The Mafia Bride

The Mafia Bride
Season 2: Vendetta and love


__ADS_3

Setelah mendapatkan penjelasan dari Dokter. Malam itu juga Kenzi melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib. Karena ia sendiri tidak tahu, permasalahan apa yang sedang Izanagi hadapi. Setahu Kenzi, pria itu tidak pernah bermasalah. Kenzi juga sudah berjanji untuk tidak lagi ikut tetlibat dalam dunia kriminal. Saat ini Yang Kenzi lakukan menyerahkan kasus Izanagi pada pihak Kepolisian.


Tak lama kemudian, dua anggota Polisi datang ke rumah sakit untuk meminta keterangan Jiro dan Egor, sementara pihak berwajib lainnya memeriksa rumah Izanagi untuk mencari bukti bukti.


Jiro memperhatikan seorang Polisi cantik, rambutnya sebahu di ikat dengan rapi. Hidungnya yang mancung dan warna kulitnya pucat pasi. Alisnya yang tertata rapi dan bibirnya yang tipis dan seksi, tengah bicara dengan Kenzi. Di perkirakan usia wanita cantik itu usianya lebih tua dari Jiro.


Jiro terus memperhatikan Polisi cantik itu yang tengah berjalan mendekatinya. Lalu mengulurkan tangan pada Jiro.


"Abel."


"Oh, Jiro." balas Jiro gugup membalas uluran tangan Abel.


"Kita bicara di sana." Abel menunjuk ke ruangan Dokter.


Jiro menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah Abel. Di ikuti Kenzi dan Siena dari belakang. Kenzi memutuskan akan mendampingi Jiro sampai kasus pemembakan ini terungkap.


****


Satu minggu berlalu, Izanagi mulai pulih kondisinya meski tidak normal seperti dulu lagi. Dengan telaten dan penuh kasih sayang Jiro merawat Izanagi. Sesekali Kenzi dan Siena datang untuk menjenguk dan membesarkan hati Jiro. Ada rasa sakit yang Siena simpan dalam hatinya. Helion yang dulu, bukanlah Helion yang sekarang. Siena tidak bisa memiliki putranya seutuhnya. Helion bukan lagi milik Siena dan Kenzi. Helion atau Jiro tumbuh menjadi pria dewasa yang mandiri. Siena telah kehilangan banyak masa masa kecilnya Jiro.


Kenzi yang mengerti perasaan seorang Ibu, selalu meyakinkan Siena. Kalau Helion kecilnya dulu masih milik mereka berdua.


"Sayang, Jiro bukan anak kecil lagi. Dia sudah menjadi pria dewasa. Kita cukup memperhatikannya saja. Ada Ryu yang masih membutuhkan perhatian ekstra dari kita."


Siena menganggukkan keoalanya. "Iya sayang, aku mengerti. Tapi rasanya..?" Siena tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Abel datang. Kenzi dan Siena langsung menyambut Abel. "Bagaimana perkembangan kasus ini?" tanya Kenzi.


"Abel?" sapa Jiro dari arah pintu kamarnya langsung mendekati mereka. Sejak mereka sering berjalan berdua untuk mengungkap kasus Izanagi, ada kedekatan antara mereka berdua. Bahkan Kenzi dan Siena mengetahui dan merestui hubungan mereka.


Kenzi mempersilahkan Abel duduk di kursi, lalu di ikuti Siena dan Jiro yang duduk bersebelahan. Siena selalu tidak ingin jauh dari Jiro jika kesempatan ada.


"Tuan Kenzi, Nyonya Siena." Abel mulai menjelaskan hasil penyelidikannya selama ini. Izanagi tidak terlibat dengan kejahatan ataupun dia memiliki musuh. Tetapi kasus penembakan itu di picu perebutan wilayah. Tuan Izanagi berusaha mempertahankan sejumlah tempat miliknya karena tidak ingin menjualnya pada siapapun. Tapi pihak lawan tidak mau tahu, mereka memaksa Izanagi untuk menjual tempatnya yang luas kepada mereka.

__ADS_1


Kenzi menganggukkan kepalanya, ia mulai mengerti alur dari kasus ini. "Baik, kami berharap. Kau menyelesaikan kasus ini dengan cepat. Dan segera menangkap pelakunya.


" Tuan tidak perlu khawatir, semalam penembak Tuan Izanagi berhasil kami tangkap. Selebihnya biar Kepolisian dari pusat yang menyelesaikannya." Abel menjelaskan dengan panjang lebar. Sementara Jiro terkagum dengan kecerdasan Abel, cepat tanggap dalam mengungkap kasus itu. Benarkah demikian?


Naluri seorang Ibu selalu khawatir dengan putranya meski sudah dewasa. Siena tidak ingin hal hal yang sudah ia lewati bersama keluarha kecilnya terulang kembali. Namun kali ini, mereka memilih menyerahkannya pada pihak Kepolisian.


"Ibu, aku minta izin keluar sebentar." Jiro bergelayut manja di lengan Siena.


"Hei, kau mau kemana Nak?" tanya Siena menatap sayang Jiro.


Jiro menundukkan kepalanya, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Ibunya. Siena mengerti dan melirik sesaat ke arah Abel. "Kau pergi dengan Abel?" tanya Siena lagi.


Jiro menganggukkan kepalanya. "Iya Bu, boleh?"


"Tentu sayang, pergilah." Jiro mencium sekilas pipi Siena, lalu berdiri di ikuti Abel.


Kenzi dan Siena kembali duduk di kursi. "Sayang, sebaiknya kita pulang. Izanagi sudah ada yang merawat."


Siena menganggukkan kepalanya. "Iya dayang, Ryu di rumah pasti menunggu kita."


