The Mafia Bride

The Mafia Bride
Bab 125: War 1


__ADS_3

Sementara Kenzi tengah mempersiapkan semua senjata miliknya. Akibat ulah si brengsek Livian, harus di bayar dengan nyawa, darah dan air mata. Kenzi mendengus geram menatap tajam senjata di tangannya. Selama ini Kenzi berusaha menghindari pertumpahan darah, tapi rupanya si brengsek Livian memaksanya untuk kembali seperti Kenzi yang dulu, kejam tanpa belas kasih.


Kenzi melirik ke arah pintu, pendengarannya menangkap pergerakan langkah seseorang di luar ruangan semakin dekat. Kenzi berdiri lalu berjalan perlahan mendekati pintu. Dengan tatapan waspada ia berdiri dan mengangkat senjatanya. Mata Kenzi menatap tuas pintu yang bergerak, perlahan tapi pasti pintu ruangan terbuka lebar. Kenzi langsung keluar dari persembunyian dan mengarahkan senjatanya tepat di wajah Siena.


"Sayang?!" mata Kenzi melebar menatap wajah Siena yang sudah berdiri di hadapannya tersenyum padanya. Kenzi menurunkan senjatanya. "Kau kenapa datang ke sini?"


"Aku tidak bisa sayang, maafkan aku."


Kenzi langsung memeluk erat tubuh Siena. "Maafkan aku.." ucap Siena pelan.


Kenzi hanya diam, matanya menatap waspada pada kaca jendela, terlihat beberapa pria menggunakan setelan jas putih datang menyerang ke rumah Kenzi. Pria itu hanya tersenyum. "Sudah kuduga."


Kenzi melepaskan pelukannya lalu menarik tangan Siena masuk ke dalam ruangan. Ia berguling ke lantai dan melesatkan peluru ke arah musuh yang baru saja datang.


"Dor ! Dor!


Satu persatu musuh tumbang, peluru betseliweran di dalam rumah, kaca jendela pecah bersamaan dengan tumbangnya musuh menabrak kaca jendela. Siena yang terpaku di dalam ruangan, langsung mengambil tindakan. Ia mengambil dua senjata sekaligus, lalu ia berjalan merunduk keluar ruangan ikut membantu Kenzi.


Kenzi yang bersembunyi di balik meja, menatap Siena berguling di lantai melesatkan peluru ke arah musuh dengan cekatan. Lalu ia berlari menghampiri Kenzi.


Kenzi merogoh saku celananya mengambil kunci mobil. " Mobil ada di samping halaman, kau kesana lebih dulu. Aku akan melindungimu."


Siena menganggukkan kepala, ia ambil kunci di tangan Kenzi. Lalu keduanya keluar dari persembunyian berjalan menuju pintu dengan mengarahkan senjata ke arah musuh.


"Dor! Dor! Dor!


Kenzi menembak mobil musuh di balik pintu rumah hingga terdengar ledakan memekakkan telinga.


"DUARR!!!


Siena berlari ke samping sambil menjatuhkan tubuhnya di rumput hijau dan melesatkan pelurunya hingga ia bisa sampai di depan mobil milik Kenzi. Ia membuka pintu mobil lalu masuk dan menyalakannya. Ia menoleh ke belakang menjalankan mobilnya mundur menabrak musuh yang coba menghalanginya. Kenzi melirik ke arah mobil lalu ia berlari merundukkan kepala.

__ADS_1


" Dor! Dor! Dor!


Kenzi langsung masuk ke dalam mobil, sementara Siena melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya. Separuh badan Kenzi keluar dan menoleh ke belakang, ia arahkan senjatanya pada mobil musuh yang mengikutinya dari belakang.


"Duarr!!


Mobil musuh terbakar lalu meledak, satu mobil lainnya terguling di jalan lalu meledak. Kenzi tersenyum lalu menoleh ke arah Siena. " Terima kasih sayang."


Siena tersenyum melirik sesaat ke arah Kenzi. "Kita bisa jadi tim yang hebat."


Tangan Kenzi terulur mengusap rambut Siena. "Kita mau kemana?"


"Terus saja jalankan mobilnya, nanti kau akan tahu." Kenzi menatap wajah Siena. Ia tidak menyangka, wanita yang penakut dan sering merengek minta pulang, berubah menjadi wanita pemberani dan tangguh. Kenzi tersenyum tipis lalu mendekatkan wajahnya mencium pipi Siena sekilas.


