
Dia duduk termenung di kamar menghadap sebuah cermin. Menatap kosong pantulan wajahnya. Siena tidak tahu lagi harus bagaimana, dia sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang dia hadapi.
Kehidupannya, hari harinya bersama keluarga yang selama ini ia jaga, ia kasihi. Berubah menjadi lebih buruk dari yang sudah lalu. Tidak ada yang bisa menjamin esok lebih baik atau masa lalu lebih buruk dari masa sekarang. Yang wanita itu inginkan saat ini adalah, mengakhiri semuanya hidup atau mati. Meski nyawa taruhannya, ia harus bisa mengeluarkan kedua putranya dari bayang bayang masa lalu Kenzi.
"Gubrakkk!!
Lamunan Siena buyar, saat dua orang pria mendorong keras pintu. Mata Siena beralih menatap Adelfo yang tersungkur di lantai lalu bangun.
" Apa yang terjadi?" Siena berdiri menghampiri Adelfo. Keduanya menatap dua pria tersebut. Lalu beralih menatap Kenzi yang baru saja datang memasuki ruangan.
"Cukup, sisanya biar aku urus. Kalian pergi dari sini!" perintah Kenzi pada dua pria itu.
"Baik bos!" jawab mereka serempak, lalu meninggalkan ruangan.
Adelfo dan Siena menatap tajam Kenzi dengan raut wajah bingung. "Kenzi, aku harap kau hanya sebatas pura pura."
"Sayang, kau tidak akan membunuhku bukan?" tanya Siena menatap Kenzi yang perlahan berjalan mendekati mereka.
Namun Kenzi tetap diam, tangannya terulur menangkup wajah Siena. Membuat wanita itu berjengkit kaget.
"Grep!"
Kenzi memeluk Siena erat, lalu mencium puncak kepalanya dengan dalam.
"Sayang, dengarkan aku baik baik."
"Syukurlah, kau sebatas sandiwara." Adelfo mengusap wajahnya pelan.
"Mengapa kau bersandiwara?" tanya Siena penasaran dengan apa yang di lakukan Kenzi.
"Dengar, dengarkan aku baik baik."
Kenzi menarik tangan Siena dan Adelfo supaya menjauh dari pintu ruangan.
"Sayang, ada apa?" tanyanya lagi.
Kenzi menghela napas panjang, menatap wajah istrinya.
__ADS_1
"Kalian harus pergi dari sini secepatnya, kau bawa putra kita pulang ke Indonesia."
Siena menautkan kedua alisnya menatap Kenzi. "Tapi kenapa? lalu kau sendiri?" tanyanya.
"Sayang, aku tidak punya banyak waktu. Yang terpenting sekarang bukan lagi memikirkan tentang kau atau aku. Tapi tentang putra kita, Ryu. Kau harus secepatnya meninggalkan kota ini dan bawa kedua putra kita sejauh mungkin."
"Tapi kenapa? beri aku alasan?" Siena semakin tidak mengerti dengan apa yang di katakan Kenzi.
Kenzi menundukkan kepala sesaat, rasanya ia juga berat harus berpisah dengan kedua putra dan istrinya. Namun apa yang di kerjakan Kenzi bukanlah main main. Bukan hanya tentang nyawa keluarhanya, tapi ada banyak nyawa yang harus Kenzi selamatkan dari senjata yang hampir selesai mereka kerjakan. Dan rencananya, Kenzi akan membawa senjata itu di dalam pesawat yang membawa penumpang. Itu rencana yang Kenzi dengar dari mereka.
"Tidak, aku tidak akan pergi tanpamu!" sahut Siena menepis tangan Kenzi.
"Sayang, apa kau tidak memikirkan putra kita? jika kita mati bersama. Bagaimana dengan putra kita yang masih membutuhkanmu?" Kenzi menangkup wajah Siena dan terus meyakinkannya, bahwa harta berharga yang mereka saat ini adalah kedua putranya. Kenzi akan melakukan apa saja demi kedua putranya, apalagi mereka berniat menculik Ryu untuk di jadikan aset mereka untuk membuat berbagai senjata.
"Pergilah, dan ikuti semua kata kataku. Untuk yang terakhir kalinya. Aku mohon pengertianmu, sayang." Kenzi memeluk erat Siena.
