The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 48: Ancaman


__ADS_3

Hana duduk termenung di kursi teras rumah, ia di temani Keenan dan juga Rei. Mereka tengah memikirkan bagaimana caranya membebaskan Siena. Lamunan mereka buyar, saat dua mobil Alphard memasuki halaman rumah Hana.


Hana dan yang lain berdiri menatap ke arah halaman. Nampak lima pria berjas hitam keluar dari pintu mobil.


"Kenzi.." ucap Hana.


Hana dan yang lain berjalan menghampiri Kenzi yang tersenyum dingin menatap Hana dan yang lain.


"Selamat pagi Nyonya Hana." Kenzi berdiri menatap Hana dan yang lain bergantian.


"Tidak perlu kau berbasa basi, Kenzi," sela Rei menatap geram Kenzi.


Kenzi mengalihkan pandangan pada Rei, ia tertawa kecil sambil menundukkan kepala sesaat. "Baik, rupanya kau sudah tidak sabar untuk membebaskan my doll."


"Kau!" Keenan geram tiap kali Kenzi menyebut Siena 'my doll'. "Katakan cepat!"


Adrian maju selangkah sejajar dengan Kenzi, ia memberikan sebuah paket berukuran sedang pada Kenzi. Ia kemudian mundur ke belakang.


Kenzi tersenyum miring menatap Rei dan yang lain. Tangannya terulur memberikan paket itu pada Rei.


"Apa ini?" tanya Rei mengambil paket di tangan Kenzi.


"Kau tidak perlu tahu," ucap Kenzi. "Yang perlu kau lakukan adalah antarkan barang ini pada seseorang."


"Siapa?" tanya Keenan.


"Crips, mereka menunggu kalian di club Dragon Night pukul 22:30."


"Crips??!" mata Rei terbelalak saat Kenzi menyebutkan nama sindikat paling berbahaya dan kejam. "Apa kau gila!"


Kenzi tertawa, "kau harus kembali dengan membawa uang yang di berikan mereka padaku tepat pukul 01:30. Jika kau terlambat satu menit saja..maka.."


"Apa?!" potong Hana.


"Putrimu akan kulelang dengan harga fantastis." Kenzi tertawa kecil sembari mengusap dagunya sendiri.


"Kurang ajar!" Keenan maju selangkah mencengkram kerah baju Kenzi. Namun dua pengawal di belakang Kenzi langsung maju dan menarik baju Keenan mundur ke belakang.


"Aku harap kalian tepat waktu," ucap Kenzi, ia balik badan melangkahkan kakinya.


"Kenzi! apa tidak ada cara lain!" seru Hana.


Kenzi menghentikan langkahnya sesaat, dan kembali melangkahkan kakinya tanpa menggubris pertanyaan Hana. Ia kembali masuk ke dalam mobil di ikuti para pengawalnya meninggalkan rumah Hana.

__ADS_1


Hana mundur ke belakang, ia duduk dengan tubuh gemetar. "Siena..maafkan mama.." ucapnya lirih.


"Tante jangan sedih, aku akan melakukan apa saja demi Siena," ucap Rei mengusap punggung Hana.


"Tapi Rei..itu sangat membahayakan nyawamu, nak.." Hana menatap Rei dengan derai air mata.


"Aku tahu tante..tapi tidak ada jalan lain selain menuruti permintaan Kenzi, demi Siena tante.." Rei menundukkan kepala.


"Tapi sampai kapan?! dia terlalu licik juga berbahaya Rei, bisa saja bukan? dia melenyapkan kita kapan saja? apalagi dia meminta kita menemui manusia paling berbahaya," sela Keenan geram.


"Aku bisa membantu kalian!"


Hana dan yang lain menoleh ke arah suara, nampak seorang wanita berdiri tersenyum menatap Hana. "Marsya?!! pekik Hana.


Hana langsung berdiri dan memeluk Marsya erat. " Kapan kau datang ke Indonesia sayang."


Marsya mengusap punggung Hana, "kemarin sore tante, aku sengaja tidak mengabari tante buat surprise."


Hana melepaskan pelukannya, ia memperhatikan Marsya dari atas sampai bawah. Marsya yang menggunakan kaos oblong di padukan dengan celana jeans pendek selaras dengan perawakannya yang tinggi semampai. "Kau tambah cantik saja sayang..oya Rei..Keenan..kenalkan ini Marsya." ucap Hana. "Dia putri temen tante waktu di Hongkong, tapi..dia asli dari Indinesia." ungkap Hana.


Rei berdiri mengulurkan tangan menjabat tangan Marsya. "Rei.."


