The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: vendetta and love


__ADS_3

Setelah mendengarkan kisah perjalanan hidup kedua orangtuanya. Ryu lebih banyak diam tidak seperti biasanya. Sudah dua hari anak itu tidak pernah keluar rumah, bahkan ke kampus pun sudah tidak mau lagi. Dua hari itu, ia habiskan di dalam kamar. Membuat Kenzi bingung, tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membujuk anak itu.


Pagi pagi sekali, Kenzi bersiap siap untuk ke kantor. Hari ini ia ada pertemuan penting dengan beberapa pemegang saham. Jiro ikut serta mewakili perusahaan Izanagi yang di kelola olehnya.


"Sayang, aku pergi dulu. Kau awasi putra kita. Jangan biarkan dia di kamar terus. Aku khawatir nanti dia sakit."


Siena menganggukkan kepala, tersenyum tipis. Tangannya membenarkan dasi yang Kenzi kenakan. "Aku akan berusaha untuk membujuknya. Sekarang kau pergilah, jangan terlalu sore pulangnya."


Kenzi memajukan wajahnya mencium bibir Siena sekilas. "Aku tahu sayang, kau pasti merindukanku, bukan?"


Mata Siena membulat, menatap horor Kenzi. "Jangan menggodaku, masih pagi."


Kenzi tertawa kecil, melihat Siena cemberut. "Aku pergi dulu."


Siena mengangguk lagi, menatap punggung suaminya. "Hati hati di jalan!"


Kenzi menoleh sekilas, lalu kembali melangkahkan kakinya.


Sementara Siena kembali ke dapur hendak membuatkan sarapan untuk Ryu. Dua puluh menit berlalu, akhirnya Siena telah selesai membuatkan sarapan untuk Ryu.


"Ibu buatkan makanan kesukaanmu, Nak."


Wanita itu melangkahkan kakinya menuju kamar putranya, langkahnya terhenti di depan pintu kamar. Mengetuk pintu dua kali lalu membuka pintu kamar Ryu yang memang tidak pernah di kunci.


"Sayang, Ibu bawakan makanan kesukaanmu."


Siena berdiri terpaku, menatap tempat tidur Ryu yang berantakan. Lalu matanya beralih menatap pintu balkon yang terbuka. Siena meletakkan nampan di atas meja. Lalu berjalan menuju kamar mandi yang terbuka.


"Nak, kau di mana?"


Kedua alis Siena saling bertaut, ia sama sekali tidak mendapati Ryu di kamar mandi. Lalu ia bergegas menuju balkon. Betapa terkejutnya Siena. Melihat sprei yang terikat di tiang menjulang ke bawah.


"Ryu!"


Siena menundukkan kepala menatap ke bawah. "Anak itu kabur dari rumah. Tapi mau kemana dia? Zoya?"


Mata Siena melebar, lalu ia bergegas berlari menemui Samuel.


"Ryu kabur dari rumah, kita susul dia sekarang. Aku yakin anak itu menemui Zoya."

__ADS_1


"Baik!" sahut Samuel bergegas keluar rumah di ikuti Siena dari belakang. Mereka memutuskan untuk ke rumah Zoya. Sepanjang jalan, Siena mencoba menghubungi Kenzi tapi tidak di angkat.


"Mungkin dia sibuk."


***


Sementara Ryu, hatinya telah patah setelah mendengar penjelasan Jiro, kalau Zoya tidak mencintainya. Ryu berniat menemui Zoya untuk memastikan kalau ucapan Jiro itu salah. Namun sesampainya di depan gerbang rumah Zoya. Salah satu penjaga gerbang mengatakan jika Zoya tengah pergi bersama Kanaye dan Adelfo.


Hati Ryu semakin terbakar cemburu mendengar nama Kanaye. Ia bergegas menyusul Zoya sesuai informasi penjaga rumah Zoya. Entah benar atau tidaknya informasi itu. Ryu tetap pergi ke tempat yang di katakan penjaga tadi. Tanpa memikirkan apa apa lagi.


Sesampainya di lokasi, ternyata benar. Zoya tengah bergandengan tangan bersama Kanaye di halaman restoran bersama Ayahnya. Ryu langsung turun dari atas motor menghampiri mereka. Tangan Ryu menarik bahu Kanaye hinggu mundur kebelakang. Zoya terkejut melihat ke datangan Ryu. Sementara Adelfo terlihat santai dan membiarkan mereka bertengkar.


Sementara tak jauh dari tempat mereka bertengkat, seorang gadis tunawisma tengah merekam kejadian tersebut, menggunakan ponselnya.


"Zoya, apa maksud dari semua ini!" pekik Ryu sudah terbakar cemburu.


"Apa maksudmu? memangnya kau siapa aku? berani berani melarangku. Aku mau jalan dengan siapa bukan urusanmu." Kata kata Zoya menusuk hati Ryu. Membuat anak itu semakin marah.


"Lalu? selama ini kedekatan kita kau anggap apa?" tanya Ryu menatap tajam Zoya, sementara Kanaye hanya diam memperhatikan tersenyum mencemooh.


"Kau hanya sahabatku, tidak lebih!" seru Zoya.


"Aku pikir, hubungan kita istimewa. Ternyata apa yang di katakan Kakakku benar." Ryu berjalan satu langkah mendekati Zoya dan mencengkram tangan gadis itu, hingga mengerang kesakitan.


"Benar kata Ibuku, benar kata kakakku. Dasar gadis murahan!"


Mendengar kata kata Ryu yang merendahkan Zoya, membuat Kanaye marah. Ia hendak maju namun Adelfo menarik tangan Kanaye lalu memberikan sebilah belati pada Kanaye.