Sementara Adelfo menundukkan kepalanya. Seumur hidup dia, hanya di habiskan untuk mencari kekuasaan dan harta. Untuk pertama kalinya dia terlibat dalam masalah serius yang menyangkut nyawa orang banyak. Perasaannya tersentuh dengan apa yang di lakukan Kenzi. Pengorbanan seorang Ayah sekaligus suami untuk keluarganya. Tidak hanya itu, Kenzi akan melakukan hal besar demi kemanusiaan meski nyawanya jadi taruhan.
"Apa yang bisa aku bantu?" Adelfo menatap kagum pada Kenzi.
"Baik, aku akan mengantar mereka pulang. Aku pastikan mereka selamat. Dan tidak akan kubiarkan siapapun melukai mereka. Kau bisa pegang janjiku." Tangan Adelfo menepuk pundak Kenzi sekilas.
"Aku percaya padamu." Kenzi menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak bisa!" Siena mendorong tubuh Kenzi, matanya berkaca kaca menatap pria yang sudah menjadi bagian dari dirinya.
"Sayang..aku mohon." Kenzi merentangkan kedua tangannya. Menganggukkan kepala menatap Siena. Menunggu wanita itu datang memeluknya.
"Tidak!" Siena menggelengkan kepalanya. Ia masih bersikeras untuk tetap bersama Kenzi hidup atau mati.
"Ayolah sayang, kau hidup dan matiku. Tapi nyawa putra kita lebih penting dari apapun. Aku sangat mencintaimu lebih dari apapun. Susah senang sudah kita lewati bersama. Kau yang terbaik."
"Kemarilah sayang, peluk aku.." Kenzi menganggukkan kepalanya menatap Siena yang perlahan berjalan mendekatinya, lalu menubruk tubuh Kenzi dan memeluknya erat. Wanita itu membenamkan wajahnya di dada Kenzi sembari menangis pelan.
"Jangan menangis, kau istriku. Kau ratuku, kau segalanya."
"Jangan katakan apapun lagi sayang, aku tunggu kau di rumah. Berjanjilah padaku.." ucap Siena lirih.
__ADS_1
"Aku berjanji sayang, aku pasti kembali."
Kenzi melepas pelukan Siena. Mencium keningnya dengan dalam.
"I love you."
"Kenzi!"
Kenzi buru buru mendoron tubuh Siena, saat suara Hernet terdengar lantang di ambang pintu. Lalu ia mencengkram kerah baju Adelfo dengan kasar.
"Tenang, aku urus mereka. Dan kupastikan, mereka tidak akan melihat hari esok lagi."
"Kau curang! bentak Adelfo pada Kenzi. " Setelah mendapatkan uangku, kau mau membunuhku?"
Kenzi tertawa lebar, "kau pikir, aku akan menjadikanmu saudara?" Kenzi menyeret paksa Adelfo dan menarik tangan Siena menghadap Hernet.
"Siapkan mobil, aku sendiri yang akan melenyapkan mereka berdua." Kenzi tertawa lebar, lalu mendorong tubuh Adelfo dan Siena ke lantai. Hingga mereka berdua tersungkur dan duduk di lantai.
"Bagus, kau harus membereskan mereka dengan cepat. Kita hanya punya waktu sehari lagi." Selesai bicara seperti itu, Hernet langsung balik badan meninggalkan ruangan.
Sepeninggal Hernet, buru buru Kenzi mengangkat tubuh Siena untuk berdiri.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku." Kenzi memeluk Siena sekilas.
"Sayang, putra kita ada di laboratorium."
"Aku sudah tahu, kau tenang saja. Mereka aman, mungkin saat ini mereka sudah menunggu kalian."
Kenzi memberitahu Siena. Kalau ia bertemu dengan Ryu dan yang lain di ruang laboratorium. Ryu berhasil mengurangi daya ledak senjata masal itu dengan memusnahkan sebagian antimateri.
"Kalau begitu, kita harus segera pergi dari sini," sela Adelfo.
"Apapun yang kulakukan padamu, ikuti saja perintahku." Kenzi tersenyum miring menatap sudut bibir Adelfo yang lebam akibat pukulannya.
"Hah, tapi kau keterlaluan, memukul wajahku dengan cukup keras," sungut Adelfo mengusap bibirnya.
Kenzi tertawa kecil, lalu beralih memeluk Siena lagi. "Ayo sayang, aku tahu kau kuat dan mampu melewati ini semua meski tanpa aku."
__ADS_1