Pulang ke Indonesia bersama kuarganya, tapi Jiro tidak bisa ikut. Tinggal di sini lebih lama, juga sama sulitnya. Mengingat kedua putranya sama sama berjalan menuju lingkaran setan yang dulu mereka berusaha keras untuk keluar. Apa yang di pikirkan wanita itu, Kenzi pun berpikiran sama. Mereka larut dalam pikiran masing masing. Akhirnya Kenzi membuka suara setelah hening dalam beberapa menit dalam mobil.


"Sayang, apa yang kau pikirkan?" Kenzi melirik ke arah Siena sesaat.


Siena menghela napas dalam dalam, menoleh sesaat. "Kedua putra kita."


"Kau benar sayang, aku juga memikirkan mereka." Kenzi menatap lurus ke arah jalan.


"Kau punya ide, sayang?" tanya Siena.


"Tidak ada, tapi akan aku carikan jalan keluarnya yang terbaik buat kita semua." Kenzi tersenyum samar. Pria itu sudah lelah menghadapi manusia manusia rakus kekuasaan, sombong dengan kekuatan menghalalkan segala cara hanya untuk menunjukkan kuasanya. Nyawa menjadi tidak berarti di mata mereka. Tidak memiliki perasaan, itu yang Kenzi rasakan dulu saat masih menjadi seorang mafia.

__ADS_1


Tiba tiba saja Kenzi menghentikan mobilnya mendadak di tepi jalan raya. Membuat Siena bingung. "Kenapa berhenti di sini?" tanya Siena. Namun Kenzi tidak menjawabnya. Ia langsung membuka pintu mobil di ikuti Siena. "Kau mau kemana?" tanya Siena lagi.


Kenzi terus melangkah di ikuti Siena. "Ryu!" Kenzi menarik tangan Ryu mundur ke belakang. Siena baru mengerti kenapa Kenzi seperti itu. Ternyata suaminya melihat Ryu tengah bicara dengan Zoya dan dua pengawal gadis itu.


"Ayah? Ibu?" Ryu kaget dengan kedatangan kedua orangtuanya.


"Ayo pulang." Kenzi menarik paksa tangan Ryu menjauh dari Zoya yang berdiri terpaku tanpa bicara apa apa.


"Ayah, tunggu! aku belum selesai bicara dengan Zoya!" Ryu berusaha menepis tangan Kenzi. Sementara Siena mengikuti langkah mereka dari belakang.


"Ayah bilang, pulang!" bentak Kenzi pada Ryu yang berjengkit kaget. Ia tidak menyangka Kenzi bakal semarah itu. Ryu tidak mengerti mengapa Kenzi sangat melarangnya berhubungan dengan Zoya.


"Kau dengar apa kata Ayahmu, Nak." Siena berusaha menengahi.


"Ayah, Ibu, mengapa kalian tidak mengerti? aku mencintai Zoya. Bukankah kalian pernah muda?" tanya Ryu.


"Masuk, tidak perlu kau mengajari Ayahmu!" Kenzi menarik paksa tangan Ryu untuk masuk ke dalam mobil, di ikuti Siena. Kemudian Kenzi masuk ke dalam mobil dan kembali menjalankan mobilnya kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, Ryu langsung masuk kamar dan menutup pintu dengan membantingnya. Kenzi menghela napas dalam dalam hendak melangkah menuju kamar Ryu untuk memberinya nasehat. Namun Siena mencegahnya. "Tenanglah sayang, bukan begitu caranya. Ryu berbeda dengan Jiro. Dia tidak tahu apa apa, kita harus pakai cara lain untuk membuat Ryu mengerti. Bukan dengan cara kasar." Siena menganggukkan kepalanya, tersenyum pada Kenzi.


"Baiklah sayang, maaf. Aku hanya takut." Kenzi memeluk tubuh Siena erat. Siena sendiri mengerti ketakutan suaminya. Banyak hal telah merenggut satu persatu keluarganya. Begitupula dengan Siena, yang memiliki ketakutan yang sama.


Siena melepaskan pelukan Kenzi, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Ryu. Di depan pintu Siena mengetuk pintu kamar. Tak lama Ryu membukanya dan membiarkan Ibunya masuk ke dalam kamar. Ryu duduk di tepi tempat tidur dengan raut wajah di tekuk.


Siena tersenyum menatap Ryu. Lalu menarik kursi dan duduk di atas kursi menghadap putra bungsunya. "Sayang.."


Ryu tengadahkan wajahnya menatap Siena. "Kenapa Ayah melarangku berhubungan dengan Zoya? katakan Bu, aku tidak ingin menyakiti perasaan Ayah, juga perasaan Zoya."


"Ayah tidak melarangmu berhubungan dengan siapapun, dia hanya takut." Siena menggeser kursinya supaya lebih dekat dengan Ryu.


"Kenapa aku di larang, sementara kak Jiro? Ayah tidak melarangnya." Ryu menundukkan kepalanya. Ia merasa kalau Kenzi sudah pilih kasih.

__ADS_1


"Sayang, Ibu tidak bisa menjelaskan. Suatu hari nanti kau akan mengerti, mengapa Ayah melarangmu. Kehilangan kakakmu saja sudah membuat kami trauma. Jangan sampai hal yang sama terulang kembali. Ibu mohon, mengertilah." Siena menjelaskan dengan sangat hati hati. Dia tidak ingin putranya masuk kedalam lingkaran yang sama. "Sekarang, kau istirahat, Ibu buatkan makanan kesukaanmu."


Siena berdiri, lalu melangkahkan kakinya keluar kamar di ikuti Ryu dari belakang. Siena pergi ke dapur, sementara Ryu pergi ke taman di samping rumah Kenzi.


__ADS_2