The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 116: tempest


__ADS_3

"Sayang, kau sudah pulang?" tanya Siena bangun dari tidurnya.


Kenzi berjalan mendekati Siena dan duduk di tepi tempat tidur, ia melonggarkan dasinya lalu membuka jas yang ia kenakan dan melemparkannya sembarangan ke atas tempat tidur. Ia membaringkan tubuhnya dengan menutup wajahnya dengan lengannya sendiri, sementara pertanyaan Siena ia abaikan. Sepulang dari kantor Polisi ia berbicara dengan Yu, dan semua ucapan Yu sangat mengganggu pikirannya. Terlebih apa yang di katakan Yu benar adanya. Jika Livian hanya ingin merebut Siena dari tangan Kenzi. Hatinya panas terbakar cemburu meskipun ia tahu kalau Siena tidak mungkin tertarik pada Livian. Hatinya menggeram kesal, lebih baik berperang dari pada perang batin dan itu menguras pikirannya.


Siena menghela napas dalam, tangannya menurunkan lengan Kenzi. "Ada apa?" tanya Siena pelan menatap wajah Kenzi.


"Jangan ganggu aku!" Kenzi merubah posisi tidurnya membelakangi Siena.


Kedua alis Siena bertaut memperhatikan sikap Kenzi sedikit lebih kasar. "Kau kenapa? apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Siena semakin penasaran. Sejak pria di sampingnya menikahinya, tidak pernah lagi berlaku kasar pada Siena. Sikap Kenzi hari ini membuat Siena tidak nyaman. Ia terus berusaha mengajak bicara Kenzi supaya terbuka seperti yang dia lakukan sebelumnya.


Kenzi mulai risih dengan Siena yang terus mendesaknya, ia bangun dari tidurnya dan menepis tangan Siena dengan kasar. "Aku bilang jangan ganggu!" bentak Kenzi menatap tajam Siena.


"Deg!" hati Siena terasa sakit dengan sikap Kenzi yang tiba tiba berubah.


"Aku hanya bertanya, kenapa kau harus membentakku? di mana Kenziku dulu?" air mata Siena perlahan turun membasahi pipinya.


"Kau tidak suka? kau mau cari penggantiku? lakukan jika itu maumu?!" tiba tiba saja Kenzi berucap seperti itu bagai ribuan jarum menusuk ke dalam dada Siena. Dengan air mata berlinang Siena menganggukkan kepala lalu turun dari atas tempat tidur berdiri menatap marah pada Kenzi.


"Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi kau tidak perlu meragukan kesetiaanku! pekik Siena. Kenzi terdiam menatap air mata Siena yang semakin deras, ada perasaan bersalah di hatinya. Mengapa ia harus melampiaskan kekesalannya pada Siena?


" Sayang, aku-?" Kenzi bangun lalu turun dari tempat tidur, tangan Kenzi terulur mengusap air mata di pipi Siena. Namun Siena menepisnya.


"Tidak perlu! aku bisa sendiri! kau sudah menyakiti perasaanku!" tangannya mengusap air mata di pipinya lalu ia balik badan melangkahkan kakinya keluar kamar. Sesaat Kenzi tertegun, apa yang sudah dia lakukan?

__ADS_1


"Sayang! Kenzi berlari menyusul Siena dan menarik tangannya. " Maafkan aku, sayang..maafkan aku."


"Plakk!


Siena melayangkan tangan kanannya menampar wajah Kenzi. " Aku kecewa!" pekik Siena berlari menuruni anak tangga. Kenzi terdiam memegang pipinya sendiri. Bukan, bukan karena tamparan Siena yang membuatnya sakit. Tapi dia telah meragukan kesetiaan Siena. Meski sikapnya tadi tengah dalam keadaan emosi.


Yu dan Samuel yang berada di lantai dasar hanya diam melihat pertengkaran mereka yang selama ini belum pernah mereka lihat.


"Nona." Samuel menatap Siena yang merebut Helion dari pangkuannya. Lalu ia menggendong Helion.


