
Saat Siena tengah menunggu Dokter keluar dari ruangan Reegan. Tiba tiba saja Kenzi sudah berdiri di hadapan mereka.
"Kau? kau sedang apa di sini?" tanya Siena menatap Kenzi dan Adrian.
"Kau tidak menuruti perintahku dan meninggalkan pekerjaanmu." Kenzi menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Aku tahu, tapi aku di sini bukan hendak berekreasi." Siena tertawa kecil.
Kenzi mendekatkan wajahnya ke wajah Siena. "Tapi kau tidak ada hubungannya dengan pasien bukan?"
Siena menarik wajahnya menjauh dari Kenzi, dia menunjuk ke arah pintu ruangan. "Asal kau tahu, dia..dia-?"
"Mantan..lebih tepatnya mantan suamimu," potong Kenzi.
Siena dan keenan saling pandang sesaat, "bagaimana kau tahu?" tanya Siena.
"Kau tidak perlu tahu, sekarang juga kau kembali bekerja." Kenzi menarik tangan Siena dan melangkahkan kakinya.
"Hei, kau! lepaskan Siena. Apa kau-?"
"Tutup mulutmu, karena aku sudah tahu apa yang akan kau katakan." Kenzi memotong ucapan Keenan. Keenan langsung terdiam. "Kau juga kembali ke kantor, atau aku akan memecatmu, mengerti?!"
Kenzi kembali melangkahkan kakinya menarik paksa tangan Siena. Meski Siena berusaha untuk melepaskan tangan Kenzi. Namun cengkramannya terlalu kuat hingga Siena kesakitan.
"Sakit! lepaskan tanganmu!" pekik Siena.
Namun Kenzi tidak menghiraukannya, ia terus menyeret Siena hingga keluar dari rumah sakit di ikuti Keenan dan Adrian.
***
Sesampainya di kantor, Kenzi melepaskan cengkraman tangannya di lengan Siena.
"Kembali bekerja, dan seleaaikan pekerjaan ini. Aku tidak mau tahu, kau harus menyelesaikannya baru kau bisa pulang," ucap Kenzi.
"Hei, kau tidak bisa memperlakukan Siena seperti itu!" seru Keenan.
Kenzi menoleh ke arah Keenan, "diam dan kembali bekerja, atau aku akan memecatmu."
Keenan terdiam, ia berpikir jika terus berulah. Kenzi akan memecatnya dan itu akan mempersulit ruang gerak Keenan untuk menjaga Siena. "Baik, aku ikuti perintahmu. Tapi kau tidak perlu kasar pada Siena."
Kenzi tersenyum sinis, ia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan. Di ikuti Adrian dan Keenan.
__ADS_1
"Gila tuh orang, seenaknya saja memberi perintah," gerutu Siena.
Ia duduk di kursi menatap tumpukan dokumen di atas meja. "Reegan, maafkan aku..aku belum bisa menjengukmu..mungkin besok aku kembali lagi. Siena menghela napas panjang, lalu ia mulai bekerja sesuai permintaan Kenzi.
Di ruangan berbeda, Kenzi memperhatikan Siena lewat layar monitor bersama Adrian.
" Hana sudah menipuku," ucap Kenzi terus menatap ke arah layar monitor.
"Maksud tuan?" tanya Adrian.
"Hana menjanjikan putrinya masih gadis, tapi kenyataannya dia sudah menikah." Kenzi melirik sesaat ke arah Adrian. Lalu kembali fokus menatap layar monitor.
"Hukuman apa yang akan tuan berikan pada Bu Hana?" tanya Adrian.
Kenzi tersenyum sinis menatap layar, "kita lihat nanti."
Adrian mengangguk anggukan kepala tanda mengerti maksud Kenzi.
Waktu terus berlalu, hari berganti sore. Hana datang menjemput Siena sesuai janjinya tadi pagi. Namun ia hanya menemukan Keenan saja.
"Keenan? di mana Siena?" tanya Hana.
"Tante, Siena-?"
Hana dan Keenan menoleh ke arah pintu menatap Kenzi tengah berjalan mendekati mereka. "Tapi sekarang sudah waktunya jam kantor selesai." Hana menatap kesal Kenzi.
Kenzi tersenyum sinis, "Nyonya Hana, sekarang adalah aturanku. Bukan aturan anda atau tuan Karta."
"Jaga bicaramu Kenzi!" bentak Hana.
