
Kenzi duduk termenung di depan teras rumahnya. Ia memikirkan kata kata Jiro tadi siang. Pria itu tidak habis pikir, mengapa selalu saja ada yang coba melukai keluarga kecilnya. Dua puluh tahun berlalu, ia harus kehilangan putra kesayangannya. Mataharinya, buah cinta pertama antara dirinya dan Siena. Awal perjuangan cinta Kenzi untuk mendapatkan Siena. Hingga satu persatu orang orang kepercayaan yang sudah dia anggap sebagai keluarga mengorbankan nyawanya demi melindungi putranya Helion. Namun sampai detik ini, Helion belum di temukan. Apakah dia masih hidup atau sebaliknya. Kenzi menyeka air matanya yang hampir menetes.
Untuk meninggalkan dunia kriminal begitu banyak perjuangan. Darah dan air mata mewarnai perjuangan Kenzi dan Siena. Bahkan nyawa mereka satu persatu melayang.
Dua puluh tahun sudah terlewati dengan segenap asa yang masih tersisa untuk putranya tercinta, Helion yang entah ada di mana. Kenzi berharap suatu hari nanti akan di pertemukan kembali dengan Helion.
"Seperti apa wajahmu sekarang Nak," gumam Kenzi pelan.
"Tentu tampan sepertimu, sayang."
Kenzi menoleh ke arah pintu, melihat Siena tersenyum di tangannya memegang secangkir kopi panas. Lalu di letakkan di atas meja. Siena duduk menatap Kenzi sendu. "Kau merindukannya? apalagi aku."
"Aku tahu sayang, kau yang mengandung dan melahirkannya." Tangan Kenzi terulur mengusap tangan Siena yang ada di atas meja.
"Jiro.." ucap Siena pelan.
Kenzi mengerutkan dahi menatap Siena, mengapa wanita di hadapannya menyebut nama 'Jiro'. "Jiro? kenapa dia?" tanya Kenzi.
"Bekas luka di keningnya mengingatkanku pada Helion," ucap Siena pelan.
"Sayang, itu hanya kebetulan. Percayalah, suatu hari nanti kita akan bertemu lagi dan berkumpul bersama." Kenzi meremas pelan tangan Siena.
"Iya sayang." Siena tersenyum sembari menyeka air mata di pipinya.
"Bos!
Kenzi dan Siena menoleh ke arah Samuel yang berdiri. " Ada apa?" tanya Kenzi.
"Yang menyerang Ryu, bernama Kanaye putra dari Tuan Kuan Lin, Kuan Lin sendiri adik dari Sam Hoi. Kuan lin memiliki jariangan aliansi Kurotaki. Tapi Aliansi itu memiliki hierarki organisasi yang jelas. Meskipun tuan Kuan Lin memiliki hubungan erat dengan bandar narkoba dan Don outfit di Chicago. Aliansi mereka terstruktur seperti militer yang memiliki kesatuan. Yang artinya jika kita memiliki masalah dengan salah satu di antara mereka. Maka pihak yang menjadi kesatuan aliansi tersebut akan memburu. Dan mereka tergolong brutal. The Front Of Hierarki Kurotaki. Sementara masalah yang terjadi antara Ryu dan Kanaye, mereka memperebutkan seorang gadis yang bernama Zoya. Zoya putri dari Adelfo, salah satu kaki tangan Don Outfit di Chicago."
Kenzi manggut manggut mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Samuel yang di dapatkannya dari beberapa sumber setelah melakukan penyelidikan. Sementara Siena sudah tidak merasa cemas lagi. Baginya hal hal seperti itu akan selalu membayangi kehidupannya. Kecuali mereka pindah ke Indonesia. Namun Siena sudah berjanji tidak akan pulang selama Helion belum di temukan. Mungkin setelah mendengar penjelasan dari Samuel dia akan berpikir ulang untuk menetap di Hongkong. Ia akan melakukan apa saja demi keselamatan putranya, Ryu. Sudah cukup ia merasakan sedihnya kehilangan Helion.
"Sayang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Siena menatap serius Kenzi.
"Aku belum tahu, tapi bagaimana menurutmu sayang?" Kenzi balik bertanya.
"Bagaimana kalau kita pulang saja?" Siena mengangkat kedua alisnya menunggu jawaban Kenzi.
"Indonesia?"
Siena menganggukkan kepalanya, "aku setuju, tapi bagaimana kalau Helion mencari kita?" ucap Kenzi. Siena kembali terdiam.
"Bos, sebaiknya aku mengawal kemanapun Ryu pergi." Samuel menundukkan kepalanya.
"Aku se-?"
"Tidak, biar aku saja!" potong Siena. Kenzi dan Samuel menatap Siena.
Siena menganggukkan kepalanya tersenyum lebar. "Sudah cukup kita kehilangan keluarga, jangan lagi. Biar aku yang mengawasi Ryu selama kuliah."
__ADS_1
"Tapi sayang-?"
Siena meletakkan jarinya di bibir Kenzi. "Sudah berapa lama kita menghadapi maut? berapa banyak lagi yang harus kita korbankan?" Siena menggelengkan kepala laku menarik tangannya dari bibir Kenzi.
"Aku tidak mau itu terjadi lagi, kau percaya padaku?" Siena menaik turunkan alisnya tersenyum tipis pada Kenzi.
"Baiklah sayang, tapi ingat. Kau harus hati hati." Kenzi meraih tangan Siena lalu mengecupnya sekilas.
"Pengalaman cukup menjadikan sebuah pelajaran. Bukan begitu sayang?"
"Kau memang istriku yang paling hebat!" seru Kenzi memuji.