"Sayang, kau jangan ganggu aku," sungut Siena. Kenzi tertawa kecil mengusap rambut Siena lembut.


Tak lama mereka sampai di sebuah rumah tua yang tak terpakai. Siena menepikan mobilnya lalu keluar dari pintu mobil bersamaan dengan Kenzi, mereka berjalan memasuki rumah tua tersebut.


"Rumahku dulu, sewaktu Ibu masih hidup." Kenzi menarik napas dalam dalam, mengingat masa kecilnya yang buruk.


Siena menoleh mengusap punggung Kenzi. "Maaf.."


Kenzi tersenyum tipis merangkul bahu Siena dan memeluknya, "itu hanya masa lalu sayang, hal yang buruk telah tergantikan dengan kehadiranmu dan putra kita."


Kenzi melepaskan pelukannya, "kita siapkan segalanya dari sekarang untuk penyerangan besok pagi." Siena menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah Kenzi menuju ruangan yang pintunya sudah rusak di makan usia.


Kenzi mengeluarkan kotak besar dari balik lemari yang sudah hancur, lalu ia membuka kotak itu. Terdapat beberapa senjata berukuran sedang, ia keluarkan senjata dari dalam kotak dan memeriksa pelurunya.


Kesabaran Kenzi sudah habis, puncak klimak kemarahan Kenzi hari ini. Ia akan menyelesaikannya bersama Siena. Mimpinya untuk hidup tenang bersama keluarga kecilnya sudah di depan mata. Kenzi tersenyum menatap Siena.


"Sayang, apa kau lapar?" tanya Kenzi.

__ADS_1


Siena mengusap perutnya yang rata lalu menganggukkan kepala. "Di dalam mobil ada makanan dan minuman, kau ambil dulu."


Siena berdiri, lalu melangkahkan kakinya keluar rumah tua tersebut. Sementara Kenzi membereskan senjatanya yang akan di gunakan besok pagi. "Aku rasa ini sudah cukup." Lalu ia membawanya keluar ruangan di letakkan di atas meja yang berdebu.


Tak lama Siena menghampiri Kenzi dengan dua kantong plastik di tangannya. "Sayang, aku bawa semuanya." Siena letakkan di atas meja, lalu ia keluarkan makanan dan minuman kaleng di dalam kantong plastik, diletakkannya di atas meja.


"Sayang, apa Helion tidak menangis waktu kau pergi?" Kenzi melirik ke arah Siena sesaat lalu fokus membersihkan senjatanya.


Siena menghela napas dalam dalam, "menangis." ia menundukkan kepalanya.


Kenzi meletakkan senjata yang sudah di bersihkan di atas meja, menyentuh lengan Siena. "Kita selesaikan dengan cepat,"


Siena menoleh ke arah Kenzi lalu menganggukkan kepala. "Ini.." ia memberikan botol air mineral pada Kenzi.


Kenzi mengambil botol di tangan Siena. "Kau makan, dan duduklah dengan tenang. Semoga mereka tidak menyusul ke sini."


Siena duduk, tapi nafsu makannya hilang teringat putranya yang menangis histeris waktu ia pergi. Kenzi mengerti naluri seorang Ibu, ia berdiri dan membungkukkan badan memeluk Siena erat. "Percayalah, kita bisa keluat dari masalah ini." Kenzi mencium puncak kepala Siena.


Lagi lagi, Kenzi melihat pergerakan di luar rumahnya. Rupanya tiga pria yang menyusulnya berhasil menemukan rumah tua itu. Kenzi mendengus geram, "kau diam di sini." Siena tengadahkan wajahnya menatap Kenzi.


"Ada apa? mereka menyrrang lagi?"


Namun Kenzi mengabaikan pertanyaan Siena. Ia mengambil satu senjata nya lalu berlari ke arah pintu dan menendang pintu yang sudah rusak hingga lepas.


"Dor! Dor! Dor!


" Mati lah kau brengsek!" pekik Kenzi terus melepaskan peluru hingga ketiga pria itu ambruk tanpa sempat mengangkat senjatanya. Kenzi menurunkan senjatanya dan meludah ke atas rumput.


"Sayang, kau tidak apa apa?" Siena berdiri di belakang Kenzi dengan senjata di tangannya.


Kenzi menoleh ke arah Siena, "sayang, kita pergi dari sini sekarang juga."

__ADS_1


Siena menganggukkan kepalanya, lalu mereka kembali masuk ke dalam rumah untuk bersiap siap.


__ADS_2