"Kalau kau mencintai Zoya, beri pelajaran anak itu."


Kanaye menganggukkan kepalanya, lalu ia berjalan mendekati Ryu. Menyadari Kanaye hendak menyerangnya. Ryu melepaskan tangan Zoya lalu menangis serangan pisau dari tangan Kanaye. Rebutan belati pun terjadi. Mereka saling dorong, dan saling mencengkram kuat tangan Kanaye yang memegang belati. Adelfo hanya menyaksikan pertunjukan itu tanpa ingin melerainya.


Pada saat bersamaan Kenzi dan Jiro melintas di lokasi kejadian. Mereka langsung keluar dari pintu mobil. Berlari ke arah Ryu dan Kanaye. Dari arah lain Siena dan Samuel baru saja datang langsung berlari menyusul Kenzi.


"Ryu hentikan!" jerit Siena.


Melihat kedatangan orangtuanya, Ryu langsung mendorong tubuh Kanaye hingga mundur menabrak Adelfo. Namun tiba tiba tanpa ada yang melihat kejadian itu. Kanaye kembali terhuyung ke belakang menubruk tubuh Ryu dengan belati sudah tertancap di perut Kanaye. Tiba tiba saja Adelfo berteriak paling lantang menuduh Ryu telah membunuh Kanaye.


"Dasar pembunuh!"

__ADS_1


Kenzi dan Siena terpaku sesaat melihat Ryu memegang belati di perut Kanaye yang ambruk. Ryu menggelengkan kepala, lalu berdiri menatap Kenzi dan Siena.


"Bukan aku Bu, bukan aku. Aku tidak melakukannya."


"Kau pembunuh!" seru Adelfo.


"Aku bukan pembunuh! pekik Ryu histeris, ia mulai panik. Jiro yang sedari tadi terpaku memeluk Ryu untuk menenangkannya.


Entah datang dari mana, dan siapa yang menghubungi Polisi. Tiba tiba saja mobil Polisi yang berpatroli menghampiri mereka dan mengarahkan senjatanya.


Adelfo yang sedari tadi tersenyum, tiba tiba berpura pura menjadi korban. " Tangkap anak itu, dia membunuh Kanaye!


Polisi mengarahkan senjatanya pada Ryu namun Kenzi maju selangkah mengambil belati yang tergeletak di samping Kanaye.


"Aku yang membunuhnya." Kenzi mengangkat kedua tangannya dengan belati yang di penuhi darah di tangannya.


"Sayang.." ucap Siena lirih menatap Kenzi.


Kenzi hanya menganggukkan kepalanya menatap Siena dan memberikan kode untuk membawa pulang kedua putranya.


Sementara kedua Polisi itu langsung menangkap dan memborgol Kenzi. Tempat itu menjadi ramai di tonton orang, para awak media berdatangan meliput kejadian itu. Sementara gadis yang tadi merekam kejadian sampai selesai keluar dari persembunyian saat melihat Jiro mendatanginya. Gadis itu berlari, tapi Jiro mengejarnya. Ia tahu kalau gadis itu menyaksikan dan mengetahui siapa yang membunuh Kanaye. Namun Jiro tidak berhasil mengejar gadis itu yang hilang entah kemana. Beruntung Jiro bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu.


"Sial, kemana gadis itu. Aku harus menemukannya. Dia satu satunya bukti untuk membebaskan Ayah," gumam Jiro. Lalu ia kembali menemui Siena dan Ryu.


Sementara Kenzi di bawa ke kantor Polisi, jasad Kanaye di bawa kerumah sakit menggunakan ambulance. Zoya ikut ke rumah sakit. Senentara Adelfo ikut ke kantor Polisi untuk memberikan keterangan yang akan memberatkan Kenzi. Siapa yang tidak kenal dengan Kanaye, putra salah satu orang no satu di kota itu.


Siena dan yang lain pun di bawa ke kantor polisi untuk di mintai keterangan, namun apa yang di katakan Siena dan yang lain tidak berpengaruh.


Setelah selesai di mintai keterangan, Kenzi meminta Siena untuk pulang membawa putranya. Sesampainya di rumah Siena hanya diam menatap tajam putranya.


"Ibu tidak tahu, apa Ibu harus marah padamj atau tidak. Ibu juga tidak tahu, apa Ibu harus bersyukur memiliki putra sepertimu, atau Ibu harus menyesalinya seumur hidup karena telah melahirkan putra sepertimu!" pekik Siena marah, dengan derai air mata menatap Ryu.


Ryu langsung bersimpuh di kaki Siena, dan memeluk kedua kaki ibunya. "Maafkan aku, Bu.." ucapnya lirih. "Percayalah, aku tidak bermaksud seperti itu."


Siena mundur dua langkah menjauh dari Ryu yang tengah bersimpuh. "Maaf? menyesal? lebih baim kau masuk kamar. Dan pikirkan kesalahanmu sendiri. Sebelum Ibu menyesal telah melahirkanmu!"


"Ibu.." Ryu tengadahkan wajahnya menatap Siena yang pergi menjauh masuk ke kamarnya. Sementara Samuel hanya diam tidak tahu harus berbuat apa.


Jiro maju mendekati Ryu dan mengangkat tubuh Ryu untuk berdiri lalu memeluknya. "Tenanglah, Ibu sayangimu. Ibu hanya sedang marah."

__ADS_1


"Maafkan aku kak.." Ryu terisak menangis di pelukan Jiro.


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Ayah tenanglah, aku akan membebaskanmu," ucap Ryu dalam hati. Ia memutuskan akan mencari gadis itu sampai dapat. Bagaimanapun caranya.


__ADS_2