***
Ryu berdiri di ambang pintu dapur memperhatikan cara Siena memotong sayuran dan ikan. Gerakan Siena layaknya seorang ahli kungfu yang ada di film film yang sering Ryu tonton. Ia berjalan mendekati Siean lalu berdiri di sampingnya.
"Hai Ibu, muach! Ryu mencium pipi Siena sekilas.
"Tumben kau sudah bangun Nak," ucap Siena tanpa menoleh ke arah Ryu.
"Bu, ceritakan tentang Ibu dan Ayah." Ryu duduk di kursi.
"Maksudmu?" Siena belum mengerti ucapan Ryu.
"Apakah Ibu suka bertarung? apa Ibu juga jago menembak? apa Ibu pernah membunuh orang?" tanya Ryu spontan sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Duk!
"Tentu saja tidak sayang, mana mungkin Ibu bisa menembak." tangan Siena terulur mencubit hidung Ryu dengan gemas.
"Aw sakit Bu!" Ryu menurunkan tangan Siena dari hidungnya.
"Makanya, jangan bertanya aneh aneh!" ia mengacak rambut Ryu pelan.
Ryu tertawa kecil, "kali saja Bu." sahutnya.
"Kau tidak kuliah?" tanya Siena memperhatikan pakaian Ryu yang masih menggunakan piyama.
"Males Bu."
Siena terdiam menatap Ryu, "kalau begitu, kita kerumah Om Rei bagaimana?" tanya Siena.
"Boleh Bu, aku sudah lama tidak ketemu Om Rei dan Tante Marsya!" sahut Ryu antusias.
"Kalau begitu, kau mandi dulu sana!"
"Siap Bu!" Ryu berdiri lalu ngeloyor meninggalkan dapur.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya mereka telah selesai dan bersiap siap berangkat menuju rumah Marsya. Siena memilih menggunakan sepeda motor supaya lebih cepat sampai.
__ADS_1
Di tengah perjalanan mereka di hadang beberapa pria menggunakan sepeda motor. Ryu menghentikan laju motornya memperhatikan mereka yang menghadang di depannya.
"Brummm! Brummm!"
"Ibu, sepertinya kita sudah di ikuti." Ryu melirik ke belakang sesaat.
"Kau turun, biar Ibu yang bawa motornya." Siena turun dari atas motor.
"A, appa?" Ryu menatap Siena tidak mengerti. Lalu Siena memerintahkan Ryu untuk turun.
"Baiklah." Ryu turun dari atas motor, bertukar tempat. Siena yang duduk di depan sementara Ryu duduk di belakang.
"Brummm! Brummm!
" Peluk Ibu erat erat!" ucap Siena. Ryu yang masih belum mengerti, akhirnya menuruti perintah Siena. Ryu langsung memeluk pinggang Siena dengan erat. Bersamaan Siena menarik gas motor dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Tidak perduli dengan musuh yang menghadang.
Sontak mereka terkejut, dua pria yang di atas motor langsung berlari menepi saat motor yang Siena lajukan menabrak ke arahnya.
"Brakkk! motor pria itu terseret jauh hingga ke tepi jalan raya.
" Wow! Ibu hebat!" pekik Ryu menoleh ke belakang melihat musuh mengejar. "Bu! mereka mengejar kita!"
Tiba tiba, motor yang Siena lajukan berhenti mendadak lalu berputar menghadap motor musuh. Suara berdecit ban motor beradu dengan jalan aspal.
"Bruuummmm!
Saat motor musuh sudah mendekat, Siena langsung menarik gas motor langsung melaju dengan kencang ke arah musuh. Kaki kanan Siena menendang motor musuh, hingga terjungkal berguling guling di jalan aspal. Motor Siena terus berputar melakukan gerakan yang sama lalu melaju lagi ke depan mengejar musuh yang berusaha lari. Motor Siena berusaha mensejajarkan hingga membuahkan hasil, kaki kiri dan kaki kanan bergerak menendang satu persatu motor mereka hingga tersungkur ke jalan aspal.
"hwaaaooo! Ibu keren!" untuk pertama kalinya, ia melihat aksi Siena membuat Ryu berdecak kagum. Ryu tidak menyangka jika Ibunya bisa melakukan itu.
"Brummmm!
Siena tetap duduk di atas motor memperhatikan mereka satu persatu melarikan diri. Lalu Siena memutar balik motornya kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Marsya.
***
Sementara itu Kanaye langsung melaporkan kejadian tadi pada Ayahnya, Kuan Lin.
" Siapa yang berani melukaimu!" teriak Kuan Lin menatap putranya.
"Tuan, ini data data yang Tuan minta," salah satu pengawalnya memberikan data data orang tua Ryu.
Kuan Lin membuka dokumen yang di berikan pengawalnya. Matanya terbelalak lalu menutup dokumen, ia lemparkan ke atas meja.
"Kau tahu, sudah berurusan dengan siapa?" ucap Kuan Lin pada Kanaye.
Kanaye menggelengkan kepalanya. "Dasar anak tidak berguna, masuk ke kamarmu dan jangan lagi berurusan dengan anak itu! kau paham?!"
Kanaye mengangguk tidak mengerti, ia melihat raut wajah gelisah Papanya. Lalu ia beranjak pergi masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Kenzi, Siena. Dua orang yang terkenal di kota ini. Mereka di takuti dan di segani dua organisasi, Crips dan triad," gumam Kuan Lin pelan.
Siapa yang tidak kenal Kenzi dan Siena. Seiringnya waktu dua orang yang berhasil mengalahkan dua organisasi kriminal itu dan menyeret beberapa orang penting masuk ke dalam penjara. Kuan Lin berpikir dua kali untuk berurusan dengan Kenzi lagi. Kakaknya Sam Hoi berada di ujung senapan telah bermain main dengan Kenzi.