Marsya mengangguk sesaat, "Marsya."


Marsya menganggukkan kepala, " oke..Keenan."


"Silahkan duduk." Hana mempersilahkan Marsya untuk duduk di kursi.


"Tante, aku sudah tahu permasalahan tante dari ma ma," ucap Marsya.


"Iya sayang, tante sering cerita sama mama kamu."


"Maaf sebelumnya, tadi aku sudah mendengar percakapan kalian dengan pria yang bernama Kenzi, dan malam ini kalian hendak menemui sindikat mafia Crips bukan?" tanya Marsya


Rei menganggukkan kepala, "ya kau benar."


"Mereka licik dan kejam, tidak segan mereka membunuh dan berbuat curang. Aku bisa bantu kamu Rei." Marsya menatap Rei.


"Caranya?" tanya Rei.


Marsya menghela napas dalam dalam. "Sedikit banyak aku tahu tentang sindikat itu, dan kebetulan aku memiliki teman yang bisa di andalkan untuk membantu kalian jika mereka berbuat curang," jelas Marsya.


"Boleh.." sela Keenan.

__ADS_1


"Aku juga ikut bersama kalian nanti malam." Marsya menatap Rei dan Keenan bergantian.


"Tapi ini berbahaya." Keenan tidak setuju.


Marsya tertawa kecil, "kalian tidak perlu khawatir, aku tidak akan merepotkan kalian nantinya."


"Terserah kau, bagaiamana tante?" tanya Rei menatap Hana.


"Tante percaya kepada Marsya, tante sudah tahu dia itu siapa.." ucap Hana.


"Baiklah, kalau begitu kita akan menyusun strateginya." Rei menggeser kursinya duduk lebih dekat dengan Marsya.


"Sementara kalian diskusi, tante siapakan makan dulu ya."


Marsya dan lain menganggukkan kepala, "iya tante," ucap Rei.


****


Sementara itu di tempat lain, Siena tengah meringkuk di sudut kamar. Ia menangis saat Kenzi menakut nakuti Siena dengan senjata api.


"Jika kau tidak menuruti perintahku, maka nyawamu dan ibumu jadi taruhannya," ucap Kenzi.


"Jangan kau ganggu ibuku!" seru Siena langsung berdiri dan mendorong tubuh Kenzi sekuat tenaga.


Kenzi mundur selangkah kebelakang menatap Siena. Matanya sembab, rambutnya berantakan. Kenzi berjalan lebih dekat ke arah Siena. Tangannya terulur menarik rambut Siena kebelakang, "hapus air matamu Siena, kau harus tampil canti dan seksi nanti malam." Kenzi membenarkan rambut Siena yang menghalangi wajahnya. Ia tatap dalam dalam bola mata Siena, bulu mata yang lentik basah oleh ait mata membuat Kenzi mendekatkan wajahnya dan mencium kedua bola mata Siena.


Terasa asin di lidahnya, ia mengusap bibirnya. "Diamlah, aku mulai bosan mendengar tangisanmu Siena."


"Kalau kau bosan, lepaskan aku!" balas Siena menatap tajam Kenzi.


Kenzi tertawa kecil, ia berbisik di telinga Siena. "you..my doll"


"Menjauh dariku!" Siena mendorong tubuh Kenzi lagi, namun kali ini tidak berpengaruh apa apa. Kenzi menarik kemeja yang Siena kenakan hingga kancingnya terlepas.


"Apa yang akan kau lakukan!" pekik Siena menarik kemejanya yang sobek di tarik Kenzi.


Kenzi tidak memperdulikan teriakan Siena, ia terus merobek kemeja Siena hingga terlepas dari tubuhnya. Siena menyilangkan kedua tangannya menutupi dadanya yang terbuka.


"Kurang ajar!" Siena melayangkan tangan kananya hendak menampar wajah Kenzi.


Namun tangannya di cekal oleh Kenzi, ia tatap wajah Siena dengan tatapan dingin. "Aku bisa melakukan apa saja terhadapmu Siena, bahkan hidup dan matimu ada di tanganku. Aku harap kau tidak berulah, cukup diam dan turuti perintahku, kau paham?!"


Kenzi menurunkan tangan Siena, ia mengecup pelan pipi Siena. "Bersihkan badanmu, aku tunggu kau dalam lima belas menit di meja makan." Kenzi berlalu meninggalkan Siena yang terduduk di sudut ruangan. Ia mendekap kedua kaki dan menundukkan kepala.

__ADS_1


"Mama.." ucapnya pelan.


__ADS_2