Kemudian kembali melangkahkan kakinya. Tapi Siena menoleh lagi ke belakang untuk memastikan para gangster sudah meninggalkan bangunan dengan selamat tanpa di ketahui pihak kepolisian.
Lalu dua anggota polisi menggiring Livian ke arah mobil Polisi untuk di angkut. Namun di sela langkahnya ia merebut senjata api di balik pinggang salah satu Polisi dan balik badan mengarahkan senjata apinya pada Kenzi.
Siena yang melihat Livian mengarahkan senjata apinya pada Kenzi dengan sigap ia mendorong tubuh Kenzi ke samping hingga terhuyung beberapa langkah.
"DORR!"
"Sienaaa!! jerit Kenzi memeluk tubuh Siena.
Bibirnya gemetar, air matanya turun saling berburu. " Tidak Siena! jangan ttinggalkan aku!"
Surya dan yang lain terpaku di tempatnya. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat baru saja. Surya tubuhnya gemetar, dan kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Ia menjatuhkan diri terduduk di hadapan tubuh Siena yang ada dalam pangkuan Kenzi. Waktu serasa berhenti berputar, untuk menelan ludahpun terasa mencekik leher mereka.
"Putriku.." ucap Surya lirih.
"Sayang bangun sayang!" pekik Kenzi, ia memalingkan wajahnya menatap marah pada Livian yang tengah memberontak di tangan Polisi untuk melepaskan diri. Dengan cepat Kenzi berlari ke arah Livian. Dengan membabi buta, ia menghantam, menendang dan membenturkan kepala Livian ke kaca mobil polisi hingga tak mampu melawan lagi.
Marsya dan dua Polisi memukul punggung Kenzi supaya melepaskan Livian.
__ADS_1
Namun Kenzi sama sekali tidak ingin melepaskan Livian. Hingga terdengar suara teriakan Surya.
"Putriku masih hidup! putriku masih hidup!"
Kenzi menoleh ke arah Surya yang menggendong tubuh Siena di masukkan ke dalam mobil. Kenzi berlari mendekatinya dan masuk ke dalam mobil "Siena?" ia menatap jari jemari Siena yang bergerak perlahan
Surya menepuk pundak Kenzi, "tenang Nak..tenang..putriku bukan gadis lemah, dia tangguh..kau lihat bukan?" Surya tertawa samar, dengan berlinangan air mata.
Kenzi memeluk tubuh Siena dan terisak, "bertahanlah sayang..bertahan..kita akan segera pulang."
***
Sesampainya di rumah sakit, Kenzi langsung menggendong tubuh Siena ke dalam ruang UGD. Dokter meminta Kenzi untuk menunggunya di luar ruangan.
"Tidak Dok, dia istriku! aku harus berada di sampingnya! Kenzi menolak keluar ruangan saat dua perawat memaksa Kenzi untuk keluat ruangan.
"Maaf tuan, anda silahkan tunggu di luar." Salah satu perawat, akhirnya menyeret tubuh Kenzi keluar.
Akhirnya Kenzi menurut saat dua perawat menyeretnya paksa. Ia menunggu di luar ruangan bersama yang lain.
"Tenanglah, Siena pasti baik baik saja." Surya menepuk pelan pundak Kenzi, mencoba untuk menenangkannya.
"Sayang, bertahanlah.." ucap Kenzi, tatapan lurus ke depan menatap pintu ruangan. Bagaimana dia bisa tenang, saat melihat wanita yang ia cintai berada di dalam ruang operasi. Selama ini Kenzi sangat berhati hati dalam bertindak, ia tidak ingin membuat Siena terluka apalagi menangis. Dia tidak akan sanggup. Kenzi menggigit bibir bawahnya, menundukkan kepala, tak terasa air mata mulai merembes.
"Seharusnya aku yang melindungimu, bukan sebaliknya." Tangannya memukul dinding tembok ruangan dengan keras.
"Bodoh! Bodoh! ia terus merutuki dirinya. Surya menarik tangan Kenzi untuk tidak melukainya, lalu memeluk tubuhnya dengan erat. Takut? ya, mereka berdua tengah berada dalam ketakutan yang paling dalam. Takut kehilangan wanita yang mereka cintai.
Sampai akhirnya Marsya datang menemui Kenzi dan memintanya untuk di obati terlebih dahulu. Karena pihak Kepolisian masih membutuhkan kesaksian Kenzi. Awalnya ia menolak untuk di obati karena tidak mau kehilangan waktu satu detikpun untuk tetap di sana menunggu kabar tentang Siena.
__ADS_1
Namun berkat bujukan Surya yang meyakinkan bahwa Siena akan baik baik saja, akhirnya Kenzi menuruti permintaan Surya untuk mendapatkan pemgobatan terlebih dahulu. Surya duduk di kursi ruangan sendirian. Ia menangkup wajahnya menyembunyikan air mata yang terus mengalir.
"Maafkan Papa sayang, Papa tidak bisa melindungimu," ucapnya lirih.