"Pelankan suaramu nyonya Hana, dan aku sarankan anda pulang. Karena putri anda, tidak kuizinkan pulang sebelum dia menyelesaikan pekerjaannya."
"Kau tidak bisa begitu!" seru Keenan.
"Diam!" Kenzi mengarahkan satu tangan ke wajah Keenan, dengan tatapan tajam ke wajah Hana. "" Silahkan anda pulang, sekarang!" bentak Kenzi.
"Awas kalau kau berani melukai putri saya." Hana mendengus kesal menatap Kenzi, lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan di ikuti Keenan dari belakang.
"Penipu," gumam Kenzi.
Ia kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan untuk memantau Siena. Baru saja ia duduk di kursi. Kenzi melihat Siena tengah memegang perutnya. Sepertinya Siena tengah menahan lapar, pikir Kenzi. Ia tersenyum menatap Siena yang gelisah sembari memegang perut.
__ADS_1
"Ini baru awal, my doll." Kenzi tertawa kencang.
Menit berlalu, jam pun berganti. Nampak Siena tertidur bersandar di kursi menahan lapar. Kenzi mulai tergerak hatinya setelah melihat Siena tertidur. Ia melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 19:30.
Kenzi berdiri, ia mengambil kotak makanan di atas meja lalu ia melangkah keluar ruangan untuk menemui Siena. Sesampainya di ruangan ia diam terpaku menatap wajah Siena. "Cantik," ucapnya pelan. Ia berjalan lebih dekat ke arah Siena dan berdiri di belakang kursi yang Siena tempati.
Tangan Kenzi perlahan terulur hendak menyentuh pipi Siena. Namun tangan Kenzi di cekal oleh Siena. Kenzi sempat terkejut mengira Siena sudah bangun. Tapi ternyata Siena tengah bermimpi dalam tidurnya dan berucap, "Reegan..apa salahku..kenapa kau menyakiti perasaanku..mengapa kau mengkhianatiku..kenapa Reegan..jawab.." ucap Siena lirih dalam tidurnya. Ia mengusap dan mengecup tangan Kenzi berkali kali.
Kenzi terdiam cukup lama membiarkan Siena mengelus dan mengecup tangannya. Namun detik berikutnya ia menarik tangannya dan menepuk pipi Siena. "Bangun!"
Siena langsung membuka mata dan terkejut saat melihat Kenzi sudah berdiri di dekatnya. "A, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Siena gugup. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Kau kerja apa tidur?!" bentak Kenzi.
"Maaf.." ucap Siena pelan. Ia berdiri dan menjauh dari kursi.
"Siena!" seru Rei dari arah pintu. Siena dan Kenzi menoleh ke arah suara, nampak keenan dan Rei berjalan mendekat. "Apa kau baik baik saja?" tanya mereka kompak.
Siena menganggukkan kepala, "iya.."
"Ayo kita pulang!" Rei menarik tangan Siena.
"Apa apaan kalian! Siena masih bekerja." Kenzi mendekat dan menarik tangan Siena satunya lagi.
"Kau yang apa apan tuan Kenzi, jam kerja sudah selesai..kau anggap apa Siena? bawahanmu?" tanya Rei geram.
Kenzi tertawa kecil, "pentingkah aku menjawab pertanyaanmu, Rei?" Kenzi balik bertanya.
"Terserah kau!" sela Keenan.
"Kalian itu kenapa? kalian kaya tom and jerry..tiap ketemu ribut terus?" tanya Siena tak mengerti.
"Kita pulang sekarang," Rei menarik tangan Siena dan membawanya keluar ruangan. Sementara tas dan ponsel miliknya, ia lupa untuk membawanya.
"Empat hari yang tersisa, kalian bebas bicara apa saja. Tapi setelah empat hari berlalu..kalian akan melihat gadis itu menderita lebih dari apa yang kalian bayangkan," gumam Kenzi. Ia duduk di kursi menatap ponsel dan tas milik Siena yang ketinggalan.
"Selamat datang Siena, ini baru awal."
Sementara itu Keenan dan yang lain mengantarkan Siena pulang ke rumahnya.
"Aku heran dengan kalian. Ada apa sebenarnya?" tanya Siena di dalam mobil.
__ADS_1
"Tidak ada apa apa Siena, dia memang harus di kerasin. Jika tidak..dia akan berbuat semena mena kepadamu." Rei menoleh menatap Siena.
"Semena mena?" ucap Siena dalam hati.