"Sayang, dengarkan aku dulu!" Kenzi menarik lengan Siena, namun ia terus berjalan menaiki anak tangga lalu masuk ke dalam kamar Helion dan mengunci pintu dari dalam kamar.


"Aaahhhkkk! sial!" Kenzi mengusap rambutnya dengan kasar. Ia kesal dengan dirinya, mengapa ia harus sekasar itu pada Siena.


****


Sementara di tempat lain, Yeng Chen dan Akira yang telah sampai di kaki bukit. Terdapat sebuah bangunan tua yang tak terpakai. Mereka menepikan mobilnya dan langsung bergegas menuju bangunan itu. Namun saat mereka memasuki pintu yang terbuka, betapa terkejutnya mereka saat melihat kurang lebih 10 pria dengan senjata tajam di tangannya. Ada juga yang menggunakan balok kayu.


"Plok! plok! plok!


Yeng Chen dan Akira menoleh ke arah suara, nampak Livian tersenyum menyeringai mendekati mereka. Livian tahu, kalau mereka tidak membawa senjata api. " Bodoh! kalian memang bodoh! hahahahahaha! tawa Livian menggema di seluruh ruangan membuat Yeng Chen dan Akira menggeram kesal karena mereka berhasil di tipu.


"Apa maumu!" pekik Akira dengan tatapan waspada.

__ADS_1


"Nyawamu!" Livian tersenyum sinis di sudut bibirnya.


Akira dan Yeng Chen saling pandang sesaat, mereka mulai siaga saat kesepuluh pria itu mengelilingi mereka berdua. "Licik, kau benar benar brengsek!" Yeng Chen menyesali tindakannya, mengapa ia tidak mendengarkan usul Akira. Sekarang mereka dalam situasi yang tidak menguntungkan.


"Kau tahu? aku hanya ingin bermain main dengan Kenzi, menghabisi kalian lalu membawa pergi calon istriku," ucap Livian penuh percaya diri.


"Istri?" Akira menautkan kedua alisnya menatap benci wajah Livian.


"Ya, Siena calon istriku, dan aku akan membawanya jauh dari sini. Kau tahu kemana?" Livian berjalan mendekati mereka berdua. "New York, hahahahahaha!"


Yeng Chen dan Akira semakin emosi mendengar pernyataan Livian, "bermimpilah brengsek! kami tidak takut kehilangan nyawa kami untuk melindungi keluarga kami!!"


"Keluarga?" Livian tersenyum miring. "Kau anggap Kenzi keluargamu? apa dia perduli?" Livian kembali tertawa.


"Kami tahu bagaimana Bos, dia memiliki hati yang lembut tidak seperti kau brengsek!" Akira tertawa meski hatinya mulai ragu kalau ia sanggup menghadapi mereka semua. Sementara mereka tidak membawa senjata apa apa.


"Mungkin saja kami mati di tanganmu, tapi ketahuilah brengsek! Nona dan Bos kami akan membunuhmu lebih pedih dari yang kau bayangkan!" ancam Yeng Chen. Ia yakin dengan keluarga yang ia lindungi sekarang. Meski ia harus mati, setidaknya dia sudah melakukan yang terbaik untuk melindungi keluarga kecilnya.


Ucapan Yeng Chen dan Akira sangat menusuk dadanya. Livian tidak tahu apa arti sebuah keluarga, ia belum pernah merasakan cinta dan kasih sayang dari seorang wanita ataupun orangtuanya. Yang ia tahu saat ini adalah, ingin memiliki Siena seutuhnya. Jika Siena tidak bisa ia miliki. Maka Kenzi pun tidak boleh memiliki Siena.


"Bunuh mereka berdua!" seru Livian geram. Lalu ia balik badan meninggalkan ruangan. Sementara kesepuluh pria itu menatap tajam mereka berdua sembari tertawa mencemooh.


"Maju kalian semua!" tantang Yeng Chen, meski ia tidak yakin bisa selamat.

__ADS_1


Tiga pria langsung menyerang mereka berdua. Yeng Chen melawan dua pria sekaligus sementara Akira hanya melawan satu orang saja. Dan yang lain menonton pertunjukan sambil tertawa terbahak bahak.


__ADS_2